Setelah sekian kali Linda bersetubuh dengan Ujang, pembantunya. Hidupnya
kini menjadi tidak terkendali. Ia kerap mengajak Ujang untuk
melampiaskan syahwatnya. Seluruh tempat atau ruangan di dalam rumah
mewah itu telah menjadi ajang penuntasan syahwat mereka. Terkadang Linda
yang terlebih dahulu mengoda dan mengajak Ujang bersenggama, atau
terkadang Ujang yang sering datang ke kamar Linda untuk menuntaskan
birahinya. Terkadang bahkan kalau sedang horny berat dan ingin menggoda
kacungnya itu Linda sengaja bertelanjang ria bila dia berada di rumah.
Rumah yang megah itu, memang menjadi sepi mulai pukul 7.30an pagi sampai
sekitar pukul 5 sore. Suami Linda bekerja di Jakarta. Anaknya selalu di
dampingi baby sitter ke pre-shool dan Pak Abdul (ayahnya Ujang) yang
juga bertindak sebagai sopir. Setelah itu, Merry (puterinya Linda),
kerap mengajak pergi ke rumah omanya di Pondok Indah. Ibu Abdul hanya
datang 3 kali seminggu, untuk menyetrika pakaian. Setelah selesai
melakukan hal itu, kadang ditambah menyapu rumah, dia pulang ke
rumahnya. Yang ada tinggal Ujang dan majikan perempuannya, yakni Linda.
Karena selalu hidup berlebihan dan kerap merawat tubuhnya, Linda
kelihatan tetap cantik. Dia tidak sungkan untuk merawat tubuh dan
kulitnya. Apalagi ia pernah operasi mempercantik tubuh dan memancungkan
hidungnya di Singapore, sehingga tubuhnya tetap indah dan menarik bagi
siapapun yang memandangnya. Dan yang sangat beruntung adalah Ujang yang
adalah pelayan di rumah mewah itu. Seperti halnya pagi itu, ketika Ujang
sedang membersihkan ruang tamu rumah itu, datanglah Linda yang hanya
mengenakan daster pendek dan tipis mendekati Ujang.
"Tumben kok rajin sekali belakangan ini" kata sang nyonya.
"Iya nyah, kan gaji Ujang udah dinaikkan 3x lipat. Dan sering dapat bonus. Makanya Ujang mesti serius kerjanya" kata Ujang.
"Iya termasuk kerja keras ngewein aku yah. Hehehe... tapi jujur aja,
kamu hebat lho ngentotnya" Linda memuji pembantunya itu dan memeluk erat
tubuh kurus Ujang sambil merapatkan payudara yang sekal dan montok itu
ke punggung Ujang.
Linda memasukkan kedua tangannya ke dalam kaos kucel yang dipakai Ujang.
Dirabanya perut Ujang yang hitam itu dan dirabanya bulu yang tumbuh
tanggung di sekitar dada dan puser Ujang.
"Ah...nyonya genit ah. Pagi-pagi dah bikin nafsu. kontol Ujang kan jadi
nganceng nih" sambil berkata demikian, Ujang menggerak-gerakkan
pundaknya, seakan mengelusi payudara nyonya Linda.
"Hihihi...nafsumu gede yah. Sama seperti kontolmu yang gede dan panjang"
Linda menanggapi tindakan Ujang itu dengan semakin merapatkan
payudaranya dengan pundak Ujang.
"Kayanya nyonya senang yah sama kontol yang gede dan panjang? Emang enak nyah?" Ujang menggoda majikannya dengan pertanyaan itu.
"Wah suka sekali...habis enaknya nggak ketulungan. Nikmat banget deh
kalo ngewe sama kontol yang tegang, besar dan panjang. Mentok sampai ke
dalam" jawab Linda blak-blakan.
"Kan saya cuma pembantu nyah. Sudah kere, jelek, hitam, kurus, kasar,
kampungan lagi. Kalo nyonya kan cantik, putih, bening, montok, halus"
jawab Ujang.
"Ah nggak jadi masalah Jang, meskipun jelek, hitam, dekil, kampungan,
tapi yang penting kontol kamu yang luar biasa, yang bisa muasin saya.
Genjotanmu enak banget sih. Bikin saya nafsu, kalo dientot kamu, luar
biasa enaknya" kata nyonya Linda sambil mencium pipi Ujang.
"Bener nih nyah? Kalo gitu nyonya suka dong sama kontol yang mantap, meskipun sama jongos?" Ujang menanggapi jawaban Linda.
"Iya Jang, yang penting kontolnya besar dan panjang. Pembantu juga nggak
masalah. Yang penting bisa bikin saya puas, kan cuma buat kawin bukan
buat nikah hihi" kata Linda tertawa nakal.
"Ok kalo gitu. Yuk sekarang saya ngajak nyonya menikmati kepuasan. Mau?"
Linda yang mendapat pertanyaan itu dengan segera menanggapi:
"Mau dong? Apalagi pagi-pagi begini. Yuk ke kamarmu, Jang."
Ujang menimpali: "Ok nyah, nyonya akan Ujang bikin menjerit nikmat deh. Pokoknya ada kejutan enak."
Linda terperanjat: "Kejutan apa tuh? Awas yah jangan macam-macam, aku cubit kontolmu, baru tau rasa kamu."
Ujang menjawabnya: "Tenang aja nyah. Yang penting nyonya akan puas deh. Ok, nyonya bugil dulu dong. Lalu kita ke kamar saya."
Permintaan itu ditanggapi Linda: "Ok deh, saya bugil yah."
Nyonya muda yang cantik itu segera melepaskan daster tipis dan pendeknya
itu di depan mata Ujang, jongosnya. Kini Ujang dapat menyaksikan tubuh
indah dan mulus dari nyonya Linda. Tubuh bugil itu sudah biasa menjadi
santapan matanya dan sudah sering ia nikmati, karena hampir setiap hari,
nyonya Linda berani bugil di rumahnya.
Tubuh bugil itu lalu dipeluk langsung Ujang, dirabanya
payudara itu, dan diciumi mesra oleh Ujang. Sementara tangan Ujang yang
satu lagi mempermainkan bulu jembut dan vagina nyonya majikannya.
Setelah dirasa puas melakukan hal itu, Ujang mengajak nyonya majikannya
yang dalam keadaan bugil berjalan ke kamar Ujang yang ada di atas bagian
pojok rumah itu. Sebelumnya, Linda membereskan dasternya dan
digeletakkan di kursi mebel ruang tamu. Puas sekali mata Ujang menatapi
tubuh telanjang yang putih bersih dan indah itu. Di lain pihak, nyonya
Linda membiarkan tubuh bugilnya yang indah dan seksi dipandangi terus
menerus oleh Ujang. Tadi Ujang mengatakan ada kejutan untuk nyonya
Linda. Kejutan apa itu? Sambil bercanda dan membiarkan tubuh
telanjangnya disentuh dan diraba jongosnya, Linda yang berada di depan,
menaiki tangga menuju kamar Ujang. Posisi Ujang dibelakang nyonya Linda.
Ketika sudah sampai di depan kamar Ujang, kembali Ujang berbisik:
"Pokoknya nyonya akan puas sekali, ok?"
"Ok, Jang. Pokoknya buat aku puas!"
Ujang lalu merangkul pundak nyonya majikannya dan dipersilahkan
mendorong gerendel kamar itu untuk masuk. Ujang tetap berada di belakang
tubuh telanjang bulat nyonya majikannya. Ketika nyonya Linda masuk ke
dalam kamar Ujang, dia terperanjat sambil menutupi sepasang payudaranya
yang montok dan menutup bulu kemaluan serta vaginanya itu dengan kedua
tangannya:
"Ah..." Rupanya di dalam kamar tidur Ujang telah ada orang lain yang
menunggu. Orang itu adalah Darso, yang tidak lain adalah teman Ujang
yang juga jongos. Usianya sekitar 32 tahun. Dia bekerja sebagai jongos
di sebuah rumah mewah juga yang terletak berdekatan dengan rumah Linda.
Hampir sama dengan Ujang, Darso adalah pemuda kampung yang mengadu nasib
menjadi jongos di rumah mewah di Sentul City. Tampang dan bentuk
tubuhnya sama seperti Ujang: hitam, kurus, dekil. Bahkan lebih kurus dan
hitam daripada Ujang.
"Tenang aja nyah, tadikan nyonya bilang suka dengan kontol besar dan
panjang. Mang Darso ini, kontolnya juga gede lho, dia juga mau ikut
icip-icip ngentotin nyonya" kata Ujang sambil menarik kedua tangan
nyonya majikannya ke belakang, sehingga Darso yang matanya belo itu
semakin nafsu memandang tubuh bagian depan Linda yang bugil.
"Gila Jang, kamu...eepphh" sebenarnya Linda mau memarahi Ujang yang
lancang bercerita tentang hubungan mereka dan memanggil orang lain ke
sini, tapi Ujang langsung membekap bibir indah nyonya Linda dengan
bibirnya yang dower.
Jongos itu meremas payudara nyonyanya yang mengantung bebas itu, dan
dirabanya bibir vagina Linda. Lama-lama mata Linda mulai meredup,
menandakan birahinya yang sudah naik. Darso yang juga terangsang,
disuguhi pemandangan hot antara Ujang dan nyonyanya. Ingin sekali Darso
meraba sekujur tubuh itu, tetapi ia menahan diri. Mata Darso tak jemunya
memperhatikan payudara indah dan vagina berjembut lebat Linda.
"Sini mang Dar, silahkan raba tetek nyonya saya!" Ujang mengajak Darso.
"Jahat kamu Jang, ajak teman koq nggak bilang-bilang...eessshh" jawab
Linda sambil meringis, karena kini tubuh bugilnya yang indah menawan
sedang diraba-raba, dielus dan di remas oleh dua pasang tangan yang
kasar dan hitam legam itu.
Kini tangan Darso sudah mengelus, bahkan meremas dengan gemas sepasang
payudara montok dan bening itu. Dipermainkannya puting payudara itu
dengan begitu gemas. Sedangkan Ujang, sedang begitu asyik menyelipkan
jari tengahnya dalam-dalam mengobok-obok vagina Linda. Hal itu membuat
Linda kelojotan menikmati lonjakan birahi dalam dirinya.
"Enak sekali Jang, tetek nyonyamu. Sekel, montok dan kenceng lagi. Nyusu dulu ah!" kata Darso.
Linda yang sudah dibakar nafsu membiarkan tubuhnya diperlakukan
demikian, bahkan dengan birahi yang sudah memuncak, ia menyodorkan
sepasang payudaranya yang putih, halus dan montok itu untuk dinikmati
mulut Darso.
"Ahhhss...eeeggghhh...eehhmmm" itulah kalimat yang keluar dari mulut
Linda, ketika Darso mencaplok dan mengulum puting payudaranya.
Dengan penuh nafsu, Darso menjilati bongkahan payudara montok itu dan
sesekali dihisapnya pentil itu kuat-kuat sehingga Linda terus kelojoton
penuh nikmat. Dipermainkannya lidah Darso di puting susu itu.
"Eeehhh eeessshhh... eemmmhh" demikian erangan penuh birahi dari nyonya cantik itu.
"Sekarang, saya mau lihat dan ciumin memek nyonya Linda yah" Darso
menyatakan maksudnya itu dan Ujang mempersilahkan Darso untuk bermain
dengan vagina nyonya majikannya.
"Ngangkang dong nyah!" pinta Darso.
Tanpa malu-malu lagi, Linda membentangkan pahanya lebar-lebar, sehingga vaginanya terpampang bebas di hadapan Darso.
"Gile nih jembut, lebat banget. Biasanya nafsunya gede. Nih memek bagus
banget yah" Darso yang kampungan dan yang katanya tidak tamat SD itu
memberi penilaian terhadap vagina Linda.
Ia memandang vagina itu penuh nafsu dan diciuminya dengan geregetan.
Lidah Darso juga menerobos masuk ke dalam vagina Linda, dan bermain-main
di dalam rongga vagina itu, menyentuh klitorisnya yang sensitif.
Serangan Darso kembali membuat Linda menggelinjang menikmati gelora
birahi dalam dirinya yang diperlakukan seperti itu oleh Darso. Sementara
di sebelahnya Ujang meremasi payudaranya dan menciumi tenguk dan
pundaknya. Karena terus dirangsang akhirnya
"Eggghhh...oohhhsss. Aku kee..llluuu..arrr....eessshh" demikian erangan
nikmat dari Linda yang sudah sampai pada klimaks pertamanya.
Tubuh Linda semakin lemas dan melemah karena luapan nafsunya.
"Wah nafsu nyonyamu hebat juga Jang. Nih sdh keluar. Apalagi ntar kalo
dientot" Darso mengatakan hal itu sambil membuka celana pendeknya yang
dekil dan melepas cdnya.
Maka tersembullah batang penisnya yang luar biasa besar itu, kencang,
hitam dan dikelilingi oleh bulu-bulu yang lebat. Linda terhenyak
memperhatikan penis besar itu
"Sini aku pegang dulu. Diciumin dulu dong!"
Darso mengikuti kemauan Linda dan menyodorkan penis besarnya ke mulut
Linda. Disambutnya penis itu, dipegangnya, diciumi dan dimasukkannya ke
dalam mulutnya. Darso menduduki payudara Linda dan memasukkan batang
penisnya ke dalam mulut Linda. Digenjotnya mulut mungil itu dengan
penisnya. Linda pun menyedot dengan kencangnya penis itu dan lidahnya
menjilati kepala penis yang bersunat itu.
"Uugghh... Enak sekali sepongan nyonya Linda...eehhhgg!!" demikian ungkapan Darso.
Sambil terus mengulum dan menjilati penis Darso, Linda mempermainkan
biji pelirnya. Seakan batang penis dan biji pelirnya itu menjadi mainan
yang menarik baginya. Setelah sekitar 15 menit Linda menservice penis
itu, tibalah saatnya bagi Darso untuk menikmat persetubuhan yang
sesungguhnya. Darso memegang penisnya yang sudah tegang sekali dan
diarahkannya ke bibir vagina Linda yang sudah becek itu. Ditempelkannya
kepala penis yang membonggol mantap itu dan di dorongnya pelan-pelan
"Agghhh...eeessshhh...eeuuugghh" Linda mulai mendesah dan menjerit penuh
nafsu, ketika penis yang besar itu mulai menerobos masuk ke liang
vaginanya.
"Enak banget Jang...memek nyonya majikanmu...sempit dan peret banget...ssshhh" Darso pun ikut menikmati proses penetrasi itu.
"Iya dong, aku aja ketagihan ngewe sama nyonya Linda. Habis memeknya rapet banget" jawab Ujang kepada Darso.
Akhirnya...sllleepp, masuklah seluruh penis itu ke dalam sarang nikmat
Linda. Darso membenamkan penis itu dan menekannya kuat-kuat. Linda
menanggapi dengan mengangkat pantatnya, seakan menyambut proses
penetrasi itu.
"Eggghhsss ... Aahhsss..eesshhh" terdengar erangan Linda, ketika Darso
mulai menekan dan memutar pantatnya, sehingga batang penisnya yang besar
itu masuk dengan sempurna.
Linda yang dalam keadaan terlentang itu sangat menikmati enjotan penis
Darso di dalam liang vaginanya. Tak henti-hentinya dari mulutnya keluar
desahan nasfu. Kedua tangan Darso memegang betis mulus Linda dan
membentangkannya sehingga terbuka lebar. Pada saat yang sama, Ujang pun
tidak tinggal diam. Dia membuka celananya yang jelek itu dan melepaskan
cdnya. Batang penisnya yang juga besar itu lalu diarahkan ke mulut
Linda. Dan akhirnya, ke dua mulut Linda atas dan "bawah" terisi penuh
oleh penis yang besar itu. Betapa nafsunya Darso dan Ujang menyetubuhi
Linda dengan penisnya yang sudah amat tegang itu. Mereka berdua sebagai
pembantu sungguh mendapat rejeki nomplok. Setelah gaya itu dirasa puas,
Darso minta ganti posisi. Dicabutnya penis itu dari dalam liang senggama
yang nikmat itu, ia melepas kaos bututnya, sehingga tubuhnya sama-sama
polos dan bugil seperti Linda. Hanya bedanya, tubuh Darso begitu hitam,
sedangkan tubuh Linda begitu putih bening bagai pualam bercahaya. Darso
kemudian tidur terlentang dan meminta Linda memasukkan penis besarnya ke
dalam vaginanya. Rupanya ia menginginkan gaya "woman on top". Linda
mengambil posisi menduduki penis Darso dan di arahkannya ke dalam liang
vaginanya. Masuklah kini seluruh batang penis Darso dijepit oleh dinding
nikmat di dalam rongga kemaluan Linda. Saat Linda menurunkan tubuhnya,
Darso menaikkan pantatnya sehingga seluruh penisnya tertelan di dalam
vagina Linda. Disentakkannya penis Darso melesak masuk ke dalam
vaginanya. Tindakan itu ditanggapi Linda dengan menekan pinggulnya ke
bawah, sehingga batang penis Darso sungguh masuk dengan sempurna,
diiringi desahan nikmat dari Linda. Darso pun meremas dengan penuh nafsu
payudara Linda yang menggantung indah itu. Melihat hal itu, Ujang pun
tidak tinggal diam. Dia meminta Darso untuk memeluk tubuh bugil
majikannya. Darso memeluk tubuh mulus itu dan mencium bibirnya. Bibir
mereka saling berpagutan erat sambil menikmati persetubuhan yang penuh
desahan birahi. Ujang bisa melihat betapa penis Darso yang kencang dan
besar itu tertelan masuk ke dalam vagina Linda.
Ujang juga melihat liang anus Linda yang agak terbuka menantang. Ia
memang pernah mensodomi nyonya majikannya itu. Penis Ujanglah yang
pertama kali masuk ke liang anus Linda. Suaminya saja tidak pernah
melakukan hal itu bila bersetubuh. Dan rupanya, inilah kejutan yang akan
dinikmati Linda. Ujang akan mensodominya, bersamaan saat Darso
menyetubuhi vaginanya. Ujang kemudian mengarahkan batang penisnya ke
lubang anus Linda.
"Aaggghhh...aooowww" kembali Linda mulai mendesah dengan begitu keras
dan mengelepar saat lobang anusnya mulai dipenetrasi oleh penis Ujang.
Pelan-pelan Ujang mulai memasukkan batang penisnya yang sudah tegang
membelah anus Linda. Perlahan didorongnya penis Ujang, menelusuri liang
anusnya. Linda kembali mendesah penuh nikmat:
"Auuuhhsss...pee..llaann Jaanngg. Eeuugghhh!!"
Penis Ujang sedikit demi sedikit masuk ke dalam anus Linda. Inilah kali
pertama Linda mengalami double penetration, di vagina dan anusnya. Ujang
pun merasakan nikmat karena bisa memasukkan penisnya ke dalam liang
anus nyonya majikannya. Dan...sllleeepph. Masuklah kini penis Ujang ke
dalam anus Linda. Hal ini membuat Linda menjerit:
"Ahhh...Jhanng...sssaaakkhhiitt...eegghh!!"
Darso dan Ujang akhirnya sengaja membenamkan penis mereka dalam-dalam ke
dalam lubang vagina dan anus Linda, sehingga ibu muda yang cantik itu
menggelepar merasakan sodokan penuh nafsu dari kedua jongos itu. Ujang
dan Darso dengan penuh semangat memompakan penisnya, membiarkan nyonya
majikannya mengelepar liar penuh nafsu. Rasa sakit yang dialami Linda
lama-lama mulai berubah menjadi nikmat yang luar biasa. Darso dan Ujang
pun sepertinya tidak mau membiarkan kenikmatan itu cepat berlalu. Mereka
terus menghantam vagina dan anus Linda dengan begitu kasar. Setiap
desahan atau erangan yang keluar dari mulut Linda, justru memacu mereka
untuk semakin menancapukulan penisnya lebih kuat ke sasarannya. Sudah
hampir setengah jam Linda mengalami serangan birahi yang begitu hebat.
Sudah 3x pula Linda mengalami klimaks yang luar biasa nikmatnya itu.
Sampai akhirnya Ujang dan Darso sudah bersiap untuk memuntahkan lahar
sperma mereka.
"Aahhh gua mau keluar nih!" demikian lenguhan penuh birahi dari Ujang,
Darso pun mengalami yang sama: "egghh gua juga oi! Nyonyamu pasti sudah keluar berkali-kali"
Dan akhirnya pada saat yang bersamaan, Darso dan Ujang, begitu juga
Linda, menuntaskan persenggamaan mereka.
Crrooottt...ccrrooottt....ccrrooottt. Muncratlah sperma Darso di dalam
liang vagina Linda, dan Ujang pun menyemprotkan spermanya di dalam
anusnya. Linda pun sampai pada klimaksnya. Akhirnya, ketiga manusia itu
lemas lunglai. Kelihatan sekali, tubuh indah, putih dan bening milik
nyonya Linda dihimpit oleh tubuh hitam, gelap dan dekil. Darso dan Ujang
membiarkan penis mereka tetap menancap di vagina dan anus nyonya Linda,
sambil menuntaskan sisa-sisa birahi mereka.
"Gimana mang Dar, enak kan memek nyonya saya?" Ujang bertanya pada
temannya. "Enak tenan, sempit banget yah!" Darso menanggapinya.
"Iya dong, padahal udah berapa kali aku entot lho hehehe. Aduuhh sakit"
tiba-tiba saja Ujang meringis karena Linda mencubit lengannya seakan
malu karena rahasia skandalnya dengan si jongos itu terbuka.
"Ah nggak apa-apa nyah. Darso juga suka nyikat anak majikannya. Tuh si
kembar Sherly-Sheny aja dientot sama Darso. Iya kan mang Dar?" ungkap
Ujang.
"Iya nyah, habis saya diajak duluan. Awalnya non Sherly,gara-garanya
lagi rebut sama pacarnya. Eh malah maen sama saya" kata Darso.
Ujang melanjutkan: "Iya tuh, bahkan perawannya Sheny disikat juga sama
si Darso." Darso menanggapinya: "Iya rupanya non Sheny pernah ngintip
saya lagi ngewe sama non Sherly, eh lama-lama dia gatel juga. Lalu
ketika rumah lagi sepi, non Sheny ngajak saya ke kamarnya. Kirain di
suruh bersihin kamarnya. Taunya jadi ngewe juga. Wah, non Sheny masih
perawan lho waktu saya entotin."
Setelah Darso selesai menceritakan pengalamannya itu, Linda lalu berdiri
untuk menyudahi permainan ini, karena dia ada janji dengan salah satu
staff marketingnya untuk melihat butiknya di Mall Pluit yang sedang di
renovasi. Ujang dan Darso pun berdiri dan bergantian memeluk dan mencium
Linda sebagai ungkapan terima kasihnya. Darso pun bangkit dan ke kamar
mandi yang ada di dalam kamar Ujang untuk membersihkan dirinya. Ujang
memakai celana pendeknya dan menemani nyonyanya yang masih bugil untuk
keluar dari kamarnya. Setelah Darso membersihkan tubuhnya, ia pun keluar
kamar Ujang. Di rumah yang mewah itu, Ia mencari Ujang untuk pamitan.
Tetapi dia tidak menemukannya, feelingnya mengatakan bahwa Ujang pasti
ada di kamar majikannya
Akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke kamar Linda untuk menemui Ujang.
Dan benar saja, ketika Darso masuk ke kamar Linda yang besar dan indah
itu, dia mendengar suara desahan dari kamar mandi di dalam kamar itu. Ia
pun melangkahkan kakiknya ke sana dan menemukan Ujang sedang menggenjot
tubuh telanjang nyonyanya yang duduk di atas wastafel marmer. Rupanya
Ujang karena merasa belum tuntas melanjutkan persetubuhannya dengan
nyonyanya di kamar megah itu. Darso kemudian berpamitan dengan Ujang dan
nyonya Linda yang sedang asyik bersetubuh itu tapi keduanya cuek karena
terhanyut dalam birahi. Akhirnya persetubuhan antara Ujang dengan
nyonya Linda berakhir sekitar pukul 9.30 pagi. Itu pun atas permintaan
Linda karena sudah ada janji dengan Silvy. Ujang menuruti alasan nyonya
majikannya, dengan syarat nanti sore Ujang bisa menikmati kembali tubuh
mulus nyonya Linda. Tentu saja Linda menyetujui syarat itu, karena ia
pun menyukai permainan Ujang. Sekitar pukul 10.15, nyonya Linda keluar
rumah dengan mengendarai mobil BMW yang masih baru itu. Dia janjian
untuk bertemu dengan Silvy, anak buah suaminya yang bekerja sebagai
staff marketing. Mereka memang sudah saling kenal dengan baik. Keduanya
janjian untuk ketemu di sebuah caffe di Cibubur Sqare. Usia Silvy 23
tahunan, orangnya cantik, putih dan menarik. Dia belum menikah, tapi
sudah punya pacar. Ketika sedang membicarakan beberapa hal sehubungan
dengan butiknya, Linda melihat Lisa, adiknya Lily. Dari tempat duduk
Linda di caffe itu, ia dapat melihat Lisa yang sedang memarkir mobilnya
di halaman mall itu. Lisa turun dari mobil jazznya itu dengan diikuti
oleh ketiga cewek teman sekolah yang sebaya dengannya. Saat itu Lisa
mengenakan kaos santai yang agak longgar dan rok jeans mininya yang
pendek sekali, sehingga pahanya yang sekal berisi terpampang jelas.
Kemudian Lisa dan teman-temannya masuk ke dalam mall untuk membeli donat
dan kopi. Saat itulah, Linda menyapa Lisa, dan saling berbincang
sebentar. Setelah mendapatkan pesanannya, Lisa meninggalkan Linda dan
Silvy lalu mereka pergi meninggalkan mall itu dengan mobilnya. Setelah
mendapatkan pesanannya, Lisa meninggalkan Linda dan Silvy lalu pergi
meninggalkan mall itu dengan mobilnya. Begitu juga dengan Linda dan
Silvy, setelah ngobrol sebentar sambil minum kopi, mereka pun pergi
meninggalkan mall itu menuju Pluit. Sekitar pukul 12.30 siang, Linda dan
Silvy sudah sampai di sebuah mall di daerah Pluit.
Tampak ceria sekali wajah Linda siang itu, karena ia
akan memulai usahanya membuka butik pakaian. Linda membeli tempat
berukuran 6x8 m dan kini sedang direnovasi. Sesampainya di butik itu,
Linda dan Silvy tampak berbincang-bincang memperhatikan tata letak di
ruangan itu. Silvy memperhatikan dan mencatatnya dengan seksama. Linda
pun beberapa kali memberi arahan ke mandor yang merenovasi butiknya itu
dan juga kepada 3 orang tukang yang sedang bekerja. Silvy masih terus
memperhatikan ruangan di bagian depan, sedangkan Linda tampak berbincang
serius dengan mandor itu. Linda menanyakan letak gudang yang menjadi
tempat menaruh pakaian dagangannya kepada Pak Samad, mandornya itu.
Linda mengikuti pak Samad ke arah belakang butik itu, sedangkan Silvy
masih asyik di bagian depan. Di sampainya di dalam gudang yang berukuran
2x3m itu tampak perbincangan serius mengenai warna. Di dalam ruangan
gudang itu, Linda dan mandornya didatangi seorang tukang yang masih muda
untuk minta istirahat kepada Pak Samad untuk makan siang. Tiba-tiba
Linda mengeluarkan selembar uang seratus ribu kepadanya untuk dibelikan 4
nasi bungkus, 1 untuk mandor dan 3 untuk teman-temannya. Di bagian
gudang itu, Linda dan Pak Samad terlibat pembicaraan yang serius. Linda
menghendaki ruangan itu dicat dengan warna biru tua. Tetapi Pak Samad
menyarankan menggunakan warna terang, dengan alasan bisa hemat listrik.
Rupanya Linda tetap pada pendiriannya, dan tidak mau menerima pendapat
Pak Samad. Di satu pihak Linda kagum akan penjelasan Pak Samad yang
masuk akal. Di lain pihak, Linda sebenarnya kagum akan fisik Pak Samad
yang kekar itu. Memang Pak Samad dahulunya adalah seorang penarik becak,
suatu pekerjaan yang lama-lama membentuk tubuhnya menjadi tampak macho.
Linda mengagumi lengan Pak Samad yang menonjolkan otot keperkasaannya.
Badannya yang padat berisi terlihat di balik kemeja kumelnya. Linda
melihat keperkasaan di dalam diri Pak Samad yang umurnya sekitar
pertengahan 40an. Tiba-tiba, muncullah gejolak birahi dalam diri Linda.
Rupanya Linda sudah menjadi wanita yang haus akan kenikmatan seks,
apalagi setelah ia bersetubuh dengan Ujang dan Darso sebelum pergi tadi.
Dorongan untuk bersetubuh, kembali muncul dalam benak Linda di butiknya
yang sedang direnovasi itu.
"Hawa di sini panas yah pak" kata Linda sambil membuka dua buah kancing kemeja putihnya yang tanpa lengan itu.
Dengan dibukanya kedua kancing itu, tampaklah kulit tubuh Linda yang
begitu putih dan bening. Tampak juga bh putihnya yang membungkus
payudara indah itu. Beberapa kali Pak Samad menelan ludah menyaksikan
pemandangan indah yang begitu seksi itu. Sambil terus mendiskusikan
warna yang akan dipakai di bagian gudang itu.
Linda mengambil sebuah kursi plastik lalu ia duduk di
kursi itu. Sambil duduk, Linda mengangkat kaki kanannya dan ditumpangkan
pada kaki kirinya. Hal itu membuat Pak Samad kembali menelan ludah,
karena kini, ia bisa menatap paha mulus yang begitu putih bersih dengan
betisnya yang indah. Pada saat itu, Linda mengenakan rok jeans selutut.
Mata Bp Samad tidak lepas dari tontonan indah yang diperlihatkan Linda.
Tak terasa batang penisnya pelan-pelan menegang. Linda pun sempat
melirik ke arah selangkangan Pak Samad yang mengenakan celana panjang
kusam itu dan melihat tonjolan di selangkangan itu. Akhirnya setelah
beberapa lama saling adu pendapat, disetujui bahwa gudang itu akan
diberi warna biru muda, supaya bisa menjadi lebih terang. Setelah ada
kesepakatan itu, Linda tampak puas, lalu menyalami Pak Samad sambil
berdiri. Cukup lama, Linda menggenggam tangan Pak Samad, seolah-olah
berterima kasih padanya. Setelah itu, cup...cup..Linda mencium bp Samad.
Hal itu tentu saja mambuatnya sungguh terkejut karena dirinya seolah
dicium oleh bidadari yang cantik.
"Aduh non Linda, pakai cium segala. Bapak jadi malu" Pak Samad mengomentari tindakan Linda.
"Ah nggak apa-apa, habis bapak juga baik. Lengan bapak kekar
yah...berotot lagi...bulunya juga banyak" sahut Linda sambil mengelusi
lengan Pak Samad yang memang kekar dan berisi itu.
"Pasti bulu di sini juga banyak yah" lanjut Linda yang dengan nakalnya
meraba selangkangan Pak Samad dan menyentuh penisnya yang sudah tampak
tegang itu.
"Aduh, non Linda...jadi tambah nganceng nih kontol bapak" ujar Pak
Samad. "Kelihatannya sudah nganceng dari tadi tuh. Apalagi setelah
melihat ini" lanjut Linda sambil melepas dua kancing terakhir kemejanya,
lalu membentangkan ujung kemeja itu lebar-lebar sehingga memperlihatkan
dada dan perutnya yang putih mulus itu. Dengan santainya, Linda
kemudian melepas kemeja itu dan meletakkannya di atas kursi tempat ia
duduk. Kini tubuh bagian atas Linda sudah setengah telanjang, karena
payudaranya masih tertutup bh. Diambilnya ke dua tangan Pak Samad oleh
Linda, lalu ditaruhnya ke perutnya yang mulus dan langsing itu. Pak
Samad pun tidak menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Dielusnya perut yang
ramping itu, lalu naik ke atas dan meremasi payudara Linda yang masih
tertutup bh itu.
Dengan senyum yang diwarnai nafsu, Linda menggapai kaitan bh di
punggungnya itu dan melepaskannya. Kemudian dilolosinya bh itu dari
tubuhnya, sehingga kini terpampanglah sepasang payudara yang montok,
sekal, putih dan mulus, bergantung begitu menawan dengan putingnya yang
menantang. Mata Pak Samad seakan melotot penuh nafsu melihat payudara
yang luar biasa indah itu. Linda lalu mempersilahkan pria itu untuk
menikmati tubuh bagian atasnya yang sudah telanjang:
"Remas toked saya, pak!"
"Iya non. Saya remas yah" Pak Samad lalu mengulurkan tangannya untuk membelai dan meremas payudara indah itu.
"Esss...remasnya yang keras pak, egghh" Linda sudah mulai merintih, sebagai tanda birahinya sudah mulai naik.
Kemudian ia menurunkan restleting rok jeansnya di bagian depan sehingga
melorotlah rok itu menjauh dari kaki Linda yang begitu mulus dan seksi
itu. Kini hanya tinggal cd saja yang melekat pada tubuh Linda. Pak Samad
terangsang luar biasa melihat tubuh telanjang Linda, kemudian Linda
memegang ujung kaos Pak Samad, diangkatnya dan akhirnya dilepaskannya
kaos kumel itu. Kini Linda pun bisa menyaksikan tubuh Pak Samad yang
begitu gelap namun perkasa itu. Tubuh pria itu tidak kalah dengan tubuh
seorang binaragawan, karena dulunya ia adalah seorang pekerja kasar.
Betapa lebatnya bulu-bulu di tubuh telanjangnya. Linda yang sudah begitu
nafsu lalu memeluk tubuh si mandor dan mendaratkan bibirnya ke bibir
pria itu. Mereka saling berpelukan erat dan berciuman penuh birahi,
seolah tidak mau lepas dari rasa nikmat itu dan tidak peduli
melakukannya di mana, justru sensasi itulah yang menambah rangsangan
bagi Linda. Sambil terus berpagutan, Pak Samad meremas dan mempermainkan
payudara montok Linda. Remasan tangannya lama-lama bergeser turun ke
arah pantat yang sekal Linda. Dengan terus berciuman mesra, tangan Pak
Samad terus meremasi pantat Linda.
"Pak, tolong celana dalam saya dilepas aja. puasin saya!" Linda sudah
benar-benar dilanda nafsu birahi sampai nafasnya naik turun tak karuan.
Pak Samad, melepaskan pakaian terakhir yang dikenakan Linda yakni celana
dalamnya. Kini tertampanglah tubuh mulus, putih, bersih itu dalam
keadaan telanjang bulat.
Pak Samad kini sudah menempelkan jemarinya membelai jembut yang begitu
lebat dan menantang itu. Tubuh Linda melonjak nikmat ketika jemari
tangan Pak Samad menyentuh bibir kemaluannya. Apalagi ketika dengan
nakalnya jari-jari hitam dan besar itu menggesek dan bermain di bibir
vaginanya. Kenikmatan itu menjadi bertambah ketika jari tengah yang
besar itu mulai menerobos masuk ke dalam vagina Linda.
"Ahhh...eesshh" desahan Linda terdengar agak keras.
Pak Samad tidak hanya menciumi bibir Linda, sasarannya kini adalah
sepasang payudara yang elok itu. Dicaploknya bongkahan bulat di dada
wanita itu, diciuminya dan dijilatinya putingnya yang sudah menegang.
Sedangkan tangan kirinya menempel ketat di vagina Linda, dan jari
tengahnya sudah menancap di dalam liang senggama itu. Mendapat perlakuan
seperti itu, tubuh Linda melonjak penuh gairah, apalagi bagian-bagian
sensitif dari tubuhnya sudah dikuasai oleh Samad. Sedang enak-enaknya
Linda dan Pak Samad tenggelam dalam nafsu birahi, datanglah si Ucup yang
tadi disuruh membeli nasi bungkus. Betapa kagetnya Ucup menyaksikan
pemandangan erotis itu, di mana tubuh mulus dan seksi Linda sudah bugil
di bawah kuasa Pak Samad. Saat itu Ucup mau meninggalkan mandornya yang
sedang berasyik ria dengan Linda, tetapi Linda yang melihatnya malah
memanggilnya:
"Mari gabung Bang, buka pakaianmu..eesshhh!!"
Pak Samad mengiyakannya: "Yuk, sini Cup... Ada barang bagus...gratis lagi. Buka baju lu sana!”
Tentu saja Ucup tidak akan melewatkan kesempatan indah itu. Ucup yang
bertubuh kurus kerempeng itu menanggalkan kaos dekilnya dan celana jeans
bututnya, serta menurunkan celana dalamnya yang bolong itu. Dalam
keadaan bugil, dia mendekati dan merangkul tubuh bugil Linda. Dielusnya
punggung yang halus itu dan diremasnya pantat Linda yang bulat montok
itu. Pak Samad melepaskan sejenak pelukannya pada Linda untuk melepas
celana panjang dan sekaligus juga melorotkan celana dalamnya. Maka
tersembullah batang penis Pak Samad yang sudah tegang dengan sempurna
itu. Begitu besar dan panjang batang penis itu, dengan kepala penis yang
besar seperti jamur. Kini tubuh telanjang Linda yang putih, halus dan
mulus diapit oleh dua pekerja kasar yang bertubuh gelap. Meskipun kedua
lelaki itu kampungan, jelek, kasar, pendidikannya tidak tinggi, dan
pekerjaannya kasar, namun mereka memiliki penis yang begitu besar dan
panjang yang membuatnya takjub. Jauh lebih besar daripada penis suaminya
yang tidak seberapa itu. Kalau bersetubuh dengan suaminya, Linda tidak
merasakan puas. Selain penis suaminya yang biasa saja, sebentar main
saja sudah keluar. Itulah sebabnya Linda mencari kenikmatan dengan pria
lain yang mampu menuntaskan dahaganya. Ia merasa lebih terangsang dengan
menyerahkan kecantikannya dan tubuh indahnya kepada lelaki dari
kalangan bawah, namun mampu membuatnya puas.
Seperti halnya siang itu, Linda menikmati permainan liar Pak Samad dan
Ucup yang silih berganti mengelus, meraba dan meremas tubuh bugilnya.
Bahkan kini Ucup sedang menciumi pantat montok Linda dan sedang
menjilati anusnya. Linda pun sedang sibuk menciumi batang penis Pak
Samad yang besar dan panjang itu, lidahnya bermain-main menjilati batang
penis itu, sambil sesekali menyentilkan lidahnya pada lubang
kencingnya. Perlakuan Linda itu membuat Pak Samad menggelinjang, apalagi
saat Linda memasukkan penis itu ke dalam mulutnya dan menyedotnya
kuat-kuat
"Aahhss...eegghh.." lenguh si mandor sambil meremas rambut Linda
Dengan lincahnya Linda memberi rangsangan nikmat pada penis Pak Samad
yang sudah tegang itu. Ucup bukan saja menjilati lubang anus Linda,
tetapi jarinya kini sudah meremas dengan penuh gemas bulu-bulu kemaluan
Linda yang lebat itu. Beberapa kali, Ucup menjambak bulu kemaluan Linda.
Rupanya Ucup begitu nafsu akan bulu kemaluan yang lebat di antara paha
Linda. Sambil meremasi bulu kemaluan Linda, Ucup juga membelai dan
menggesek-gesekkan jarinya di bibir kemaluan Linda. Akhirnya erangan dan
rintihan mereka mau tak mau menarik perhatian Silvy dan 2 tukang
lainnya, yang bernama Kodir dan Jupri. Mereka bertiga masuk ke gudang
yang letaknya di bagian dalam untuk melihat apa yang terjadi. Mereka
terkejut bukan kepalang, apalagi Silvy, menyaksikan istri bosnya yang
cantik dan putih mulus itu sedang nikmat melakukan aktifitas seksual
liar di tempat seperti ini.
"Ayo Sil, jangan malu-malu gitu. Sekali-sekali kudu coba main sama orang
seperti mereka. Masa cuma main sama pacarmu saja...dan suamiku...hehehe
sudahlah jangan sok munafik, tuh masih ada dua abang-abang lagi." sapa
Linda ketika mereka memergokinya.
“Eehh...apa-apaan nih! Jangan...lepasin! Eemmhh!” Silvy memberontak
ketika tiba-tiba Kodir dan Jupri menarik lengannya dan membekap mulutnya
dengan kuat.
Sambil membekap mulut Silvy, kedua tukang bangunan itu merabai pantatnya
yang masih terbungkus rok dan celana dalamnya dan juga meremas payudara
itu yang juga masih tertutup pakaiannya.
“Ayo Non, kita ikutan aja, gak seru kan kalo cuma nontonin!” sahut Jupri
sambil menyingkap rok selutut Silvy sehingga pahanya yang mulus itu
terlihat.
“Huehehe...gua ga lagi mimpi kan Pri? Daritadi gua udah nafsu sama amoy
satu ini, gak nyangka bisa giniin dia sekarang” kata Kodir seraya
meremas payudara Silvy dari luar kemejanya.
“Nggak lah, kalau mimpi juga gua ga pengen bangun hahaha!” timpal Jupri
yang mulai membelai-belai kemulusan paha Silvy, “wuii....cangcutnya item
putih nih!” sambil meraba wilayah segitiga itu dari luar celana
dalamnya.
Silvy hanya bisa menggumam dan menggeliat karena mulutnya dibekap oleh
Kodir dan kedua pasangan tangan-tangan kasar itu semakin menggerayangi
tubuhnya.
Sementara di dekat situ, Linda melepas kulumannya pada penis Pak Samad
dan mengambil posisi nungging. Rupanya Pak Samad yang lebih dahulu akan
memasukkan penisnya yang luar biasa tegang itu ke dalam liang senggama
Linda. Pria itu mengambil posisi di belakang pantat Linda. Sedangkan
Linda, kini sedang asyik sekali menciumi dan menjilati batang penis Ucup
yang juga besar itu. Tanpa merasa jijik, Linda menjilati batang penis
Ucup dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Pak Samad kini sudah
mengarahkan kepala penisnya yang besar itu untuk membelah vagina Linda.
Ditempelkannya kepala penis itu di bibir vagina Linda, dan
"eegghh..ahhh" tubuh Linda tampak gemetar dan mendesah ketika penis yang
begitu besar itu membelah dan perlahan-lahan menerobos vaginanya.
"Duhh. Memek non Linda sempit sekali. Masih peret...ahhhsss" ungkap Pak Samad yang sedang melakukan penetrasi.
"Iiyyyaa...konnnttoolll bapakk..eessshhh..oohhh...beess..shaarr sseekkalliihh." Erang Linda
Sedikit demi sedikit penis itu masuk ke dalam liang senggama Linda. Ibu
muda itu sangat menikmati proses penetrasi itu, sambil terus mengulum
penis Ucup yang juga sudah kencang dan besar itu. Ucup merintih nikmat,
ketika Linda dengan gemasnya menyedot dan menjilati kepala penis itu
dengan begitu kuat. Ucup menikmati permainan itu dengan mendorong
penisnya, sehingga masuk semuanya ke dalam mulut Linda, sampai kepala
penisnya menyentuh tenggorokan Linda. Di sisi lain, Pak Samad terus
melesakkan penisnya menembus lorong vagina Linda,
dan..blleess..didorongnya kuat-kuat penis yang besar itu sampai amblas
seluruhnya ke dalam vagina Linda.
"Oooouuggghhh... eegghhh...oooghhss" terdengar suara erangan Linda yang
tersendat-sendat karena mulutnya dipenuhi oleh penis Ucup, tubuh
telanjangnya nampak menggeliat menahan nikmat.
Mandor itu membiarkan seluruh penisnya berada dalam remasan lubang
vagina Linda. Betapa nikmatnya Pak Samad karena bisa menikmati lubang
sempit Linda. Begitu juga Linda, tampak begitu menikmati ketika penis
besar itu amblas seluruhnya di dalam vaginanya.
Linda menggerakkan bola matanya ke samping melihat Silvy yang sudah
dikerjai Kodir dan Jupri. Seluruh kancing kemeja gadis itu sudah lepas
dan Kodir segera meremas sepasang payudara Silvy yang montok tertutup bh
berwarna hitam putih satu stel dengan celana dalamnya. Jupri tengah
berjongkok di depan Silvy sambil meremas paha dan pantatnya. Tampak
perlawanan Silvy mulai mengendor, karena dia sudah merasa capek dan
akhirnya muncul rangsangan dalam dirinya, apalagi melihat persetubuhan
Linda dengan mandor dan tukang bangunan itu. Inilah pertama kalinya dia
melakukannya dengan orang kampung yang jelek dan hitam seperti Kodir dan
Jupri. Silvy mulai pasrah dan tidak melawan ketika Kodir dengan paksa
menyusupkan tanganya ke balik cup bhnya. Jupri juga dengan cekatan
menurunkan restleting roknya dan menariknya turun hingga terlepas dari
dirinya. Kedua tukang bangunan itu begitu terpana menyaksikan tubuh
Silvy yang begitu putih dalam keadaan hampir telanjang. Tubuh Silvy
memang lebih putih daripada Linda, ini karena Linda lebih rutin berenang
dibanding Silvy. Kodir belum puas melihat tubuh Silvy yang belum
telanjang dengan sempurna. Tangannya menuju kaitan bh di tengah dada
gadis itu dan dilepaskannya pengait itu, sehingga kedua cupnya terbuka
dan akhirnya Silvy bertelanjang dada. Awalnya, ia masih malu karena
payudaranya yang kencang, mulus dan indah itu terpampang bebas di
hadapan para tukang bangunan itu. Ia lalu menutup payudaranya itu dengan
kedua telapak tangannya. Tetapi akhirnya, Kodir menarik tangan Silvy ke
belakang dan dengan segera sepasang tangannya yang hitam itu mencaplok
sepasang payudara Silvy dan meremasnya. Jupri pun tidak tinggal diam,
dia dengan cepat menurunkan celana dalam Silvy dan melorotkannya
melewati paha, betis lalu menuju pergelangan kaki itu. Akhirnya
ketelanjangan Silvy yang tinggal kemeja yang telah terbuka kancingnya
dan bra yang telah terbuka kaitnya itu dapat disaksikan oleh Kodir dan
Jupri. Nampak payudara dengan putingnya yang berwarna merah muda itu
sedang diremasi oleh tangan Kodir. Sedangkan Jupri sedang asyik
mengelusi paha bagian dalam sampai ke selangkangan Silvy dan menyentuh
bulu kemaluan yang lebat itu. Setelah menyaksikan Silvy sudah dalam
keadaan bugil total, Kodir dan Jupri akhirnya melepaskan pakaian mereka
satu persatu, sampai akhirnya juga bugil. Silvy begitu kaget melihat
batang kemaluan bersunat kedua pemuda berumur 25an tahun itu, yang
begitu besar, tegang dan panjang. Dia tidak bisa membayangkan apakah
lorong vaginanya yang masih sempit bisa dimasuki oleh penis yang sudah
tegang dan besar itu.
Setelah membuka pakaian masing-masing, Kodir dan Jupri memeluk tubuh
Silvy dari depan dan belakang, tangan mereka tidak henti-hentinya
mengelus dan meremas tubuh yang putih mulus itu. Di lain pihak, Linda
tampak menikmati penis mandor itu mengaduk-aduk vaginanya dengan liar.
Apalagi saat Pak Samad menekan penisnya yang besar, tertancap
dalam-dalam di rongga vaginanya yang mungil. Linda begitu tersentak dan
menggelinjang menikmati sodokan mandor itu.
"Oohhh ssooddookk yannngh keerraasss, phakh...ehhssss oouughh!!" tampak
sekali Linda sudah dikuasai nafsu sehingga membiarkan tubuhnya digarap
dan disetubuhi oleh mandor itu.
Mandor itu awalnya memaju mundurkan pantatnya perlahan-lahan tetapi
kemudian ia semakin kencang dan keras menekan pantatnya sehingga
penisnya yang nganceng itu menggesek lorong vagina Linda.
"Aahhh ennaakkk see..kallii nonn Linda...eghh!!" Pak Samad pun merasakan
nikmat yang luar biasa, gesekan antara penisnya dengan dinding vagina
Linda makin lama makin terasa dimana hal itu membuat Linda akhirnya
mengalami orgasmenya:
"Ohhh... aku ke..lluu..aarr...oouugghhh." desah Linda dengan tubuh berkelejotan
Setelah Linda sudah mencapai klimaksnya, Pak Samad mencabut penisnya dan
memanggil Ucup untuk tiduran dengan penis yang sudah mengacung tegang
itu menghadap ke atas. Lalu dimintanya Linda memasukkan batang penis
yang tegang itu ke dalam vaginanya. Akhirnya dengan diiringi desahan
birahi:
"Ooghh...ahhh" masuklah perlahan-lahan batang penis Ucup yang juga besar itu ke dalam liang vagina Linda.
Ucup begitu kagum akan kecantikan Linda, dan terangsang sekali melihat
tubuh mulus yang telanjang bulat itu. Sambil mengenjot penisnya agar
lebih masuk ke dalam liang senggama Linda, ia meraba payudara Linda yang
tergantung bebas itu dan meremasnya penuh nafsu. Linda pun menyambutnya
dengan menekan pinggulnya, sehingga penis itu sungguh nikmat bersarang
di dalam vaginanya. Linda juga lebih mencondongkan tubuhnya ke depan
agar Ucup dapat meremas dan mempermainkan payudaranya yang menggantung
indah itu.
"Iiissaaapp..., Cup!" bahkan Linda meminta Ucup, pemuda berusia 26th itu untuk menyusu pada payudaranya.
Kesempatan itu tentu tidak disia-siakan oleh Ucup, dia menarik tubuh
Linda supaya payudaranya dapat dilumat oleh mulutnya yang agak monyong
itu. Kembali Linda mengerang dan mendesah diperlakukan seperti itu, dia
sungguh menikmati persetubuhan yang mampu menuntaskan birahinya yang
selalu terpendam. Ucup bergitu liar menikmati persetubuhan itu sambil
memasukkan penisnya dan mengenjotnya lebih kencang, ia terus menjilati
dan mengenyot puting payudara Linda.
Sementara Pak Samad meremas bongkahan pantat Linda yang montok dan putih mulus itu dan memperhatikan lubang anus Linda.
"Non Linda...boolnya bapak entot juga yah!" pintanya, rupanya mandor itu mau melakukan analsex pada Linda.
Dengan nafas tersengal-sengal dan suaranya yang mendesah, Linda
mengijinkan Pak Samad untuk membenamkan penisnya yang luar biasa besar
itu ke dalam anusnya. Pak Samad lalu mengarahkan batang penisnya ke
lubang anus Linda, dan perlahan-lahan memasukkannya.
"Aahhh...oohhgh...egh pe..lann..pe..lllann...ooouuggghhh" kembali Linda
dilanda birahi yang luar biasa nikmatnya ketika penis besar mandor itu
masuk makin dalam ke liang anusnya.
Benar-benar sensasi yang dahsyat melanda Linda dimana dirinya menikmati
sodokan yang begitu liar di dalam vagina dan anusnya, ditambah lagi dari
Ucup yang terus menjilati dan mempermainkan payudaranya yang indah itu.
Desahan dan erangan Linda yang begitu seksi, membuat mandor dan tukang
itu semakin kencang mengocok vagina dan anusnya dengan penuh nafsu.
Sementara itu, bagimana dengan Silvy? Ini adalah pengalaman pertamanya,
dimana ia menyerahkan tubuhnya untuk dinikmati oleh pemuda kampung yang
hitam, kasar dan jelek itu. Awalnya dia menolak, tetapi melihat tindakan
istri bosnya yang begitu liar dengan dua pria kelas bawah itu, ditambah
serangan dari Kodir dan Jupri, serta melihat batang penis mereka yang
begitu besar, akhirnya Silvy makin terhanyut dalam birahi. Kini tubuh
telanjangnya sudah dibaringkan di atas tripleks. Tampak Kodir yang
begitu nafsu menciumi dan menghisap payudara Silvy yang amat putih mulus
itu.
"Eeesshhh ooouugghhh" Silvy mendesah atas tindakan Kodir itu.
Jupri juga asyik memandang vagina Silvy dan menjilati vagina yang
berbulu lebat itu. Ia membuka paha Silvy lebar-lebar, dia kagum akan
vagina Silvy yang masih rapat dan menggairahkan itu. Silvy pun akhirnya
dengan sendirinya membentangkan pahanya lebar-lebar, membiarkan Jupri
menikmati kemaluannya itu. Lidah Jupri makin masuk dan menyentuh dinding
vagina Silvy, sehingga vagina itu tambah basah.
"Dir...enak banget yah hari ini, bisa nikmati memek amoy cantik" ungkap Jupri kepada Kodir.
"Iya Pri, nih tetek juga mantep...putih dan bening lagi...kita bikin
puas deh nih amoy siang ini!" Kodir menjawab perkataan Jupri.
"Sini gantian Pri, aku mau entot dulu nih amoy. Kamu nyusu dulu" pinta Kodir kepada Jupri.
Mereka pun ganti posisi, Jupri mengangkangi Silvy dan duduk di atas
payudara Silvy yang montok itu sambil menyodorkan penis bersunatnya yang
hitam ke arah mulut Silvy.
Awalnya Silvy merasa geli karena harus mengulum penis hitam yang baginya
menjijikan, tetapi karena terus dipaksa oleh Jupri, akhirnya dia
memegang penis itu dan mulai diarahkan ke mulutnya. Silvy mulai menciumi
penis Jupri dan menjilatinya dengan lidahnya.
"Ayo non Silvy, disepong dong. Pasti nikmat deh!" Jupri
mendorong-dorongkan penisnya ke arah mulut Silvy memaksanya untuk
membuka mulut.
Akhirnya, Silvy mau tidak mau membuka mulutnya juga dan memasukkan penis
kampung itu ke dalam mulutnya. Silvy merasakan mulutnya tidak muat
menampung penis besar milik Jupri itu, apalagi aromanya sedikit tidak
enak, tetapi ia juga merasakan sensasi tersendiri ketika penis itu
berada di dalam mulutnya dan sentuhan-sentuhan erotis yang terus mendera
tubuhnya. Disedot, dicium dan dijilatinya penis itu oleh mulut dan
lidahnya. Akhirnya, Silvy terbiasa dengan penis Jupri itu. Dia begitu
nikmat mempermainkan penis Jupri di dalam mulutnya. Sementara Kodir
sedang berlutut di antara kedua paha Silvy untuk mempersiapkan proses
penetrasi, dia mulai mengarahkan batang penisnya ke lubang senggama
gadis itu. Disentuhnya vagina itu dengan penisnya, dan ditempelkannya
pada mulut vagina itu. Pelan-pelan Kodir mendorong penis besarnya itu
membelah vagina Silvy.
"Oouugghh..pelan...pelll...aann dong bang...eeggghhh" Silvy mendesah dan
mengerang, karena baru kali ini vaginanya dimasuki penis yang begitu
besar itu.
"Aduh...peret yah memeknya...sempit banget..egghh" perlahan-lahan Kodir
memasukkan penis itu hingga akhirnya penis yang telah ereksi penuh itu
terbenam ke dalam vagina Silvy.
"Egghhh..oohh" Silvy berteriak ketika penis besar Kodir masuk sepenuhnya membelah vaginanya.
Ia merasakan dirinya seperti diperawani oleh penis yang besar dan
panjang itu. Kodir membenamkan penisnya hingga mentok ke dalam vagina
Silvy, dia menikmati hangatnya dan nikmatnya liang senggama gadis itu.
Begitu juga dengan Silvy, ia merasakan nikmat yang luar biasa ketika
penis si buruh bangunan tenggelam sepenuhnya di dalam vaginanya.
Kenikmatan seperti itu tidak pernah didapatnya ketika bercinta dengan
pacarnya ataupun mantan pacar-pacarnya ketika masih kuliah dulu.
Silvy mendesah dalam luapan birahi, saat vaginanya terisi penuh oleh
batang penis Kodir yang mantap itu. Apalagi ketika Kodir mulai mengocok
vagina Silvy dengan memaju mundurkan penisnya di dalam liang
senggamanya. Sodokan penis Kodir memberi sensasi luar biasa nikmat dalam
diri Silvy. Ia pun akhirnya pasrah dan menyerahkan dirinya untuk
disetubuhi oleh Kodir, pemuda kampung itu sambil mengulum dan menjilati
penis Jupri yang mengangkangi wajahnya. Sambil menghela pinggulnya
menyetubuhi Silvy, tangan Kodir meremas-remas kedua gunung kembarnya
yang indah itu, putingnya ia pencet dan pilin-pilin sehingga makin
tegang saja. Sementara itu, Linda tampak menikmati double penetration
bersama Ucup dan Pak Samad makin buas menggenjot vagina dan anusnya.
Apalagi Ucup sangat bernafsu menikmati payudara Linda yang menggantung
indah itu.
"Aahhh..akkuu mauu...kellluu...aarr aggghh!!" nampak Linda mulai gelisah
karena untuk yang ketiga kalinya ia akan mencapai klimaks.
"Iya non...egghh..saya juga..mauuu kee..lluuuarrr" Ucup ikut mendesah.
Pak Samad pun ikut berbicara:" Yuk, kita ngecrot barenng...ahhh!!"
Tampak ketiga manusia yang sudah dikuasai nafsu birahi itu akan
menuntaskan birahinya masing-masing. Selang beberapa lama kemudian,
tubuh bugil Linda, Ucup dan Pak Samad menegang
dan...crroootttt...crroot....crrroooot. Ucup dan Pak Samad memuntahkan
spermanya di dalam vagina dan anus Linda. Begitu pula dengan Linda, ia
pun akhirnya sampai pada orgasmenya dan menyemburkan cairan cintanya.
Cairan kewanitaan yang hangat itu bercampur dengan sperma Ucup, deras
dan meluap sampai berleleran di pinggiran bibir vaginanya. Akhirnya
ketiga manusia itu lemas dan saling bertindihan karena menikmati
persetubuhan itu, tubuh mereka basah berkeringat dan nafas mereka
tersengal-sengal. Tidak jauh dari situ, Silvy pun sedang sibuk bergumul
dengan kedua tukang bangunan lainnya, mereka telah berganti posisi
menjadi doggy style, vaginanya sedang digenjot dengan begitu nafsu oleh
Kodir dari belakang, sedangkan mulutnya sedang dijejali oleh penis
Jupri. Kemeja dan branya yang terbuka telah dilepaskan oleh mereka
sehingga tidak ada lagi sehelai benang pun tertinggal di tubuh Silvy,
yang tinggal hanya sepatu hak, cincin, jam tangan, dan kalung salib
kecil yang bergoyang seirama tubuhnya.
Sebenarnya Silvy sudah mengalami orgasme pertamanya tadi, tetapi karena
dahsyatnya genjotan Kodir mendesak vaginanya dengan penisnya yang besar
dan ditambah lagi penis Jupri yang berada di dalam mulutnya, birahi
Silvy pun dengan cepat bangkit lagi.
"Eegghh...saya ke..luuarriinn di dalam yah...non Sil...vy..eeghh!" rupanya Kodir sudah hampir sampai pada klimaksnya.
"Iya nih, kontol sa...yya juga...ennakk. Saya mau...keluar...iiinn ddii
daallamm mulut non...Silvy..yah. Uuhhhg" Jupri pun sudah hampir sampai.
Silvy hanya bisa menggangguk sambil memejamkan matanya, karena dirinya
pun diliputi birahi yang luar biasa nikmatnya.
Akhirnya....crooott...crooottt....ccrrroootttt, muntahlah sperma Kodir
di dalam rahim Silvy dan juga sperma Jupri di dalam mulutnya. Tidak
sampai dua menit kemudian, Silvy pun mengalami yang sama, dia pun sampai
pada klimaksnya:
"Eggghhh.....eeessshhhhh ooohhhh!!" erangnya dengan tubuh mengejang
Tubuh ketiganya pun akhirnya lemas menikmati sisa-sisa nafsu birahi
mereka. Itulah kenikmatan yang dialami oleh Linda, Silvy, mandor dan
ketiga tukang itu. Setelah sekitar 15 menit mereka istirahat sambil
ngobrol ringan, Pak Samad mendatangi Silvy dengan diikuti Ucup.
“Gantian yuk!” kata si mandor.
“Sip...gua juga pengen cicipin memek si nyonya itu!” sahut Jupri.
Kodir dan Jupri mendatangi Linda yang masih bersandar lemas di meja
kasir yang belum selesai dipasang. Mereka pun mulai meraba-raba tubuh
telanjangnya.
“Hehehe...masih kuat Bu?” tanya Jupri sambil memegangi payudara kiri Linda
“Siapa takut!?” jawab Linda tersenyum nakal lalu menggenggam kedua penis
Kodir dan Jupri dan meremasnya, dia pun membiarkan payudara dan
vaginanya dimainkan oleh kedua tukang itu. Ia menyambut mulut Jupri yang
menyosor ke mulutnya, sebentar saja keduanya sudah beradu lidah dengan
penuh nafsu. Kodir melumat payudara Linda yang daritadi digenggamnya,
sementara tangannya merayap ke selangkangnya dan menyentuh bibir
kemaluan ibu muda itu. Tubuh Linda menggeliat saat jari Kodir menyusup
ke dalam vaginanya dan mulai menggesek-geseknya. Sedangkan Silvy sedang
duduk di atas lemari kecil yang nantinya akan dipakai untuk menyimpan
stok barang sambil mengoral penis Pak Samad dan Ucup sedang berlutut di
antara kedua paha gadis itu dan mengulum vaginanya setelah sebelumnya
menyiram terlebih dahulu daerah kewanitaan itu dengan air mineral untuk
membersihkannya dari sisa-sisa persetubuhan sebelumnya. Tangan Ucup
menjulur ke atas meremasi payudara kanan gadis itu. Tak lama kemudian
Pak Samad menarik keluar penisnya dari mulut Silvy lalu menjenggut pelan
rambut panjangnya ke belakang sehingga wajah gadis itu terdongak ke
atas. Mandor itu langsung melumat bibir Silvy dan lidahnya menerobos
masuk menyapu telak rongga mulut gadis itu. Erangan tertahan terdengar
dari mulut Silvy yang juga menikmati percumbuan panas itu.
Tak lama kemudian, mereka sudah melanjutkan pesta seks babak kedua itu.
Linda menduduki selangkangan Jupri dan mulai naik turun di atas penisnya
sementara tangannya menggenggam dan mengoral penis Kodir. Pak Samad pun
lalu memulai persetubuhan itu dengan duduk di atas lemari kecil itu dan
menaikkan tubuh telanjang Silvy ke pangkuannya dalam posisi memunggungi
lalu memasukkan penisnya yang besar ke liang vagina gadis itu.
“Aaahhh,....Pak!!” erang Silvy menahan nikmat
Silvy perlahan-lahan menurunkan tubuhnya sehingga penis itu makin
melesak masuk ke vaginanya. Ucup masih penuh nafsu menciumi dan menyedot
payudara Silvy yang sudah penuh bekas cupangan itu. Ruangan itu pun
dipenuhi kembali dengan desahan dan erangan mereka yang berpacu dalam
birahi yang meluap-luap. Akhirnya, sekitar 45 menit kemudian, mereka
menuntaskan persetubuhan yang nikmat itu. Tidak ada seorangpun menduga
di mall itu, di balik dinding triplek yang menutupi bagian yang di
renovasi sedang berlangsung pesta seks yang liar. Suara musik di mall
sanggup menutupi suara-suara desah birahi di baliknya. Betapa puasnya
mandor dan para tukang itu yang mendapat kesempatan berharga bersetubuh
dengan dua wanita Chinese yang cantik, putih, mulus dan bening itu.
Nampak Linda makin cepat menaik-turunkan tubuhnya di atas penis Jupri,
payudaranya yang montok itu ikut tergoncang naik-turun menggairahkan.
Tangannya mengocoki penis Kodir dan sesekali memasukkannya ke mulut.
Sementara Silvy juga sedang naik turun di atas pangkuan Pak Samad,
wajahnya menengok ke samping dan bercumbu panas dengan mandor itu. Ucup
menjilat dan menciumi tubuh telanjangnya seperti orang kelaparan yang
ingin menelannya bulat-bulat. Tubuh Silvy pun basah kuyup oleh keringat
dan air liur. Setelah membuat Pak Samad orgasme lebih dulu, Silvy
tinggal berurusan dengan Ucup seorang. Tukang bangunan itu menarik
tubuhnya berdiri dengan bersandar pada tembok. Diangkatnya kaki kiri
gadis itu sambil tangan satunya menempelkan penisnya pada vaginanya.
“Aaahh!!” desah Silvy merasakan penis si tukang bangunan melesak masuk ke vaginanya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ucup segera memulai genjotannya.
Keduanya berpelukan erat sampai dada mereka saling bergesekan. Sambil
menggenjot kadang
Ucup juga mencium Silvy. Kini Linda dibaringkan di atas meja yang
setengah terpasang itu dengan Kodir berdiri di antara kedua pahanya dan
menyodok-nyodokkan penisnya ke vagina wanita cantik itu. Kepala Linda
terjuntai di pinggir meja sampai rambut sebahunya menggelantung, ia agak
kelabakan mengulum penis Jupri yang terus menggoyangkan pinggulnya
seolah menyetubuhi mulutnya. Kantong pelir tukang bangunan itu
bertumbukan dengan hidungnya setiap pria itu menggoyang pinggulnya. Tak
lama kemudian Jupri ejakulasi di mulut Linda, Linda melotot menerima
semprotan cairan kental itu apalagi dengan posisi kepala terbalik
seperti itu, ia ingin melepaskan penis itu tapi Jupri menahan kepalanya
sehingga ia kesulitan bernafas.
“eeemmm....eeemmm!!” Linda mengerang tertahan sambil menepuk-nepuk pantat Jupri.
Jupri cukup pengertian dan ia menarik lepas penisnya.
Cret...cret...cairan putih kental yang masih tersisa itu menyiprati
wajah Linda.
“Uuhhukk...uhhukk!!” Linda mengangkat tubuhnya hingga terduduk di meja dan terbatuk-batuk.
Kodir masih terus menggenjot vaginanya hingga lima menit kemudian ia
mengajak Linda berbaring di atas triplek yang tergeletak di lantai. Ia
lalu menaiki dada Linda dan menyelipkan penisnya di antara kedua gunung
wanita itu.
“Hehehe...saya mau coba entotin toketnya Ibu, boleh ya!” sahut Kodir cengengesan.
Linda hanya mengangguk lemah mengiyakan permintaan tukang bangunan itu
untuk melakukan breast fuck. Penis Kodir yang sudah basah membuatnya
maju mundur dengan lancar pada payudara Linda. Linda agak meringis
menahan nyeri karena remasan kuat pada payudaranya. Lima menitan
kemudian...cret...crettt...penis Kodir memuntahkan isinya membasahi dada
dan wajah wanita itu. Cairan putih belepotan di dada, leher, dan wajah
Linda. Dengan jarinya Linda menyeka cipratan di dada dan memasukkannya
ke mulut. Di tempat lain Silvy sedang berlutut dikelilingi Pak Samad,
Ucup dan Jupri. Gila...ia mengocok dan mengulum ketiga penis itu secara
bergantian sementara tangan-tangan mereka tidak pernah absen
menggerayangi tubuhnya. Tidak lama kemudian satu persatu mereka
menyemprotkan spermanya membasahi Silvy, dimulai dari Pak Samad, Ucup
dan terakhir Jupri yang menumpahkannya di mulut gadis itu. Silvy seperti
mandi sperma saja, sekujur tubuhnya terutama wajah penuh cipratan
cairan putih kental itu. Setelah menyelesaikan semuanya itu, mereka
beristirahat sebentar untuk memulihkan tenaga. Linda menghabiskan
berlembar-lembar tissue basah untuk mengelap ceceran sperma di tubuhnya,
ia juga membaginya dengan Silvy sehingga satu satchet kecil yang
dibawanya hampir habis. Selesai berpakaian Linda dan Silvy pun
meninggalkan mall itu untuk pulang. Linda terlebih dahulu mengantar
Silvy ke rumahnya di sekitar Muara Karang. Dalam perjalanan mereka
mengobrol seru tentang kegilaan barusan. Sekitar pukul 5.30 sore, Linda
sudah sampai di rumahnya. Rupanya saat itu rumah masih sepi, hanya ada
Ujang di rumah itu, sedangkan anaknya dan baby sitternya belum pulang.
Untuk mengisi waktu luangnya itu, Linda mengambil keputusan untuk olah
raga, supaya tubuhnya tidak melar dan tetap seksi. Ia pun mengenakan
pakaian olah raganya yang agak terbuka dan melangkah ke ruangan
fitnessnya. Di tengah jalan, ia berjumpa dengan Ujang yang cengengesan
padanya. Ia pun menangkap maksud di balik senyum mesum jongosnya itu dan
mengajaknya ke ruang fitness. Akhirnya, seperti sudah bisa diduga,
setelah menutup pintu geser, Ujang langsung memeluk dan mencumbui
majikannya sambil tangannya melucuti pakaian fitnessnya. Ia membaringkan
tubuh bugil nyonya majikannya di alat sit-up dan menyodoki vaginanya.
Baru sekitar seperempat jam berasyik-masyuk tiba-tiba, Merry masuk ke
dalam ruangan itu dan menyaksikan maminya dalam keadaan telanjang
disetubuhi pembantunya.
"Mami lagi ngapain sih? Koq telanjang sama mang Ujang?" dengan lugunya anak itu bertanya pada maminya.
"Ooohh...eehh...itu mami sedang dipijitin sama mang Ujang. Mami pegel
nih, sayang. Sudah pulang yah? Hehehe!" Linda menjawab pertanyaan
putrinya dengan gugup dan tertawa dipaksa.
Ujang buru-buru mengenakan pakaiannya dan pergi keluar dari ruang
fitness itu. Linda pun kembali mengenakan pakaiannya dan menuntun Merry
keluar dari ruang fitness itu. Matanya melihat kiri-kanan ketika keluar
dari pintu ruang itu lalu ia bernafas lega karena tidak menemukan si
babysitter di dekat situ. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau si
baby sitter itu memergokinya sedang selingkuh dengan pembantu. Jam tujuh
kurang, Alex pulang, Linda menyambutnya dengan mesra seperti biasa,
lalu mereka makan bersama di ruang makan sambil ngobrol-ngobrol santai
diselingi canda tawa, sungguh seperti keluarga yang bahagia. Setelah
nonton sebentar mereka pun masuk kamar dan hendak tidur. Di kamar, Alex
meraba-raba tubuh Linda untuk mengajaknya berhubungan intim sebentar,
tapi Linda menolaknya dengan halus, selain karena lelah setelah ngeseks
seharian tadi ia juga tidak ingin bekas cupangan di sekujur tubuhnya
terlihat. Setelah memberi kecupan mesra pada suaminya, ia pun menarik
selimut dan memejamkan mata mengakhiri hari itu.
Bersambung...