Pagi itu sekitar pukul 9.00, setelah rumah sepi, Linda keluar dari
kamarnya hendak berenang dan santai sambil tiduran di tepi kolam renang
halaman samping rumahnya yang mewah. Hawa yang sejuk, menggodanya untuk
berenang di kolam renang di halaman samping rumahnya. Kebetulan Linda
memiliki berbagai macam pakaian renang yang dibelinya dari berbagai
butik. Linda kemudian memilah-milah pakaian renang mana yang akan
dipakainya. Apakah ia akan berenang dalam keadaan polos alias bugil,
karena di rumah hanya ada Ujang, pembantu prianya yang saat ini sedang
memotong rumput di sekitar taman samping, di sekitar kolam renang itu.
Ataukah ia akan berenang dengan bikini yang sangat sexy dan mampu
menggoda Ujang, jongosnya yang perkasa itu. Bukankah Linda hampir setiap
hari berani telanjang bulat dan seringkali disetubuhi oleh Ujang di
rumahnya yang mewah itu. Tetapi, setelah dipikir-pikir, akhirnya Linda
memutuskan untuk memakai pakaian renang two pieces, jenis micro thong
bikini, yang baru dibelinya disebuah butik. Pakaian renang itu begitu
tipis dan kecil, sehingga tidak mampu menutupi bagian tubuhnya yang
sexy. Sesaat setelah mengenakan pakaian renang itu,
Linda memperhatikan tubuhnya yang begitu indah dan menantang tertutup
oleh sepotong bra mini berwarna kuning muda yang hampir memperlihatkan
sebagian besar payudaranya yang montok. Terlihat jelas tonjolan puting
susunya yang montok itu di balik bra yang kecil dan tipis itu. CDnya,
yang juga berwarna kuning muda yang dipakainya begitu tipis dan kecil,
dengan tali kecil yang diikatkan ke kiri dan kanan pinggangnya. Tampak
jelas bulu-bulu kemaluan Linda keluar dari sela-sela CDnya. Begitu
terpampang bebas paha dan buah pantat Linda yang bening, putih mulus
yang gempal dan montok itu. Penampilan Linda yang dibalut bikini jenis
thong yang begitu menantang itu, pasti akan membuat Ujang, jongosnya
itu, naik birahinya. Linda memang sengaja mau menaikkan birahi Ujang
dengan pakaian renang yang amat sangat menantang itu. Setelah puas
memperhatikan kesexyan tubuhnya di cermin, Linda kemudian mengambil
cream sunblok dari meja riasnya dan dalam pikirannya ia akan meminta
Ujang untuk melumuri sekujur tubuhnya dengan cream itu sambil dipijat.
Lalu membiarkan Ujang dengan tangannya yang kasar merayapi sekujur
tubuhnya yang bening dan mulus. Dan selanjutnya tentu saja, dengan penuh
nafsu, Linda akan menyerahkan tubuh indahnya untuk ditunggangi atau
disetubuhi dengan begitu liar oleh Ujang, jongos kampungan itu yang
batang kemaluannya besar dan panjang serta mampu memuaskan hasrat
seksual Linda yang besar. Sengaja Linda tidak menutup tubuhnya dengan
handuk besar, tetapi ia hanya membawa handuk kecil saja yang biasa
digunakan untuk mengelap tubuhnya saat berkeringat dikala berolah-raga
di ruang fitness, di rumahnya.
Setelah siap, Linda keluar kamar
untuk memperlihatkan aksinya yang binal itu kepada Ujang, sang jongos
perkasa. Tetapi, ketika Linda keluar dari kamarnya dengan bikini yang
begitu super sexy, ia melihat adik iparnya Lily sedang duduk di ruang
keluarga sambil membaca majalah.
“Halo ci Linda, saya tadi sudah
sampai sekitar 30 menit yang lalu. Mampir sebentar mau ke Bogor, mau
ajak cici sih, soalnya malas berangkat sendiri” kata Lily.
“Yah,
kenapa semalam nggak telepon dulu? Soalnya kalo mendadak begini susah
juga. Aku mau berenang dulu nih” sahut Linda kepada Lily.
“Aduh sexy banget pakaian renangnya. Ini kan jenis thong yah?” tanya Lily.
“Iya
nih Li, cici baru beli dua hari yang lalu di butik di sekitar Jakarta
Selatan, jenisnya micro thong bikini. Enak lho dipakainya, nggak ketat”
demikian sedikit penjelasan Linda.
“Tapi ci, itu putingnya koq
menerawang begitu dan bulu jembutnya juga kelihatan. Jadinya sexy banget
kalo pakai jenis ini” Liliy masih agak heran dengan penampilan Linda.
“Nggak apa-apalah, kan sexynya di rumah sendiri” Linda memberi penjelasan ke Lily.
Lily
memang berlagak tidak tau kalo dia pernah mengintip Linda yang sedang
asyik bersetubuh dengan penuh nafsu di kamar jongosnya. Pikiran Lily
mulai jalan, mungkin saja Linda mau menggoda jongosnya itu dengan
penampilannya seperti sekarang ini, dan ujung-ujungnya pasti ML.
“Iya
kan ada Ujang, si jongos itu. Dan dia lagi beresin rumput di sekitar
kolam renang. Kalo dia lihatin terus, gimana ci? Apa nggak rugi, badan
yang putih mulus dan bening ini diliatin si Ujang?” Lily pura-pura
bertanya demikian.
“Ah jangan berpikiran begitu Li, mana dia berani
sama kita. Kita kan nyonya majikannya, dia pasti nggak berani. Percaya
deh!” demikian pembelaaan diri Linda.
“Apa nanti si Ujang nggak
napsu ci, kalo lihat cici pakai begini?” kembali Lily memancing-mancing.
“Nggak apa-apa koq. Kalo dia liatin terus, cuek aja. Hehehehe. Biar aja
dia ngeliat, kan kita bebas di rumah sendiri. Ikut berenang aja yuk”
demikian akhirnya Linda mengajak Lily, adik iparnya yang juga cantik,
putih dan mulus itu untuk ikut gabung berenang.
“Kalo gitu, kenapa
cici nggak berenang bugil aja? Sekalian aja ngasih lihat semua ke Ujang.
Hehehehe” Lily menimpali keberanian Linda.
“Pelan-pelan dulu dong.
Aku sih berani aja berenang bugil di depan Ujang. Mau bukti? Ntar lihat
aja. Yuk Li, ikut berenang” Linda menimpali pertanyaan Lily.
“Benar nih, ntar buktiin yah kalo cici berani berenang bugil di depan Ujang, hihihi”.
“Iya,
itu sih kecil…” Linda lalu menarik tangan Lily ke dalam kamarnya untuk
memilih pakaian renang jenis bikini yang juga tidak kalah sexy.
Linda
mempersilahkan Lily membuka pakaiannya dan memakai bikini jenis micro
thong warna abu-abu. Agak risih juga Lily bertelanjang di depan kakak
iparnya, sehingga Lily melakukannya di dalam kamar mandi yang ada di
kamar tidur itu. Sesaat setelah memakai bikini itu, Lily dapat melihat
betapa tubuhnya juga begitu sexy, putih sekali, bening dan menantang.
Lily merasa agak risih memakainya, karena pasti akan menjadi tatapan
mata Ujang yang liar itu. Lily akhirnya cuek saja, toh ci Linda juga
berani dengan bikini sexy seperti ini. Lily yakin penampilan dirinya dan
ci Linda yang dibalut bikini seperti ini, pasti akan membangkitkan
birahi Ujang. Dan seterusnya, Lily yakin, kalo ci Linda pasti berani
bugil dan berbuat sesuatu yang gila dengan Ujang. Sama seperti Linda,
Lily tidak membalut tubuhnya dengan handuk besar, tetapi mengambil
handuk kecil yang sudah disediakan oleh Linda di tepi ranjang. Dengan
sedikit keberanian, Lily mulai keluar dari kamar itu dan menuju kolam
renang. Setelah Lily keluar dari kamar Linda yang indah itu, Lily sudah
tidak menemukan Linda di dalam ruangan rumah itu, kemudian….. Ah rupanya
Linda sudah berada di sekitar kolam renang itu. Benar saja, Lily saat
ini sedang melihat pemandangan yang menggairahkan. Kakak iparnya itu
bukan sekedar berbicara dengan Ujang, tetapi lebih dari itu. Lily
melihat, kalau bibir indah Linda sedang disosor dengan begitu buas oleh
mulut jongosnya yang tebal itu. Ujang yang bertelanjang dada dan hanya
mengenakan celana boxer dekilnya itu, sedang asyik berpagutan dengan
begitu nafsu, bahkan tampak jelas kalau tangan Ujang yang hitam itu
sedang masuk ke dalam CD tipis dan mengobok-obok vagina Linda. Kini
Ujang bukan hanya asyik menikmati bibir Linda, tetapi juga asyik menyusu
di payudara Linda yang bening dan montok itu. Tampak sekali dengan
begitu nafsu, Ujang menikmati payudara Linda dan dengan jari tangannya
mengorek vaginanya. Hal itu membua Linda mendesah penuh gairah
“eegghhh
eeghhh eessshhhh aaahhh”. Mata Linda yang merem melek dengan rintihan
yang keluar dari mulutnya serta gelinjang tubuhnya, memperlihatkan kalau
ia menikmati perlakuan nakal dan buas dari jongosnya itu.
Jelas sekali Linda, membiarkan perlakuan Ujang atas tubuhnya.
“Sudah jang, nanti aja, ada Bu Lily. Nggak enak ah” akhirnya Linda meminta ujang untuk menghentikan aksinya itu.
“Sebentar
lagi nyah, nih memek nyonya juga sudah basah” kata Ujang sambil terus
mengoboki vagina Linda yang sudah berlendir, sebagai tanda sudah
dikuasai nafsu.
“Iya Jang, nanti kamu boleh ngewein nyonyamu ini sampai puas, tapi setelah Bu Lily pergi yah” demikian pinta Linda pada Ujang.
“Iya deh, nyonya cantik yang seksi, kalo gitu, Ujang ngewein nyonya ntar aja. Tapi kalo bisa…hehehehehe” Ujang tertawa.
Linda kemudian menyahut: ”Kalo apa jang? Ayo ngomong!”
“Kalo bisa sekalian ajak Bu Lily ngewe bareng, pasti enak hehehehehe” Ujang menyampaikan maksud liarnya ke nyonyanya.
“Huh dasar…… yah sudah, lihat nanti. Sana kerja lagi beresin tanaman” Linda meminta Ujang untuk kembali bekerja.
“Beres nyah… Ujang kerja lagi deh” sahutnya yang agak menjauh dr Linda dan mulai bekerja membereskan taman lagi.
Lily
menangkap pembicaraan Linda dengan Ujang apalagi mengenai permintaan
Ujang itu. Lily menilai, di satu pihak ucapan Ujang memang kurang ajar,
tetapi di lain pihak ucapan Ujang membangkitkan gairahnya. Bukankah Lily
pun sudah beberapa kali menyerahkan tubuhnya disetubuhi oleh Otong,
yang sama seperti Ujang adalah seorang jongos. Dan Lily juga pernah
disetubuhi oleh Mamat, tukang antar ayam goreng (eps 2). Dan bukankah
Lily sangat menikmati kocokan penis Otong dan Mamat yang besar dan
panjang di dalam vaginanya. Apalagi LIly juga tahu kalau penis Ujang
juga besar dan panjang, mungkin saja kini adalah kesempatannya untuk
menikmati penis mantap milik Ujang. Linda saja sampai mendesah penuh
nikmat, tentunya hal yang sama akan dialami olehnya bila ia disetubuhi
oleh Ujang.
“Ah biarkan saja, lihat apa kata nanti deh” Lily
perlahan jalan ke arah kolam renang itu, di mana Linda sedang rebahan di
kursi tidur di pinggir kolam itu.
“Waduuhhh Li, kamu juga sexy lho dengan bikini seperti itu. Body kamu masih yahud banget deh” puji Linda ke Lily.
“Ah
biasa aja ci. Body cici lebih ok. Kalau pakai bikini seperti ini, pasti
cowok yang ngelihatnya bisa nganceng abis deh hehehehe” Lily pun memuji
tubuh Linda yang jg masih indah kemudian mulai rebahan di kursi tidur
yang ada di samping Linda.
“Tapi masih lebih indah body kamu, Li.
Kan belum pernah melahirkan. Masih kenceng banget. Kalo aku kan sudah
pernah melahirkan si Merry” timpal Linda. “Iya, tapi masih tetap kenceng
koq. Pokoknya yahud banget deh. Apalagi kulitnya putih bening, pinggang
cici juga ramping, pahanya putih dan berisi, dan lagi payudara cici
masih begitu bagus. Pokoknya top deh” berkali-kali Lily memuji tubuh
Linda yang indah.
“Iya dong, nggak rugi kan buang uang untuk permak
body di Singapur. Jadi indah kan? Kapan nih kamu mau permak body juga di
Singapore, nanti aku kenalin sama dokter yang ok deh. Rumah sakitnya
juga ok banget” demikian penjelasan Linda pada Lily.
“Iya nanti aja deh setelah melahirkan yah. Kalo sekarang gimana ci, body saya?” tanya Lily kepada Linda untuk menilai tubuhnya.
“Bagus
kok, putih, bening, dan payudara kamu kelihatannya tambah montok nih!
Apa rahasianya yah?” balik Linda bertanya pada Lily.
Ketika
ditanya begitu, Lily menjadi agak malu karena memang payudaranya
bertambah besar, apalagi setelah Otong sering menyetubuhinya dengan
begitu nafsu sambil meremas payudaranya atau mengenyot putingnya dengan
rakus. Untungnya payudara Lily tidak kendor atau turun, payudara itu
masih kencang dan membusung sampai Linda pun memuji tubuh dan
payudaranya.
“Ah nggak diapa-apain koq ci, mungkin karena branya aja yang kekecilan. Memang sexy yah ci?” tanya Lily ke Linda.
“Wah
pokoknya, seksi deh payudara kamu, Li. Beruntung deh kita mendapat
karunia tubuh yang indah. Kan nggak malu kalau dipamerin, betul kan?”
demikian ungkap Linda.
“Ah dipamerin ke mana? Paling ke suami aja.
Tapi kalo ci Linda, kelihatannya suka pamerin body juga ke orang lain
selain suami yah? Hayo ngaku aja, hehehehehe.” demikian goda Lily
kepada Linda.
“Ih...ke siapa lagi sih? Jangan ngawur yah, nanti aku
cubit lho teteknya!” sahut Linda kepada Lily sambil mencolek dan agak
meremas sedikit payudara Lily yang juga menantang itu.
“Hihihihi
geli ci…geli ah. Hihihi, jangan dicubit dong. Tuh si Ujang ngeliatin
kita terus” kata Lily sambil melirik ke arah Ujang, karena jongos itu
sebentar-sebentar selalu memandang ke tubuh mereka yang dibalut bikini
sexy itu.
“Ci, katanya mau bereng bugil di depan Ujang! Mana buktinya” Lily mengingatkan Linda dengan nada menantang.
“Ok lihat aja. Tapi pelan-pelan dong bugilnya, Jangan buru-buru, kan nggak enak. Sabar yah” kata Linda meyakinkan Lily.
“Jang sini sebentar!” Linda dengan kuasa sebagai seorang nyonya majikan memanggil Ujang, pembantunya itu.
“Iya nyah. Kenapa nyah?” tanya Ujang yang masih bertelanjang dada menghampiri nyonya Linda.
Kelihatan sekali badan Ujang yang kurus dan hitam itu dibasahi keringat.
“Kamu bisa berenang juga kan, Jang? Yuk ikut berenang bareng” ujar Linda mengajak Ujang untuk ikut berenang.
“Tapi saya masa pakai celana ini nyah? Kan saya nggak punya celana renang” Ujang menyampaikan pendapatnya ke nyonya Linda.
Tatapan
mata jongos itu tanpa berkedip memandangi tubuh telanjang yang berbalut
bikini tipis dan sexy yang dikenakan nyonya majikannya itu.
“Tapi, kamu pakai celana dalam kan?” tanya nyonya Linda kepada Ujang.
“Saya pakai celana dalam nyah. Apa celana boxernya ini saya lepas aja?” tanya Ujang kepada nyonyanya itu.
“Yah
sudah buka aja, celana boxernya. Pakai celana dalam aja. Yuk ikut
berenang bareng!” nyonya Linda meminta Ujang untuk melepaskan celana
boxernya itu.
Ujang pun lalu membuka celana boxernya dihadapan
nyonya majikannya dan Lily. Ketika celana boxer itu sudah lepas, dan
Ujang hanya mengenakan CD berwarna hijau dan sudah agak kumal itu,
tampak kekaguman dari raut wajah kedua perempuan, yang tidak lain adalah
majikannya. Linda dan Lily dapat melihat sesuatu yang membonggol besar
di selangkangan Ujang. “Gundukan” di selangkangan Ujang tampak begitu
besar, seperti mau lompat keluar dr CD kumal itu. Meskipun tubuh Ujang
begitu hitam dan kurus, tetapi keistimewaannya ada di tengah
selangkangannya yang membonggol besar itu. Ini memperlihatkan, betapa
Ujang memiliki batang kemaluan yang begitu besar dan panjang. Kemudian
Linda bangkit dan siap mau berenang, tetapi tiba-tiba ia tidak jadi
nyemplung ke kolam itu. Linda lalu mengambil cream sunbloknya itu dan
melumuri lengannya dengan cream itu. tetapi ia tidak bisa melumuri
bagian belakang tubuhnya. Tadinya Linda mau meminta tolong Lily untuk
mengolesi tubuhnya dengan cream itu, tetapi supaya situasi tidak menjadi
kaku, justru Ujang yang diminta tolong untuk melakukannya.
“Jang sini dulu, olesin cream ini di badanku dulu yah!” pinta Linda kepada Ujang.
“Iya nyah” kata Ujang sambil mendekati nyonya Linda yang sudah tengkurap itu.
Linda
pun mengedipkan matanya ke Lily, seperti memberi tanda kalau
“pertunjukkan” akan segera dimulai. Lily pun menanggapinya dengan
tersenyum kepada Linda dan Lily paham kalau Linda akan memulai aksinya
itu.
“Sini olesin di pundak dulu, lalu ke kaki yah! Pokoknya semua badan saya diolesin cream ini yah” Linda menyuruh jongosnya itu.
Ujang pun menimpalinya dengan patuh: “Iya nyah.
”
Diambilnya cream itu dan sambil membungkuk, Ujang mulai melumuri tubuh
bagian belakang nyonya Linda. “Sambil sekalian dipijit yah. Biar nggak
pegel” ci Linda kembali memberi perintah ke Ujang. “Iya nyah, beres
deh.” Sahut Ujang menanggapi keinginan nyonya Linda. Tampak terlihat
oleh Lily, Ujang mulai mengolesi dan memijat tengkuk nyonya Linda.
“Eegghh…pijitanmu enak juga, Jang” puji Linda kepada pembantunya itu.
“Iya nyah, kalo untuk pijit aja sih gampang” kata Ujang sambil terus
memijati pundak nyonya Linda. Dan ketika Ujang mulai menggerakkan
telapak tangannya meyusuri punggung yang putih mulus itu, seakan ada
sesuatu yang menghalanginya, yaitu tali bra bikini itu. Mengetahui hal
itu, Linda kemudian meminta sesuatu kepada Ujang
“Kalo talinya menganggu. Dilepas aja, Jang.”
“Iya nyah” kata Ujang sambil menarik simpul pengikat tali bra bikini di belakang punggung Linda.
Kini
ikatan itu sudah lepas, dan tali itu sudah tidak menganggu punggung
Linda untuk diolesi cream. Saat Ujang terus mengolesi dan memijat bagian
belakang tubuh nyonya majikannya itu, tiba-tiba Linda menarik tali bra
bikini itu, dan dalam keadaan masih tengkurap, Linda menaruh bra bikini
itu di meja samping kursi tidur. Terlihat jelas gundukan payudara yang
sudah bebas dari penghalang itu, menempel di kursi tidur itu. Pijitan
lembut dari Ujang rupanya membuat Linda berkali-kali melenguh penuh
nikmat. Apalagi ketika Ujang mulai mengelus bagian samping kiri dan
kanan tubuh nyonya Linda, dan terus naik ke ketiak dan terus merambat ke
lengan Linda, beberapa kali tangan Ujang menyentuh bagian pinggir
payudara Linda. Hal itu tentu saja membangkitkan gairah dalam diri
nyonya Linda. Lagi-lagi ketika Ujang mulai mengolesi cream kearah
pinggang bagian bawah dan menuju ke pangkal paha bagian dalam, tangan
Ujang terhalang oleh CD bikini itu. Lily yang menyaksikan caranya Ujang
mengolesi dan memijat tubuh ci Linda, mulai terangsang juga. Kini ia
melihat sesuatu yang lebih menggairahkan lagi.
“Tali celana dalamnya di lepas aja, Jang” pinta Linda kepada Ujang.
“Oke nyah” kata Ujang kepada nyonyanya.
Ujang pun menarik simpul ikatan CD bikini itu. Lalu Linda memberi perintah lagi kepada Ujang:
“Jang, cd saya dilepas aja. Taruh di meja, di samping bra itu.”
Ujang
pun kembali melakukan apa yang diperintahkan Linda. Dia pun menarik CD
itu, hingga lepas dari tubuh Linda dan meletakkannya di meja seperti
diperintahkan Linda. Kini Linda, yang masih tengkurap itu, sudah tampil
telanjang polos bagian belakangnya di hadapan Ujang yang masih mengolesi
tubuh belakangnya dengan cream. Ketika tangan Ujang mengolesi bagaian
pantat Linda, tampak sekali Ujang begitu nafsu meremas pantat yang putih
dan gempal itu. Hal itu membuat nyonya majikannya mendesah dalam
lingkup birahi :
”eeggghhh Jang. Enak, pijitin terus Jang!”
Kini
Ujang akan mengolesi bagian paha bagian dalam. Perlahan telapak
tangannya yang hitam dan kasar itu menyusuri paha yang putih dan mulus
itu, terus ke bagian lipatan paha dalam Linda.
“Eeeggghhhhh…….aaahhhh” Linda mendesah penuh nikmat.
Telapak
tangan Ujang terus merambat ke pangkal paha Linda dan Lily melihat,
sepertinya Ujang menyentuh bagian yang sangat sensitif dari tubuh Linda.
Linda yang mendapat perlakuan seperti itu, semakin membuka pahanya dan
mengangkat sedikikit pantatnya, seolah-olah mempersilahkan tangan Ujang
menyentuh kemaluannya. Agak lama tangan Ujang bermain dibagian itu,
sehingga membuat Linda mendesah penuh gairah. Tak lama kemudian Ujang
mengatakan sesuatu ke Linda:
”Nyah, bagian belakangnya sudah selesai.”
“Ok, sekarang yang bagian depan yah. Sekalian dipijit yang enak yah” sahut Linda sambil membalik tubuhnya.
Lily
agak terkejut dan kagum akan keberanian kakak iparnya ini. Dan kini
tampaklah tibuh bagian depan Linda yang begitu indah, terpampang polos,
bugil di hadapan Ujang, jongosnya itu. Tidak ada perasaan sungkan dari
Linda, ketika Ujang menatapi sepasang payudara yang bebas tanpa
penghalang dengan putingnya yang berwarna kemerahan. Dan Linda juga
sengaja membiarkan Ujang menatap bulu kemaluan yang lebat dan vaginanya
yang agak mengintip itu. Linda sudah terlentang bugil polos, tanpa
penutup sedikit pun di hadapan jongosnya. Kemudian Linda mengatakan
sesuatu yang mengejutkan:
“Jang, kamu pijitan tetek saya yah.”
“Beres
nyah!” sahut Ujang sambil mengangkat sepasang tangan nyonya majikannya
dan meletakkannya di atas kepala Linda, sehingga tampak ketiak Linda
yang begitu putih dan merangsang.
Dengan posisi tangan di atas
kepala, membuat payudara Linda semakin membusung dan menantang. Ujang
mulai mengambil cream dan melumuri telapak tangannya dengannya, lalu……
“Aaagghhhh
Jaaangg, eennaakkkksss sekkaalliih. Ooouuggghhhhsss” demikian suara
rintihan yang keluar dari mulut Linda, ketika Ujang mulai meremas
payudara yang montok itu.
”Terus remas yang nikmat Jang….
Oooghhhssttt. Pijat putingnya….oooggghhhhss” Linda merintih ketika Ujang
meremas sambil mempermainkan puting payudaranya yang semakin menegang
itu.
Mata Linda merem melek sambil mendesis penuh gairah, saat Ujang mulai meremas dengan begitu keras.
“Remas yang kenceng, Jang” pinta Linda yang sudah diliputi nafsu.
Nafsu
birahi yang sudah menjalari sekujur tubuh Linda, sepertinya sudah
melepas perasaan malu, bahwa di hadapannya ada Lily, adik iparnya.
Tetapi di lain pihak, tindakan Linda dengan Ujang, memberikan sensasi
tersendiri, sehingga birahi Lily pun lama-lama mulai naik.
“Teteknya
montok yah nyah. Putih dan mulus lagi. Benar-benar mantep. Pentil
teteknya juga sudah nganceng” puji Ujang kepada nyonya Linda sambil
terus meremas payudaranya yang putih mulus menantang itu dengan
tangannya yang hitam kasar itu.
“Jang…essshhh putingnya dijilatin dong!” Linda meminta Ujang melakukan perintahnya.
Ujang
sambil terus meremas payudara itu kemudian melakukan aksinya yang lebih
berani lagi. Dengan mulutnya, Ujang mencaplok payudara nyonyanya dan
mengemut dengan begitu liarnya puting payudara itu. Tubuh Linda
menggeliat dan mulutnya terus mendesah menahan nikmat yang luar biasa,
ketika mulut Ujang melumat dan menggigit lembut pentil susunya. Ketika
Ujang menciumi dan menghisap payudara itu, Linda semakin membusungkan
dadanya agar Ujang bisa melakukan perintahya. Wajah Ujang kini sudah
menyatu lengket dengan payudara Linda. Kemudian perlahan tangan Ujang
mulai turun menyusuridan mengelus perut, pusar dan akhirnya mengelus
rimbunan bulu kemaluan Linda. Kelihatan jelas di mata Lily kalau Linda
sudah dikuasai nafsu yang begitu hebat dan menyerahkan tubuh bugilnya
diperlakukan dengan penuh nafsu oleh Ujang. Telapak tangan Ujang, tampak
mengelusi selangkangan Linda, dan kemudian menyentuh vaginanya. Lily
pun kembali melihat betapa liarnya jari jemari Ujang mulai mempermainkan
bibir kemaluan Linda. Perlakuan Ujang membuat nyonya Linda semakin
menggeliat, saat Ujang mulai mengelusi dengan begitu liar vagina itu.
Dan tanpa meminta ijin lagi pada Linda, Ujang mulai menyusupkan jari
tengahnya perlahan-lahan dan masuk ke dalam rongga vagina Linda.
“Egggssshhh
Jaanngg….eesshhhh..teeerruusss Jannngg. Aaagghhh eeenaakkksss…” Linda
sangat menikmati perlakuan Ujang yang begitu asyik mempermainkan
vaginanya.
Kini Lily terbengong-bengong melihat dan mendengar luapan
birahi kakak iparnya dan kelihatannya Ujang mampu menjadi pemuas nafsu
birahi Linda yang begitu menggebu-gebu. Mungkin Linda tidak pernah
mendapat kenikmatan ketika bersetubuh dengan suaminya, sehingga Ujang
yang hanya seorang pembantu yang menjadi pejantan untuk memuaskan nafsu
birahinya. Lily terus menyaksikan adegan Linda dan Ujang. Tampak dengan
penuh nafsu, Ujang menjilati, menyosor, mengemuti payudara montok dengan
bibir dan mulutnya, sedangkan tangan kanannya bermain di selangkangan
dan terus mengobok-obok vagina Linda yang berbulu rindang itu. Dilain
pihak, Linda sangat menikmati perlakuan Ujang atas dirinya. Beberapa
kali ia mendesah penuh nafsu dan membiarkan tubuh indahnya yang sudah
bugil diperlakukan seperti itu oleh jongosnya. Lily semakin naik
birahinya menyaksikan pemandangan sensual itu, kalau dahulu hanya
mengintip, kini dpt melihat dengan jelas perbuatan mereka.
“Aaaghhh
ennaakkk sseekkaaliii Jaaanng......teeerrruusssiiinnn Jaaannnggg
ooouuugghhh” Linda menggelinjang penuh birahi mendapat “serangan” Ujang.
Linda dan Ujang tidak menghiraukan keberadaan Lily di tempat itu,
bahkan mereka sengaja memperlihatkan tindakan sensual itu kepada Lily.
Karena terus diemut payudaranya dan diobok-obok vaginanya dengan penuh
nafsu oleh Ujang, akhirnya nyonya Linda menunjukkan tanda-tanda akan
orgasme.
“Ooouugghhh Jjaaannngg…. Akkuuuu kkeellluuuaaarrrr……eeessshhhh.” erang Linda panjang
Tampak
puas sekali Linda melepas letupan birahinya dan kemudian tubuhnya
melemas setelah mendapatkan kepuasan itu. Tampak sekali payudaranya agak
kemerahan karena dicupang dengan begitu nafsu oleh Ujang. Ketika Ujang
menarik jari tengahnya dari vagina nyonyanya, ia memperlihatkan lendir
birahi itu kepada nyonya majikannya yang cantik, lalu tiba-tiba Linda
menarik jari itu, mendekatkannya pada mulutnya dan menjilati jari itu.
“Nyah…memeknya rapet banget yah” puji Ujang kepada nyonya majikannya.
“Iya dong, kan dirawat” kata Linda.
“Iya nyah, padahal sudah sering Ujang coblos yah hehehehe” kata Ujang.
Mereka tanpa malu-malu bercanda cabul seperti itu di depan Lily. Lalu segera Lily menimpali:
“Wah rupanya ci Linda, sudah sering main sama Ujang yah? Hayo ngaku aja deh.”
Tampak wajah Linda merona merah ditanya seperti itu oleh Lily:
“Ujang jangan ngaco yah…”
“Nggak
apa-apa koq ci. Rahasia antara kita aja, ga usah kaya orang lain.
Omong-omong saya juga pernah ngintip cici waktu ML sama Ujang di kamar
Ujang. Wah seru banget deh hehehe.”
Ujang lalu ikut bicara: “Iya
benar non Lily, nyonya Linda paling suka sama kocokan kontol saya.
Apalagi kalo dengar erangan nyonya Linda waktu saya entotin….wah nafsu
banget deh.”
Tampak wajah nyonya Linda tambah bersemu merah ketika
Ujang membuka rahasia mereka, apalagi mendengar pengakuan Lily yang
pernah mengintip skandal antara dirinya dengan Ujang.
“Hayo Li, sekarang giliran kamu dipijat sama Ujang. Ayo Jang, kamu olesin badan non Lily sama cream ini.”
Masih dalam keadaan telanjang bulat, Linda mulai berdiri dan menarik
tangan Ujang untuk melakukan perintahnya ke Lily. Ia menarik tali bra
bikini Lily sehingga lepas dari tubuh indahnya:
“Ini branya dibuka saja sekalian. Biar enak pijitnya.”
“Oghh ci Linda… Jangan dibuka dong. Malu nih” kata Lily menutupi sepasang payudaranya yang terlepas dari bra bikini itu.
“Nggak
usah malu deh. Aku aja tadi nggak malu koq bugil di depan Ujang.” kata
ci Linda sambil menarik tangan Lily supaya menjauh dari payudaranya yang
putih, mulus, montok dan menantang itu, “toket indah jangan ditutup
dong. Tuh Ujang juga ngiler lihatnya” canda Linda.
Ujang pun begitu
bernafsu memandang tubuh bagian atas Lily yang begitu putih dan
payudaranya dengan pentil susunya berwarna kemerahan tegak menantang. Ia
pun mendekati Lily
“Sini non, saya pijitin!”
“Iya Li, ayo jangan malu dipijitin Ujang. Enak lho. Bikin ketagihan deh.”
Awalnya
Lily masih malu-malu dengan menutupi payudaranya, tetapi setelah
menyaksikan betapa Linda puas atas perlakuan Ujang, maka ia mulai
tertarik ingin merasakan kenikmatan seperti yang dirasakan kakak iparnya
itu.
“Iya, tapi pijitin bagian belakang aja yah. Malu ah” kata Lily pura-pura malu.
“Iya pijitin belakangnya dulu. Nanti depannya sekalian. Hehehe. Ayo Jang pijit yang nikmat yah” perintah Linda kepada Ujang.
“Beres
nyah” Ujang mengikuti perintah nyonya majikannya itu dan mulai melumuri
punggung Lily yang sudah terbuka itu dengan cream dan perlahan-lahan
mulai menyentuhnya.
“Aaagghh….” Lily mulai mendesah ketika telapak
tangan Ujang yang kasar itu mulai menyentuh punggung yang terbuka itu
dan mulai memijitnya. Perlahan Ujang mulai mengelusi pundak dan mulai
memijat tubuh bagian belakang Lily dengan penuh perasaan. Ujang pun
menikmati kulit halus dan lembut itu. Sedangkan Linda, tampak cuek saja
dalam keadaan bugil polos melihat Ujang yang sedang mengelusi tubuh
bagian belakang adik iparnya. Ujang menuang sedikit demi sedikit cream
itu di pundak dan punggung Lily dan mulai memijat dengan penuh perasaan.
Pijitan dan usapan halus dari Ujang mendapat reaksi dari Lily, beberapa
kali Lily mendesah dan menggelinjang, ketika jari jemari Ujang mulai
mengelusi punggung mulus yang terbuka itu.
Sementara itu, Linda
memperhatikan mereka sambil berbaring santai di kursi di samping Lily
dalam keadaan masih bugil polos. Lily melihat kalau Linda cuek saja
dalam keadaan telanjang bulat, meskipun ada Ujang. Baru beberapa menit
dipijit, Lily mendengar ada seseorang yang datang dan langsung masuk ke
daerah kolam renang itu. Lily agak terkejut karena dalam keadaan hampir
telanjang polos itu, mendengar ada suara lelaki yang masuk ke arah
mereka. Tetapi anehnya Linda tetap cuek akan kehadiran lelaki itu,
bukankah ia masih dalam keadaan bugil total.
“Jang, ngapain aja luh?” sapa lelaki itu.
“ini lagi pijitin non Lily, adik iparnya nyonya Linda” sahut Ujang.
“Wah enak banget lu, bisa mijitin dua perempuan cantik” kata lelaki itu.
“Tumben kamu, So datang ke sini? Hayo mau ngapain?” tanya Linda yang kelihatannya sudah kenal dengan lelaki itu.
Lily
mulai curiga melihat situasi itu, karena sepertinya Linda kenal dengan
lelaki itu, dan tetap berani bugil berhadapan dengan lelaki itu.
Penampilan lelaki itu tidak beda jauh dengan Ujang: kulitnya begitu
hitam legam, kurus ceking, matanya belo dengan bibirnya yang tebal dan
giginya yang agak tongos.
“Tenang aja non Lily, ini teman saya juga.
Namanya mang Darso (lihat eps. 3), dia juga kacung di kompleks
perumahan ini” ujar Ujang kepada Lily.
“Halo non Lily, wah nggak
kalah cantik nih sama nyonya Linda. Saya Darso, kerja di rumah yang
berwarna kuning itu. saya biasa ke sini koq ngobrol-ngobrol sama Ujang
dan…ehhmmm…ikut muasin nyonya Linda juga hehehehe” demikian ungkap Darso
kepada Lily
”Darso, jaga bacot lu ah!“ sergah Linda sambil meremas lembut selangkangan Darso.
“Aduh nyah…kontol saya jangan di remes dong hehehehe” protes Darso yang sebenarnya senang akan perlakuan Linda.
“Agghhh
nakal kamu Darso…..” desah Linda karena tiba-tiba Darso meremas
payudaranya yang mengantung bebas itu dan menarik tubuh bugilnya ke
dalam pelukannya.
Linda diam saja diperlakukan tidak senonoh oleh Darso, bahkan ia meminta agar Darso mengemut putingnya:
“So…isepin pentil gua dong!”
Darso menanggapinya dengan penuh nafsu:”Ok nyah, sini teteknya saya isep…..sambil saya obok-obok yah memek nyonya.”
Linda
lalu merebahkan tubuhnya di atas kursi malas itu mempersilahkan Darso
menyusu pada payudaranya dan merenggangkan pahanya, supaya Darso bisa
melakukan aktivitasnya di vaginanya.
“Aaaaggghhhh……eeesssttttt…….ooooouuuwwww”
demikian erangan Linda dan tubuhnya menggelinjang begitu hebat saat
Darso mendaratkan bibirnya dan mulai menyusu di payudaranya, sambil jari
tangannya mengelus dan mengoboki liang vaginana.
“Non Lily, tuh lihat nyonya Linda sebentar lagi pasti entotan sama mang Darso hehehehehe” kata Ujang kepada non Lily.
“Iya, dasar ci Linda nakal sih” ungkap Lily sambil tersenyum kepada Ujang, lalu Lily membalikkan tubuhnya menghadap Ujang.
Ia
sudah tidak malu lagi memamerkan payudaranya yang putih, bening dan
montok itu kepada Ujang, karena ia pun sudah mulai terbakar birahinya
dan ingin melihat pertunjukan antara Linda dengan Darso.
“Teteknya mau saya pijat juga non?” tanya Ujang kepada Lily.
Kemudian Lily mempersilahkan Ujang untuk memijat payudaranya: “Iya Jang, yang enak yah”
“Beres deh non, pokoknya non Lily pasti puas deh“ kata ujang sambil mengelus payudara Lily yang indah itu.
“Egghhh aahhhh” Lily mulai mendesis ketika payudaranya disentuh dan diraba oleh Ujang.
Ujang
mengelus lembut payudara Lily tapi lama kelamaan meremasnya dengan
penuh nafsu. Lily yang sudah dikuasai birahi akhirnya membiarkan Ujang
menikmati payudaranya itu. Ujang lalu berbicara kepada Darso:
”Mang Darso telanjang juga dong! Bugil seperti nyonya Linda.”
“Oh iya, Jang. Saya telanjang dulu yah.” ujar Darso menghentikan kegiatannya sejenak untuk melepas semua pakaiannya.
Akhirnya
Darso kini sudah telanjang polos seperti halnya Linda. Betapa hitam
legam tubuh Darso dengan batang kemaluannya yang sudah menegang begitu
hitam, besar dan panjang. Kini Darso memeluk tubuh Linda dengan begitu
erat, kemudian mereka saling berciuman dengan begitu nafsu. Linda
memeluk tubuh pria itu sambil tubuh mereka berhimpitan mesra, dan
memberikan bibirnya dan terus berciuman dengan begitu mesra. Sambil
berpagutan mesra, tangan Darso bergerilya di sekujur tubuh Linda untuk
mengelus dan meremas tubuh indah nyonya cantik itu. Payudara Linda dan
vaginanya menjadi sasaran empuk bagi tangan Darso.
“Nyah…saya mau mainin memek nyonya” Darso meminta agar Linda merenggangkan pahanya, dan hal itu diikuti olehnya
“Wah,
memeknya mantep sekali. Jembutnya lebat yah. Saya jadi nafsu nih” ujar
Darso sambil membuka pangkal paha Linda, sehingga vaginanya semakin
terbuka dan Darso dapat memandanginya dengan penuh gairah.
Darso
begitu kagum akan vagina Linda yang masih tetap indah, meskipun sudah
beranak. Ketika Darso mulai mendekatkan wajahnya dan menjulurkan
lidahnya untuk menjilat vagina itu, Linda mulai mendesah penuh gairah:
“ooouugghhh….eessstttthhh aaahhh. Eeennaaakkk sseekkaaalliiihh.”
Mendengar
desahan dan merasakan tubuh Linda yang menggelinjang, Darso semakin
meningkatkan “serangannya” pada vagina yang terpampang di hadapannya.
Supaya Linda dan Darso lebih leluasa bergumul, lalu Ujang mengajak Lily
untuk pindah ke kamarnya:
“Non Lily, kita pindah aja yuk. Pijatnya
dilanjuntukan di kamar saya aja yah” kata Ujang sambil terus mengelus
payudara montok Lily yang sudah terbuka bebas itu dan terus memainkan
pentilnya.
Lily mengiyakan ajakan Ujang, kemudian ia pun bangkit dan
siap pindah ke kamar Ujang. Ketika mereka akan beranjak dari lokasi
kolam renang itu, tiba-tiba Ujang menarik lepas CD bikini Lily yang juga
kecil itu
“Ini sekalian dibuka aja yah, non Lily. Biar pijitnya enak.”
Ujang
lalu melempar CD itu ke atas kursi tidur itu, sehingga kini Lily sudah
tampil telanjang polos tapa sehelai benang pun di hadapan Ujang, juga
Linda dan Darso. Diperlalukan seperti itu, Lily hanya tersenyum lalu
berkata:
“Ah kamu bisa aja Jang. Bilang aja mau bugilin saya. Awas jangan perkosa saya yah hihihi.”
“Nggak non, Ujang nggak akan perkosa non Lily yang cantik koq” ucap Ujang.
Ujang
kemudian mengandeng tangan non Lily dan membawanya ke kamar tidurnya.
Saat itu, Ujang masih mengenakan CD bututnya dan Lily tanpa malu
membiarkan tubuhnya yang mulus dan indah dalam keadaan telanjang bulat
dituntun ke kamar jongos itu. Mata Ujang terus menatap tubuh Lily yang
benar-benar yahud itu dan terkadang tangannya dengan begitu liar meremas
pantatnya. Suatu keberuntungan bagi Ujang, karena sebentar lagi ia
pasti bisa menikmati tubuh indah Lily.
Sementara di sekitar
kolam itu, tampak Darso sedang menikmati suguhan vagina Linda dan terus
menciumi dan menjilati vagina itu. Dua jari tangan Darso, yakni jari
tengah dan telunjuknya sudah masuk menerobos vagina Linda dan mengorek
kelentitnya, sehingga Linda mengerang penuh nikmat.
“oouugghhh
teerrusss So, aaagggghhhhh, eeeggghhhhh. Nikmat sekaliiii.” vagina Linda
terus dirangsek oleh jemari Darso, sambil lidahnya juga bermain di
dalam rongganya.
Tampak sekali vagina Linda menjadi basah karena
terus diobok-obok dengan begitu liar. Akhirnya setelah sekian lama
diperlakukan seperti itu, Linda pun mendesah dengan begitu hebat,
mengejan dan akhirnya lemas karena kembali mengalami orgasme dahsyat.
“ooooggghhh So, akkuuu kkeellluuaaarrr…eessshhhh” rintih Linda.
“Luar biasa, memek nyonya enak sekali. Lendirnya juga gurih. Hehehehe. Lagi nafsu yah nyah?” Darso sedikit meledek Linda.
“Iya nih, nikmat banget. Hebat sekali kamu, So. Bisa bikin aku puas” puji Linda kepada Darso.
“Ya pastilah, Darso....ntar nyonya akan saya bikin nikmat deh, apalagi kalo sudah saya entot sama kontol saya” ungkap Darso.
“Iya,
kontol kamu besar yah. Sini saya pegang kontol kamu” Linda meminta
Darso mendekatkan batang penisnya yang sudah tegang itu.
Darso lalu
menyodorkan batang penisnya yang sudah tegang dan keras itu ke Linda,
dan diarahkan ke dalam mulutnya. Masih dalam keadaan duduk, Linda
menyambut batang penis yang besar itu dan mulai mengarahkannya ke dalam
mulut mungilnya. Darso yang berdiri di hadapannya mulai memasukkan
batang penisnya ke dalam rongga mulut Linda.
“Terus nyah…..egghhh isep terus kontol saya.” Darso begitu menikmati service Linda atas penisnya.
Darso
pun tidak tinggal diam, dia terus memaju mundurkan penisnya di dalam
mulut Linda, sampai-sampai batang penis yang besar itu masuk memenuhi
rongga mulut dan menyentuh kerongkongan Linda. Tangannya memegang kepala
Linda dan terus meremas rambutnya, seolah tak mau melepas cengkraman
mulut nyonya cantik itu. Darso terus mengocok mulut Linda dengan
penisnya, dan akhirnya setelah dirasa puas, ia melepaskan semburan
spermanya.
”eeeggghhh nnyyaaahh. Saaayyyaa keelluuaarrr
eessshhhh…crrrooott ccroooottt ccrrroooottttssss” Darso mengeram penuh
nikmat dan menumpahkan spermanya di dalam mulut Linda.
“Telan
mani saya nyah…..oooggghhh” suruh Darso sambil, dengan kedua tangannya,
menekan kepala Linda seolah tidak membiarkan spermanya keluar dari mulut
nyonya haus seks itu. Linda pun akhirnya menelan sperma Darso sampai
habis, dan menjilati ujung kepala penis dan dengan lidahnya membersihkan
lubang kencingnya sampai bersih dari spermanya.
“Luar biasa nyah, saya puas sekali” ungkap Darso.
“Oke...skor kita 1-1 yah” sahut Linda sambil berdiri dan dalam keadaan masih telanjang bulat
Mereka
berpelukan dengan begitu mesra dan penuh nafsu. Tampak sekali tubuh
putih mulus Linda menempel erat dengan tubuh hitam legam Darso. Dalam
keadaan berpelukan, mereka masih terus saling remas anggota tubuh
pasangan mereka. Sepasang tangan Darso tidak henti-hentinya meremas buah
pantat dan payudara yang montok itu. Sedangkan tangan Linda terus
bermain di buah pelir Darso dan terus meremasnya penuh mesra. Mereka pun
kini sudah berciuman penuh mesra, mulut Darso bersatu sepenuhnya dengan
mulut Linda dan saling berpagutan penuh birahi yang menggebu-gebu. Tak
lama kemudian, batang penis Darso kembali menegang dan keras.
“Nyah, kontol saya tegang lagi nih!” ungkap Darso.
“Iya tuh sudah nganceng banget. Ngewe lagi yuk” ajak Linda kepada Darso.
“Yuk dah, nyonya telentang deh, ntar saya entot sampai nyonya klepak-klepek.”
Linda
pun kemudian tiduran telentang di atas kursi malas itu dan
membentangkan pahanya lebar-lebar memperlihatkan liang vaginanya kepada
Darso untuk diterobos dengan batang penisnya yang besar dan panjang itu.
Darso mulai mendekatkan penisnya yang sudah siap tempur itu ke arah
vagina Linda. Dan ketika itu mulai menempel di mulut vagina Linda, Darso
menggesek-gesek dahulu kepala penis itu di bibir vagina itu dan
akhirnya perlahan-lahan……slebbbb bleeesss.
“Oooogghhhhh
Daaarrssssoooo…..eeeeeeggghh oooowwww” tubuh Linda melengkung menerima
sodokan batang penis Darso yang luar biasa tegang itu dan mulutnya terus
mendesis menahan gejolak birahi dengan matanya terpejam merasakan
nikmatnya penis besar itu menerobos liang vaginanya.
“Ogghh nyaahh, memek nyonya memang legit banget. Kontol saya seperti diremas-remas…eegghh” ungkap Darso kepada Linda.
Batang
penis Darso belum masuk sepenuhnya, baru setengahnya saja yang masuk
dan itu sudah membuat Linda mengelinjang penuh birahi.
Perlahan-lahan
Darso mulai menekan pantatnya dan mendorongnya sehingga batang penisnya
mulai masuk lagi menerobos liang vagina Linda. Setiap kali pria itu
menekan pantatnya dan mendorong penisnya masuk ke dalam liang vaginanya,
Linda kembali mengerang dan menggelinjang penuh nikmat. Tak tertahankan
nikmatnya, ketika penis besar dan tegang milik Darso menerobos masuk
bersatu erat di dalam vaginanya.
“ooogghhh terrruuusss So, teeekkkaaannn saaammmppaiii meeennttookkk ooouuuwww eeessshhhhh” demikian rintih Linda penuh nafsu.
Dan akhirnya, Darso menekan pantatnya dan akhirnya batang penis itu masuk sepenuhnya ke dalam liang vagina nyonya cantik itu
“oohhhhgggg…..” Linda meringis penuh nikmat, ketika vaginanya dipenuhi oleh penis Darso yang besar dan tegang itu.
Darso
membiarkan penisnya berada sepenuhnya di dalam vagina Linda, terasa
sekali penisnya seperti diremas di dalam rongga vagina itu. Sedangkan
Linda begitu menikmati proses masuknya batang besar itu sampai full
mentok menyentuh dinding rahimnya, dirasakannya betapa gagahnya penis
Darso membelah liang senggamanya. Setelah Darso merasa cukup membenamkan
penisnya dalam-dalam menerobos vagina Linda, kini ditariknya penisnya
itu sampai di leher vagina, lalu ditekan lagi penis itu masuk ke dalam
rongga kelamin Linda. Awalnya Darso melakukan itu dengan begitu lembut
dan perlahan, tetapi karena sudah dikuasai nafsu yang begitu hebat,
apalagi mendengar erangan penuh nikmat yang keluar dari mulut Linda,
maka ia dengan begitu keras memaju-mundurkan penisnya dengan sangat
cepat. Tampak sekali penis yang besar, panjang dan hitam itu mengocok
vagina Linda yang cantik, putih, bening dan seksi itu.
“Egghhh
ooouughhh eesssttt aaahhhhh ooouuuwwww ssshhhhh” begitulah erangan yang
tidak henti-hentinya keluar dari mulut Linda karena vaginanya diterobos
oleh batang penis jongos tetangganya.
Linda tidak tinggal diam
menerima sodokan penis Darso, ia pun mulai memutar pantatnya yang semok
itu, sehingga membuat batang penis itu seperti di remas-remas.
“eegghh
nyah…meemmeeekkk nyonnnyyaaa luuaaarr biiaaassaa niikkmmaatt oogghh”
Darso sungguh merasa nikmat mendapat perlakuan seperti itu.
Sambil
terus mengenjot vagina Linda, Darso kembali berpagutan mesra. Bibir
mereka bersatu erat, seolah terkunci dengan luapan birahi mereka. Tangan
Darso pun terus meliar meraba dan meremas tubuh Linda dan yang menjadi
sasaran utama adalah payudara yang montok dan indah itu.
Darso
dengan penuh semangat mengenjot penisnya di dalam liang vagina Linda.
Tak lama kemudian ia menghentikan genjotannya itu dan meminta Linda
ganti posisi. Darso ingin sekali menyetubuhi Linda dengan gaya nungging:
“Nyonya nungging yah, saya mau entot nyonya sambil nungging!”
Linda
mengikuti kemauan jongos itu, kemudian menungging dan memasang posisi
untuk kembali digenjot oleh penis besar itu dari belakang. Darso
mengambil posisi di belakang Linda yang sudah menungging dan membuka
pahanya, lalu mengarahkan batang penisnya ke liang vagina itu dan
blleeesss….blleesss. masuklah kini penis hitam, besar dan tegang itu
menyusuri liang vagina Linda sampai terbenam utuh sepenuhnya.
“eeessstttt
Daaarrssoooo, eesshhhh ooouuwwwhhh aaarrggghhhh” Linda kembali mendesah
dan menggelinjang penuh nikmat saat liang vaginanya terisi penuh oleh
penis Darso.
Dengan penuh nafsu, Darso memompa vagina Linda dengan
batang penisnya yang kekar itu. Kocokan penis itu terasa makin lama,
makin kencang sehingga tubuh putih Linda menggelepar penuh birahi. Tubuh
mereka sudah dibasahi oleh keringat yang deras mengucur karena
persetubuhan yang dahsyat itu. Darso terus mengocok vagina Linda dengan
penuh semangat, sambil menekan dan mendorong vagina Linda dengan
penisnya yang besar itu.
“Eggghhh Darrsssooo, aakkuu maauuuu
kkeellluuuuaarrrr laaaggiii ooouuuggghhhhh eeesssssttttttttt
aaaagggghhhhhhhhhhh” Linda kembali mengerang dan akhirnya “seerrrrr
sseeerrrr”, ia pun orgasme dengan penuh nikmat.
Meskipun Linda sudah
sampai pada orgasmenya, tetapi belum ada tanda-tanda dari Darso untuk
sampai pada orgasmenya. Darso kemudian mencabut penisnya dari liang
vagina Linda:
“Nikmat yah nyah entotan saya?”
Linda menjawab pertanyaan Darso: “Hee-eh...nikmat banget, sodokan kontolmu nikmat sekali.”
Tiba-tiba
muncul hasrat Darso untuk menyetubuhi lubang anus Linda. Kalau dahulu
Ujang yang menyodomi anus Linda, kini Darso pun ingin mensodominya.
“Nyonya, saya entot lagi yah!”pinta Darso kepada Linda.
“Ok aja, saya juga masih kepengen nih. Mau gaya apa lagi nih?” tanya Linda kepada Darso.
“Nyonya
tetap nungging aja. Saya lebih senang entot nyonya dengan gaya
nungging” ungkap Darso yang sebenarnya ia ingin membenamkan batang
penisnya ke dalam anus Linda. Mendengar ungkapan seperti itu, Linda
tetap dalam posisi nungging, dan mempersilahkan Darso melakukan
penetrasi ke dalam vaginanya.
Kembali Darso mengambil posisi di
belakang Linda lalu memegang pantat yang montok itu lalu mulai
membukanya sedikit. Linda belum mengerti maksud Darso, sehingga ia
membiarkan pria itu mengelus dan membuka pantatnya yang seksi itu,
dikiranya Darso mau meraba pantatnya yang putih mulus itu. Darso melihat
lubang anus Linda dan perlahan-lahan mulai mengarahkan penisnya siap
menerobos anus itu. Setelah dirasa pas, Darso mulai menekan penisnya ke
lubang anus Linda.
“Aaaawwhhh... Daarrssoooo, kaammuu maauuu
ssoooddoommmiii akkkuuu yah uuuhh...sakit!!” Linda mulai merintih ketika
lubang anusnya dimasukki oleh penis Darso yang besar dan panjang itu.
Sedikit
demi sedikit masuklah penis itu ke dalam lubang anusnya
kemudian…blleeess….bleesss tertanamlah batang penis Darso sampai
akhirnya mentok sepenuhnya.
“Oooouuuggghhhh ppeelllaaannn pppeelllaaannnn Sssoooo oooouuuwwwwggghhh eeesssttttttt” kembali Linda merintih dan mengelinjang.
“Ogghh
nnyyyaaahh, paannnttaaatttnnyyaaa ssseeeemmmpppiitt sseeeekkaaalliiih
ooggghhh” Darso pun merintih penuh birahi saat penis itu sepenuhnya
masuk ke dalam lubang anus Linda.
Kini Darso dengan penuh nafsu
mengenjot anus itu dengan bersemangat. Terasa peret dan sempit sekali
lubang itu. Ada sensasi tersendiri dalam batin Darso setelah berhasil
membenamkan dan memaju-mundurkan penisnya ke dalam liang anus
tetangganya yang cantik itu. Kini Linda sudah sepenuhnya di bawah
kendali Darso. Tangan Darso pun tidak tinggal diam, ia menjulurkan
tangannya menggapai payudara Linda yang menggantung indah itu dan mulai
meremasnya dengan penuh nafsu. Dengan penuh semangat, Darso menunggangi
tubuh Linda dan terus menggenjot anusnya. Kembali terdengar erangan yang
keluar dari mulut mereka berdua, erangan yang dikuasai penuh oleh nafsu
birahi. Erangan tanda kemenangan yang keluar dari mulut Darso yang
berhasil mensodomi anus Linda, dan erangan penuh nikmat sebagai ungkapan
penyerahan tubuh Linda untuk dipenetrasi oleh Darso. Akhirnya sekitar
20 menit kemudian, setelah Darso mengenjot lubang anus Linda, ia sudah
menunjukkan tanda-tanda akan orgasme. Dan
akhirnya….crrrooottt…ccrroootttzzzz…ccrrooottt, muntahlah sperma Darso
di dalam lubang anus Linda.
“Ogghhh ssaayyyaaa kkeellluuuaaarr nnnyyyaaahhh eesssttt” desah Darso sambil melepas kenikmatannya itu.
Akhirnya
tubuh Darso rubuh menimpa tubuh Linda dan dalam beberapa saat tubuh
hitam legamnya terbaring lemas di atas Linda. Ada perasaan puas dalam
diri Darso setelah ia berhasil mensodomi Linda yang cantik dan putih
itu. Suatu kebanggaan muncul di dalam hatinya setelah berhasil
menungganggi tubuh indah wanita itu.
“Mantap sekali nyah, nyonya bener-bener luar biasa” puji Darso kepada Linda.
“Kamu juga luar biasa koq. Aku saja sampai orgasme 3 x, puas sekali aku” ungkap Linda kepada Darso.
Setelah
istirahat beberapa menit, akhirnya Linda mengajak Darso untuk bergabung
ke kamar Ujang. Ia masih penasaran dan ingin mengetahui apa yang sedang
dilakukan Ujang terhadap adik iparnya itu. Darso dan Linda kemudian
berdiri dan berjalan menuju kamar Ujang. Darso mengambil pakaiannya,
tetapi tidak memakainya, sedangkan Linda masih tetap bugil dan
membiarkan bikini micro thongnya tergeletak di meja sekitar kolam itu.
Mereka pun dalam keadaan bugil menuju kamar Ujang. Sesampainya di depan
kamar Ujang, mereka dapat mendengar rintihan dan erangan penuh nikmat
yang saling bersahutan dari Lily dan Ujang. Ketika Darso dan Linda masuk
ke kamar Ujang, nampak si jongos muda itu dengan penuh nafsu sedang
mengenjot tubuh telanjang Lily. Lily dalam keadaan nungging sedang
dipenetrasi oleh batang penis Ujang yang besar dan panjang itu, dan
nampak mulut Lily mengap-mengap merintih menahan nikmat, serta matanya
yang merem melek menikmati penetrasi penis Ujang
“Essstttt oooouuwww…oouuwwww aaagghhhh.” desah wanita itu
Sedangkan
Ujang pun dengan gagahnya memaju mundurkan pantatnya memompa Lily.
Tetapi kelihatannya Ujang tidak sedang mengocok liang vaginanya, jelas
sekali Ujang dengan penuh nafsu sedang memasukkan batang penisnya dan
memompa liang anus Lily, sehingga Lily mengeram penuh nikmat. Apa yang
terjadi di kamar Ujang setelah Ujang dan non Lily meninggalkan kolam
renang itu? Setelah Lily dan Ujang berada di dalam kamar, dengan penuh
nafsu Ujang memeluk tubuh Lily yang sudah bugil itu. Mulutnya langsung
menyosor dan berpagutan mesra di bibir Lily, sambil tangannya terus
mengelus dan meraba tubuh Lily yang putih mulus, bening dan indah itu.
Payudara yang menggantung indah itu, terus menerus diremas olehnya, dan
sesekali tangannya mengelus perut yang ramping itu dan terus merambat ke
bawah, menyusuri bulu kemaluan yang lebat itu dan akhirnya
menggerayangi vaginanya.
Mendapat perlakuan seperti itu, gairah
birahi Lily mulai terbakar, dan ia pun memasukkan tangannya yang mungil
ke dalam CD yang dikenakan Ujang dan meremas batang penisnya yang sudah
tegang itu. Lily juga bisa merasakan, betapa besar dan kerasnya batang
penis Ujang. Perlahan-lahan Lily menurunkan CD Ujang, sehingga lepaslah
penutup penis itu dari tubuh Ujang. Mata Lily begitu kagum menyaksikan
batang penis Ujang yang begitu hitam, namun besar dan panjang. Bulu
kemaluan Ujang pun begitu lebat menghiasi batang penis itu. Tidak
tahan menyaksikan penis Ujang yang sudah begitu tegang, Lily berlutut di
hadapan Ujang dan membuka mulutnya, seakan siap untuk menelan batang
penis itu. Ujang pun mengarahkan batang penisnya untuk dilumat di dalam
mulut Lily:
“Non Lily, emut kontol saya yah!”
“Iya Jang, kontol kamu saya emut dulu yah, uuhh gede banget nih” kometar Lily kepada Ujang.
Ujang mulai mendesah dan kepalanya mendongak ke atas ketika batang penisnya dicium, dijilat dan diemut di dalam mulut Lily
“Egghhh aaahhh ssstttt.”
Perasaan
geli dan ngilu bercampur menjadi satu, saat mulut Lily menservice penis
Ujang. Lily harus membuka mulutnya lebar-lebar supaya batang penis
Ujang bisa masuk sepenuhnya. Tanpa merasa jijik, ia terus menghisap dan
menyedot kuat-kuat penis Ujang yang begitu hitam, sehingga tubuh Ujang
terus melonjak menahan serangan birahi yang begitu nikmat. Sambil terus
meremasi kepala Lily, Ujang pun menyodok mulut mungil Lily dengan batang
penisnya sehingga mentok di dalam mulutnya. Begitu nafsu Lily mengemut
batang penis Ujang yang sangat mengagumkan itu. Batang penis yang
menjadi dambaan setiap perempuan yang melihatnya, karena bentuknya yang
besar, panjang dan keras. Sekitar 15 menit kemudian, Ujang menggeliat
hebat, dan sepertinya ia akan sampai pada orgasmenya, dan akhirnya
crooott….crroootttzz..ccccrrrroooootttttssss.
“Aaaghh nooonn
Liillyyy, saayyyaaa kkeelluuaarrr.” erang Ujang sambil menekan kepala
Lily dengan kedua tangannya, dan menyodok mulutnya dengan batang
penisnya.
Penis Ujang pun berejakulasi di dalam mulut Lily, sehingga
akhirnya mau tidak mau, Lily menelan seluruh sperma yang muncrat di
dalam mulutnya.
“Luar biasa, non Lily hebat sekali nyepong
kontol saya” puji Ujang sambil mengelus rambut panjang Lily dan tetap
menekan kepalanya agar terus melumat penisnya, seakan tidak merelakan
penisnya lepas dari mulut wanita cantik itu.
Lily menanggapi
keinginan Ujang itu dengan terus mengulum dan menjilati penisnya serta
menyedotnya agar tidak ada sisa sperma yang menempel di penis itu.
Setelah dirasa cukup, Ujang mengajak Lily berdiri dan dengan begitu
mesra, ia memeluk dengan penuh mesra tubuh bugil Lily. Lily juga
menyambut pelukan Ujang dengan mencium bibirnya dengan begitu mesra.
“Jang, gantian dong, sekarang aku minta di service!” Lily tanpa malu-malu menyampaikan hasratnya kepada Ujang.
“Beres
non, sekarang saya akan gantian menservis non sampai puas. Sekarang non
telentang deh” suruh Ujang siap membawa Lily melayang dalam kenikmatan.
Lily kemudian merebahkan tubuh bugilnya di ranjang itu dan
mengambil posisi telentang sambil mengangkat kedua tangannya dan membuka
pahanya. Ia sengaja memamerkan ketiaknya yang putih mulus sambil
membusungkan payudaranya dan memperlihatkan bibir kemaluannya kepada
Ujang. Dengan penuh nafsu, Ujang kemudian “menerkam” dan siap
“menyantap” suguhan tubuh mulus ittu. Di atas ranjang itu, Ujang terus
menatap tubuh bugil Lily yang sangat membangkitkan gairah birahi setiap
lelaki yang memandangnya. Betapa indah tubuh Lily, putih, bersih,
bening, seperti pualam yang tanpa cacat, tertampang bugil di hadapan
Ujang, pemuda kampung itu. Ujang kemudian menghampiri Lily, lalu memeluk
erat tubuh bugilnya yang terpampang bugil di hadapannya. Lalu mulut
Ujang pun tidak tinggal diam dan menyosor payudara indah itu. Ujang
terus mengulum payudara itu dan menghisap putingnya yang sudah
menantang. Perbuatan Ujang membuat Lily mendesah menahan rasa geli dan
nikmat yang teramat sangat. Kepala Lily menengadah sambil matanya merem
melek dan mulutnya mendesis penuh nikmat, ketika Ujang mengulum puting
payudara itu dan menghisapnya dengan begitu kuat
“Essttttttt aaahhhhhh Jjjaaannnggg.” tubuh Lily menggeliat, menikmati serangan mulut Ujang pada payudaranya.
Lily
membiarkan Ujang, yang adalah seorang pembantu menyusu dengan begitu
nafsu di payudaranya yang putih dan montok itu. Sambil terus menyusu di
payudara Lily, tangan kiri Ujang merayap menyusuri perut yang ramping
itu dan akhirnya berhenti di kerimbunan bulu kemaluannya
“Jembut non Lily lebat yah, nafsuin banget.”
“Iya
Jang, ayo terus remas bulu jembut saya……eeegghhh sssttt” geliat Lily
ketika Ujang dengan penuh nafsu mengelus bulu kemaluan itu dan sesekali
meremasnya.
Sambil terus meremasi bulu kemaluan Lily, jari jemari
Ujang makin turun mengelus pangkal pahanya yang sangat putih dan halus
itu, dan akhirnya menyentuh bibir vaginanya. Lily sudah pasrah dan
membiarkan jongos itu mulai mengobok-obok vaginanya. Supaya tangan Ujang
bisa semakin leluasa bermain di vaginanya, Lily membuka pahanya agak
lebar, sehingga vaginanya terpampang bebas di hadapan Ujang. Ujang tidak
membuang kesempatan yang indah itu, dia terus memandang bibir vagina
yang terbuka itu.
“Wah memek non Lily indah sekali, pasti sempit
banget, soalnya masih bagus” puji Ujang sambil terus menatap vagina yang
sengaja dibuka oleh pemiliknya itu.
Ujang lalu mendekatkan mulutnya
di bibir kemaluan Lily, dihirupnya wangi khas dari vagina itu. Vagina
itu begitu harum, karena selalu dirawat dan selalu diberi pewangi oleh
Lily. Kemudian Ujang mencium mesra vagina yang sudah terbuka itu dan
dengan lidahnya mulai menjilati bibir vagina itu.
“Egghhh ahhhsssttttt..eehhhhmmm” Lily mendesah saat lidah Ujang mulai menyentuh bibir vaginanya.
Ujang
mulai membuka bibir vagina itu, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan
yang ada di hadapannya. Dengan lidahnya, Ujang menjilati penuh nafsu
vagina itu, bahkan dengan jemarinya, Ujang mulai membuka liang vagina
Lily dan “menyerbu” bagian dalamnya dengan lidahnya. Lidah Ujang terus
masuk, menerobos liang vagina itu dan menyentil kelentit yang agak
menonjol yang ada di dalamnya.
“Egggghhhsssss Jjaaannggghhh….eeesssstttttt aaauuuwwww” Lily terus mendesah nikmat karena vaginanya dikerjai oleh lidah Ujang.
Tubuh
Lily menggeliat penuh nikmat, merasakan sentuhan lidah Ujang di dalam
rongga vaginanya. Ujang sangat pintar menaikkan birahinya sehingga kini
Lily sudah benar-benar dikuasai oleh nafsu birahi yang dahsyat.
Akhirnya, karena terus diserang oleh lidah Ujang, Lily sampai juga pada
orgasmenya. Sseeerrrr…sseerrrrr…..
“Akkkuuu kkelluuuaaarrrr eesssshhhhh….” rintih Lily sambil melepas lendir nikmatnya.
“Luar biasa kamu, Jang. Nikmat banget” pujinya kepada jongos itu yang mampu memberi kenikmatan padanya.
“Iya
dong non, sebentar lagi kalo memek non saya masukin ini pasti lebih
yahud!” katanya sambil memegang penisnya, “sekarang non istirahat dulu
yah” ujar Ujang memberi kesempatan agar Lily istirahat.
Setelah
mengatakan kalimat itu, Ujang menindih tubuh putih, mulus dan montok
Lily yang bugil dengan tubuhnya yang hitam, sehingga kedua tubuh yang
berbeda warna dan ras itu berhimpitan erat seakan tak bisa lepas.
Payudara Lily berhimpitan erat dan tertindih dada Ujang yang kurus
kerempeng itu. Ujang terus menggerayangi tubuh bugil Lily dan bibirnya
terus menciumi pipi dan bibir Lily. Lily jadi teringat lagi dengan
pembantunya, Otong, di rumah, bagaimana kalau anak itu ikutan
mengerjainya, Lily semakin terangsang saja memikirkan kegilaan itu, ia
bahkan berpikir satu hari akan mengajak Otong berpesta seks bareng kakak
iparnya, Ujang, Darso, dan kalau mungkin juga adiknya, Lisa pun ikutan.
“Hihihii...geli....nakal ah kamu Jang” Lily geli karena gelitikan lidah Ujang di perutnya yang rata itu, “kamu ini mirip...”
“Mirip sapa Non? Mirip gimana maksudnya?” tanya Ujang sambil tangannya terus mengusapi paha indah Lily
“Mirip pembantu saya di rumah, umurnya juga sepantaran kamu kira-kira, sama-sama nakalnya” jawab Lily tersenyum
“O yah...jadi Non Lily pernah entotan sama pembantu Non juga?” tanya Ujang yang dijawab Lily dengan anggukan kepala
“Kalau
gitu saya mau buktiin, kontol siapa yang bisa muasin Non, saya atau
pembantu Non itu, saya entot sekarang ya!” tantang Ujang yang kembali
dijawab Lily dengan mengangguk
Lily lalu membentangkan pahanya
lebar-lebar seakan mempersilahkan Ujang untuk siap menjebol vaginanya
dengan batang penisnya yang keras dan besar itu. Ujang mengambil posisi
di atas tubuh bugil Lily, memegang batang penisnya yang besar itu dan
mulai mengarahkannya ke liang vagina wanita itu. Disentuhkannya batang
penis yang membonggol itu di mulut vagina Lily sebelum dimasukkan ke
dalam vagina yang sudah siap diterobos itu. Kemudian perlahan Ujang
menempelkan kepala penisnya di mulut liang vagina Lily dan
perlahan-lahan, sedikit demi sedikit ditekannya hingga menyeruak ke
dalam vagina itu.
“Aaaaagghhhhhh sssstttthhhhh aaaoooouuuwwwwhhhhhhh sssttthhhhh” Lily mendesah penuh gairah menikmati proses penetrasi itu.
“Ogghhh
nooonnn, meeemmeeekkknnyyyaaa seeemmmpppiiiittttt sekkaaalliiii” Ujang
pun sedikit demi sedikit mulai memasukkan batang penisnya yang besar ke
dalam liang vagina itu.
Kini sudah separuh penis Ujang berada di dalam vagina Lily
“Koonntoll saaayyyaaa seepeerrttiii diiirreeemmaaassss eeegghhh.”
Lily
menganggapinya: “Kontol...kamu emang gede Jang...uuhhh!” ia terus
mendesah dan menggelinjang penuh nikmat, padahal penis Ujang belum masuk
sepenuhnya ke dalam liang vaginanya.
“Tekan...yang
dalam...aahhhh...Jang...eessshhhhh ooouuugghhhhh” Lily meminta kepada
Ujang untuk terus memasukkan penisnya lebih dalam
“Iiiyyyaa nnooonnn essstttt” kata Ujang sambil mulai menekan pantatnya menekan lebih dalam ke dalam liang vagina Lily.
“Eeeggghhhhhssss
ooooggghhhhh aaauuu!!” Lily kembali mengeram penuh nikmat sambil
matanya membeliak, ketika Ujang menekan pantatnya kuat sekali, sehingga
akhirnya masuklah batang penisnya yang besar dan panjang itu terbenam
sepenuhnya di dalam ling vagina Lily
“Uuuhh....peretnya” Ujang pun meringis penuh nikmat saat batang penisnya berada di dalam vagina Lily.
Untuk
sesaat, Ujang membiarkan batang penisnya bersatu seutuhnya di dalam
vagina Lily. Dan sambil menikmati penetrasi itu, Ujang mendekatkan
bibirnya yang tebal ke bibir Lily yang indah itu, lalu mereka berciuman
penuh nafsu. Lidah mereka saling mengait satu sama lain, seolah tidak
mau lepas. Sambil terus berpagutan penuh birahi, Ujang mulai memaju
mundurkan pantatnya menekan vagina Lily. Awalnya gerakan Ujang begitu
lembut dan perlahan, karena Ujang ingin menikmati gesekan batang
penisnya dengan liang vagina Lily. Lama-lama, setelah vagina Lily mulai
basah oleh lendir kenikmatannya, Ujang mulai mengenjot dengan penuh
semangat. Meskipun mulut Lily berpagutan erat dengan mulut Ujang, tapi
masih terdengar juga erangan tersendat yang keluar dari mulutnya
“Eggghhhh eepphhhhhhhh ehhhhhh.”
Mata
Lily pun kadang mendelik, kadang terpejam dan tubuhnya mulai mengejan
penuh birahi karena menikmati sodokan batang penis Ujang yang begitu
keras di dalam liang senggamanya. Kocokan penis Ujang, makin lama makin
kencang, sehingga tubuh Lily yang ditindihnya terus melonjak menahan
luapan nafsu birahi. Tubuh Ujang yang hitam semakin menindih tubuh Lily
yang begitu putih, dan pinggul Ujang terus menerus memompa vagina wanita
itu. Tindakan Ujang diikuti oleh Lily sambil mengoyang pantatnya dan
sesekali memutar pantatnya seolah meremas batang penis Ujang. Ketika
Ujang melesakkan penisnya dalam-dalam ke liang vagina itu, Lily juga
menyambutnya dengan menggoyang dan memutar pantatnya, sehingga mereka
berdua sangat menikmati persetubuhan yang penuh nafsu birahi itu.
Sempurna sekali persatuan antara batang penis Ujang yang begitu besar
dan panjang itu, bersatu erat dengan vagina Lily yang masih sempit itu.
Selang
sekitar 20 menit persetubuhan yang sensasional antara Ujang dan Lily,
mulai kelihatan kalau mereka akan saling menuntaskan nafsu birahi
mereka.
“Uhhh...yahh....enak Jang...aaahh....saya mau keluar nih!”
mulut Lily terus meracau menandakan bahwa dia sudah diliputi nafsu
birahi yang teramat hebat.
“iiiyyyaaaa nnnnooooonnnn, ssaaaayyyyaaaa
jjjuuugggaaaa mauuu kkeellluuuaarrrr oooggghhhh” ungkap Ujang sambil
memompa vagina Lily dengan penuh nafsu.
“Iya...sekarang
aahhh...sekarang Jangg....aaahhh” desah Lily karena sudah hampir
mencapai orgasmenya. Dan akhirnya….ssshheerrrrr ssseeerrrr, Lily pun
mencapai orgasme yang begitu hebat akibat terus dibombardir oleh penis
Ujang yang besar itu.
Selang beberapa menit kemudian, Ujang
membenamkan penisnya dan menekannya sampai mentok menyentuh dinding
rahim Lily dan…ccrrroootttt….cccrrrooottttt…ccrroootttzzz.
“Oggghhhh eeessshhhtttt nnoonnnn, eehhhhhssss” muntahlah lahar sperma Ujang yang begitu kental membanjiri liang vagina Lily.
Ujang
dan Lily sungguh menikmati persetubuhan yang luar biasa itu. Tubuh
Ujang masih tetap menindih tubuh Lily dan batang kelaminnya masih
tertanam di dalam liang vagina Lily. Lily nampak begitu lemas akibat
persetubuhan itu dengan Ujang, dan Ujang pun juga lemas. Namun demikian,
mereka tampak puas sekali. Tubuh mereka yang sudah basah oleh keringat
nampak bersatu di atas ranjang Ujang. Ujang begitu beruntung bisa
menikmati tubuh indah Lily, di lain pihak Lily juga begitu menikmati
persetubuhan terlarang itu dengan Ujang. Setelah merasa segar, Lily
berniat membersihkan dirinya, terutama membersihkan vaginanya dari
cairan lendirnya dan sperma Ujang. Ujang pun menarik batang penisnya
lepas dari jepitan vagina Lily, supaya wanita itu bisa membersihkan
dirinya di kamar mandi yang ada di dekat kamar tidurnya. Lily pun
beranjak dari ranjang itu dan membersihkan tubuhnya di kamar mandi.
Beberapa lama kemudian, setelah membersihkan tubuhnya dan vaginanya, ia
keluar dari kamar mandi itu dalam keadaan masih telanjang bulat. Kembali
ia memuji kehebatan Ujang saat bersenggama dengannya
“Wah mantap sekali Jang, kocokan kontolmu di dalam memekku tadi terasa sekali.”
“iya lah Non....Ujang, jadi enakan mana Non kontol saya sama pembantu Non?”.
“Hihihi...kamu aja deh” puji Lily berbasa-basi, padahal baginya baik Ujang maupun kacungnya, Otong sama-sama memuaskannya.
“Kalau di banding suami Non?” tanya Ujang lagi.
“Hush...jangan gitu, gak sopan!”Lily enggan menjawab yang satu ini, wajahnya jadi agak cemberut.
“Eh, maaf Non, jangan marah ya, saya ga tanya lagi deh” kata Ujang melihat reaksi wanita itu.
“Ga
papa kok Jang, yang satu itu masalah pribadi jadi ga usah
disinggung-singgung” Lily kembali senyum, “Nah, sekarang saya tanya,
lebih enak mana, memek saya atau memek Ci Linda?” Lily balik mengajukan
pertanyaan kepada Ujang.
Ujang susah menjawabnya, karena vagina
mereka mempunyai kekhasannya tersendiri. Dan bagi Ujang, yang beruntung
bisa menyetubuhi kedua perempuan cantik yang adalah majikannya itu,
kedua perempuan itu sungguh luar biasa kalau sudah disetubuhi.
“Sama
enaknya sih, yang penting bisa menikmati memek gratis dari kedua cewek
cantik ini hehehehe” begitu jawaban Ujang agak diplomatis.
“Ah, ayo
dong jawab! Jangan bohong, enakan memek siapa?” tanya Lily setengah
memaksa sambil meremas penuh mesra batang penis Ujang.
“Aduh non,
ampun. Iya deh, lebih enak memek Lily, karena masih sempit banget, belum
dipake melahirkan” Ujang dengan agak kaget menjawab pertanyaan Lily,
karena tangan wanita itu tiba-tiba meremas batang penisnya, sehingga ia
agak terkejut.
“Nah gitu dong dijawab. Pegel juga nih Jang, pijitin dong!” Lily meminta Ujang memijati tubuhnya yang putih mulus itu.
“Ok non Lily, sini saya pijitin” ucap Ujang mengiyakan permintaan Lily.
Lily
kemudian tengkurap dan menyerahkan tubuhnya untuk dipijit oleh Ujang.
Setelah ia tengkurap, Ujang menjamah pantat putih mulusnya dan
meremasnya penuh nafsu. Terus menerus Ujang meremas pantat yang montok
itu, terkadang diusap dengan lembut terkadang diremas dengan begitu
nafsu. Pijatan Ujang tidak mengarah ke seluruh tubuh Lily, tetapi hanya
tertuju di pantat yang semok itu.
“Koq cuma pantatnya yang dipijat?” protes Lily
“Iya
non, habis pantat non nafsuin banget” kata Ujang sambil meremas dengan
gemas, “eh non Lily, Ujang mau ngentot lagi nih. Kontol saya juga sudah
tegang lagi nih” ucapnya sambil memperlihatkan batang penisnya yang
mulai mengeras.
“Gila kamu jang, kuat banget ngentotnya” ujar Lily penuh kagum akan keperkasaan jongos kampung itu.
“Iya dong non, ayo non nungging deh. Ujang mau entot memek non Lily dari belakang, nungging yah” pinta Ujang kepada Lily.
“Ok Jang, nih!” Lily mengiyakan permintaan ujang dengan mengambil posisi nungging di pinggir ranjang itu,
Ujang
memposisikan dirinya di belakang tubuh menawan itu dan mulai
mengarahkan batang penisnya yang sudah keras dan tegang ke arah liang
vagina Lily dan bleeesss…blleesss. Perlahan namun pasti, batang penis
yang gagah itu mulai menerobos masuk ke dalam liang senggama Lily,
sehingga tubuh membuat wanita itu terhentak menikmati penetrasi itu dan
mulutnya mulai mendesis penuh nafsu.
“Oooouuwww eessstttt
aaaaggggrrhhh, niiikkmmmaaattt sseeekkkaallllliiii Jjjaaaanngggg
aaaagggghhhhhhhhhh” kembali Lily merintih penuh nafsu yang teramat
sangat, apalagi ketika penis Ujang yang gagah perkasa itu menerobos
liang vaginanya dari belakang. “Meeemmmeeekkk nnooonnn Llilllyyy
eeennaaakkkkssss seeekkallliiiii” ujar Ujang sambil mendorong masuk
batang penis itu sepenuhnya di dalam vagina Lily.
Dimentokkannya
batang penis Ujang dan terus menekan liang senggama Lily, sampai mentok
sepenuhnya menyentuh dinding rahim. Ujang memulai aksinya dengan
mengenjot liang vagina Lily dengan gerakan maju mundur. Terdengar keras
erangan penuh birahi yang terus menerus keluar dari mulut Lily, ketika
Ujang mulai menggasak vagina sempit itu. Mendengar erangan dan desahan
nafsu dari mulut Lily, membuat Ujang meningkatkan serangannya dengan
terus mengocok liang senggama Lily dengan penuh semangat. Erangan dan
desahan itu terdengar begitu seksi menawan di telinga Ujang. Ia pun
beberapa kali mendesah penuh nikmat, merasakan batang penisnya yang
gagah itu bergesekan dengan bagian dalam liang senggama Lily.
“eghhhh
aashhhhhhh.” Selang 10 menit kemudian, Lily kembali mengejang dan
mendesah penuh nikmat, karena ia kembali mencapai orgasmenya, “Ogghhhhhh
akkkuuuu kkkeeellluuuaaaarrrr llllaaaagggiiiiii eeessssttttt” desah
Lily
akhirnya seeerrrrr…..ssseeerrrr....cairan orgasme pun mengucur
membuat penis Ujang semakin cepat keluar masuk vagina Lily karena
semakin licin. Beberapa saat kemudian, setelah membiarkan Lily dikuasai
birahinya, Ujang menarik batang penisnya dari liang vaginanya. Dengan
kedua tangannya, perlahan-lahan ia membuka buah pantat Lily yang putih
dan semok itu. Lily, yang masih dalam keadaan nungging, membiarkan Ujang
meremasi buah pantatnya. Iavberpikir, paling Ujang begitu nafsu dengan
pantatnya dan sekedar meremasnya. Tetapi di lain pihak, Ujang punya
maksud tertentu. Ujang terus memandang lubang anusnya dan dia berpikir,
betapa nikmatnya lubang itu. Ujang pun mengunci posisi nungging Lily
supaya tidak bergerak dan membuka buah pantat yang mulus itu.
“Non cantik, Ujang masih mau ngentot lagi!” ujar Ujang kepada Lily.
“Ayo...saya juga masih mau” jawab Lily mempersilahkan Ujang, yang dikiranya akan menyetubuhi vaginanya.
Tetapi
batang penis Ujang terarah ke lubang anusnya, dan itu tidak disadari
oleh Lily. Ketika batang penis yang besar itu mulai menempel di lubang
anusnya, barulah ia sadar.
“Jang, koq ngarahnya ke situ sih?” tanya Lily pada Ujang.
Tetapi
pertanyaan itu terlambat, karena Ujang sudah mengunci posisi
nunggingnya dan mulai memasukkan penisnya menerobos lubang anus Lily.
“Iya non, Ujang mau entot lobang pantat non Lily” ucap Ujang sambil menekan penisnya perlahan-lahan menerobos lubang anus Lily.
“Aaahhh...jangan dong...saya belum pernah....aawwww....sakit Jang!” rintih Lily memohon agar Ujang tidak mensodominya.
“Tenang aja non Lily, nyonya Linda juga sudah sering saya sodomi. Nanti lama-lama nikmat deh” ujar Ujang santai.
“Aadduuhhh nggak ah Jang....aaahhh sakit!” Lily meringis menahan rasa nyeri dan memohon Ujang agar berhenti
Tetapi
karena sudah dikuasai nafsu, Ujang terus menekan batang penisnya
sedikit demi sedikit menembus lubang anal Lily. Ada perasaan bangga juga
dalam diri Ujang, karena ia adalah orang pertama yang berhasil menjebol
lubang anus Lily dengan penisnya. Lily terus menerus mengerang dan
tubuhnya tersentak hebat, saat penis Ujang menjebol masuk ke lubang
anusnya.
“Gila...si Otong kalah ganas ini sih, dia masih nurut kalau dibilang jangan!” keluh Lily dalam hati.
Ujang
terus mendorong pantatnya, sehingga batang penisnya akhirnya tenggelam
sepenuhnya di dalam rongga anus Lily, untungnya penis jongos itu sudah
belepotan cairan kewanitaannya tadi sehingga terasa agak licin.
“Aaaaahh...pelan-pelan...aahhh...ssshhh!”
kembali Lily menggeram ketika batang penis Ujang sepenuhnya melekat di
dalam liang anusnya.
“Wuih...lebih sempit dari memek, mantap abis
Non!” Ujang pun mendesah penuh nikmat, karena terasa sekali batang
penisnya bagai diremas begitu kuat di dalam lubang anus Lily.
Kini
Ujang tidak tinggal diam, dia mulai menyetubuhi wanita itu dengan memaju
mundurkan penisnya menggesek dinding bagian dalam anus Lily.
Nah,
pada saat melakukan anal seks itulah Linda dan Darso masuk ke kamar
Ujang, Sesampainya di dalam kamar Ujang, mereka terus menonton
peretubuhan yang begitu seru antara Ujang dan Lily. Adegan panas dan
erangan Lily begitu seksi dan penuh gairah membuat mereka terpana.
Sambil terus disodomi oleh Ujang, Darso mendekati Lily dan tangannya
langsung meremas sepasang payudara Lily yang tergantung indah itu.
Dengan begitu nafsu, Darso meremas payudara wanita itu dan meraba
sekujur tubuhnya yang sedang pasrah disodomi oleh Ujang. Darso yang
masih dalam keadaan bugil, kemudian mengarahkan batang penisnya yang
hitam, tegang, besar dan keras itu ke dalam mulut mungil Lily. Lily pun
menyambut batang penis itu dan mulai menciuminya dengan penuh nafsu.
“Disepong kontol saya dong Non” Darso menyampaikan permintaannya.
Mendengar
permintaan Darso, Lily membuka mulutnya dan mulai memasukkan penis itu
ke dalam mulutnya dan menghisap batang penis Darso dengan penuh nafsu.
Permainan lidah Lily pada batang penisnya, membuat Darso mengerang penuh
nikmat.
“Egghhh noonnn Liiiilllyyy eennaaakkksss sseeeekkkaaallliihhhhh”.
Kini,
mulut dan liang anus Lily dipenuhi oleh dua penis hitam yang besar,
tegang, keras dan panjang itu. Lily sangat menikmati perlakuan Ujang dan
Darso atas dirinya, sehingga ia pasrah membiarkan tubuh bugilnya untuk
dinikmati kedua jongos itu.
“Wow, gak nyangka liar juga kamu Ly!” sahut Linda yang menonton adegan mereka di depan pintu.
“Iyah nyah, Non Lily gak kalah liar sama nyonya loh!” sahut Ujang terus menggenjot Lily.
“Eh
kita pindah aja yuk ke ruang tengah, mumpung lagi ga ada orang, ngapain
di sini sumpek gini, ranjangnya aja gak muat!” ajak Linda.
Mereka
pun akhirnya pindah ke ruang tengah dimana terdapat satu set sofa empuk
dengan hamparan karpet bulu di bawahnya. Darso kemudian membaringkan
Lily di sofa dan membuka pahanya serta menguakkan liang vaginanya dengan
jari.
“Wah udah basah keman-mana gini, langsung saya coblos aja ya Bu!” katanya yang diiyakan Lily dengan anggukan.
Kemudian
Darso menaikkan kedua betis mulus Lily ke pundaknya dan mengarahkan
batang penisnya ke liang senggama wanita itu. Lily menerima hentakan
penuh nikmat dari batang penis Darso yang dengan penuh nafsu menerobos
vaginanya. Penis pria itu langsung merojok-rojok dengan lancar karena
vagina Lily sudah sangat basah. Di sofa sebelah, Ujang sedang meremasi
payudara Linda yang sedang ber-woman on top di penisnya. Linda begitu
ganas menaik-turunkan tubuhnya sampai Ujang nampak kelabakan.Kedua
wanita cantik itu tampak begitu pasrah menyerahkan tubuh mereka yang
begitu indah kepada kedua jongos kampungan itu untuk disetubuhi
sepuasnya. Erangan dan desisan penuh nikmat membahana di ruang tengah
itu. Keempat orang itu terus berpacu dalam birahi berlomba-lomba
mencapai puncak kenikmatan. Sesekali mereka berganti pasangan dalam
menikmati persetubuhan itu.
Di tengah persetubuhan yang liar itu, tiba-tiba Linda teringat ia harus
menelepon Pak Abdul untuk membeli lauk untuk makan siang berhubung hari
ini ia sedang malas memasak. Waktu telah menunjukkan pukul 11.40,
berarti Merry sudah bubar kelas 25 menit yang lalu. Biasanya sih anaknya
itu diberi makan snack oleh baby sitternya dulu sambil main di
playground sebelum pulang. Linda menunggu Pak Abdul mengangkat ponselnya
dan berharap ia masih menunggu di sekolah sehingga masih sempat menitip
makanan ke sopirnya itu.
“Ya...Bu!” sahut Pak Abdul di seberang sana.
“Pak Abdul...dimana nih?”
“Masih di sekolah Bu...kan Merry masih makan tuh!”
“Oooh
bagus deh, kalau gitu pulangnya sekalian beliin lauk buat hari ini ya”
kata Linda, “abis ini saya SMS aja pesenannya supaya gak lupa Pak, ok”
“Baik Bu...nnngghh...pulang dari sini saya mampir sana dulu!” jawab Pak Abdul.
“Pak Abdul kenapa? Kok suaranya berat?” tanya Linda agak heran.
“Di mobil Bu...eeggghh...baru bangun, tadi kan tidur di mobil”
“Oh ya udah, gitu aja ya Pak, makasih!”
Pak
Abdul memang sedang menunggu Merry yang sedang makan, tapi ia bukan di
mobil dan bukan baru bangun tidur. Ia kini sedang berada di toilet kelas
Merry duduk di atas wastafel mini yang diperuntukan untuk anak-anak dan
ia tidak sendiri di sana. Di antara kedua belah pahanya tampak seorang
wanita muda berambut panjang dikuncir, berlutut dan mengoral penisnya.
“Udah dicari ya Pak?” tanya wanita muda itu menghentikan sejenak oralnya dan mengangkat wajah cantiknya.
Wanita
itu tidak lain adalah Miss Lusi (25 tahun), guru TK-nya Merry, ia masih
memakai seragam guru TK-nya berupa celana panjang hitam dan kaos
berkerah warna hijau dengan lambang sekolah di dadanya.
“Bukan...nyonya
nitip beliin makanan” jawab pria setengah baya itu dengan santai sambil
menutup ponselnya, “yuk Miss, kita main cepet aja! Kasian Non Merry
kalau nunggu kelamaan” ia lalu menarik lengan Miss Lusi dan mendudukkan
guru cantik itu di pangkuannya.
Keduanya lalu berciuman dan terlibat
adu lidah yang menggairahkan, tangan Miss Lusi meraih penis Pak Abdul
yang sudah sangat tegang dan mengocoknya lembut. Sementara Pak Abdul
mulai mengangkat kaos Miss Lusi hingga akhirnya melepaskannya.
“Katanya main cepat aja, kok nelanjangin sih?” protes Miss Lusi dengan nada manja.
“Soalnya Miss lebih cantik kalau gak pake apa-apa, jadi saya juga cepet keluarnya hehehhee...!” kata Pak Abdul terkekeh
“Ah dasar si Bapak, yuk buruan!” Miss Lusi mengangkat kedua lengannya membiarkan Pak Abdul meloloskan kaos itu dari badannya.
Segera
setelah itu, Pak Abdul langsung menaikkan bra krem yang dikenakan Miss
Lusi dan dengan rakus dipagutnya payudara berukuran sedang dengan puting
kecoklatan di baliknya.
“Aaahhh...eeennnggghh!” Miss Lusi berusaha
menahan desahannya agar tidak terlalu keras sambil tangannya mengocoki
penis pria itu.
Sementara itu tangan Pak Abdul yang satunya
membuka ikat pinggang Miss Lusi disusul resleting celana panjangnya
dengan dibantu guru cantik itu juga. Miss Lusi menggerakkan kakinya yang
ramping dan mulus itu untuk melepaskan celananya. Setelah celana
panjangnya lepas, ia turun dari pangkuan Pak Abdul dan berdiri di
hadapannya. Mula-mula ia lepaskan branya yang telah tersingkap lalu
celana dalamnya hingga akhirnya ia telanjang bulat di depan sopir
setengah baya tersebut. Pak Abdul terpana memandangi tubuh putih mulus
yang indah di depan matanya itu yang sudah tidak tertutup apa-apa lagi.
“Tuh benar kan, Miss jadi lebih cantik kalau telanjang gini!” sahutnya sambil menarik tubuh bugil Miss Lusi mendekatinya.
Vagina
yang ditumbuhi bulu-bulu halus yang lebat itu dapat ia lihat dari jarak
dekat. Pria itu memulainya dengan menyibakkan bulu-bulu halus itu
pelan-pelan.
"Ehh...enak Pak... ahh..." rintih Miss Lusi.
Mendengar
rintihan itu Pak Abdul langsung membenamkan wajahnya ke bulu-bulu halus
itu dengan memainkan lidahnya di sekitar bibir vagina guru TK itu. Miss
Lusi semakin mendesah dan kali ini malah meremas-remas rambut pria itu
yang sudah sebagian besar beruban sambil sesekali menggoyangkan
pinggulnya karena rasa geli yang nikmat.
“Duduk sini aja Miss, lebih enak!” kata Pak Abdul turun dari meja wastafel
Mereka
pun tukar posisi, Miss Lusi kini duduk di wastafel dan Pak Abdul
berlutut di antara kedua pahanya meneruskan jilatan dan hisapannya
terhadap vagina guru cantik itu.
"Hhhhssshhh...jangan kelamaan
Pak...mmmhh...takutnya keburu ada yang dateng...enak sih uuhh!" kata
Miss Lusi di tengah desahannya.
“Sabar Miss...supaya basah dulu, jadi enak masuknya” kata Pak Abdul membuka lebih lebar paha wanita itu.
Lidah
pria itu mengais-ngais liang senggama Miss Lusi makin dalam, bibir
vagina, dinding di dalamnya serta klitorisnya yang sensitif tidak luput
dari sapuan lidah yang panas itu. Sambil menjilat tangannya yang kasar
itu juga aktif meremasi payudara guru cantik itu.
"Aaahh Pak....masukin sekarang aja yah...saya udah ngga tahan lagi..." pinta Miss Lusi lirih.
"Oke deh...yuk naik sini Miss!" Pak Abdul duduk di lantai dan menarik tubuh Miss Lusi ke arahnya.
Di
toilet yang ukuran alat-alat di dalamnya untuk anak TK itu memang
paling memungkinkan untuk gaya duduk ya di lantai, untungnya lantainya
kering dan bersih, namanya juga sekolah nasional plus, tentunya terjaga
soal kebersihannya. Miss Lusi meraih penis Pak Abdul yang sudah sangat
keras itu dan mengarahkannya ke vaginanya yang sudah basah kuyup itu.
"Ehh... aaahhh...keras banget Pak...mmmhh!" erangnya.
Tubuh Miss Lusi
makin turun sehingga penis pria itu pun semakin terbenam di vaginanya.
Pak Abdul tidak bersikap pasif, ia juga menekan penisnya ke atas
pelan-pelan sambil mencium payudara Miss Lusi dan tangan kanannya
meremas-remas halus payudaranya.
"Ehmmm.. enak Miss...terus tekan
lagi...sam..pai masuk semua..ohhhh..." Pak Abdul melenguh tak karuan
karena penisnya serasa diremas hingga akhirnya mentok di dinding rahim
guru cantik itu.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Miss Lusi mulai
menggoyangkan tubuhnya naik turun di pangkuan Pak Abdul, makin lama
tusukannya makin dalam dan semakin cepat frekuensinya. Bunyi decakan
terdengar karena gerakan Pak Abdul diikuti oleh gerakan naik-turun Miss
Lusi. Mulut Pak Abdul tak henti-hentinya mengenyoti payudara Miss Lusi
yang menggemaskan itu. Remasan dan lumatan yang ia berikan pada kedua
payudara itu membuat Miss Lusi menggelinjang tak karuan.
“Ehmmm…erghh…”
desah Miss Lusi tak karuan sembari berusaha menutup mulutnya agar tak
mengeluarkan suara desahan lagi, namun gagal juga apalagi saat pria itu
menyentakkan tubuhnya ke atas sehingga sodokan itu benar-benar terasa.
Guru cantik itu menggelinjang ke kiri dan ke kanan tak karuan sembari
terus mendesah,
“Arhhh..akhh…terus...Pak, sodok yang kuat!” katanya disela desahannya.
Kurang
dari sepuluh menit kemudian Miss Lusi mengerang agak keras dan memeluk
pria itu erat-erat, dia akhirnya mencapai puncak kenikmatannya.
“Akhh….saya keluar Pak…Ekhhh…ahhh..” erangannya ketika orgasme melanda tubuhnya
Tanpa
melepas penisnya dari vagina Miss Lusi, Pak Abdul menurunkan wanita itu
dari pangkuannya dan berlutut di lantai. Miss Lusi menyandarkan
punggungnya pada wastafel mini di belakangnya sehingga posisinya
setengah terduduk di lantai. Posisi ini memungkinkan Pak Abdul
menggenjot lebih cepat, juga diperlancar oleh lelehan lahar cinta yang
luar dari vagina Miss Lusi. Pria itu terus meningkatkan kecepatan
sodokan penisnya hingga beberapa saat kemudian ia menarik lepas penisnya
hingga sempat bergesekan cepat dengan klitoris Miss Lusi yang membuat
wanita itu menggelinjang hebat. Diiringi lenguhan pria itu, keluarlah
cairan putih kental menyemprot dari ujung penisnya yang bersunat
membasahi perut dan dada Miss Lusi.
“Mantep banget hari ini, gimana?
Puas gak Miss?“ tanya Pak Abdul pada Miss Lusi sambil mencabut penisnya
yang sudah belepotan cairan kewanitaan dan sperma itu.
Miss Lusi
hanya tersenyum dengan kepuasan dengan sebersit rasa malu, ia tidak mau
menjawab karena gengsi, “Udah cepet beres-beres Pak, kalau ada yang
masuk kelas berabe nih!” suruhnya sambil meraih celana panjang pria itu
dari atas meja wastafel dan melemparkan pelan padanya
“Eee...dikit
lagi Miss, bersihin dulu dong ya!” kata Pak Abdul sambil mendorong
lembut kepalanya ke arah penisnya yang sudah mulai lemas.
Guru
cantik itu rupanya mengerti apa mau pria itu, ia tersenyum nakal dan
mulutnya pun membuka lalu memasukkan penis yang basah itu ke dalam
mulutnya. Pak Abdul mengerang nikmat hisapan dan sapuan lidah Miss Lusi
pada penis dan ujungnya hingga akhirnya batang itu bersih dari sperma
dan berkilat karena ludahnya.
“Saya keluar duluan ya, kalau aman saya
ketok pintu ini supaya Bapak bisa keluar!” kata Miss Lusi usai memakai
kembali pakaiannya dan merapikan rambutnya.
Kira-kira semenit
kemudian pintu toilet diketuk dari luar dan Pak Abdul pun keluar dari
persembunyiannya. Sebelum keluar dari kelas, Pak Abdul masih
menyempatkan diri meremas pantat Miss Lusi.
“Ihhh...Bapak, sana cepet pergi, kasian Merry nunggu tuh!” guru cantik itu menepis tangan Pak Abdul yang cengengesan.
Dengan
perasaan puas, Pak Abdul melangkah keluar dari gedung sekolah elite
itu. Di playground masih nampak beberapa anak dengan orang tua atau
babysitter mereka, ada yang masih menunggu jemputan, ada yang masih
diberi makan oleh babbysitter atau orang tua mereka, juga ada yang masih
menunggu kakak mereka di SD yang bubaran sekitar setengah jam lagi.
“Udah
Nah? Gimana Non? Pulang sekarang?” tanya Pak Abdul sambil menghampiri
Linah, si babysitter yang sedang menyuapi roti pada Merry yang sedang
asyik main jungkat-jungkit dengan seorang temannya.
“Belum ini dikit lagi, ayo Mer, di mobil aja!” kata Linah menarik tangan Merry hendak mengajaknya pergi.
“Ga mau...abisin aja dulu rotinya!” protes anak itu dengan gayanya yang lucu.
“Ya udah, kalau gitu makannya cepet! Biar cepet pulang!” Linah menyuapinya lagi roti yang tinggal setengah itu.
‘Iya
deh Bapak tunggu tapi cepet ya makannya Non, mama udah tunggu tuh,
suruh beli makan dulu lagi!” kata Pak Abdul dengan sabar.
“Siang Pak Abdul...lagi nunggu nih?” sapa seseorang dari belakang sopir itu.
“Eh...Bu,
udah berapa hari ini ga keliatan, belum pulang nih?” Pak Abdul balas
menyapa pada seorang wanita cantik yang tengah duduk di bangku batu
dekat situ.
“Iya kan lagi tunggu kokonya, setengah jam lagi lah!” jawab wanita itu sambil memasukkan kembali Ipadnya ke tas jinjing.
Wanita
ini bernama Imelda (29 tahun), ibu muda yang cantik yang anaknya juga
teman sekelas Merry. Hari itu ia tampil menawan dengan gaun terusan ungu
bermotif yang bawahannya agak pendek sehingga memamerkan pahanya yang
jenjang dan mulus. Ia sedang menunggu anak sulungnya bubaran SD, di
dekatnya nampak anaknya yang teman sekelas Merry sedang main pasir
ditemani baby sitternya.
“Wah banyak amat kadonya Bu” sahut Pak Abdul memperhatikan dua kantong besar berisi kado.
“Iya kan kemaren ulang tahun si Darren, ini balesan dari temen-temennya nih tadi” jawab Imelda.
“Mau saya bantu taro di mobil Bu? Sekalian saya mau ke parkiran juga nunggu di mobil?” tawar Pak Abdul.
“Hhhmm...boleh,
ayo!” Imelda mengiyakan setelah berpikir sebentar, “Sus...saya ke mobil
sebentar ya taro kado, Darren mama ke mobil dulu ya, tunggu di sini aja
ya!” pesannya pada mereka sambil beranjak dari bangku.
“Nah...saya
ke parkiran dulu bawa mobil ke deket sini, sekalian bantuin bawa barang,
jadi kalau udah cari aja mobilnya deket sini!” kata Pak Abdul pada
Linah.
Setelah itu ia pun mengikuti Imelda dengan menenteng dua
kantong besar berisi kado itu menuju ke lapangan parkir di samping
sekolah.
“Bu Linda baik-baik Pak? Udah lama ga keliatan?” tanya Imelda
“Baik
kok, sekarang emang agak sibuk, kan lagi mau buka butik, sering
bolak-balik mall sama kantor bapak!” jawab Pak Abdul sambil terus
memperhatikan tubuh indah Imelda dari belakang.
“Ooohh...hebat, baru tau saya”
Mereka
ngobrol ringan sambil berjalan ke tempat parkir. Sekolah ini memiliki
dua lapangan parkir sebelah barat untuk anak TK dan sebelah timur yang
lebih besar untuk SD sampai SMP. Sekolah ini memang relatif baru
sehingga baru terisi sampai jenjang SMP. Pada jam-jam setelah bubar TK
seperti sekarang, parkir barat sudah agak sepi, hanya tersisa beberapa
mobil yang tak lama lagi juga akan pergi. Lapangan parkir itu sendiri
berupa adalah tanah kosong yang ditimbun oleh batu dan pasir serta
dikelilingi oleh pagar bercanopy. Mobil Imelda adalah Kijang Avanza
berwarna putih yang terparkir di sudut dekat tembok, selain itu tinggal
empat mobil lagi di sana.
“Nah, masukin sini aja Pak!” kata Imelda membukakan bagasi.
Pak Abdul menaruh kedua kantong itu di bagasi, namun ketika Imelda hendak menutup kembali bagasi mobilnya, pria itu mencegahnya.
“Eh tunggu dulu Bu!” katanya sambil menyibak rok wanita cantik itu dan meraba pahanya.
“Ih Bapak...apaan sih!” balas Imelda seraya menepis tangan pria itu
“Bentar
aja Bu, tempo hari waktu di toilet itu kan tanggung gara-gara ada orang
dateng, mumpung sepi nih Bu, yah!” Pak Abdul mendekap tubuh Imelda dan
berusaha memagut bibirnya.
“Iya Pak tapi masa di sini sih?” Imelda
memalingkan wajah berusaha menghindari mulut pria itu, “jangan gila ah
Pak...lepasin!” tangannya mendorong-dorong dada Pak Abdul.
“Eeemmhhh...mm!”
Pak Abdul akhirnya berhasil memagut bibir Imelda, lidah kasapnya
menjilati bibirnya yang langsung membuka sebentar saja.
Imelda
semakin tak berdaya menghadapi sapuan-sapuan lidah pria itu di rongga
mulutnya, gairahnya semakin terpicu apalagi tangan pria itu juga telah
mulai bermain mengusap-usap paha, lalu pantatnya ia remas-remas,
kemudian dengan lembut mengusap-usap bukit kemaluannya dari luar celana
dalam. Imelda hanya bisa mendesah lemah dan mulai merasakan rangsangan
yang demikian kuat. Jelas ini bukan pertama kalinya mereka melakukan hal
itu. Bagi Imelda yang hubungan dengan suaminya makin dingin saja, seks
terlarang seperti ini adalah pelampiasan karena suaminya sendiri hampir
tidak pernah menyentuhnya lagi.
” mmm...Ibu hadap sini yah!” kata Pak
Abdul melepas ciumannya lalu menghadapkan tubuh Imelda ke arah bagasi
sehingga dapat melihat ke gerbang melalui jendela mobilnya, ”kalo ada
orang bilang ya Bu” bisiknya sambil memeluk Imelda dari belakang
Imelda
mengangguk sambil tangannya kini bertumpu pada pintu bagasi sementara
matanya menatap ke depan mengawasi kalau-kalau ada yang datang.
Aktivitas mereka tidak terlihat dari depan karena tertutup mobil ini,
sedangkan kiri mereka ada sebuah sedan Honda City dan kanan kosong. Kini
jari-jari Pak Abdul mulai mengelus celana dalam Imelda searah dengan
belahan vaginanya yang tercetak di celana dalamnya yang mulai basah,
nafas mereka pun menjadi cepat dan berat dilanda birahi
”eeecchh..Pak!” desah Imelda pelan ketika jari pria itu menyelinap ke dalam celana dalamnya dan mengelusi vaginanya.
Pak Abdul memeluk wanita itu dari belakang sambil menciumi telinga dan
tenguknya. Tangannya dengan leluasa menggenggam payudara Imelda dari
balik pakaiannya. Dua kancing atas Imelda dibuka oleh pria itu lalu
tangannya menyelinap dari atas bra. Seluruh payudara kiri Imelda kini
dalam genggaman tangan kasar Pak Abdul yang mengelus dan meremasnya.
” sss..aaah… ” desah Imelda mendongakkan kepala dan sedikit memejamkan mata ketika pria itu memilin putingnya
Di
bawah sana, Pak Abdul semakin menempelkan bagaian bawah tubuhnya ke
bokong Imelda sehingga penisnya yang masih di dalam celana dapat
merasakan kekenyalannyai. Digesek-gesekkannya penis tersebut ke pantat
Imelda. Dengan reflek Imelda juga menyambut gesekan penis pria itu
dengan sedikit menunggingkan pantatnya ke belakang sehingga menempel dan
menggesek lebih kuat dengan penis pria itu. Ia semakin mendongak dan
menggeliat merasakan kenikmatan seks di tempat berbahaya ini. Nafas Pak
Abdul juga semakin terengah engah saking nafsunya, tangannya satu
semakin liar meremas payudara serta puting Imelda sedangkan tangan
satunya berusaha menurunkan celana dalam wanita itu. Imelda merasakan
angin menerpa kemaluan dan pantatnya karena celana dalamnya kini sudah
melorot hingga lutut, ia juga merasakan ada benda keras dan hangat
menempel erat di belahan pantatnya. Ternyata pria setengah baya itu
sudah membuka resleting dan mengeluarkan penisnya. Pak Abdul menaik
turunkan pinggulnya sehingga penisnya bergesekan dengan pantat dan
vagina Imelda. Secara naluri Imelda pun menyambutnya dengan menggerakkan
pinggulnya. Sambil sesekali mengintip lewat jendela mobil mengawasi
keadaan, gerakan dan geliat Imelda semakin liar menyambut gesekan penis
Pak Abdul yang kini sudah siap memasuki vaginanya yang sudah sangat
becek itu. Sensasi yang mereka rasakan sungguh luar biasa karena
disertai dengan perasaan waswas kalo ada orang datang.
“AAaaaaacchhh...”
erang Imelda sambil menggigit bibir agar tidak terlalu keras ketika
merasakan kepala penis pria itu menyeruak masuk ke vaginanya.
Segera
setelahnya, Pak Abdul mulai menyodok-nyodokkan batang kemaluannya di
dalam vagina Imelda yang memberikan respon berupa remasan lembut pada
penisnyaku.
“Bu....memeknya mantep banget, padahal udah dipake
melahirkan” puji pria itu dekat telinga Imelda yang membuat wanita
cantik itu mukanya makin bersemu merah, matanya merem-melek dan hampir
tidak peduli lagi dengan tugasnya mengawasi keadaan di depan.
Imelda semakin menunggingkan pantatnya ke belakang agar tusukan penis pria itu makin terasa dalam vaginanya.
”
aaeeecchhh… aaahh” desah Imelda panjang, gerakannya makin tak
terkendali karena sudah tidak sanggup lagi menahan gelora birahi yang
segera menggelegar.
Pak Abdul yang cukup mengerti situasi segera
memutar wajah ibu muda itu ke belakang dan memagut bibirnya, dengan
demikian erangan itu teredam dan tidak memancing perhatian.
“Akhhh…udah mau Pak...cepetan!” desah Imelda lirih.
Pak
Abdul meresponnya dengan mempercepat gerakan pompaannya dan sambil
meremas payudaranya dengan mesra lalu menusukkan sebuah tusukan tunggal
namun dalam membuat tubuh wanita itu tersentak.
” Aaaaacccchhhhh…”
dengan gerakan pinggul yang liar dan desahan panjang seluruh tubuh
Imelda bergetar merasakan orgasme yang dahsyat
Kembali Pak Abdul memagut mulutnyanya sehingga desahan orgasme Imelda pun teredam dalam cumbuan penuh birahi itu.
“Uuuhhhh...!” Pak Abdul melenguh menyambut orgasme.
Entah
berapa kali batang penisnya menyemburkan sperma di dalam vagina Imelda
hingga bercampur dengan cairan hasil orgasmenya. Pak Abdul merasakan
penisnya hangat dan seperti dicengkeram erat oleh vagina Imelda. Ia
memeluk erat tubuh Imelda yang bergetar, dicengkeramnya kedua payudara
itu sambil terus menyemprotkan sisa-sisa spermanya hingga penisnya
menyusut. Mereka diam beberapa saat sambil mengatur nafas masing-masing.
Selama kurang lebih sepuluh menit bersetubuh kilat itu untungnya belum
ada siapapun yang masuk tempat parkir itu.
”Fiuhhh… ” desah Pak Abdul lalu menarik lepas penisnya dari vagina Imelda.
Imelda menjatuhkan diri hingga terduduk lemas di pinggir bagasi yang luas itu.
"Asyik ya Bu?" tanya Pak Abdul.
"Bapak
ini...gila juga ya, kalau kepergok gimana coba, omong-omong kontol
Bapak kaya tambah gede aja deh," kata Imelda sambil tersenyum, ia mulai
merapikan bra-nya dan mengancingkan kembali bagian atas pakaiannya yang
terbuka.
“Ntar-ntar kalau ada waktu masih mau kan Bu?” tanya pria itu lagi.
“Hihi...kita liat aja nanti” Imelda kembali mengenakan celana dalamnya, “Yuk Pak anter saya ke bawah!”
Setelah
itu Pak Abdul mengeluarkan mobil dan mengantar Imelda ke depan gerbang
TK, di sana Linah dan Merry keluar dari gerbang setelah melihat mobil
itu mendekat.
“Merry bye-bye ya!” kata Imelda setelah turun dari mobil.
“Bye-bye tante” balas Merry dengan gayanya yang imut.
Setengah
jam kemudian mereka setelah membeli lauk pesanan Linda mereka pun
akhirnya tiba di rumah. Saat itu Linda sedang mengantarkan Lily yang
hendak pulang dari situ ke mobilnya.
“Hei Merry...baru pulang sekolah ya?” Lily langsung menghampiri anak itu begitu melihatnya turun dari mobil.
“Iyah...Kukuh Lily main?” tanyak Merry
“Iya tadi main di sini, tapi sekarang mau pulang, yuk Merry mau ikut?” katanya bercanda.
Setelah
main-main sejenak dengan keponakannya Lily pun menaiki mobilnya,
memakai kacamata hitamnya dan meninggalkan Linda yang menggendong Merry
dan melambai padanya.Mengenai ada apa sebenarnya di sekolah Merry sampai
sopir seperti Pak Abdul bisa berhubungan dengan guru dan ibu muda di
sana akan diceritakan di episode lainnya agar tidak kepanjangan.