Waktu diusiaku yang beranjak dewasa, aku merasa bangga terhadap diriku
yang ceria, supel, riang, penuh canda dan memiliki keindahan yang ada di
dalam diriku. Tidak jarang aku berkumpul dan berjalan-jalan dengan
kenalan baru, untuk saling mengetahui hal-hal yang baru. Aku di sekolah
memiliki teman yang cantik dan seksi, sebut saja namanya Rina, tetapi
diriku memiliki lebih dari apa yang dimilikinya. Temanku memiliki tubuh
yang ideal, tinggi diatas 165 cm, berat 40 kg lebih, kulit putih mulus,
bokong yang padat, dan yang paling kami banggakan adalah keindahan kedua
buah dada yang kami miliki (34B lebih ukurannya), terkadang kami suka
memakai pakaian yang pedek dan ketat untuk dapat memamerkan apa yang
kami miliki, dan tentu saja indahnya tubuh kami sering dipuji. Bangga
rasanya dapat menarik perhatian orang, yang terkadang tidak berkedip
melihatku.
Sebut saja namaku Yulia, aku sangat akrab dan saling berbagi dengan
temanku ini, walaupun itu hal yang kecil dan sepele. Di sekolah dan
sepulang sekolah, rasanya seperti perangko saja, jarang berjauhan dan
selalu terlihat bersama, dan tidak jarang kami menginap bergantian.
Kalau sedang berdua, kami sering membandingkan sosok tubuh kami, apa
yang kurang dan apa yang lebih. Kami membandingkan tubuh dengan berbagai
macam jenis pakaian, dari yang dapat memperlihatkan indahnya tubuh dan
pakaian yang benar-benar tertutup.
Dia sering bercerita apa yang sering dilakukannya dengan pacarnya,
sampai ke hal-hal yang disukainya. Saat kami duduk berdua, dia
menceritakan bagaimana dia merawat dadanya, dia mengajarkan bagaimana
menghindari penyakit kanker payudara. Rina mengajarkan cara memijat dan
lain-lain. Dia mengatakan kalau wanita menyusui sangat minim untuk
terkena kanker. Dengan berbisik, Rina mengatakan kepadaku cara
menjaganya dengan cara lain, tetapi lebih suka bila dibantu.
Dia berbisik lagi, "Dibantu dengan pacarku."
Lalu kubertanya, "Bagaimana..?"
"Sepeti ini (tanganya lalu meremas-remas dadanya) dan kadang dihisap,
awalnya aku risih, tapi karena aku suka, jadi aku menyenanginya
(pacarnya dan caranya)."
"Aku bingung.., seperti apa sih..?" jawabku.
"Bodoh kamu..!" kata Rina, lalu dia melepaskan pakaiannya dan memang
bentuknya indah, aku saja terkagum-kagum, apa lagi pacarnya, buah
dadanya mulus dan terlihat padat.
Lalu dia melepaskan BH yang menutupi keindahan dadanya. Kedua dada yang
padat dan kedua puting yang merah terlihat lembut. Lalu tanganya
meraba-raba, meremas-remas kedua puting yang terlihat bulat, akhirnya
kedua puting payudara itu mengeras dan kedua dadanya tegang.
"Seperti ini..." katanya.
Dan dia memainkan puting yang merah itu sambil berkata, "Dia menghisap
ini dengan nafsu, dan lembut juga lidahnya memainkan ini, nikmat loh..!"
"Apa nikmatnya..?" kataku.
Lalu dia menghampiriku dan tanganya meraba dadaku (yang ukurannya lebih
besar dari miliknya), "Seperti ini loh Non.., dadamu boleh juga ya..?"
kata Rina sambil tersenyum dengan peragaan kedua tangannya.
Rasanya aku tidak menyuka hal seperti ini, tetapi perlahan-lahan aku rasakan nikmat.
"Awalnya risih, tapi lama-lama rasanya lumayan, enak juga..!" kataku.
Kemudian kulihat tatapan matanya ke wajahku, rasa ingin berbagi pengalamannya terlihat.
"Bolehkan kubagi pengalamanku..?" sahut Rina dengan rasa penasaran,
"Biar kamu tau yang kunikmati dari pacarku.." sambungnya dengan rasa
ingin memberitahunya yang tinggi.
Aku berpikir dan rasanya penasaran juga, "Seperti apa sih..?" tanyaku dengan sikapku yang ingin mengetahui lebih lagi.
Lalu Rina meremas, dan kemudian mengangkat kaosku, sehingga BH-ku yang berenda dan berwarna krem dapat ditonton.
Rina melihat dan memujiku, "Kalau kamu punya pacar pasti suka dengan yang satu ini.. (dada berukuran 36 yang putih dan mulus)"
Dia pun melepaskan kedua kaitan bra-ku, bra yang tadinya menutup dengan
sesak kedua buah dadaku, akhirnya diangkat bersama kaosku, sehingga
tiada sehelai kain pun menutupi dadaku yang tertutup sesak, dan seakan
dadaku sekarang lepas dan terlihat mengembang. Memang ukuran yang
aslinya lebih besar dari bra yang kupakai.
Lalu tangan Rina merangkulku, tangannya meraba-raba dadaku sambil berkata, "Kayak ini loh non.."
Kemudian dia memainkan putingku, wajahnya menghampiri dadaku yang
satunya, lalu bibirnya mulai mencium putingku. Setelah beberapa lama,
kurasakan sesuatu yang nikmat.
"Nikmat Rin..." sahutku kepada Rina.
"Lanjut ya..?" sahut Rina sambil mulutnya melanjutkan tugasnya.
Putingku yang merah dan mengeras akhirnya masuk ke dalam mulut Rina.
Kurasakan kelembutan dan kenikmatan, sehingga rasanya tubuh ini pasrah
untuk dinikmatinya. Dadaku pun mengeras, kurasakan titik kenikmatan dari
putingku yang menyebar dan mengalir ke seluruh tubuhku. Sesaat
kurasakan kenikmatan itu mengalir ke bagian tengah tubuhku, tepatnya
diantara kedua paha tepat di bawah perut yang tertutup bulu-bulu hitamku
yang lembut. Rasanya terbang tinggi tanpa sadar. Aku merasakan puncak
pertamaku, walau itu hanya dari cumbuan. Rasanya ingin terulang kembali.
"Terima kasih ya..!" kuucapkan kepada Rina.
"Senang rasanya dapat berbagi dan memberi tau kamu.." ucap Rina.
Lalu kami mengenakan pakaian lagi.
Hari pun terus berganti, Rina terus membagi pengalamannya kepadaku. Dia
terus mengajariku banyak hal. Pernah dia bercerita tentang hal yang
tidak pernah lepas disaat dia bersama pacarnya, yaitu berciuman. Dia
bercerita kalau pacarnya sekarang bukan yang pertama, dia sudah mengenal
beberapa bibir yang membuat kenangan padanya.
"Apa nikmatnya kissing.., kenapa kamu suka..?" sahutku ke Rina dengan rasa penasaranku.
"Makanya pacaran biar tahu, kamu mau tau..?" jawab Rina.
"Sebenarnya udah banyak cowok yang ngajak pacaran, tapi aku belum mau aja..!" balasku.
Aku terus mengungkapkan rasa penasaranku ke Rina, Rina pun memberi
respon, dan dia berkata, "Kamu mau kalo aku kasih tau, aku praktekin..?"
katanya sambil bercanda.
"Mau Rin, kamu bisa..?" jawabku serius.
"Bisa.., ehm... cuma kissing kamu aja kan..?" jawab Rina yang terlihat bingung.
Aku bingung campur penasaran, lalu kujawab, "Aku ingin tau Rin."
Lalu Rina mendekatiku, dia menghampiri wajahku, bibirnya perlahan
menghampri bibirku. Aku merasa janggal, gemetar, tegang campur
macam-macam perasaan. Perlahan-lahan memangnya aksinya, dan akhirnya
bibirku tersentuh bibir Rina, kurasakan lembut dan nikmatnya sentuhan
bibir Rina, dan itulah yang pasti disukai pacarnya. Lalu Rina melepas
kecupan bibirnya, aku hanya terdiam dan tidak mengerti harus berbuat
apa.
"Bibir kamu lembut, kalo kamu pacaran pasti cowok kamu ketagihan..." sahut Rina.
"Masa..?" jawabku.
"Kamu mau tau banyak tentang kisssing..? Aku ajarin deh..!" kata Rina mulai agak bersemangat.
Dengan rasa masih penasaran, aku mulai menanggapi tawaran Rina, dan kujawab, "Aku ingin tau banyak.., ajarin aku dong..!"
Lalu Rina bercerita panjang lebar tentang pengalaman kissing-nya dengan
tahap demi tahap, dan lalu kami mempraktekannya. Entah mungkin karena
kami berteman dan sama-sama sejenis, mungkin kami tahu dan mengerti apa
yang harus dilakukan untuk berbagi kenikmatan. Akhirya kami sama-sama
merangsang seluruh tubuh kami, ah.. nikmatnya tiada tara.
Kami terus berbagi dan mengulanginya dari hari ke hari, tetapi itu hanya
terbatas karena kami sama-sama sejenis, dan tidak ada rasa suka, yang
ada hanya kenikmatan. Waktu pulang sekolah, aku tidak dapat pulang
bersama Rina, karena dia sudah diajak pacarnya. Aku pun pulang bersama
teman yang lain. Sesaat ditengah perjalanan pulang rasanya aku ingin
main dan menginap di rumah Rina saja. Akhirnya aku menuju ke rumah Rina.
Saat aku sampai dan pintu rumahnya ternyata terkunci, aku pun masuk
dengan kunci cadangan pemberian Rina. Rumahnya tenyata sepi, kukira dia
ada di rumah. Sekilas aku mendengar suara Rina (entah seperti apa
suaranya, hanya terdengar samar) di dalam kamar. Akhirnya kamar Rina
kuhampiri. Kubuka perlahan pintunya supaya dia tidak kaget. Astaga,
alangkah kagetnya aku, kulihat Rina sedang berdua dengan pacarnya tanpa
sehelai pakaian di badannya (kecuali pacarnya). Untung pintu terbuka
sedikit sekali, aku hanya dapat mengintip. Aku hanya terdiam menatap
Rina dengan pacarnya, maklum baru kali ini aku melihat insan berduaan
dengan gairah seperti itu.
Awalnya mereka berciuman, lalu meraba-raba, dan yang dilakukan Rina
dengan dadaku sama seperti yang dilalukan pacarnya, meraba, meremas,
menghisap dan begitulah. Kulihat Rina menikmati dan terlihat pasrah
untuk dinikmati. Tubuhnya pasrah, wajahnya terlihat melayang seperti aku
waktu itu, tetapi tidak sehebat aku terbangnya. Aku heran melihat
pacarnya yang tidak hanya mencumbu dada Rina, tetapi juga mencumbu
belahan yang juga kumiliki yang ada di antara kedua paha. Rina pun
kulihat melayang, dan sesaat kemudian dia mengeluarkan suara desahan
yang kuat, aku pun samar-samar merasakannya juga.
"Ah, nikmatkah rasanya, seperti apakah nikmatnya..?" pikirku dalam hati.
Sesaat kulihat beberapa jari tangan pacar Rina keluar-masuk di antara
paha Rina yang tertutup bulunya. Kulihat kaki Rina melebar, seakan-akan
serakah mengambil tempat. Tidak beberapa lama Rina terbangun dan memberi
isyarat supaya pacarnya mendekatkan pinggangnya ke arah wajah Rina.
Lalu kulihat Rina melepaskan celana pacarnya, aku heran melihat tonjolan
di celana pacarnya. Seperti apakah tonjolan di balik celana dalam itu.
Rina mengelus dan mencium tonjolan itu, aku berpikir sambil heran
seperti inikah caranya pacaran. Tanpa basa-basi lagi Rina menarik dan
melepaskan celana serta CD pacarnya.
"Ah, seperti itukah tonjolan yang selama ini yang samar-samar kuketahui..?" kataku dalam hati.
Aku hanya dapat melihat dengan terpana dan heran, tetapi sesaat
kurasakan aku menyukainya juga. "Kapankah aku dapat mengetahuinya lebih
jelas..?" kataku lagi dalam hati sambil berusaha membayangkannya.
Rina mendekap tonjolan itu dengan jemarinya. Kelima jari Rina kemudian
mengusap-usap milik pacarnya dengan nikmatnya. Kulihat pacar Rina
menegang. Tidak lama kemudian wajah Rina menghampiri tonjolan yang
didekap dan dielus-elus jemarinya itu. Lalu bibirnya pun terbuka seperti
goa, lidahnya keluar dan menjilat tonjolan yang pucuknya seperti jamur
itu. Kulihat lidah Rina menyentuh dengan nikmatnya, dan bibirnya mulai
terbuka lebar lagi. Milik pacarnya pun masuk ke dalam goa itu (mulut
Rina) sampai dalam. Kulihat Rina memejamkan mata dengan perlahan sambil
menikmati yang masuk ke dalam mulutnya. Mulut Rina dan bibirnya terlihat
seperti menghisap permen dengan nikmatnya.
"Ah, kurasakan nikmat lembutnya bibir dan lidah Rina waktu di dadaku,
pasti pacarnya menikmatinya seperti yang kurasakan di dadaku." kataku
dalam hati.
Milik pacarnya terlihat hampir keluar, dan akhirnya tertelan lagi di
mulut Rina yang lembut. Mulut dan kepala Rina bergerak terus dengan
nikmatnya. Kulihat adegan berikutnya, setelah masuk dan dinikmati
mulutnya, kulihat Rina menarik milik pacarnya dengan perlahan (sambil
merebahkan badan, kakinya seperti membuka stand) ke arah tepat di bawah
perut, di antara kedua paha Rina. Dibalik bulu Rina yang halus dan
hitam, kulihat dari jauh itulah yang dituju milik pacarnya yang perlahan
seakan hilang dan bersembunyi di tubuh Rina. Kulihat mereka berdua
tegang, lalu milik pacarnya hadir dan terlihat lagi, kemudian masuk dan
terus menerus seperti itu. Dan perlahan-lahan bergerak cepat. Suara Rina
yang mendesah halus seakan perlahan-lahan dibesarkan volumenya sampai
besar.
Cukup lama aku mengintip mereka berdua dengan perasaan heran dan ingin
tahu. Beberapa waktu kemudian, milik pacarnya ditarik keluar dari
tubuhnya, dan kulihat dia menegang. Rina terbangun dari terbangnya, dan
kulihat wajahnya menghampiri milik pacarnya. Sesaat entah apa yang
keluar dari milik pacarnya dan terbang ke arah mulut Rina yang terbuka.
Kulihat pacarnya merasakan kenikmatan, tampaknya Rina terlihat tidak
puas dengan sesuatu yang terbang masuk ke mulutnya, lalu dia terlihat
kembali menghisap milik pacarnya sampai air yang keluar itu habis
tertelan mulutnya.
Setelah itu mereka beristirahat, dan setelah beberapa lama pacarnya
bergegas pergi dari rumah Rina. Saat itu pun aku bergegas bersembunyi di
lantai atas rumah Rina. Terlihat dia naik ke lantai atas untuk
mengambil sesuatu. Dia kaget, ternyata aku ada di atas dan bersembunyi,
aku pun kaget sambil tersenyum.
"Sudah dari kapan kamu datang..?" tanya Rina.
"Udah lama..." jawabku.
Lalu dia mengajakku turun setelah mengambil yang dicarinya. Dia mengajakku ke kamarnya, dan lalu kami bercerita panjang lebar.
"Apa kamu liat pacarku tadi disini..?" tanya Rina.
"Aku tidak sekedar ngelihat pacar kamu, tapi juga melihat kalian berdua.." jawabku.
"Jadi kamu melihat kami..?" kata Rina sambil penasaran.
"Emang, aku penasaran dan ingin tau, jadi maaf ya Rin..?" jawabku.
"Tapi ini rahasia kita ya..?" sahut Rina.
"Kita kan teman, ya saling menjaga dan berbagi. Seperti apa sih Rin
rasanya, kamu ngerti ngelakuinnya ya..!" kataku kemudian sambil
bercanda.
"Kamu mo tau ya..? Enak.., aku suka, aku butuh, ini bukan yang pertama
Yul, sebenarnya sudah sering aku ngelakuinnya, tapi ini yang pertama di
rumahku. Aku sering ngelakuin di rumah pacarku, rumahnya sepi, tapi
sebenarnya bukan sama dia aja loh hubungan ini kulakuin. Kadang aku sama
mantan masih berhubungan, soalnya kita masih ada rasa suka. Tapi kita
udah punya masing-masing, mantanku ada dua. Dan aku pernah berhubungan
bertiga, kita sama-sama butuh dan puas, dan kita sama-sama jaga rahasia,
kecuali aku ke kamu. Kalo kamu pengen tau tentang gituan, nanti
kujelasin banyak deh, kita kan temen..." ucap Rina dengan panjang lebar.
"Aku jadi pengen, boleh liat lagi nggak..?" sahutku sambil bercanda.
"Besok-besok kalo pengen tau kamu bisa ngintip kami kok..!" dijawab Rina dengan serius.
Ternyata Rina menepati janjinya. Aku dapat melihat dia berhubungan saat
di rumahnya. Lama-lama kupikir aku juga suka. Kayaknya aku juga
menginginkannya.
Suatu hari aku dan Rina berkenalan dengan beberapa anak pria dari
sekolah lain. Wawan, Edwin, Aris, Sandi, Ari dan Heri, dan beberapa
diantaranya sudah kuliah (Aris dan Heri). Kami akhirnya akrab dan kami
sering berkumpul. Suatu saat mereka mengajakku dan Rina berjalan-jalan
ke pantai. Tempatnya di luar kota, jaraknya pun cukup jauh, mungkin ada
tiga sampai lima jam perjalanan lamanya. Kami berencana menginap di sana
dalam acara liburan akhir minggu. Aku dan Rina dapat ijin dari
keluarga, karena kami memberi alasan kumpul bersama teman-teman sekolah
kami.
Aku dan Rina bersepakat untuk bersaing dulu-duluan menarik perhatian
mereka, siapa yang paling mereka sukai. Awalnya kami kira kami hanya
berempat dengan Aris dan Heri yang pergi. Tetapi ternyata berdelapan.
Aku dan Rina menganggap suasana menjadi lumayan lebih ramai. Akhirnya
kami janjian bertemu di tempat kost salah satu dari mereka. Sebelumnya
Rina dan aku berganti pakaian terlebih dahulu di sana, dan akhirnya aku
dan Rina memulai permainan. Kemudian Rina melepas semua pakaiannya
sampai yang tersisa hanya celana dalam, begitu juga aku. Tubuh kami yang
indah terlihat semua dan itulah rencana dari permainan kami. Kami
akhirnya mengenakan rok sedengkul dengan belahan yang lumayan, sehingga
dapat memamerkan kemulusan paha kami sepenuhnya. Kemeja tanpa lengan
dengan kancing di depan kami pakai, dan terkadang memperlihatkan pusar
kami. Ah rasanya pakaian kami cukup seksi, karena sudah membentuk tubuh
kami yang sudah indah menjadi lebih indah lagi. Ketatnya baju ini
seakan-akan kami merasakan seperti dipeluk dengan dekapan erat. Kedua
buah dada kami terlihat indah bentuknya, memang aku dan Rina sengaja
untuk tidak memakai bra yang menyelimuti mahkota seperti biasanya.
Kemudian kami keluar dari kamar kost. Mereka yang melihat, langsung
terpana karena tubuh indah kami, sehingga membuatku dan Rina merasa
bangga. Akhirnya kami berangkat setelah menjelang selesainya siang. Kami
berangkat dengan sebuah mobil minibus, supaya dapat beramai-ramai. Aku
dan Rina duduk di tengah-tengah, diapit Aris dan Heri. Aku pun belum
pernah duduk berdua dengan pria seperti ini. Di perjalanan, untuk
menghilangi rasa jenuh kami bernyanyi dan bercanda. Di tengah perjalanan
kurasakan mata mereka menelanjangi tubuhku dan tubuh Rina. Senang
rasanya, karena mata mereka lebih banyak menuju ke tubuhku ini. Dari
celah-celah kancing pun, bentuk bulat dada kami kadang-kadang terlihat
dengan jelas.
Kulihat Rina melepas beberapa kancing supaya agak terbuka sedikit. Aku
tentu tidak mau kalah, akhirnya kulakukan juga. Kadang aku agak
menunduk, sehingga belahan dadaku dapat terlihat jelas. Rupanya kenalan
Rina (Aris) dengan Rina sudah benar-benar akrab. Mungkin karena pakaian
kami, mereka tidak melepas pandangan mereka dari kami. Aris tampaknya
mulai melakukan penjajakan ke Rina, sehingga Rina pun tertarik padanya.
Aris mulai memegang tangan Rina dan perlahan dia mencoba merangkul Rina.
Awalnya Rina menolak, tetapi tampaknya dia tetap mencoba terus dan
tidak menyerah. Dia terus memuji tubuh Rina. Yang kutahu, Rina sangat
suka dipuji akan tubuhnya, dan itu merupakan suatu kelemahan Rina. Aris
memuji wajah Rina yang cantik, kulit yang putih mulus, rambut yang
indah, dada dan bokong yang indah. Rina pun senang dan bangga.
Maklumlah, kami masih anak-anak yang beranjak dewasa, sehingga kami
cepat salah tingkah.
Aris meremas dan mengelus-elus jemari Rina. Kulihat Rina menyukainya. Dia memuji paha Rina yang putih dan mulus.
"Paha kamu mulus dan indah ya..?" sahut Aris.
"Kamu suka ya..?" jawab Rina.
"Andai itu milikku, andai kubisa menikmati halusnya..." sahut Aris.
"Seperti apa..?" sambil tangan Rina menaruh tangan Aris di pahanya.
Tanpa basa basi dan menunggu waktu, aris langsung mengelus-elus dengan
nikmat paha Rina yang terlihat utuh karena belahan roknya. Tampaknya
Rina mulai menyukai Aris.
Tanpa terasa waktu cepat berganti, Rina dan Aris mulai terlihat dekat.
Aris berhasil merangkul Rina. Dan tidak itu saja, dia juga membelai
rambut Rina, mencium pipi Rina, entah mengapa mereka cepat dekat seperti
itu. Kulihat Aris berhasil mengelus paha Rina sampai ke pertemuan dua
paha. Rok Rina terangkat tinggi sampai celana dalam Rina terlihat.
Tampaknya Rina sudah terbawa melayang dengan sentuhan Aris, maklum
gairah kami terlalu tinggi dan cepat datangnya. Aris menyiumi Rina mulai
dari pipi, kuping, leher lalu ke bibir. Rina menikmatinya dan bibir
mereka berperang. Tangan Aris mengelus paha Rina dengan nikmatnya, lalu
perlahan pindah ke belahan di celana dalam Rina, pinggang, perut, lalu
dada Rina. Awalnya Rina menolak, tetapi gairah Rina yang sudah muncul
membuatnya melayang dan susah untuk berkutik dan menolak.
Tangan Aris meraba-raba dada Rina dan meremas-remas, lalu menuju kancing
Rina dan melepaskannya satu persatu secara perlahan. Kancing Rina
terlepas dan terlihat indahnya sebagian tubuh Rina. Lalu Aris meremas
dada Rina secara langsung, sehingga keindahan tubuh Rina dapat dinikmati
setiap mata di dalam mobil.
Setelah beberapa lama hal ini terjadi, Aris dan Rina menghentikan asmara
mereka. Rina menutup kembali tubuhnya yang indah itu, walaupun
tampaknya mereka belum puas. Kami terus berjalan, dan akhirnya sampai di
pantai yang kami tuju. Kami bersenang-senang di pantai. Akhirnya kami
berkumpul di dalam mobil. Kami bercanda di dalam, entah mungkin suasana
yang sepi dan lembut merubah rasa-rasa yang ada di dalam jiwa. Rina dan
Aris tampaknya melanjutkan permainan mereka yang belum selesai. Aku agak
risih di samping Rina, karena aku belum pernah berhubungan, apalagi
yang seperti ini.
Wawan yang duduk di depan tampaknya terangsang dengan tubuh Rina. Dia
pun tampak ikut meraba dan menikmati tubuh Rina. Akhirnya Rina dan Aris
bercinta tanpa peduli dilihat seisi mobil. Wawan pun tidak mau kalah,
dia ikut bercinta dengan Rina bergantian dengan Aris. Tampaknya Rina
tidak canggung dan menikmatinya. Entah mengapa kurasakan tangan Heri
meremas dadaku. Aku menolaknya, "Jangan..!" kataku tersentak, entah
mengapa aku malah terangsang.
Dia dengan nafsunya menyerang tubuhku, aku agak meronta dan menolak,
tetapi aku tidak sanggup bergerak banyak, rambutku dijambak oleh Sandi
dari belakang. Edwin tidak mau kalah, dia segera menarik kedua tanganku
ke belakang.
Heri akhirnya dengan leluasa dapat menikmati dadaku, aku hanya dapat berkata, "Tolong jangan..!"
Mereka tampaknya tidak peduli dengan ucapanku, yang ada hanya nafsu untuk menikmati tubuhku.
Aku menangis pelan. Tampaknya Rina tidak mendengarnya, Heri, Sandi,
Edwin terus menyergapku. Sandi menciumi wajahku, Heri meremas-remas
dadaku dengan nafsu. Awalnya aku merasa takut. Heri meraih kancingku dan
melepaskannya, sehingga dadaku terlihat jelas. Tanpa henti dia juga
meraih resleting rokku, dan perlahan melepaskannya bersama celana
dalamku. Dia tidak menikmati dadaku lagi, tetapi yang ada di balik bulu
halusku. Entah mengapa aku menikmati sentuhan jemarinya, ah mengapa jadi
aku terangsang. Akhirnya jarinya keluar masuk di lubangku (hilang
keperawananku) dan sesaat aku mendesah. Dadaku memang tidak disentuh
Heri lagi. Sandi yang menjambak rambutku mengecup bibirku dengan nafsu,
lalu tangannya menikmati dada kananku. Edwin yang memegang tanganku ikut
menikmati dada kiriku.
Waktu terus berjalan, entah mengapa aku menjadi terbawa. Walaupun aku
meronta, aku sebenarnya menikmatinya. Tubuhku yang indah ini akhirnya
mereka nikmati secara bersamaan. Perasaanku bercampur aduk, aku disentuh
oleh mereka. Karena waktu sudah agak malam, akhirnya kami ke rumah Aris
yang kosong bersama-sama. Di sana kami bermalam bersama, tampaknya Rina
bingung menghadapi teman baru kami. Tubuhku dan Rina tampaknya menjadi
hidangan mereka malam ini. Mereka terus menyerang tubuh kami, Rina dan
aku tidak bisa mengelak hasrat mereka.
Di dalam rumah aku menjadi bulan-bulan mereka, aku terus menolak, tetapi
apa daya tenaga mereka lebih besar. Aku diboyong ke tempat tidur. Kedua
tanganku dipegang dengan erat, sehingga aku hanya bisa pasrah dan
mengalah. Bajuku dilucuti. Cahaya lampu terang pun mempertontonkan seluk
beluk tubuhku, dan membuat mereka semakin terangsang. Kali ini aku
ditiduri langsung, tanpa ada rabaan dan cumbuan. Ah, entah mengapa aku
malah merasakan kenikmatan, mereka bergantian memegangi tanganku, dan
secara bergantian pula mereka memasukkan milik mereka ke liang vaginaku.
Tampaknya aku hanya bisa pasrah, beberapa kali aku merasakan ada
sesuatu yang menyembur di dalam liangku. Mereka melakukannya
berkali-kali padaku sampai aku lemas tidak sadarkan diri. Dan entah apa
yang terjadi pada Rina.
Pagi pun menjelang, aku mulai terbangun dengan tubuh lemas ini.
Aris menyapaku, "Pagi Yul..", yang begitu juga jawabku dengan kesadaran yang bertahap.
Kucari pakaianku, tetapi aku tidak mendapatkannya.
Heri menemuiku di kamar, "Pagi Yulia..." sapanya sambil menghampiriku dan meraba-raba tubuhku kembali.
Kali ini aku tidak dapat menolak keinginannya. Ternyata tubuh ini
terhanyut bersama nafsu mereka. Heri menganjurkanku mandi, aku rasa
memang aku harus mandi. Akhirnya kumasuk ke kamar mandi untuk menyuci
tubuhku, pasti segar rasanya.
Mulai basah tubuh ini tersiram air segar, tiba-tiba pintu kamar mandi
terbuka, terlihat Aris dan Heri di depan pintu dan bergegas masuk.
Mereka segera melepas pakaiannya, lalu menyiram tubuh mereka dengan air
seperti yang kulakukan.
"Kita mandi sama-sama ya..?" sahut mereka.
Setelah beberapa lama, kurasakan Heri mendekatiku dari belakang, lalu
mendekapku dan meraba dadaku serta meremas-remas. Aris juga
menghampiriku, dia mendekap salah satu buah dadaku yang tersisa dengan
jemarinya. Aku canggung, sesaat Aris menghisap dadaku yang dipegangnya,
lalu dia mengecup dan menikmati bibir lembutku. Tanpa menunggu waktu,
jari-jarinya pun masuk ke lubang vaginaku. Aku tidak berkutik, entah
cepat sekali diri ini bergetar lemas. Jari-jarinya keluar-masuk dengan
leluasa.
Tidak puas dengan jemarinya, dia segera memasukkan miliknya ke tubuhku.
Ah, aku tidak sanggup menolak, aku diapit dua lelaki dengan penuh nafsu
dan birahi. Mereka pun bergiliran kembali, tubuhku dinikmati sambil
berdiri. Kemudian Heri bergantian dengan Aris. Kemudian mereka
bergantian lagi. Entah mengapa, karena tidak sanggup menahan birahi,
Heri yang bergantian dengan Aris berusaha memasuki lubang anusku.
Awalnya kurasakan sesuatu yang aneh, kukira sakit. Awalnya miliknya
tidak dapat masuk, tetapi karena usaha yang gigih dan dengan berbagai
cara, akhirnya anusku dapat dimasukinya. Keluar-masuklah milik mereka
bersamaan di semua lubangku. Sesaat beberapa lama suaraku agak merintih
pelan, dan akhirya mendesah kuat. Aku tidak dapat berkutik, aku tidak
mengerti harus berbuat apa, mereka terus mendekap dan menikmati tubuhku.
Entah mengapa aku merasakan kenikmatan dan puncaknya.
Akhirnya kami selesai mandi. Tubuh ini segar tersiram air dan lemas
terpakai secara bergiliran. Sehabis mandi pun aku dan Rina tidak dapat
mengenakan pakaian, mereka terus menggerayangi tubuh kami tanpa ada rasa
puas.
Terkadang aku dan Rina meminta baju kami, tetapi jawab mereka, "Tubuh kami yang menjadi baju kalian.."
Ternyata kata-kata mereka pun benar-benar mereka lakukan. Merekalah yang
menjadi baju kami. Terkadang mereka memuji aku dan Rina. Aku dan Rina
agak canggung, karena baru kali ini kami tidak mengenakan pakaian
sehelai pun dihadapan banyak lelaki. Mereka tampaknya berusaha supaya
kami seperti ini, agar mereka dapat terus-menerus menikmati indahnya
tubuh kami.
Akhirnya siang pun tiba, awalnya aku dan Rina dicumbu secara
berpasangan. Aku tidak dapat menolaknya, aku mulai menyukai nikmatnya
berhubungan. Setelah beberapa lama, aku mulai dicumbu dua orang, saat
itu aku melihat milik Heri. Aku penasaran, karena aku mulai menyukai
yang berbentuk itu. Aku ingin mengetahui seperti apa nikmatnya, apakah
yang dirasakan Rina dan yang akan kurasakan dengan mulut ini. Akhirnya
tubuh ini mulai dinikmati milik mereka, aku tambah penasaran, akhirnya
kudekap milik Heri yang belum menikmati tubuhku. Miliknya kudekap dengan
jemariku dan kumasukkan ke dalam mulutku, kurasakan bentuknya di dalam
mulutku. Kulakukan seperti yang pernah Rina lakukan. Kurasakan
nikmatnya, dan entah mengapa aku mulai menyukainya. Lama-lama kurasakan
agak asin, tetapi malah kusuka dan menambah gairahku, beberapa lama
kurasakan tumpahan di dalam mulutku.
Aku berpikir, "Tampaknya aku tambah menyukainya.." lalu kutelan, rasanya
seperti menelan telor penyu, tetapi ini benar-benar kunikmati. Birahiku
memuncak. Akhirnya mereka menggilirku dan Rina secara bergantian,
sehingga kami semua sudah saling bersentuhan, tiada satu pun yang
tersisa.
Akhirnya kami selesai dengan liburan akhir minggu, dan lalu kami
bergegas ke tempat asal. Di jalan pun kami masih tetap bersentuhan.
Tampaknya birahi kami terus menguat. Setelah kejadian itu, mereka
tampaknya tidak mau lepas dari aku dan Rina. Mereka mengisyaratkan rasa
tanggung jawab terhadap kami atas apa yang telah terjadi, dan mereka
berusaha mendapatkan kami seutuhnya. Aku dan Rina pun berhubungan terus
dengan mereka tanpa ada rasa menyesal.
Sempat aku pernah terlambat bulan, dan mereka mau menikahiku, tetapi
rasanya aku tidak mau di usia sekarang ini. Akhirnya salah satu diantara
mereka, yaitu Aris dapat membuatku datang bulan. Dia mengundangku ke
rumahnya, dan dia memberikan alat test untuk kucoba, dan ternyata aku
positif. Tetapi dia membuat semua ini seakan-akan tenang-tenang saja.
Lalu dia memberikan obat untukku, yang katanya dapat membuatku dalam
waktu beberapa jam menstruasi. Tetapi sebelum kupakai obat itu, dia
meminta ijin kepadaku untuk mengecup bibirku. Awalnya kutolak, tetapi
akhirnya karena tidak enak dengan kebaikannya, akhirnya kubersedia, dan
kuberikan sebagai ucapan terima kasihku. Akhirnya dia senang dan mulai
melahap bibirku, entah mengapa bibir dan lidah kami jadi berperang,
birahi kami pun bersaing memuncak.
Adegan demi adegan berlanjut, sehelai demi sehelai kain pun tertanggal
dari tubuh ini. Akhirnya tubuh kami menyatu penuh dengan birahi.
Tampaknya dia tidak ada puas-puasnya untuk merasakan tubuhku, serasa
hanya ini kesempatannya. Karena usia kami masih muda dan kondisi kami
sangat fit, akhirnya ronde demi ronde pun terjadi. Semburan demi
semburan kurasakan di dalam tubuhku. Tetesan demi tetesan yang keluar
dari miliknya juga tertelan mulut ini, sampai tidak dapat dikeluarkannya
lagi, dan kami berdua jatuh TKO. Setelah itu kupakai obat pemberiannya
dan beberapa waktu kemudian rasa yang kualami setiap bulan kurasakan
kembali.
Hari-hariku terus berjalan, persahabatanku dengan Rina berlanjut dan
jiwa kami masih muda, kami ingin banyak mengenal sesuatu yang baru. Kami
sering mendapat kenalan baru dan kami saling berbagi, dan juga bertukar
pasangan. Pengalaman dan pengetahuan kami terus bertambah. Setiap
lelaki yang tidur denganku dan Rina tidak mau lepas. Mereka berusaha
memiliki kami. Tubuh dan wajah yang indah dan kemampuan kami di atas
ranjang benar-benar membuat mereka ketagihan. Hubungan sex kami sangat
aktif, hampir setiap hari kami bergiliran dengan setiap pacar kami.
Rasanya makin diasah, gairah kami makin tajam, sampai-sampai tidak dapat
dibendung lagi.
Beberapa kali kami berkerkenalan dengan pria yang hampir setua orangtua
kami, aku dan Rina bertahap mulai dekat dengan mereka. Mereka baik,
lembut dan pengertian, selalu mau mengerti perasaan kami. Disuatu hari,
Om Edo mengajak kami jalan-jalan, kami senang dan dapat bergembira
dengan puas. Keesokan harinya, aku diajak Om Edo jalan-jalan ke Lembang.
Di sana kami jalan-jalan ke beberapa objek wisata terdekat. Udara pun
kurasakan dingin, gerimis membasahi bumi, aku tidak kuat menahan rasa
dingin. Rasanya aku perlu penghangat untuk menghangati tubuh ini.
Beberapa kali kupegangi telapak tangan Om Edo untuk merasakan hangat.
Beberapa lama Om Edo akhirnya mengerti keadaanku, dia merangkulku untuk
membagi kehangatan tubuhnya.
Sampai di suatu tempat yang tenang, di sana hanya ada kami serta
tumbuh-tumbuhan saja. Awalnya kami duduk di antara pepohonan. Om Edo
berada di samping sambil merangkulku. Aku menyukai hangat tubuhnya.
Tampaknya cara duduk kami mengganggu, akhirnya kupindahkan tubuh ini ke
depan Om Edo. Aku duduk di depan tubuhnya, dan kurasakan kehangatan di
belakang tubuhku. Dia memelukku dari belakang. Salah satu tangannya
kuajak ke atas pahaku dan lalu kuelus-elus. Tangan Om Edo memeluk
pinggangku. Perutku dielus dengan pelan, tampaknya dia menikmati
sentuhan tanganku, begitu juga denganku. Tampaknya kami berdua mulai
merasakan sesuatu yang menghangat. Tangan Om Edo tidak mau kalah dengan
tanganku, dia mengelus-elus pahaku, ah lembutnya yang kurasakan.
Tahap demi tahap tangannya mengarah ke lubangku, aku menikmatinya. Nafsu
kami pun meningkat, Om Edo mencium dan menikmati telingaku, ah beku
tubuh ini rasanya. Perlahan dia mencium pipi dan leherku dengan lembut,
lalu perlahan ke arah bibirku. Akhirnya kami berciuman, alangkah
lembutnya Om Edo yang kurasakan.
Perlahan kulepas kecupannya, lalu kudekati telinganya, dan kubisikkan, "Yang lembut ya Om..!"
Om pun menunjukkan kemampuaanya, dia membuai jiwa, batin dan tubuhku,
serasa melayang diri ini. Kupasrahkan tubuh ini untuk Om Edo, dan kami
pun sama-sama menikmatinya.
Bibir Om Edo mengecup bibirku kembali, tangan kirinya mengelus-elus
celana tengahku dengan lembut. Perlahan telapak tangan kanannya yang
memeluk perutku kuarahkan ke dadaku, kurasakan lembutnya sentuhan
tangannya. Tangannya segera melakukan tugasnya dan kunikmati sentuhan
lembutnya. Perlahan kancing dan resteling jeans-ku dibuka Om edo. Tangan
kirinya menyusup ke dalam celanaku. Rupanya lubangku sudah terangsang
dan basah. Tanpa basa-basi, Om Edo menggosok daerah sensitifku, tanganya
tidak terburu-buru masuk ke vaginaku. Perlahan tangan kanannya meraih
kaitan bra-ku dan melepasnya perlahan. Tangan kanannya menyusup dan
mengelus pundakku, lalu perlahan ke depan, ke dadaku.
Sesaat beberapa lama kemudian, dia mengangkat kaos dan bra-ku, sehingga
mahkotaku terlihat jelas. Bibirnya perlahan berjalan, dari bibir, dagu,
leher, pundak dan akhirya putingku masuk ke dalam mulutnya yang lembut.
Dada, perut dan daguku reflek terangkat. Perlahan tanpa kusadari
tanganku melepas kaos dan bra-ku, celana jeans-ku pun agak kuturunkan
sedengkul, dan akhirnya kulepas semuanya dan kami buat menjadi alas.
Secara perlahan jari Om Edo masuk ke lubang vaginaku, ah daguku
terangkat tinggi. Kedua tempat itu, yaitu dada dan vaginaku disentuh Om
Edo. Perlahan jari Om Edo keluar-masuk di lubang vaginaku, awalnya aku
tidak kuat menahan nikmatnya sampai aku tegang dan menahan nafas. Aku
melayang jauh dan tidak sanggup bergerak, yang bisa hanya pasrah
menikmatinya.
Sesaat kurasakan rangsangan yang kuat, dan kukeluarkan desahan yang
tidak sanggup kutahan. Tampaknya Om Edo mengerti. Tanpa kusadari bajuku
menjadi alas dan Om Edo perlahan memeluk tubuhku dari depan. Dengan rasa
pasrah dan penuh dengan kenikmatan, kudekap tubuh Om Edo. Perlahan
kurasakan ada sesuatu yang keras dan menonjol di dekat bawah perutku,
lalu perlahan masuk ke vaginaku, daguku terangkat dan suaraku tidak
sanggup kutahan. Desahan demi desahan suaraku yang tegang pun mengeras,
sampai akhirnya kami merasakan puncak dari semua itu. Akhirnya dari sana
kami berangkat menuju ke tempat Om Edo di daerah sana. Karena kami
belum puas, kami pun melakukannya kembali di tempat Om Edo.
Setelah semuanya terjadi, suatu saat Om Edo mengajakku menikah.
Maklumlah, dia ditinggal istri-istrinya (istri yang lalu) yang sudah
tiada, dan dia tidak memiliki anak. Dia mengatakan butuh aku, tetapi
kutolak, dan aku janji tetap membantu sesuatu yang kurang padanya, maaf
jawabku, begitu juga dengan Om Edo, dia berkata sama. Mulai dari situ
aku menyukai Om-Om, karena mereka memiliki cara berpikir dan emosi yang
sudah matang. Pernah suatu saat kukatakan pada Om Edo kalau aku pernah
hamil, dan untunglah tidak terjadi, lalu kuungkapkan aku tidak mau hamil
di usia ini. Lalu Om Edo mengenalkanku dengan alat-alt KB, lalu kucoba
dan ternyata aku memilih spiral, karena lebih aman. Lalu kutawarkan Rina
untuk memakainya, dan dia menyetujuinya. Akhirnya saat kami datang
bulan, Om Edo mengajakku dan Rina ke dokter kenalannya, lalu kami
dipasangkan spiral.
Akhirnya kami merasa tenang dalam setiap berhubungan. Tidak ada rasa
was-was, yang ada hanya kepuasan. Setiap semburan dari penis dapat kami
rasakan dan nikmati di dalam permainan. Aku melakukannya bukan hanya
dengan Om Edo, tetapi juga dengan Om yang lainnya, tapi hanya Om Edo
yang terbaik. Suatu hari Om Edo ulang tahun, aku bingung harus memberi
hadiah apa, dia sangat baik.
Sesampainya di rumahnya kami, (aku dan Rina) hanya merayakannya bertiga,
dia, aku dan teman baikku Rina. Akhirnya kami jalan-jalan. Dan akhirnya
sampai kami kembali ke rumahnya, aku bingung karena tidak ada hadiah.
Terlintas aku ada ide, pastilah kami suka.
Lalu aku bertanya pada Rina, "Kamu mau nggak ama Om Edo..?"
Rina menjawab, "Terserah kamu, boleh aja..!"
Lalu aku mengajak Rina dan Om Edo ke kamar, di sana aku memancing Om
Edo. Akhirnya dia terpancing, dan kami bermain bertiga. Karena hebatnya
Om Edo, nafsu kami (aku dan Rina) menjadi tinggi. Dia mencumbu kami
secara bergiliran. Karena aku dan Rina tidak kuat menahan nafsu, jika
ada kesempatan, milik Om Edo kami nikmati, dan seterusnya kami bermain
sampai puncak.
Tampaknya Om Edo sangat berterima kasih kepada kami, terutama kepadaku.
Segala sesuatu yang kami khayalkan selalu dijadikan kenyataan oleh Om
Edo. Waktu aku di kelas akhir sekolahku, aku dan Rina sudah sering
berganti-ganti pacar (cowok), tetapi tidak semuanya dapat merasakan
tubuh kami, karena kami tidak memberinya sembarangan. Kebetulan aku dan
Rina adalah teman sekelas, ya jadi kami sering bertemu. Saat itu
kebetulan aku dan Rina memiliki pacar yang sekelas, ya kami jadi sering
berjalan bersama. Hubungan kami sudah tidak ada batas lagi, kami sering
berkumpul di rumah kami secara bergantian. Tentu saja jalinan hubungan
kami sangat dalam, sampai ke dalam tubuh kami.
Hubungan kami tidak hanya di luar sekolah, di dalam sekolah pun hubungan
kami dengan pasangan kami sangat aktif. Setiap keadaan yang
memungkinkan, dan bila hasrat kami muncul, kami pun melakukannya.
Maklum, pakaianku sangat memungkinkan, sesaat kuangkat rokku tinggi,
kulepas sedikit CD-ku, maka milik pasangan kami dapat masuk dengan
leluasa, tentu saja dengan gaya tertentu. Terkadang di kelas, di wc
sekolah, atau tempat lainnya yang aman, kami terus melakukannya. Tentu
kami harus bergiliran berjaga-jaga, supaya tetap aman. Tetapi aku dan
Rina masih berhubungan dengan teman pria kami yang dulu, serasa diri
kami rakus.
Akhirnya kami lulus dengan nilai yang cukup baik, dan kami mengadakan
perpisahan sekolah. Aku, Rina dan kekasih kami pergi perpisahan bersama,
kami berpasangan, dan tentu saja di sana kami mencari kesempatan untuk
mencurahkan birahi kami. Tetapi rasanya perpisahan bukan hanya untuk
kawan-kawan sekolah, tetapi juga kami (aku dan Rina) putuskan untuk
kekasih sekelas kami. Awalnya mereka tidak menerima dan menolak, tetapi
akhirnya mereka tidak dapat menolak, karena keputusan kami bulat, dan
kami jelaskan bahwa kami masih bisa akrab seterusnya.
Liburan panjang pun kami rasakan, tampaknya Aris dan Heri akrab lagi
terhadap kami, dan kami berjalan bersama. Aku dan Rina diajak berlibur
bersama mereka, dan kami pun bersenang-senang bersama. Seusai berlibur
dengan mereka, Om Edo pun memberi hadiah kepadaku dan Rina berlibur ke
Bali, dan kami merasakan kegembiraan bersama. Akhirnya kami kuliah, dan
tempat kuliah kami di pinggiran kota Jakarta. Di sana kami dibelikan
rumah oleh Om Edo sebagai tempat tinggal kami untuk kuliah. Kami
memberikan alasan ke keluarga bahwa tempat itu adalah tempat yang murah
dan baik buat kami. Akhirnya aku dan Rina tinggal di sana, dan kami
berhubungan akrab dengan Aris dan Heri, tetapi mereka tidak mengetahui
bahwa kami berhubungan dengan Om Edo yang kami katakan sebagai pemilik
kost.
Awal kuliah kami masih berganti-ganti pacar dan kawan. Mereka sering
menginap, begitu juga aku dan Rina. Akhirnya, di akhir semester, aku dan
Rina mulai serius dengan Aris dan Heri. Sering Om Edo, Aris dan Heri
bergantian bermalam, tetapi Aris dan Heri tidak mengetaui hubungan ini,
kecuali Om Edo. Akhirnya kami lulus kuliah, dan kami mulai mengurangi
aktivitas hubungan intim kami terhadap Om Edo, dan dia mengerti
keputusan ini. Sampai akhirnya kami (Om Edo, aku dan Rina) dapat jodoh,
sampai pada saatnya Aris dan Heri memiliki kami, akhirnya janur kuning
menyelimuti salah satu jari kami.
Aku, Rina, Aris dan Heri terus berhubungan sampai dengan hubungan yang
tidak akan pernah lepas. Kami sering ke luar kota bersama, di sana kami
berpasangan. Terkadang kami jenuh berhubungan dengan suami, tetapi kami
tetap berpasangan, pasanganku adalah suami Rina dan suamiku berpasangan
dengan Rina. Kami melakukannya untuk mendapat gairah dan mempererat
hubungan kami. Kami terus menikmati ini sampai di atas rajang, dan tanpa
ada rasa cemburu serta iri, kami terus berbagi. Mereka bangga memiliki
kami, tidak jarang setiap bersama, tubuhku dan Rina ditelanjangi dan
terus dinikmati suami kami secara bergantian. Terkadang aku dan Rina
serta Om Edo masih berhubungan jauh, terkadang sebulan sekali atau lebih
kami melakukannya tanpa diketahui pasangan kami.