Pagi itu sekitar jam 9an, Lisa sedang santai di rumahnya di salah satu
perumahan elit di kawasan Cibubur. Belum tau apa yang akan ia kerjakan
pagi ini. Mau keluar, rasanya malas. Mau ketempat kos Mamat juga
percuma, karena dia sedang banyak tugas mengantar ayam goreng. Nanti
malam sudah janjian dugem dengan Hans, pacarnya sambil nonton final
piala dunia antara Spanyol dan Belanda di sebuah caffe di daerah
Senayan. Sejak Lisa bersetubuh dengan Mamat di rumah ci Lily (juga
dengan Otong, pembantu di rumah ci Lily), gairah birahi Lisa sering
menggila. Karenanya, Lisa sering janjian ketemu dengan Mamat, pemuda
kampung itu untuk bersama melepaskan syahwat entah di tempat kos Mamat,
di losmen atau hotel. Seminggu bisa 3x mereka mereguk nafsu birahi, dan
rupanya Lisa sangat menikmati persetubuhannya dengan Mamat karena Mamat
begitu perkasa bila sudah di atas ranjang dan mampu membuatnya
menggelinjang dan merintih penuh nikmat. Lisa begitu puas bila
bersetubuh dengan Mamat dibandingkan dengan Hans. Sedang asyik-asyiknya
melamun di teras kamarnya yang menghadap ke taman, rumahnya kedatangan
dengan seorang tukang yang sedang membereskan saluran air di rumahnya.
Tukang itu disuruh oleh papanya untuk memperbaiki seluruh saluran air di
rumah mewah itu, karena dirasa air yang keluar dari setiap kran air
begitu kecil. Tukang itu usianya sekitar 35an, badannya kecil, kepalanya
botak, tetapi kelihatan sekali dia begitu kuat.
"Permisi non, saya bang Said mau ngecek kran air di kamar mandi non. Tadi tuan suruh saya ngecek semua kran dan saluran air."
"Boleh bang, silahkan. Tapi saya mau mandi dulu yah. Bang Said cek yang di taman dulu aja." Lisa mempersilakannya masuk
"Iya non, beres. Bang Said beresin yang di taman ini dulu yah." Said, si
tukang yang disuruh oleh papanya Lisa, terus memperhatikan paha Lisa
yang mulus dan putih itu.
Apalagi Said bisa menatap payudara Lisa yang masih dibungkus oleh kaos
tipis berwarna putih, yang berguncang-guncang. Memang pagi itu, Lisa
masih mengenakan celana tidurnya yang begitu pendek seperti hotpants dan
kaos putih dan agak transparan tanpa lengan yang mengantung di atas
pusernya. Lisa memang tidak pernah memakai bh dan cd bila tidur dan
hanya mengenakan celana hotpants yang amat pendek dan kaos yang enak
dipakai. Tentu saja mata Said yang liar itu menatap sebagian paha yang
indah dan payudara di balik kaosnya yang menerawang sexy itu. Lisa
sebenarnya menangkap tatapan liar mata itu pada bagian tubuhnya, tetapi
ia cuek saja. Ia rupanya senang bila ada orang yang mengagumi keindahan
tubuhnya yang masih muda itu. Pesta seks tempo hari di rumah kakak
perempuannya ternyata sudah mulai menjerumuskannya menjadi gadis remaja
yang liar.
Sengaja Lisa membuka pintu kamar itu, sehingga Said bisa melihat isi
bagian dalam dari kamar Lisa. Saat sedang merendam tubuhnya di bathtub,
muncul ide nakal darinya. Apalagi ketika Lisa sedang menggosok payudara
dan vaginanya, muncul nafsu liar dalam dirinya yang menuntut
pelampiasan. Karena pagi itu rumah sudah sepi, akhirnya Lisa memutuskan
untuk menggoda bang Said. Lisa mengambil handuk yang pendek dan tipis
dan melilitkannya pada tubuhnya yang putih mulus bagaikan pualam itu.
Handuk itu tidak mampu menutupi keindahan tubuhnya, sebagian buah
pantatnya terpampang dengan jelas, sedangkan bagian atasnya hanya
menutupi setengah payudaranya. Bahkan terlihat samar-samar aerola
payudara Lisa yang berwarna merah muda.
"Bang Said, nih kran airnya dicek!" panggilnya
Tak lama kemudian, bang Said masuk ke dalam kamar Lisa yang terbuka itu.
Betapa kaget pria itu melihat pemandangan indah tubuh Lisa yang
dibungkus handuk yang masih memperlihatkan paha yang terbuka dan belahan
payudara dengan menantang itu. Mengesampingkan rasa canggungnya, Lisa
mempersilahkan bang Said masuk ke dalam kamar mandi.
"Tuh krannya di situ, coba di cek, bang" kata Lisa sambil membungkuk dan mengutak-atik kran air itu.
Tindakan itu membuat handuk yang menutupi pantatnya terangkat. Kontan
mata bang Said melotot mau keluar menyaksikan pemandangan yang begitu
indah saat Lisa membungkuk. Said bisa melihat gumpalan pantat Lisa
begitu putih, mulus dan membulat indah terpampang bebas, bahkan ketika
Lisa merenggangkan pahanya, Said bisa melihat dengan jelas bulu kemaluan
Lisa yang lebat dan belahan vaginanya. Lisa memang sengaja melakukan
hal itu untuk menaikkan tensi birahi Said. Apalagi Said sudah lama tidak
bersetubuh dengan istrinya di kampung, yang kini sedang hamil 6 bulan.
Ketika disuguhkan pemandangan seperti itu, ia pun begitu nafsu dengan
Lisa, gadis cantik berusia 18 tahun yang masih segar, putih, bening dan
anak orang kaya. Di sisi lain, Lisa juga mendambakan sodokan dan kocokan
penis besar di dalam vaginanya. Untuk lebih menggoda Said yang
kelihatan sudah diliputi birahi, Lisa mengucapkan kalimat yang nakal
"Bang Said pasti nganceng nih, lihat Lisa seperti ini. Kepengen yah
bang?" dengan senyum nakal, Lisa menggoda Said yang berbadan gelap namun
kekar itu.
"Ah...nggak non Lisa, mana abang berani? Bisa dilaporin ke polisi. Hehehe." Jawab Said gugup
Untuk membuat Said lebih berani lagi perlahan-lahan Lisa bertanya dan melakukan hal yang sangat berani
"Kepengen nggak bang? Gimana kalo Lisa begini..."
Betapa terkejutnya Said pada saat itu, gadis cantik dan sexy itu lalu
dengan perlahan membuka handuk itu dan membentangkannya lebar-lebar,
sehingga terlihatlah apa yang ada di balik handuk itu. Dengan senyum
manja dan menggoda, Lisa melepas handuk itu di hadapan Said. Kini Lisa
sudah telanjang bulat, bugil polos di hadapan bang Said.
"Wah, non Lisa, badannya putih banget, montok sekali...mulus dan masih kencang."
"Bang Said nakal ih, hayo tutup matanya!" sambil berkata demikian Lisa
merapatkan tubuh bugilnya ke Said dan menutup mata Said, dengan telapak
tangannya.
"Aduh non nggak kelihatan nih!" Said berlagak memprotes tindakan Lisa
sambil pura-pura merentangkan tangannya meraba apa yang ada di depan.
Karena matanya ditutup oleh tangan Lisa, dan juga sengaja pura-pura,
lengan Said menyenggol tubuh mulus Lisa dan menyentuh payudara Lisa.
"Aw...cunihin ih...pegang-pegang, nanti Lisa telanjangin lho!"
Mendapat ancaman seperti itu, Said menjadi lebih nakal lagi, lalu dia
memilin puting payudara Lisa dan tangan yang satu lagi tiba-tiba meraba
bulu kemaluan Lisa dan jari itu bergesekan dengan kelamin Lisa.
"Aow nakal yah. Awas ya Bang, Lisa laporin ntar!"
"Saya siap dihukum sama non Lisa. Nih telanjangin deh" ungkap Said
sambil memasrahkan dirinya untuk ditelanjangi oleh Lisa yang cantik dan
molek itu.
"Auoww non pelan-pelan dong, copot nih kontol abang!" rupanya dengan nakal Lisa meremas penis bang Said dan menariknya.
"Hehehe tapi enak kan, bang?"
Lisa melepaskan kaitan celana pendek bang Said dan diturunkannya celana
pendek yang kusam itu berbarengan dengan cdnya. Kini bang Said sudah
polos di bagian bawahnya, nampak penis yang hitam itu sudah mengeras dan
kencang sekali.
"Karena bang Said nakal, kontolnya Lisa tarik nih" Lisa menggenggam batang penis itu dan meremasnya.
Kali ini Said tidak mau kalah, ia pun meraba dan meremas puting payudara Lisa, sehingga gadis itu merasa geli
"ouww nakal yah, hayo angkat tangannya ke atas." Said mengikuti
perkataan Lisa, dan dengan segera Lisa mengangkat kaos yang dekil itu
dan melucutinya lepas dari tubuhnya yang padat dan kekar itu.
Kini tubuh kedua manusia itu sudah polos total. Said terpana melihat
keindahan tubuh muda dan segar, indah dan mulus milik Lisa yang cantik
itu. Sedangkan Lisa, begitu kagum akan besarnya batang penis Said yang
sudah berdiri tegak dan kencang itu. Kemudian Lisa menarik tangan Said
dan menggiringnya menuju ranjangnya. Lisa sudah berbaring pasrah di atas
ranjangnya, membuka pahanya lebar-lebar dan merentangkan tangannya.
Said sangat bernafsu dan tergiur akan keindahan tubuh bugil Lisa yang
siap untuk dinikmati. Tanpa ragu lagi Said naik ke atas ranjang itu dan
menindih tubuh Lisa yang bugil. Tubuh mereka kini sudah melekat erat,
bibir mereka sudah berpagutan mesra. Mereka berguling-gulingan penuh
luapan birahi di atas ranjang itu. Tangan Said terus meremasi lekuk
tubuh bugil Lisa yang indah, mempermainkan payudara yang montok dan
mengelus bibir vagina Lisa. Sedangkan Lisa terus meremasi batang penis
besar dan tegak serta mengelus buah pelir yang mengantung itu. Lisa
menyerahkan tubuh putih mulusnya kepada bang Said yang hitam dan jelek
itu.
Nampak Lisa mengerang ketika payudaranya diemut dan dihisap penuh nafsu
oleh Said, apalagi ketika jari Said menerobos lubang vagina Lisa.
"Oooouuuggghhh ennakk bang!" desahnya sambil meremas kepala pria itu
Bang Said terus mempermainkan lidahnya di atas perut Lisa yang rata,
mulus dan kencang itu. Hal itu membuat Lisa tambah terangsang hingga
akhirnya pasrah pada Said yang mampu memberikan kenikmatan ragawi itu.
"Bang, entot Lisa.....masukin kontolnya ke memek Lisa" tanpa malu lagi
Lisa meminta supaya Said memasukkan penisnya ke liang senggamanya.
Dengan penuh nafsu, Lisa membentangkan pahanya, sehingga Said dapat melihat vaginanya yang merah merekah dan sudah becek itu.
"Iya nih, abang juga sudah ngebet pengen ngentot sama non Lisa. Abang
masukin yah" sambil berkata demikian, Said memegang penisnya yang besar
dan diarahkan ke liang vagina itu.
Perlahan-lahan dimasukkannya penis yang besar itu membelah vagina sempit milik Lisa dan didorongnya kuat-kual.
"Ooouuugh bang...ennaaakkk ssekallii..ehhssss.."
Mata Lisa yang sipit mendadak mendelik, merasakan nikmatnya sodokan penis Said masuk sepenuhnya ke dalam liang senggamanya.
"Non Lisa, memeknya ennakk bangeett. Seemmppiitt!!."
Said merasakan penisnya bagai diremas-remas dinding vagina Lisa yang
sempit dan lembut itu. Sedangkan Lisa merasakan, lubang senggamanya
penuh dijejali oleh penis yang besar itu. Setelah mendiamkan barang
beberapa saat, Said mulai memaju mundurkan penisnya di dalam vagina
Lisa. Ditarik dan ditekannya penis itu menerobos liang vagina Lisa,
membuat gadis itu tambah kencang mengerang dan mendesah penuh nikmat.
"Aagghhh...uuggssshhh...oooghhh" terdengar erangan Lisa saat Bang Said mengenjot dengan penuh nafsu.
Sambil mengenjotnya kuat-kuat, Said juga meremas kedua payudara montok
dan memilin kedua putingnya itu. Lisa sangat menikmati persetubuhan
interacial itu, meskipun dengan lelaki jelek, hitam dan dari kalangan
tukang. Ia sangat mendambakan penis besar dan panjang yang bisa
membawanya terbang dalam kenikmatan. Setiap kali Said menekan pantatnya
ke bawah, Lisa menyambutnya dengan menaikkan pantatnya dan
mengoyangkannya. Ketika Lisa memutar pantatnya, Said merintih merasakan
nikmat yang luar biasa.
"Ennaakkksss nonn...eehhhgg." akhirnya yang kini terdengar di kamar Lisa
adalah desahan nikmat diikuti erangan yang begitu mesra karena
persetubuhan itu.
Hampir sekitar 30 menit, vagina Lisa digenjot dengan buasnya oleh penis
Said yang perkasa. Sudah 2x pula, Lisa mengalami orgasmenya. Setelah
sekian lama mengenjot vagina itu, kini Said yang akan mengalami orgasme.
Dan akhirnya,
"Ouugghhh...saya keluar noonnn. Egghh."
Crooott...ccrroott. Said melepaskan spermanya yang kental dan banyak itu
di dalam rahim Lisa sambil membenamkan penisnya dalam-dalam di rongga
vaginanya.
"Eegghhh Liisssaa..kkee..llluuaarr laagii ehhkkkssss." tak lama kemudian
Lisa mengangkat pantatnya menyambut sodokan penis Said, dan untuk
ketiga kalinya Lisa mencapai klimaksnya. Lisa dan bang Said tampak
lemas, setelah mereka melepas kenikmatan satu sama lain. Tubuh Said
masih menindih tubuh Lisa, dan penisnya masih menancap di dalam vagina
Lisa. Beberapa menit kemudian, Lisa bangkit dan menuju kamar mandi untuk
membersihkan tubuhnya. Said pun menyusul Lisa ke kamar mandi itu.
Awalnya mereka membersihkan tubuh masing-masing, lalu saling raba dan
remas tubuh pasangannya. Dan akhirnya, di kamar mandi itu kembali mereka
bergumul penuh nafsu. Said kembali menggenjot Lisa dengan berbagai
macam gaya, kadang doggy-style, WOT, MOT sampai mereka benar-benar puas.
Lisa pasrah saja diperlakukan seperti itu, karena dia pun merasakan
nikmat yang luar biasa dari Said. Sekitar jam 11an siang, Lisa dengan
mengenakan rok mini dan kaos pendek tanpa lengan, meninggalkan rumahnya
untuk pergi ke sekolah dan ke rumah Hans. Lisa sudah janjian bertemu
dengan seorang temannya, Cathy, di sekolah untuk mengembalikan baju yang
ditawarkan oleh Cathy. Di sekolah itu, Cathy dikenal sebagai murid yang
memiliki bakat dari orang tuanya yang adalah pedagang. Cathy, meskipun
anak orang berada, tidak mau mengandalkan orang tuanya. Untuk itu, dia
belajar mencari uang dengan berjualan baju dan menawarkannya kepada
teman-temannya. Untungnya, baju yang ditawarkan Cathy memang bagus
kualitasnya dan modis, sehingga banyak teman-teman yang menyukainya.
Kebetulan, baju yang di ambil Lisa agak sempit di sekitar dadanya dan ia
ingin mengganti dengan ukuran yang lebih besar. Sesampainya di sekolah,
Lisa melihat ada 3 mobil temannya yang diparkir di luar gedung sekolah.
Lisa mengenali itu adalah mobil Shelly, Tasya dan Erni. Lisa berpikir
pastilah anak-anak ekskul cheerleader itu sedang latihan, mereka memang
sering kumpul untuk latihan kalau liburan pendek seperti hari ini. Lisa
kemudian memarkir mobilnya agak ujung, di tempat yang kosong, lalu turun
dari mobilnya. Ia berpikir, kenapa sepi sekali keadaan di luar
sekolahnya. Pak Amir yang biasanya jadi tukang parkir tidak ada di
tempat. Dia pun melihat beberapa gerobak makanan yang tanpa penjualnya.
Ada 3 gerobak makanan yang kelihatannya ditinggal oleh penjualnya. Hanya
ada seorang bapak tua penjual cendol yang tampaknya sedang menjagai
gerobak-gerobak kosong dekatnya.
"Permisi pak. Sepi amat Pak? Pada kemana nih penjualnya?" Lisa bertanya kepada bapak tua penjual cendol.
"Iya nih neng, lagi pada ke dalam, katanya diminta bantuannya sebetar.
Saya diminta tungguin sebentar. Tapi lumayan juga, nih saya dikasih uang
seratus ribu buat jagain dagangan ini."
Lisa kemudian bertanya: "Lha itu ada mobil teman saya. Kemana yah mereka?"
"Iya neng, itu tadi cewek-cewek itu yang manggil mereka. Katanya mau ngomongin hal penting di dalam"
"Iya deh kalo gitu saya masuk dulu. Oh iya tolong cendolnya yah pak, 5
bungkus aja deh. Nanti saya ambil. Nih uangnya pak." Lisa menyodorkan
uang sebesar 30ribu rupiah untuk membayar cendol itu.
Setelahnya Lisa masuk ke sekolah itu. Ia mengerti, karena ini hari libur
pasti gedung sekolah dikunci oleh satpam. Tetapi Lisa tidak menjumpai
satpam yang bertugas menjaga pintu gerbang sekolah itu. Lisa pun paham
kalau sedang libur begini, hanya ada satu ruangan dari bagian sekolah
ini yang dibuka. Ruangan itu menjadi tempat istirahat para satpam dan
biasanya digunakan juga untuk tempat memasak air, membuat kopi / teh
atau merebuh mie instan. Luas ruangan itu sekitar 5x6m dan di dalamnya
ada kamar mandi dan wc. Ketika Lisa sampai di depan ruangan yang agak
tua itu, ia merasa agak aneh karena telinganya menangkap ada sesuatu
yang aneh dari sana. Lisa berpikir, kenapa di dalam ruangan itu ada
banyak suara orang yang mendesah dan mengerang. Ia berniat untuk
mengintip lewat jendela samping, apa yang terjadi di dalam.
Perlahan-lahan Lisa mendekatkan wajahnya ke jendela yang terbuka itu dan
melihat aktivitas yang sedang berlangsung di dalam ruangan itu.
Dan...astaga, Lisa sampai menutup mulutnya yang ternganga dengan tangan
karena kaget. Di dalam sana ia melihat Shelly, Tasya, Erni dan dua
temannya lagi Verni dan Mira sudah dalam keadaan telanjang ataupun
setengah telanjang sedang disetubuhi oleh orang-orang kasar di sekitar
sekolah ini. Shelly sedang digenjot oleh bp Amir, yang usianya sekitar
53 tahun, yang adalah tukang parkir di sekolah ini. Pada tubuhnya hanya
tersisa kaos ketat cheerleader yang sudah terangkat sehingga payudaranya
tersingkap, ia berpegangan pada wastafel dalam posisi berdiri sementara
pria setengah baya itu menggenjotnya dari belakang sambil menggerayangi
tubuhnya. Sementara dekatnya, Tasya yang bertubuh mungil, dalam keadaan
nungging sedang digenjot oleh seorang anak muda yang usianya sekitar 23
th, yang berkulit hitam dan dekil, yang biasanya bekerja sebagai
pedagang roti keliling. Di atas sebuah bangku, Erni yang berdada montok
itu sedang berada di atas pangkuan Pak Kadir, berusia 48 th, penjual
ketoprak, dalam posisi berhadapan. Tubuh Erni terlihat naik turun di
atas pangkuan pria itu yang asyik mengenyoti dadanya. Verni, yang
blasteran Chinese-Belanda itu, sedang terbaring di lantai dan disetubuhi
dengan begitu buas oleh bang Ijul yang berusia sekitar 34 tahun, yang
adalah tukang rujak serut. Pria itu menaikkan kedua paha Verni ke
bahunya sambil meremasi payudaranya. Dan terakhir Mira, anak dari
seorang konglomerat, sedang duduk di sebuah bangku dengan paha terbuka
dan vaginanya dijilati oleh Pak Sanot, berusia sekitar 46 tahun yang
bekerja menjadi satpam di sekolah mereka. Sementara di sampingnya
berdirilah Pak Amien, petugas kebersihan sekolah berumur 65 tahun,
sedang dioral penisnya oleh Mira yang tampak sangat menikmatinya. Tubuh
kelima cheerleader yang begitu mulus dan indah itu terus digenjot dengan
begitu buas oleh keenam lelaki yang kasar itu. Erangan dari dalam
ruangan itu menggambarkan betapa mereka dikuasai oleh nafsu birahi yang
begitu hebat. Lisa terperangah kagum menyaksikan pemandangan pesta seks
seliar itu. Menyaksikan proses persetubuhan itu, lama kelamaan ia pun
diliputi nafsu birahi. Perlahan-lahan Lisa menggesek-gesekkan telapak
tangannya ke arah vaginanya yang masih tertutup celana dalam dan jarinya
menekan ke dalam liang vaginanya. Lisa menikmati sekali onaninya sambil
menyaksikan pesta birahi di dalam ruangan itu.
Akhirnya muncul niat liar dari dalam dirinya, ia ingin sekali merasakan
pesta sex liar itu, di mana dirinya dikerubungi oleh beberapa lelaki
kasar bertubuh kekar dan berpenis besar silih bergantian menyetubuhinya
dengan penuh nafsu. Tiba-tiba ia merasakan ponselnya bergetar, ia
menarik nafas lega karena untungnya ponsel itu hanya diaktifkan vibrate
mode, kalau ringtonenya juga aktif tentu sudah terdengar oleh mereka
yang di dalam sana. Penelepon itu tidak lain Cathy yang telah tiba di
depan sekolah. Setelah dirasa sudah cukup menyaksikan kegilaan pesta
birahi itu, Lisa bergegas meninggalkan tempat itu menuju mobilnya.
Seperti yang telah diduga, ketika Lisa sudah sampai di depan tempat
parkir, dia melihat Cathy yang juga baru tiba. Lisa kemudian menemui
Cathy dan menyerahkan baju yang agak kekecilan itu dan Cathy menyerahkan
kepada Lisa baju yang lebih besar. Mereka berbincang sejenak dan
akhirnya pergi dengan mobilnya masing-masing. Siang ini Lisa mau
mengunjungi Hans di rumahnya dan mereka sudah janjian mau makan bakso di
sekitar perumahan di mana Hans tinggal di daerah Pondok Indah.
Syukurlah siang ini perjalanan menuju rumah Hans tidak begitu macet.
Biarpun demikian, Lisa merasa lelah juga karena nyetir sendiri ditambah
lagi dengan aktivitas seks yang dia lakukan bersama bang Said di
rumahnya. Lisa berharap Hans sudah pulang dari kuliahnya, sehingga dia
bisa nyantai sambil tiduran di kamar tidur Hans. Orang tua Hans sangat
sayang kepada Lisa, selain karena kecantikannya juga karena Lisa anak
seorang kaya yang selevel tingkat ekonomi dan sosialnya. Bahkan, untuk
mempersiapkan masa depan Hans dan Lisa bila sudah berkeluarga kelak,
orang tua Hans sudah memberikan hadiah sebuah rumah mewah untuk mereka
tempati berdua di daerah permahan elit Kelapa Gading. Hans adalah putra
bungsu dari 3 bersaudara. Kakaknya yang pertama bernama Felly, berusia
29 tahun, sudah berkeluarga, punya 3 anak dan tinggal di Australia,
karena ikut suaminya yang mendapat pekerjaan sebagai peneliti ahli
sebuah bank. Kakaknya yang kedua bernama Anton, berusia 27 tahun, baru
sekitar 2 tahun lalu menikah, sudah punya 1 anak, dan kini tinggal di
Singapore. Anton bekerja sebagai dokter di salah satu rumah sakit
ternama di Singapore. Dan anak ketiga adalah Hans yang berusia 24 tahun,
mahasiswa kedokteran tingkat akhir di sebuah universitas terkenal di
Jakarta Barat. Boleh dibilang, keluarga Hans adalah keluarga yang sukses
dan mapan. Sesampainya di rumah Hans, Lisa disambut oleh seorang
pesuruh rumah Hans, yakni Pak Kobar yang berusia 51 tahun. Rumah itu
begitu sepi, karena papanya Hans masih di bekerja di pabrik percetakan
miliknya sendiri, sedangkan ibunya sedang jalan-jalan ke mall dengan
teman-temannya. Hans sendiri belum pulang, karena mendadak diminta
menggantikan dosen yang berhalangan masuk untuk memberi kuliah
parasitologi di fakultas kedokteran tempatnya kuliah. Hans adalah anak
yang cerdas, karena itu dia dipercaya menjadi asisten dosen dan
kerapkali menggantikan dosen yang berhalangan hadir.
Sambil menunggu kepulangan Hans, Lisa menyetel tv yang terletak di ruang
keluarga itu lalu duduk santai. Dengan remote tv yang dipegangnya, Lisa
mencari-cari saluran yang menarik dan enak ditonton. Akhirnya, dia
menemukan saluran yang disenanginya, yakni chanel musik. Sambil duduk
santai, Lisa menonton acara kesukaannya. Karena suasananya santai, lama
kelamaan Lisa merasa ngantuk dan akhirnya tertidur di sofa empuk itu.
Saat itu, Pak Kobar yang kebetulan mau membereskan, menyapu dan mengepel
di ruangan itu agak terkejut juga menyaksikan Lisa yang tertidur
santai. Pria setengah baya itu tertegun melihat posisi tidur Lisa yang
begitu seksi. Rok mininya tersingkap ke atas sehingga sepasang pahanya
yang montok, mulus dan putih itu terpampang bebas, bahkan celana dalam
yang berwarna kuning muda itu dapat dilihat dengan jelas oleh bp Kobar.
Kaosnya yang agak pendek tersingkap dan memperlihatkan sebagian perut
Lisa dan pusarnya yang seksi dan menggemaskan itu. Karena situasi rumah
yang sepi, dan melihat pemandangan yang begitu seksi itu, timbullah niat
liar Pak Kobar untuk menikmati tubuh Lisa yang indah dan menantang.
Perlahan-lahan ia mendekati Lisa dan dipandanginya paha mulus yang
bening itu. Samar-samar Pak Kobar bisa melihat bayangan bulu kemaluan
Lisa yang menerawang dibalik cdnya yang tipis itu. Mula-mula dielusnya
betis yang mulus itu, kemudian perlahan naik sampai ke pahanya dan
dengan lembut diremasnya paha yang mulus itu. Betapa halusnya betis dan
paha itu, sehingga membuatnya semakin bernafsu untuk terus merabanya
sampai ke selangkangannya. Tidak puas hanya meraba paha Lisa yang mulus
itu, Pak Kobar lalu dengan lengan kirinya mengelus perut Lisa yang
langsing, mulus dan putih bening itu. Kini lengan pria itu sampai ke
tempat yang paling rahasia milik Lisa, tangan kanannya mulai masuk
menyelusuri selangkangan Lisa dan mulai menyingkap celana dalamnya, lalu
jari-jarinya menyentuh bibir kemaluan Lisa. Sedangkan telapak tangan
kirinya terus merambat dan masuk ke dalam bh, dielusnya payudara Lisa
yang masih terbungkus bh dan mengelus putingnya. Tiba-tiba Lisa tersadar
dari tidurnya.
"Aaahh...Pak Kobar... Apa-apaan ini? Jangan kurang ajar yah! Sana
pergi!" Lisa kaget dan menghardik bp Kobar, tetapi pria itu sama sekali
tidak digubrisnya hardikan Lisa, bahkan ia menindih tubuh Lisa dengan
tubuhnya yang kekar, jarinya sengaja di masukkannya ke dalam kemaluan
Lisa lalu dirogohnya vagina itu, sedang tangan yang satu lagi meremas
dengan keras payudara gadis itu.
"Eggghhh. Jangan pak Kobar. Kurang ajar! Nanti saya laporkan ke majikan kamu!"
Mendengar ancaman itu, Pak Kobar malah balik mengancam: "Silahkan
dilaporkan ke tuan dan nyonya, laporkan saja! Bapak juga akan melaporkan
non Lisa yang kalau ke sini sering ngentot ama tuan Hans. Saya juga
akan laporkan hal ini ke orang tua non."
Rupanya Pak Kobar tahu persis dan sering mengintip Lisa dan Hans saat
sedang bersetubuh di kamar Hans, apalagi bila situasi rumah sedang sepi.
Kata-kata Pak Kobar membuat Lisa terkejut dan gentar juga, bila ia
benar-benar melaporkan itu semua ke orang tua mereka masing-masing tentu
orang tua mereka yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius akan
terkejut mendengar hal itu dan akibatnya, Lisa dan Hans bisa dikucilkan
oleh keluarga mereka.
"Bapak akan tutup mulut, kalau non Lisa mau memberi jatah ke saya."
"Aduh, kaya gini dong Pak" tolak Lisa sambil menepis rabaan liar dari tangan Pak Kobar.
Tetapi, pria itu terus melakukan aksi nekadnya dengan memasukkan jari
tengahnya makin dalam dan menyentuh klitoris di dalam vagina Lisa.
Sedangkan payudara Lisa juga diremas dengan liar dan putingnya dijepit
dengan jari jemari Pak Kobar. Apalagi pria itu mulai mendekatkan
bibirnya yang dower itu ke bibir Lisa yang mungil dan memaksa untuk
mencium bibir Lisa.
"Egghh jangan Pak! Jangan..." Lisa menggeleng-gelengkan kepalanya
berusaha menghindari ciuman pria itu, namun Pak Kobar mengetahui, bahwa
Lisa juga menikmati perlakuan liar itu dari vaginanya yang mulai semakin
becek dan puting payudaranya mulai mengeras.
Awalnya Lisa menolak bibir Pak Kobar yang tertuju ke bibirnya, tetapi
karena terus didesak, perlahan-lahan ia tidak bisa menolak paksaan itu.
Beberapa kali bibir Pak Kobar tidak bisa mendarat dengan sempurna ke
bibir Lisa, tetapi akhirnya karena terus dipaksa, bibir itu bisa
menyentuh bibir Lisa. Mula-mula ciuman itu biasa saja, tetapi karena
terus didesak dan ditambah lagi dengan rangsangan dari rabaan liar di
bagian sensitif tubuhnya, akhirnya Lisa pasrah dan menerima ciuman liar
itu.
"Eeeuuugghh Pak... Ahh!!" Lisa mulai mendesah.
"Kenapa non? Nafsu yah?" Pak Kobar menggoda Lisa yang mulai pasrah atas pelecehan yang dilakukannya.
Bahkan Lisa sudah berani menerima dan membalas ciuman Pak Kobar sehingga
mulut mereka sudah berpagutan dengan mesra dan lidah mereka kini saling
berpautan erat. Lisa pun tampak pasrah, ketika Pak Kobar melolosi kaos
yang dikenakannya, bahkan ketika meraih kaitan bh di bagian punggungnya,
Lisa mengangkat sedikit tubuhnya supaya pria itu bisa membuka bhnya.
Mata Pak Kobar begitu takjub memandang payudara Lisa yang terpampang
bebas itu. Lalu tiba-tiba, diciumnya dan dijilati dengan penuh nafsu
puting payudara yang montok itu. Bahkan, Lisa melenguh penuh nafsu
ketika mulut Bp Kobar menyedot dan menggigit liar dan penuh nafsu puting
payudaranya
"Eeessshhh... Ooougghh paakkk Koobbaarr. Eeehhhsss..."
"Enak yah non?" pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan malu tapi mau oleh Lisa.
"Hehehe, tenang aja non. Bapak jago koq dalam hal ngentot mengentot. Non
Felly saja ketagihan sama genjotan kontol bapak. Wah sudah nggak
kehitung deh berapa kali bapak ngentot dengan non Felly. Bahkan
hehehe...anaknya yang ketiga mirip saya kan. Hehehe."
Betapa kagetnya Lisa mendengar pengakuan Pak Kobar, ternyata ci Felly,
kakaknya Hans, terlibat skandal juga dengan Pak Kobar sampai punya anak
segala. Pantas saja anak yang ketiga itu beda dengan ayahnya, apalagi
bibir anak itu juga agak dower seperti bibir Pak Kobar. Tindakan Pak
Kobar sudah semakin liar, dia sudah merenggut dan melepas cd Lisa dan
membukanya pahanya lebar-lebar sehingga vaginanya terbuka jelas. Betapa
nafsunya Pak Kobar melihat vagina Lisa yang mungil itu dan diciuminya
dengan penuh nafsu. Hal itu membuat Lisa tambah mengerang penuh geli dan
nikmat. Puas menciumi vagina itu, pria itu membuka celananya dan
sekaligus melepaskan celana dalamnya, sehingga batang penisnya yang
sudah sangat tegang dan keras itu mengacung besar dan panjang.
Disingkapnya rok itu lebih ke atas, agar lubang vagina Lisa semakin
terbuka dan tidak terhalang oleh rok mini itu. Kemudian diarahkannya
penis besar yang berurat itu ke lubang vagina Lisa. Perlahan-lahan penis
yang besar itu mulai menerobos masuk ke liang vagina Lisa. Dan...
"Egghhhh peellaann...pellaann pak...aaagghh." demikian erangan Lisa
ketika vaginanya dijejali oleh penis itu. "Oogghhh..." Lisa mengerang
makin kencang ketika penis itu masuk sepenuhnya ke dalam liang
vaginanyaa.
"Eegghh. Memek non Lisa masih rapet dan seret, lebih enak daripada memek
non Felly...eessshhh." ceracau Pak Kobar sambil mulai menggerakkan
penisnya
Lisa berpikir dalam hati, dengan kelihaian Pak Kobar memainkan nafsu
wanita dan penisnya yang perkasa itu pasti ci Felly merasakan nikmat
yang luar biasa. Kemudian dengan penuh nafsu, Pak Kobar menyodok vagina
Lisa dengan penisnya dan memompanya dengan liar. Perlakuan kasar dan
penuh nafsu itu, membuahkan perasaan nikmat yang luar biasa dalam diri
Lisa. Pak Kobar membenamkan penisnya dan menggoyangkannya penuh
semangat. Lisa mulai menyambutnya dengan memutar pantatnya, sehingga Pak
Kobar merasa kalau penisnya bagai diurut dan diremas di dalam vagina
Lisa. Akhirnya mereka berdua berpacu menikmati persetubuhan itu dan
saling melampiaskan nafsu birahi mereka. Kocokan penis Pak Kobar makin
lama makin liar di dalam vagina Lisa. Setelah 30 menit persetubuhan itu
berlangsung, Pak Kobar sudah menunjukkan tanda-tanda akan menyemprotkan
spermanya.
"Aghh bapak keluarin di dalam yah...eeegghhh."
Tak lama kemudian, bp Kobar menyemprotkan spermanya yang begitu kental
di dalam rahim Lisa....crrrooottt...crrrooottt...crrooott...
"Eeegghhh..." Pak Kobar mengejang melepaskan nafsu birahinya.
Lisa pun ikut mengejang turut mencapai klimaksnya "Aaggghhhh..."
Beberapa menit mereka terhempas dan luapan birahi yang begitu nikmat.
Itulah kenikmatan yang dialami oleh Pak Kobar dan Lisa di rumah Hans,
kekasih Lisa. Mereka buru-buru menyelesaikan persetubuhan liar yang
penuh gairah itu. Setelah itu, Lisa membersihkan tubuhnya di kamar mandi
Hans dari sisa-sisa persetubuhan itu. Untunglah persetubuhan siang itu
berakhir, karena sekitar 15 menit kemudian Hans pulang. Dengan senyum
yang manis dan memberi ciuman mesra, Lisa yang cantik itu menyambut Hans
yang ganteng. Betapa mesranya mereka berdua, dan kemudian mereka
berbincang-bincang untuk mengatur rencana nanti malam. Mereka setuju
untuk menonton pertandingan final Wordcup dini hari di sebuah caffe di
wilayah Senayan, dan Hans akan menjemput Lisa sekitar pk 9.30 nanti
malam. Setelah berbincang sejenak, mereka berangkat makan bakso bersama
di daerah Pondok Indah di dekat rumah Hans. Setelah selesai menyantap
bakso itu, Hans mengantar Lisa ke mobilnya dan Lisa pulang ke rumah
dengan mengendarai mobilnya sendiri. Sesampainya di rumah, Lisa masuk ke
dalam kamarnya untuk istirahat. Sungguh hari yang melelahkan karena
pengalaman seks yang terjadi atas dirinya. Sore hari itu Lisa tertidur
begitu nyenyak di kamarnya. Sekitar pk 8.30 malam, Lisa bangun dan
mengisi perutnya dengan makan roti dan minum susu rendah lemak
kesukaannya. Setelah makan dan minum, Lisa membersihkan dirinya di kamar
mandi. Malam ini, Lisa ingin tampil secantik mungkin di hadapan Hans.
Lisa mengenakan pakaian yang agak seksi yang baru didapatkannya dari
Cathy tadi siang, pakaian itu begitu pas di tubuhnya. Pakaian yang
berbahan seperti kaos itu memperlihatkan pundak putih dan mulus Lisa
yang terbuka bebas. Di bagian dadanya ada kap sebagai penganti bra untuk
menyanggah payudara. Karena itu, Lisa tidak perlu menggunakan bh lagi.
Panjang bagian bawahnya mengantung sekitar 20 cm di atas lutut, sehingga
memperlihatkan pahanya yang putih mulus itu. Pakaian yang dikenakan
Lisa, pasti mengundang tatapan siapa saja yang melihatnya. Untuk
menghndari hawa dingin yang menerpa pundaknya, Lisa mengenakan selendang
transparan yang tetap memperlihatkan kemulusan pundak dan sebagian
punggungnya yang terbuka. Tepat pukul 9.30 Hans sudah tiba untuk
menjemputnya. Setelah ngobrol sebentar basa-basi dengan orang tua Lisa,
mereka berpamitan meninggalkan rumah yang mewah itu menuju Caffe yang
akan mereka tuju. Betapa Hans kagum akan kecantikan dan keseksian Lisa
malam hari itu. Sesampainya di caffe itu, mereka memesan snack dan dua
cangkir kopi hangat. Karena acara pertandingan final belum mulai, para
penonton disuguhi oleh beberapa dance dan lagu serta acara lainnya yang
menarik. Sambil menunggu siaran langsung itu, tampak sekali Lisa dan
Hans mesra berbicara, beberapa kali mereka saling ciuman dan bibir
mereka saling berpagutan mesra. Tak terasa juga, akhirnya pertandingan
final siap dimulai. Para penonton sudah tidak sabar akan pertandingan
yang pasti seru dan mendebarkan itu. Beberapa saat setelah pertandingan
itu dimulai, Lisa sudah gelisah, karena sebenarnya dia kurang menyukai
sepak bola, selain itu batere HPnya sudah sangat low batt. Rupanya Lisa
lupa men-charge HPnya di rumah karena tadi keenakan tidur. Lisa memang
sengaja membawa alat chargernya, tetapi tertinggal di dalam mobil Hans.
Maka ia mengajak Hans untuk menemaninya ke mobil untuk mengambil alat
charger itu, tetapi Hans menolaknya karena sedang asyik nonton acara
final itu.
Akhirnya Hans lebih meminta Lisa untuk mengambilnya sendiri di mobil.
Sebenarnya Lisa kesal juga karena Hans tidak mau menemaninya ke mobil,
tetapi mau bagaimana lagi. Akhirnya Lisa pergi sendiri ke tempat parkir
di mana mobil Hans berada. Kini ia sudah mendapatkan alat charger itu
dan ia pun mulai berpikir di mana tempat yang enak untuk mencharge
HPnya. Sedang enak-enaknya berpikir, Lisa melewati sebuah ruangan yang
kelihatannya agak ramai. Rupanya Lisa melewati kantor satpam, dan di
dalamnya ada lima orang yang sedang asyik menonton pertandingan final.
Ketika Lisa melewati pintu kantor itu, dia celingak celinguk ke dalam
kantor itu.
"Selamat malam non, ada yang bisa dibantu?" seorang satpam kemudian bertanya kepadanya.
"Iya nih pak, di sini ada colokan listrik nggak yah? Saya mau charge HP."
Lalu salah seorang pemuda, yang kelihatannya tukang asongan, menyahut:
"Ada non. Nih di sini ada colokan listrik." pemuda yang usianya sekitar
26 thn yang berkaos kucel dan celana panjang jeans kumel itu, menunjuk
pada sebuah stopkontak di dinding ruangan itu.
Satpam itu menyahut pula: "Iya non, silahkan colok di situ aja. Mari masuk aja. Nanti kalau sudah full, bapak anter ke dalam."
"Ah nggak apa-apa pak. HPnya dicharge di sini aja yah?" Lisa dengan
langkah sopan masuk ke ruangan satpam yang berukuran 4x5 m itu dan mulai
mencharge HPnya.
"Wah seru yah bolanya?" Lisa mulai berdialog dengan mereka, supaya
suasananya cair. "Iya nih, masih nol-nol. Mari non duduk ikut nonton."
seorang bapak yang mengenakan seragam parkir mempersilahkan Lisa duduk
di bangku panjang yang di sebelahnya sudah ada seorang pemuda yang
menggeser gitarnya.
Kelihatannya pemuda itu berprofesi sebagai pengamen.
"Iya pak terima kasih. Saya duduk di sini yah. Sambil tunggu baterenya penuh."
Sejak Lisa masuk dan duduk, kelihatan sekali mata kelima lelaki itu
lebih tertuju pada Lisa yang kelihatan seksi dan menggairahkan. Mereka
memperhatikan sepasang pahanya yang indah itu, juga pundaknya yang
meskipun ditutupi selendang tipis, tetap saja memperlihatkan
keindahannya. Di dalam ruangan itu, juga kedengaran ungkapan-ungkapan
kasar dari mereka mengomentari pertandingan final itu.
"Upssh maaf yah non, kata-kata kami kasar. Hehehe" kata satpam itu.
"Ahh nggak apa-apa koq, pak!" kata Lisa.
Lalu satu bapak lagi yang kelihatannya sebagai supir menyahut: "Iya nih, ada cewek cakep koq ngomong kasar sih!"
Lalu pengamen itu menimpali dengan ungkapan agak porno dan setengah
becanda: "Yang halus kan biasanya suka yang kasar. Hehehehe. Apalagi non
ini mulus banget. Hehehehe."
"Aduh jangan begitu, Dul. Nanti non ini ketakutan" satpam itu mengingatkan si Duldul, pengamen jalanan itu.
"Oh yah non, nama saya Rojak, satpam di sini. Itu yang tadi godain non,
namanya Duldul, pengamen yang paling jelek sedunia. Yang itu Sardil,
tukang parkir di sini. Itu mang Ucek, tukang rokok keliling. Dan ini,
Pak Midit, supir yang lagi nganterin majikannya nonton final" Pak Rojak
memperkenalkan para lelaki yang ada di tempat itu.
"Saya Lisa pak" sahut Lisa memperkenalkan diri.
"Wah masih segar nih, non Lisa. Cantik, putih, mulus lagi. Hehehe." Duldul kembali menggoda Lisa.
"Sini aku jewer kupingmu" Pak Rojak kemudian menjewer telinga Duldul.
"Aduh sakit!" Duldul berusaha menghindar dari jeweran bp Rojak, sehingga
merundukkan kepalanya ke arah lantai. "woow. Mulus baget" rupanya
Duldul sempat melihat paha mulus Lisa yang terbuka karena pakaian
terusan yang dikenakan Lisa begitu pendek, bahkan celana dalam Lisa
sempat diliriknya.
"Aah bang Duldul nakal nih. Dijitak aja pak" Lisa meminta bp Rojak menjitak Duldul.
"Ampun pak Rojak...tuh pahanya muluskan?" Duldul menunjuk pada paha Lisa
yang terbuka indah. "Ampun non...hehehe" Duldul dengan bercanda memohon
kepada Lisa.
Tetapi matanya terus terarah ke paha Lisa yang terbuka itu.
"Ihh nakal nih" Lisa sengaja menampilkan wajah cemberutnya dan membetulkan posisi duduknya.
Pak Sardil kemudian menyahut: "Nggak takut masuk angin, non. Pakai baju seperti ini?"
"Iya nih, pak. Kepala terasa pening juga. Pundak rasanya pegel. Masuk angin kali yah!" ungkap Lisa.
"Kalo masuk angin, mesti dipijit tuh, biar anginnya keluar" kata Pak Midit.
Mang Ucek ikut menimpali: "Biasanya si Duldul yang sering pijitin kita di sini. Ayo Dul, pijitin si non!"
"Bener nih? bang Duldul. Pijitin dong" ujar Lisa yang sudah mulai berani.
"Ok non, sini saya pijitin deh."
Lisa kemudian menggeser duduknya dan membuka selendangnya, sehingga
pundaknya yang putih mulus terpampang bebas di hadapan Duldul.
"Wah, mulus banget nih. Saya pijit yah."
"Iya bang, pijitin yah" Lisa mempersilahkan Duldul memijatnya.
Bergetar perasaan Lisa ketika telapak tangan yang kasar Duldul, si
pengamen jalanan itu, mulai mengelus dan meraba pundaknya yang terbuka
itu. Duldul mulai memijati pundak dan lehernya yang indah itu.
"Yang lain jangan ngiri yah. Disuruh mijit semalaman juga mau, kalau
yang dipijit non ini" Duldul menggoda ke empat lelaki lainnya.
"Wah kalo gitu, saya juga mau pijitin si non ah."
"Saya juga." Keempat orang itu serentak berebut mau memijati Lisa yang cantik dan sexy itu.
"Kalo gitu pijitnya di bawah aja. Nih saya gelar tiker. Mari non, kami
pijitin" Pak Rojak tiba-tiba menggelar tiker di dalam ruangan itu,
kemudian merapatkan kain penutup jendela itu.
Melihat hasrat keempat lelaki lain yang mau memijatinya, akhirnya Lisa
mempersilahkan mereka memijati dirinya dengan senyum menggoda. Lalu ia
membaringkan tubuhnya tengkurap di tikar itu, dan dengan seketika tubuh
seksinya mulai dikerubungi oleh kelima lelaki itu. Perhatian mereka
tidak lagi ke pertandingan seru di layar tv, tetapi ke tubuh Lisa yang
sudah tengkurap. Duldul memijati lengan kiri sampai ke pundaknya. Pak
Rojak juga melakukan hal yang sama di lengan kiri Lisa dan pundaknya.
Pak Sardil memijati betis kiri sampai ke pahanya. Mang Ucek memijati
betis sebelah kanan, terus ke paha indah itu. Sedangkan Pak Midit
memijati punggungnya yang masih tertutup pakaian. Pria itu protes karena
tidak bisa langsung memijati langsung kulit mulus Lisa seperti temannya
yang lain.
Akhirnya Duldul yang paling berani itu dengan nekad menganjurkan Lisa
untuk melepas pakaiannya, supaya mudah dipijati. Keempat lelaki yang
lain juga menyetujui hal itu. Awalnya Lisa menolak, tetapi,
perlahan-lahan Lisa mau mengikuti permintaan mereka. Apalagi ketika ia
terangsang berat mengingat teman-temannya tadi siang melakukan pesta
seks dengan satpam dan para penjual di depan sekolah. Akhirnya muncul
hasrat liar Lisa untuk merasakan bagaimana nikmatnya di gangbang oleh
kelima lelaki kasar itu.
"Oke siapa takut?" kemudian Lisa berdiri dan perlahan-lahan dibukanya pakaian yang melekat ditubuhnya.
Kelima lelaki itu begitu kagum menatap wajah Lisa yang begitu putih,
bersih dan indah itu. Karena Lisa tidak lagi mengenakan bh, maka ketika
pakaian itu dilepaskan dari tubuhnya, terpampanglah sepasang payudara
yang indah itu. Dengan sedikit malu, Lisa menutupi puting payudaranya,
dan ia kembali rebahan untuk dipijati oleh mereka dengan hanya
mengenakan celana dalam yang mini. Dengan penuh nafsu, mereka memijati
tubuh telanjang Lisa, tampak jari-jari tangan mereka begitu liar
mengelus dan meremasnya. Mang Ucek yang mendapat jatah memijat betis dan
paha Lisa tiba-tiba tanpa ijin dari Lisa, menarik lepas cd yang
dikenakan gadis itu:
"Celana dalamnya, saya lepas yah non."
Akhirnya terlepaslah pakaian terakhir yang tersisa itu sehingga membuat para pemijat itu tambah nafsu.
“Ah. Malu nih, masa Lisa jadi bugil begini" Lisa memprotes tindakan mang Ucek itu malu-malu kucing.
Tetapi mereka tidak menggubris protes Lisa, bahkan mereka memuji tubuh
bugil Lisa yang begitu mulus, putih dan bersih itu dan terus memijatnya.
"Ayo non, sekarang bagian depan yang dipijat. Masa yang belakang terus" Pak Sardil meminta Lisa untuk berbalik.
"Iya non, ayo balik" ungkap mereka juga.
Akhirnya dengan agak malu-malu, Lisa membalikkan tubuh bugilnya sambil
menutupi sepasang payudaranya dengan lengan kiri dan menutupi bulu
kemaluan dan vaginanya dengan telapak tangan kanannya. Betapa merah muka
Lisa, karena dia nekad bugil di hadapan kelima lelaki kasar yang tidak
pernah dikenalnya.
"Sudah non, tubuh indah begini jangan ditutupi dong" kata Pak Midit
sambil mengangkat tangan kiri Lisa, sehingga payudara dengan puting yang
indah itu terpampang bebas.
Lalu Pak Rojak menarik lengan kanan Lisa yang menutupi kemaluannya itu.
Kedua tangan Lisa ditarik ke arah kepala Lisa oleh mang Ucek, sehingga
tubuh bugil Lisa yang begitu putih mulus itu terbuka di hadapan mereka.
Mereka melotot dan ngiler mengagumi payudara Lisa yang ranum dan montok
itu dan vagina yang dihiasi bulu kemaluan yang lebat itu.
"Gila, cantik dan seksi sekali nih amoy. Bisa pesta deh kita!!" kata si Duldul.
"Jangan ah. Jangan. Lisa malu" kata Lisa malu-malu.
"Kenapa malu non?" kata Pak Rojak kepada Lisa.
Tampak tangan-tangan yang kasar dan hitam itu mulai meremasi payudara dan mengelus perut dan bulu kemaluan gadis itu.
"Eggghh... Habis pada curang. Masa cuma Lisa yang bugil" tantang Lisa yang menghendaki agar mereka juga telanjang.
Mendengar ungkapan Lisa, dengan segera Duldul, Ucek dan Pak Sardil
melepas kaosnya, sedangkan Pak Rojak dan Pak Midit melepas celana
panjangnya. Setelah itu dengan segara, mereka menyerbu tubuh mulus Lisa
yang bugil itu. Mereka tidak memijati Lisa, tetapi menggerayangi tubuh
mulus itu. Pak Rojak langsung menciumi payudara Lisa sebelah kiri sambil
mengemut putingnya. Hal yang sama dilakukan oleh Ucek pada payudara
sebelah kanannya. Pak Midit langsung membuka paha Lisa dan menciumi
vagina Lisa. Pak Sardil mengelusi perut langsing dan bening itu serta
menjambak bulu kemaluan Lisa. Duldul langsung mendaratkan mulutnya ke
mulut Lisa dan menciuminya penuh nafsu. Perbuatan mereka membuat Lisa
kaget sekaligus terkejut, dan mampu membuatnya mendesah-desah penuh
nikmat. Tubuh Lisa tampak menggelinjang penuh nikmat karena dikerjai
oleh kelima lelaki kasar itu. Puas menciumi bibir dan mulut Lisa, Duldul
melepaskan celana dan cdnya hingga bugil, lalu mengangkangi tubuh Lisa
dan mengarahkan penisnya yang hitam, besar dan panjang itu ke bibir
kemaluan Lisa. Pak Midit berganti posisi, setelah dia membuka cdnya,
diarahkannya penisnya yang besar dan panjang itu ke mulut Lisa untuk
disepong.
"Saya entot dulu yah" Duldul langsung memasukkan penisnya dan dengan kencang dimasukkannya ke dalam liang vagina Lisa.
Kemudian dengan penuh nafsu, Duldul mulai mengenjot vagina Lisa.
"Eeggghhhh..." Lisa mulai mengerang tetapi agak tersendat karena mulutnya terisi penuh oleh penis Pak Midit.
Pak Sardil sedang asyik mengisap puting payudara kanan Lisa, sedangkan
Pak Rojak masih asyik menyusu di puting payudara sebelah kiri. Mang Ucek
lalu menarik tangan Lisa dan memintanya untuk mengocok penisnya. Malam
ini, menjadi malam yang penuh kenangan karena baru kali ini dia
dikerubuti oleh lima lelaki yang sama sekali belum dikenalnya dan dari
kalangan bawah. Mereka lalu mengajak Lisa mengganti posisi. Mang Ucek
rebahan di atas tikar itu dengan penis yang mengacung ke atas. Lisa yang
berada di atas, mengarahkan penis itu ke dalam kemaluannya.
"Eeggghhh" terdengar kembali erangan Lisa ketika penis Ucek yang tidak kalah besar itu masuk ke liang senggama Lisa.
Sambil terus di pompa oleh Ucek, Pak Rojak memasukkan penisnya ke dalam
mulut Lisa. Sementara Midit terus menciumi dan menyedoti payudara Lisa
sebelah kanan dengan begitu rakusnya. Duldul terus memberi cupangan di
sekitar payudara kiri Lisa. Pak Sardil menuju pantat Lisa yang sekal itu
lalu diciuminya penuh nafsu. Tidak cukup sampai disitu, lalu Pak Sardil
mengarahkan penisnya ke lubang anus Lisa, dan masuklah perlahan-lahan
penis itu mendobrak anus Lisa yang masih perawan itu.
"Eeeggghhh... Aaggsshhh..." kembali Lisa mengerang penuh nikmat, dan sudah dua kali ia mencapai klimaksnya.
"Ooggh enak sekali memek non Lisa" ungkap Ucek.
"Iya, boolnya juga sempit. Egghhh" ungkap Pak Sardil juga.
Lisa kelihatan meringis agak perih karena lubang anusnya dimasukki oleh
penis yang besar itu. Tetapi lama-lama akhirnya ia menikmati sodomi itu.
Beberapa lama kemudian mereka berganti posisi lagi. Kini Pak Sardil
yang rebahan dan mengarahkan penisnya yang paling hitam di antara mereka
ke liang vagina Lisa. Perlahan-lahan penis itu membelah vagina Lisa.
"Egghhsss aauuhh" kembali Lisa mengerang penuh nikmat ketika vaginanya diterobos dan dipompa oleh penis hitam itu.
Lalu Pak Rojak mengarahkan penisnya yang juga besar itu ke arah lubang
anus Lisa dan didorongnya dengan kasar, membuat Lisa menjerit.
"Aaaahhhggghhh"
Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Mang Ucek mengarahkan batang penisnya
ke mulut Lisa untuk disepong. Sedangkan Duldul dan Pak Midit asyik
menciumi, menyedot dan menyupangi sepasang payudara Lisa dan sekujur
tubuhnya sehingga tampak merah-merah bekas cupangan pada payudara dan
sebagian perut Lisa yang mulus itu. Akhirnya setelah satu jam lebih
mereka menyetubuhi Lisa secara beramai-ramai, tibalah saatnya untuk
menyemprot sperma mereka. Kembali mereka merebahkan Lisa di tikar,
Duldul dan Pak Midit mengocok batang penisnya ke arah muka Lisa.
Sedangkan Pak Rojak, Pak Sardil dan Ucek mengocoknya ke arah payudara
Lisa. Dan tidak lama kemudian. Crooottt...ccrroott...ccrrooot.
"Eeggghhh...ooohhh"
Berkali-kali sperma kelima lelaki yang kental dan banyak itu menyemprot
dan tumpah di wajah dan payudara Lisa. Lisa sendiri sudah mengalami 6x
orgasme pada saat itu. Pagi dini hari itu, Lisa menikmati mandi sperma.
Nikmat sekali kelima lelaki itu karena bisa menikmati Lisa yang cantik,
putih, bening dan seksi itu. Sedangkan Lisa, juga tampak begitu nikmat
dalam birahinya, karena bisa menikmati 5 penis yang besar, panjang dan
keras. Kemudian mereka mengelusi muka dan sepasang payudara Lisa dengan
sperma mereka. Mereka nampak lemas sekali karena tenggelam dalam nafsu
birahi yang baru saja mereka tuntaskan. Tak terasa sekitar 12 menit lagi
pertandingan final itu hampir selesai, dengan kedudukan 1-0 untuk
Spanyol. Maka Lisa buru-buru berdiri dan membersihkan mukanya yang
lengket oleh sperma di wastafel yang butut itu, lalu mengenakan
pakaiannya. Ketika Lisa akan memungut cdnya, tiba-tiba Duldul mengambil
cd itu dan mengantonginya sebagai kenang-kenangan.
"Buat saya aja yah non. Kapan-kapan kita ngewe lagi yuk?" goda Duldul ke Lisa.
"Iya deh ambil saja" Lisa tersenyum pada mereka dan dengan langkah
gontai meninggalkan ruangan itu setelah mengambil HP dan alat
chargernya.
Di dalam Lisa menemui Hans yang tampak asyik menonton sepak bola. Ia
nampaknya larut dalam euphoria sepak bola sampai tidak peduli pacarnya
lama meninggalkannya dan sedang digangbang orang lain. Tak lama kemudian
pertandingan itu usai, dan Spanyol yang keluar sebagai juara dunia.
Lalu Hans dan Lisa bergandengan tangan meninggalkan caffe itu dan
berjalan menuju mobil Hans untuk pulang. Ketika sudah sampai di dalam
mobil, Hans mengajak Lisa untuk bercinta sejenak, tetapi Lisa menolaknya
dengan alasan sudah ngantuk sekali. Lisa nggak berani melakukan
hubungan seks dengan Hans saat itu, karena badannya masih lengket dengan
sperma dan tidak mengenakan cd. Lisa khawatir Hans curiga padanya,
tetapi sebagai gantinya Lisa bersedia melakukan oral seks terhadapnaya.
Maka Lisa membuka restleting celana Hans, mengeluarkan penisnya dan
menyepongnya. Untungnya hanya sekitar 10 menitan Hans sudah mencapai
orgasmenya dan Lisa menelan sperma Hans kemudian hans pun menstarter
mobilnya meninggalkan tempat parkir. Di pintu gerbang itu Lisa berjumpa
dengan pak satpam, tukang parkir dan dua orang tukang yang tadi sudah
menyetubuhinya. Mereka tampak tersenyum kepada Lisa dan Lisa pun
tersenyum pada mereka
“Siapa tuh? Senyum-senyum ke lu gitu?” tanya Hans.
“Itu...gua kan tadi nge-charge hp di pos satpam pas mereka juga di sana gitu” jawab Lisa
“Ooohh...gitu” Hans menanggapinya santai dan menyetir mobilnya.
Bersambung...