Hai, aku mau cerita tentang hubunganku dengan seorang cewek cantik.
Kisah ini terjadi di kota XXX. Aku bekerja di salah satu perusahaan
konstruksi terbesar di sana.
Kamis malam aku kebetulan pulang dari proyek. Dalam perjalanan aku
melewati sebuah rumah sakit. Aku secara nggak sengaja melihat dari
kejauhan nampak seorang gadis berambut panjang mengenakan jas ketat
putih dan span putih pendek. Wow... cantik sekali dia. Lalu, waktu dia
berdiri menunggu taksi, aku mendekatinya dan kuberhentikan mobilku di
depannya.
"Permisi... Mbak... bisa mengganggu sebentar..?" kataku sambil memperhatikan wajahnya yang cantik bak bidadari.
"Ya... ada yang bisa saya bantu..?" katanya dengan suara merdu sekali.
Lalu, dia menyambutku dengan senyum manis walaupun sebelumnya sempat melirik jam di tangannya.
Setelan bajunya sungguh menarik. Rupanya ia memadukan rok bawahan
seragam perawatnya dengan blazer ketat putih juga, sampai belahan
dadanya nampak menonjol saking ketatnya. Sedang sepatunya sudah diganti
sepatu hak tinggi. Wah kasihan juga cewek cantik ini menunggu kedinginan
di tengah udara dingin musim hujan. Di leher jenjangnya terbelit syal
bulu warna hitam, namun tidak menutupi belahan payudaranya yang terdesak
ketatnya blazer, hm.. mulusnya.
Lalu, aku turun dari mobil.
"Permisi Mbak, saya mau tanya... kalau mau ke jalan Sonken... arahnya kemana ya Mbak..?" kataku.
"Ooo... Mas lurus aja, terus kalau ada perempatan belok kanan, lalu
belok kiri, terus kanan terus kiri lagi.." jawabnya membingungkan.
"Eee... saya tambah bingung. Gimana kalau Mbak mengantar saya ke alamat
ini dan sebagai gantinya saya akan mengantar Mbak pulang ke rumah
Mbak... gimana..?" kataku.
"Aduhhh... gimana ya, saya sebenarnya mau ke Rumah Sakit." jawabnya agak takut.
"Jangan takut Mbak... saya orang baik-baik kok, nanti saya antar Mbak." kataku lagi.
"Ya... deh." jawabnya.
"Nah, gitu dong... mari silakan." kataku sambil membukakan pintu mobil.
Akhirnya kami langsung saja mencari jalan kutanyakan tadi. Padahal itu rumahku sendiri lho.
"Eee.., kalau boleh tahu nama Mbak siapa..?" tanyaku.
"Juliet Mas..." katanya singkat sambil menutupi bagian pahanya yang dari
tadi membuat juniorku berdiri. Habisnya putih, mulus dan berbulu sih.
"Saya Sony, Mbak. Kok malam-malam ke rumah sakit. Siapa yang sakit Mbak..?" tanyaku pura-pura nggak tahu.
"Nggak ada Mas... Juliet kerja di rumah sakit." jawabnya.
"Ooo... jadi Mbak seorang suster rupanya. Wah.., Sony tidak menyangka
Mbak seorang suster, habis Mbak kelihatan seperti artis Tamara Gerandong
sih.." kataku becanda.
"Ahhh... Mas Sony bisa aja.." jawabnya manja sambil mencubit lenganku.
Wahhh.., nih cewek kok sudah berani nyubit tanganku.
"Mbak Juliet masih sendiri atau udah menikah..?" tanyaku.
Lalu, dia diam seribu satu bahasa.
"Lho.., kenapa Mbak koq diam... apa pertanyaan Sony menyinggung perasaan Mbak... kalau gitu nggak usah dijawab deh..." kataku.
"Nggak kok nggak pa-pa, sebetulnya Juliet udah menikah tapi kami harus
berpisah gara-gara suami Mbak selingkuh dengan cewek lain.." katanya
sambil meneteskan air mata.
"Ma'af ya Mbak. Sony telah mengungkit masalah pribadi Mbak." kataku.
"Nggak pa-pa. Eee.., omong-omong umur Mas Sony berapa sih..?" tanyanya.
"Udah tua Mbak. 24 tahun 12 bulan 1 hari 1 jam 30 menit 20 detik." kataku.
"Idihh.. Mas Sony masih tergolong 'brondong' dong. Kalau Mbak udah kepala tiga lebih sedikit lagi. Udah tua Son." katanya manja.
"Tapi Mbak masih cantik dan sexy lho." kataku memuji.
"Ahh.. Mbak udah merasa tua kok Son." katanya.
"Tapi, Sony lihat Mbak masih montok lho, dan sorry ya Mbak." kataku menggoda.
"Ihh.. kamu nakal ya." katanya sambil menyubit pahaku.
Wow.., tadi nyubit tangan, sekarang paha. Ada peningkatan nih.
"Sony udah punya pacar belum? Pasti sudah ya, kamu kan cakep." katanya manja.
"Sony belum punya pacar Mbak. Sony masih perjaka lho." kataku.
"Apa..! Masih perjaka. Ahhh.. yang bener. Masak sih..?" katanya.
"Bener Mbak. Swear deh. Emang kenapa sih Mbak..?" kataku.
"Nggak pa-pa, cuman Mbak nggak percaya kalau cowok seganteng kamu masih
belum punya pacar dan hebatnya masih perjaka lagi. Nah.., Mbak jadi
curiga nih." katanya.
"Curiga apaan Mbak..? Sony cowok normal kok. Kalau Mbak nggak percaya boleh ditest." kataku menantang.
"Baik. Entar kalau udah nyampe ya..!" katanya.
Wuihh.. bener-bener ada kemajuan pembaca. Dia mau ML samaku hi.. hi.. hi.
Lalu, setelah sampai, "Son. Mbak pingin kencing nih..! Dimana WC-nya..?" tanyanya.
"Sama Sony aja Mbak sekalian ngetes. Ok..?" kataku.
"Ya deh adik ganteng." katanya manja.
Sesampai di WC, Mbak Juliet melepaskan CD-nya, lalu duduk kencing di
kloset. Sementara saya mengeluarkan si Junior dan kencing di sebelahnya.
"Wow.., punyamu boleh juga Son." katanya sambil melihat kemaluanku.
Setelah kencing cukup banyak, lalu penisku kucuci pakai air semprotan.
Ternyata karena melihat paha mulus Mbak Juliet, airnya mengenai
celanaku. Tanpa kusadari Mbak Juliet lalu mengambil toilet paper lalu
jongkok membersihkan celana basahku. Sementara itu si Junior masih
keluar dengan gagah, sekalian dikeringkan oleh tangan Mbak Juliet yang
cekatan.
Terkena jemari mulus yang dingin itu, karuan saja si Junior langsung
siaga kuning. Melihat itu, Mbak Juliet lalu tersenyum dan melirik ke
arahku, lalu penisku yang mekar langsung saja dikulumnya. Terkena
perubahan suhu begitu, si Junior langsung code red. Mulut Mbak Juliet
terlalu kecil, jadi tidak mampu menampung keseluruhannya. Tapi lama-lama
mulutnya dapat menampung setengahnya.
Mungkin karena melihat si Junior yang tegap, tinggi dan gagah, Mbak
Juliet jadi sangat bernafsu. Lidahnya semangat sekali mengitari Juniorku
sambil sesekali menggigit kantungku yang sudah mengeras. Sesekali
disedotnya ujung penisku, lalu ditarik mulutnya sehingga berbunyi. Mulut
mungil indahnya bagai vacum cleaner menyedot si Junior. Jemari halusnya
menyelinap di antara celah pantatku dan sesekali menggenggam si Junior
yang mulai berontak kena siksaan. Sementara itu aku yang memang terasa
nikmat, hanya dapat mengelus-elus kepala dan mencengkeram rambut Mbak
Juliet.
"Ahh.., Mbak, enak. Yahh..!" mendengar rintihanku dia tetap memasukkan Juniorku ke dalam mulutnya.
"Oohh.., terus Mbak..!" pintaku.
Sementara itu kepalanya menghisap Juniorku sampai keadaan dimana aku
merasakan kejang dan penisku berdenyut-denyut sangat hebat sekali.
"Oohh.. Ohh.. Sony hampir keluar Mbak. Ohh..!" erangku.
Semakin ganas kepalanya maju-mundur. Dia semakin mempercepat kocokan dan
sedotannya. Dan, Juniorku memuntahkan isinya di dalam mulut Mbak Juliet
dan dengan bernafsu ditelannya muntahan sperma dan sisanya dijilatnya
sampai bersih.
"Makasih ya Mbak." kataku.
"Sama-sama, Son. Tapi, Mbak masih belum yakin kamu bisa ngalahin Mbak." katanya dengan lembut.
"Jadi ceritanya Sony mau dites lagi nih..?" tanyaku.
"Ya ya ya. Dan sekarang kita mandi dulu biar segar dan kita ulangi lagi nanti ya di kamar." katanya.
Aku masih mengenakan handuk yang dililitkan ketika Mbak Juliet datang
membawa segelas kopi susu hangat yang dibuatnya di dapurku dan
memberikannya padaku.
"Son.., minum dulu ya Sayang. Biar tambah segar." katanya sambil menyodorkannya padaku.
Lalu, aku seruput kopi susu hangat itu dan, "Aahh... enak sekali minuman bikinan Mbak. Wow.. pas susunya." kataku menggodanya.
"Idih. Kamu nakal deh..!" katanya sambil melompat ke arahku.
Kami berciuman kembali. Mbak Juliet tampak sangat menikmati ciumanku
ini. Matanya terpejam dan napasnya mendesah serta bibirnya dengan lembut
mengecup sambil sesekali menghisap bibir dan lidahku. Jari lentik Mbak
Juliet itu mulai bergerak turun menyusup ke balik handukku menuju buah
pantatku. Sementara penisku yang hanya ditutupi handuk kecil itu segera
berdiri tegang. Bagian bawah kepala Juniorku langsung tergencet oleh
perut Mbak Juliet yang langsung menyalurkan getaran-getaran kenikmatan
ke seluruh urat syarafku.
Jari-jarinya mulai meraba kedua buah pantatku. Mula-mula rabaannya
melingkar perlahan, tapi makin cepat, sampai akhirnya dengan suara
mendesah diremas-remasnya dengan penuh nafsu. Aku mencium dan menjilati
telinga dan leher Mbak Juliet, membuat tubuh janda cantik dan semok itu
menggelinjang-gelinjang.
"Ohh.. Son. Geli ahh..!"
Kuturunkan bibirku dari kuping menelusuri leher, terus turun ke dada.
Jari-jarinya pun terasa semakin keras meremas-remas pantatku. Seraya
mengecupi areal dadanya, jariku membuka satu persatu kancing pakaiannya
itu hingga terlihat belahan dadanya yang besar. Payudara itu menyembul
dari balik baju mandinya, bentuknya menghadap ke atas dengan puting yang
langsung mengarah ke wajahku. Amboi.. seksi habis deh. Tanpa membuang
waktu, kulahap payudara itu dengan gemas, kusedot-sedot dan kujilati
putingnya yang sudah menegang itu.
Tiba-tiba tangan kanan Mbak Juliet berputar ke arah depan. Dengan sekali
sentak maka terjatuhlah penutup satu-satunya tubuhku itu. Kulirik
cermin lemari, di sana terlihat badan tegapku yang bugil tengah menunduk
menghisap buah dada wanita berbadan montok yang masih dibalut pakaian
mandinya. Dari kaca riasnya kulihat Mbak Juliet mengalihkan tangan
kanannya ke arah selangkanganku. Dan dalam sekejap, Juniorku sudah
berada dalam genggamannya.
Dengan lembut dan penuh perasaan, ia mulai mengocok Juniorku ke atas ke
bawah. Sesekali ia menghentikan kocokannya dan mengarahkan jempolnya ke
urat yang terletak di bawah kepala si Junior.
"Aahh.. Mbaak. Aahh..!" aku hanya dapat mengerang keenakan seraya terus mengecup dan menjilati payudaranya.
Tiba-tiba Mbak Juliet mendorong tubuhku hingga terduduk di atas ranjang
dan ia sendiri kemudian berlutut di hadapan selangkanganku. Ia
menengadahkan kepalanya dan menatap mataku dengan pandangan penuh nafsu.
Bersamaan dengan itu, ia menciumi kepala si Junior, kemudian menjilati
lubang penisku yang sudah dipenuhi dengan cairan lengket berwarna
bening.
Tiba-tiba ia memasukkan otongku ke dalam mulutnya dan aku merasakan
kenikmatan yang tak terlukiskan. Mbak Juliet memasukkan dan mengeluarkan
otongku didalam mulutnya dengan gerakan yang cepat sambil
menggoyang-goyangkan lidahnya sehingga menggesek urat bawah kepala
otongku itu.
"Aahh... Ouuhh... Mbak. Uuhh..!" erangku.
Aku hanya dapat terduduk sambil mengerang nikmat dan Mbak Juliet tampak
begitu menikmati si Junior yang berada di dalam mulutnya sampai-sampai
ia memejamkan matanya. Tangan kiriku kembali meremas-remas bauh dada
Mbak Juliet, sedangkan tangan kananku menyentuh bagian bawah buah
pantatnya.
"Mmh.. Mmh.. Emhh..!" rintihnya sambil terus mengulum si Junior ketika kuraba-raba vaginanya.
Mbak Juliet semakin memperkuat sedotannya sehingga memaksaku untuk semakin mengerang tidak karuan.
Seakan tidak mau kalah, kumasukkan tanganku ke selangkangannya dari arah
perut dan dengan mudah jariku mencapai liang senggamanya yang sudah
sangat basah itu. Dalam 2... 3... 4 detik jariku menyentuh sebuah daging
sebesar kacang yang sudah menonjol keluar di bagian atas kemaluan Mbak
Juliet. Jari tengah dan telunjukku segera mengocok kacangnya Mbak Juliet
dengan cepat.
"Mmhh.. mmhh.. ahh.." Mbak Juliet melepaskan Juniorku dari mulutnya untuk berteriak histeris menikmati kocokanku di klitnya.
Sekitar 10 menit kami saling mengocok, meremas, dan menghisap diikuti
dengan gelinjangan dan jeritan-jeritan histeris, ketika tiba-tiba Mbak
Juliet menengadahkan wajahnya ke arahku dan merintih.
"Son... Mbak udah nggak tahan nih... please..!" tanpa menunggu kata-kata
selanjutnya kuangkat tubuh janda cantik itu dari posisi berlututnya.
Kusuruh dia meletakkan kedua tangannya di atas meja menghadap cermin
rias sehingga Mbak Juliet kini berada dalam posisi menungging. Tampak
buah dadanya bergelayut seakan menantang untuk diperah.
Kurenggangkan kedua kaki putih dan mulusnya, lalu kugosok-gosokkan
Juniorku di belahan pantatnya sebelum kuturunkan menulusuri tulang
ekornya. Kutempelkan di vaginanya yang dari tadi sudah siap tempur.
Perlahan-lahan kusodokkan penisku ke dalam kemaluannya yang sudah sangat
banjir itu.
"Aahh..!" Mbak Juliet menggigit bibirnya menikmati penisku yang tengah memasuki vaginanya.
"Oohh.. Son. Oohh..!" erangnya keenakan.
"AAAAKHH..!" jeritnya ketika dengan agak keras kusodokkan Juniorku sedalam-dalamnya.
Tampak Mbak Juliet itu masih menggigit bibirnya menikmati si Junior yang terbenam penuh di dalam liang senggamanya.
Segera kupompakan si Junior dengan cepat dari arah belakang, terus
kutempelkan perut dan dadaku di punggung wanita itu dan kedua tanganku
dengan keras meremas-remas dan memelintir kedua puting buah dada Mbak
Juliet yang sudah sangat keras itu.
"Oohh.. ouhh..!" erangnya keras sekali.
Tiba-tiba Mbak Juliet mengangkat kepala dan badannya ke arahku dengan
menengok ke arah kiri dan menjulurkan lidahnya. Dengan cepat kusambut
lidah yang menggairahkan itu dengan lidahku dan kami pun berciuman
dengan posisi Mbak Juliet yang tetap membelakangiku. Karena ia
menegakkan badannya, Mbak Juliet menaikkan kaki kirinya ke atas meja
riasnya untuk memudahkanku terus menyodokkan si Junior.
Sambil terus melumat bibirnya dan menyodok, tanganku kembali
meremas-remas kedua buah dadanya. Tangan kiri Mbak Juliet menjambak
rambut di belakang kepalaku untuk mempererat tautan bibir kami.
Ketiaknya yang berbulu lebat menyebarkan wangi khas yang membuatku
semakin bernafsu lagi. Tiba-tiba Mbak Juliet merintih-rintih sambil
terus mengulum lidahku. Tampak alisnya mengerut, wajahnya
mengekspresikan seakan-akan kenikmatan yang amat sangat menjalari
seluruh tubuhnya, ia dengan cepat membimbing tangan kananku yang masih
asyik meremasnya untuk kembali memainkan kacangnya. Goyangan pinggulnya
menjadi semakin cepat tidak terkendali, dinding kemaluannya mulai terasa
berdenyut-denyut.
Dia keluar dengan sangat dasyat, sampai pahaku basah terkena
semprotannya. Lalu, aku berhenti sebentar, supaya kondisi vaginanya
pulih kembali, sebab dia sudah mencapai puncak orgasmenya. Kugendong dia
dan kubaringkan di ranjang. Aku kagum dengan tubuhnya yang sempurna
itu.
"Kamu kenapa Son..?" katanya sambil membersihkan bekas cairannya di kemaluannya.
"Sony kagum ama tubuh Mbak yang aduhai itu..." kataku.
"Emang kamu baru pertama ya... melihat tubuh cewek bugil..?" tanyanya.
"Ya... Mbak. Sony baru sekali ini melihat tubuh cewek bugil di hadapan Sony." kataku.
"Ahh.. kamu bohong. Kalau kamu baru pertama bagaimana kamu bisa semahir
itu ngerjain Mbak. Mbak sampai melayang dan keluar sebegini banyak..?"
katanya tidak percaya.
"Ya.., Sony nggak tahu. Sony hanya belajar dari pengalaman teman-teman
Sony. Itu aja. Sony memang baru pertama kali melakukan ini. Dan ternyata
ngesex itu mudah dan nikmat. Apalagi di sini ada cewek secantik Mbak
menemani Sony. Ya kan Mbak..?" kataku sambil kukecup bibirnya.
"Ya dehhh. Mbak percaya." katanya.
"Mbak. Sony belum keluar lho." kataku.
"Kamu mau ngerjain Mbak lagi. Ya deh.., Mbak juga udah teransang lagi
nih..!" katanya sambil membuka kakinya dan terlihatlah liangnya yang
masih sedikit basah.
Perlahan-lahan kuarahkan Juniorku ke depan bibir kemaluannya, sengaja
tidak kumasukkan dulu, tapi kubuat main-main dulu dengan cara
kuserempetkan ujung kepala Juniorku ke klitorisnya. Dia mulai mengerang
lagi. Perlahan kumasukkan batangku ke lubang kenikmatannya yang masih
agak basah oleh semprotan cairannya tadi.
Dan, "Bleeess..." batang kemaluanku dengan gagahnya maju memasuki liang surga Mbak Juliet.
"Ooh... Sonn... enak Sonn... oh... terus Sonn.. ohh.. oohh..!" desahnya sambil tangannya meremas kedua putingku.
Aku semakin mempercepat goyangan. Setelah beberapa lama, keringatku pun
membasahi dada Mbak Juliet. Tubuh kami berdua berkeringat hingga kami
pun bermandi peluh. Justru hal itulah yang membuatku makin bernafsu.
Sambil merem melek aku menikmati hal itu, hingga perutku mulai mengeras,
otot perut mulai mengencang siap untuk meledakkan sesuatu, bergetar
hebat.
"Oh Mbak. Sony mau keluar. Sony mulai keluar Mbak..! Keluarin di mana Mbak..? Dalem ya..? Oh.. oh..!" aku mengerang kenikmatan.
"Keluarin di dalam aja Say, Mbak juga mulai keluar nih. Yah.. yah.. terus Son..!" dengan menjerit Mbak Juliet terlihat pasrah.
"Ooh... Mbak... sekarang... yaaa... oh... ah... ahh... sshh... ah..!"
"Crot.. crot.. crot.. cret..!" kusemburkan spermaku di dalam liang
vagina Mbak Juliet, begitu banyak spermaku sampai-sampai tertumpah di
sprei.
Aku menjatuhkan badan di sisi Mbak Juliet, lalu Mbak Juliet bangun dan
mengulum batangku yang masih berlepotan spermaku, menjilat dan
mengulumnya sampai bersih. Rupanya dia menelan sisa-sisa sperma yang ada
di batangku, lalu terjatuh di sisiku juga. Kami berdua terengah-engah
dengan napas memburu, mencoba memahami apa yang kami lakukan tadi.
"Thank's ya Mbak. Mbak baik sekali ama Sony." kukecup kening dan pipinya sambil meremas payudaranya.
"Ya. Mbak puas dengan kamu Son. Dan mestinya Mbak yang berterima kasih
sama kamu. Sony telah mengisi masa kesepian Mbak." kata Mbak Juliet
sambil mengecup bibirku dengan mesra.
Kami pergi mandi membersihkan badan, lalu berganti pakaian terus
tertidur dengan nyenyak. Mbak Juliet tidur di sampingku sambil
memelukku. Ohh, sungguh nikmatnya.
Kira-kira jam 8 aku terbangun oleh sinar matahari yang menerobos melalui
celah gordin jendela. Mbak Juliet masih terlelap dalam pelukanku.
Tubuhnya meringkuk seperti anak kecil, dan yang lucunya ia sedang
mengenyot jempolnya seperti bayi. Kubelai rambut Mbak Juliet yang
tergerai di atas dadaku. Oh ya, pada saat itu aku hanya mengenakan
celana pendek saja. Sementara Mbak Juliet memakai kaosku karena dia
tidak membawa ganti jadi ya kebesaran.
Ternyata belaianku membuat Mbak Juliet terbangun. Walaupun tidak membuka
mata, tapi senyumnya mengembang, masih sambil menghisap jempolnya.
Tangan satunya kini menyelinap di antara pahanya dan pahanya semakin
dirapatkan. Kuperhatikan betisnya yang lencir bulir padi, indah sekali
plus tumit yang lancip kecil pink. Walaupun udara kamar tidak terlalu
dingin, namun tetap saja kulit kami merinding kena dinginnya udara pagi.
Aku berusaha meraih jas wool-ku di meja lalu kupakai menyelimuti Mbak
Juliet, kontras dengan kulit putih mulusnya.
"Mbak kedinginan ya..?" tanyaku sambil mengecup keningnya.
Mbak Juliet hanya mendesah sambil tubuhnya menggeliat merapat. Si Junior
dari tadi berdiri terus, sepertinya tidak tahan melihat paha mulus Mbak
Juliet. Lalu tanganku menyelinap ke balik jas hitamku mengelus paha
mulus Mbak Juliet.
"Son, udah dong. Mbak ngantuk nihh..!" tiba-tiba Mbak Juliet protes manja.
Mendengar itu bukannya berhenti malah jariku mulai menyelinap ke arah
pangkal pahanya. Mbak Juliet hanya mendesah manja. Kini terasa lembutnya
celana pendek piyama sutraku. Kugesek sebentar kawasan sex spotnya, wah
langsung basah dan merembes pada celana sutra hitamnya.
"Ooh Son, I like that. Terus..! Oohh..!" erang Mbak Juliet.
Kusingkirkan jasku lalu kutegakkan tubuh Mbak Juliet sejenak, lalu
kubaringkan. Kuambil posisi menindihnya tapi masih kutopang dengan
tanganku. Lembut kukecup bibir Mbak Juliet yang merekah. Ia langsung
menyedot dan mengulum bibir bawahku. Tangan Mbak Juliet kini merangkul
tengkukku dan bermain dengan rambutku. Tangan kananku masih menopang
tubuhku sementara yang kiri merangsang celah kemaluan Mbak Juliet.
Jariku kini menyelinap ke dalam celana sutra dan CD-nya dan merasakan
halusnya labia mayoranya yang sudah basah. Jari tengahku mulai berani
menembus celah basah itu. Wah, masih sempit seperti malam tadi juga.
Mbak Juliet mulai mendesah dan menggelinjang. Sekalian saja kulepaskan
pakaian tidurnya dan 'onderdil'-nya. Mbak Juliet tidak protes malah
membantu. Giliran kini celana pendek kutanggalkan. Mbak Juliet tampaknya
tidak sabaran juga, kaos oblongnya langsung dilepas, lalu BH-nya,
sehingga payudaranya yang montok terlihat menjulang bagaikan 'Gunung
Semeru'. Jadilah kami berdua totally naked and ready to esek-esek.
Perlahan kugesekkan si Junior ke vaginanya. Woow.., rasanya panas
kontras dengan hawa kamar yang dingin. Lalu perlahan-lahan Mbak Juliet
mulai mencoba memasukkan si Junior ke liang kemaluannya dengan bantuan
tangannya. Kedua tanganku menopang tubuhku pada ranjang.
"Aah.. Son..! Terus.., ohh..!" erangnya sambil membantuku dengan menekan pantatku ke depan.
Batangku menembus bibir vaginanya. Wah.., kok hanya masuk kepalanya
saja, jelas saya tidak tahan. Mungkin kemaluannya belum benar-benar
basah, soalnya tadi aku tisak pemanasan dulu.
Dengan sentakan, kumulai menekan ke bawah supaya si Jumior masuk lebih
dalam, untung Mbak Juliet sudah mulai basah. Dia hanya kaget sebentar
sebelum akhirnya ia merangkul tengkukku dan menekankan wajahku pada
dadanya yang bulat sintal putih mulus.
"Son, ohhh... punyamu kok tambah melar..? Ohh..!" erangnya.
Mbak Juliet terus merintih, sepertinya kesakitan beneran. Ya sudah, lalu kupelankan sedikit.
"Sorry Sayang. Kalau sakit bilang yah..!" seruku berbisik lembut.
Mbak Juliet mengangguk, tampak setetes air mata di sudut matanya. Wah..,
tidak tega aku. Ya sudah, kubiarkan dia yang menentukan kecepatan.
Walaupun terasa kemaluannya licin dan basah, tapi masih sempit sekali,
aku sedikit tidak percaya, padahal tadi malam tidak sesempit ini. Namun
perlahan dan pasti Mbak Juliet tetap memaksa si Junior masuk.
Perlahan ia menaikkan pinggulnya. Dengan gerakan setengah berputar, si
Junior tertekan untuk menyodok kemaluannya kembali. Batangku sudah tidak
sekeras tadi gara-gara aku kasihan melihat nafsuku membuat Mbak Juliet
kesakitan. Lama-lama agak longgar juga. Lalu kuberanikan mulai mengenjot
si Junior di dalam liangnya. Mbak Juliet mulai mengerang tidak karuan.
Liar dan sexy, tangannya kini meremas pantatku.
Beberapa menit kami begitu bersemangat hingga suatu saat, seketika si
Junior serasa dijepit oleh kemaluan Mbak Juliet. Terasa dinding rahimnya
meremas-remas dengan dahsyat sekali.
"Ohh... Mbak... keluarr..! Ahh..!" erangnya.
Lalu, pinggulnya liar menggelinjang dengan kuat. Rupanya Mbak Juliet
orgasme. Setelah itu terasa basah sekali sampai cairannya menetes pada
kantung penisku.
Tiba-tiba muncul seleraku menikmati juicenya yang jelas banjir bandang
itu. Kucabut si Junior yang disambut protes wajah Mbak Juliet yang
merengut. Namun begitu kuraih pinggulnya, ia tahu maksudku. Dengan cepat
ia berbalik lalu menungging, kedua tangannya menopang pada pinggiran
ranjang sedang lututnya terkembang pada ranjang. Pantatnya yang bulat
indah megal-megol menggoda untuk dimasuki.
Mbak Juliet tersentak kaget ketika ternyata aku tidak kembali melakukan
penetrasi, melainkan berlutut di belakangnya lalu menjilati celahnya.
Satu tangannya meraih ke belakang menjambak rambutku. Ia melenguh keras
dan menikmatinya. Tidak lama kemudian kembali Mbak Juliet mengejang, dan
hidungku mendadak basah kena cairan berbau khas yang meleleh. Lalu,
tubuh Mbak Juliet langsung lemas di atas ranjang. Langsung saja kuangkat
pantatnya. Si Junior masuk lagi dari belakang. Licin banget sampai
bunyi kayak orang kentut gitu saking kencengnya genjotanku.
"Ohh.. udah Son, ahh..!" Mbak Juliet berteriak menyuruhku berhenti, tapi mana mau aku berhenti.
Tangannya mencengkeram erat sprei dan tubuhnya terus menggelinjang
hebat. Setelah 15 menitan menggenjot, akhirnya kucabut si Junior lalu
kubalikkan tubuh Mbak Juliet. Lalu kusodorkan saja penisku itu ke
wajahnya.
"Ahh.. Mbak. Sonny... keluarr..!" erangku keenakan.
Kukeluarkan segenap benih cintaku ke dalam mulut Mbak Juliet yang terus
menyedot. Si Junior lalu memuncratkan cairanku ke wajahnya. Kira-kira 5
semprotan kukeluarkan, dan dilahap habis oleh Mbak Juliet. Ternyata
pengalaman nonton 'BF' ada gunanya ya.
Lalu, kami berpelukan dengan tubuh telanjang.
"Son, makasih ya, kamu telah memberi saluran yang selama ini belum
pernah Mbak rasakan." katanya sambil mencium bibirku dengan lembut.
"Terus gimana Mbak tentang rencana Mbak selanjutnya. Mbak mau jadi kekasih Sony..?" tanyaku.
"Entar aja deh, biar Mbak pikir-pikir dulu, Son." katanya.
"Bila Mbak benar-benar mau jadi kekasih Sony, Sony nggak akan mengecewakan Mbak." kataku.
"Ahh, yang bener Son. Emang kamu masih mau ama aku. Cewek yang udah tua ini..?" katanya.
"Sony cinta ama Mbak sejak pertama lihat Mbak tadi. Sony nggak
memperdulikan usia Mbak berapa, yang penting Sony cinta ama Mbak."
kataku sambil mengecup bibirnya.
"Ohh Son, kau sungguh lelaki jantan dan bertanggung-jawab. Sebetulnya
Mbak juga suka ama kamu, tapi kan Mbak sadar kalau usia Mbak udah di
atas kamu. Tapi, kenyataannya kamu suka ama Mbak. Jadi, Mbak setuju aja.
Tapi Sony sabar dulu ya, manis." katanya sambil mengecup bibirku lagi.
"Tapi.., Mbak masih mau lagi kan esek-esek lagi dengan Sony..?" tanyaku.
"Ya dong Sayang. Mbak kan kesepian dan kamu harus memuaskan Mbak setiap waktu. Ya Sayang." katanya.
Itulah ceritaku yang menjadi salah satu kenanganku bersama seorang
suster. Setelah itu aku menjadi kekasih baginya dan selalu siap melayani
keinginan birahinya, pokoknya segalanya adalah untuk dia.