"Jika anda memesan sekarang, anda akan mendap…"
Sisa iklan itu langsung terpotong begitu Sophie matikan tv. Dia
sandarkan kepalanya pada sofa dan medesah pelan. Dia melirik pada jam di
dinding, Josh sudah terlambat satu jam. Josh sedang dalam perjalanan
bisnis, sebuah kontrak yang penting. Sebuah kontrak yang diharapkan akan
membuat mereka kaya. Sophie tak mau turut pergi, perjalanan bisnis
bukanlah kesukaannya. Josh telah pergi selama seminggu dan disamping
sudah teramat merindukannya, birahinya juga jadi bergejolak tinggi.
Sudah seminggu dia tak dapatkan sex. Telah dia coba vibrator, namun
sepertinya itu tak lagi memuaskan hasratnya. Yang dia butuhkan adalah
sebuah interaksi membara nan erotis. Dua minggu telah berlalu sejak
perselingkuhan terlarangnya dengan Ben. Sophie ingin menghubunginya
untuk menuntaskan hasrat birahinya, tapi Ben sedang berlibur ke luar
negeri dan dia baru kembali di akhir bulan. Itu artinya masih dua minggu
lagi! Josh menelponnya seusai meeting siang tadi dan mengatakan kalau
dia sudah berhasil mendapatkan kontraknya. Dia berpesan agar Sophie
berdandan dan bersiap-siap agar mereka bisa keluar malam ini, tapi
hingga sekarang, Josh masih belum kembali. Itulah kenapa saat ini Sophie
sudah berdandan rapi. Dia kenakan cocktail dress pendek warna hitam
dengan dua buah tali penahan kecil di bahu, yang melekat pada lekuk
tubuhnya, menekan dadanya yang begitu membusung. Dia juga memakai high
heels hitam yang memperbesar daya tarik seksualnya. Diakhiri dengan bra
dan celana dalam berenda juga berwarna hitam. Bra tersebut menekan kedua
buah dadanya hingga menciptakan pemandangan menggiurkan dari belahan
dadanya. Dia terlihat memukau seperti biasanya. Rambut hitamnya yang
lurus tergerai hingga punggung, pahanya yang putih mulus terlihat
sempurna mengintip dari gaun yang hanya seatas lutut. Dia merasa begitu
horny, tapi dia coba mengendalikan birahinya agar tidak terjebak untuk
coba menggoda pria siapa saja yang datang, biarpun itu hanya seorang
loper koran. Baru saja dia memikirkan bagaimana cara untuk menuntaskan
hasratnya malam ini, terdengar suara bel pintu depan. Langsung dia
berdiri, buah dadanya yang besar memantul kenyal, lembut namun kencang.
Dengan sedikit berlari dia menghambur ke pintu, sambil berusaha
merapikan gaunnya. Perlahan dia buka pintu depan, berharap yang datang
adalah Josh. Sophie merasa sedikit terkejut dan juga kecewa, tak dia
harapkan kedatangan pria yang sedang menatapnya sekarang ini. Charles
adalah bosnya Josh. Seorang pria yang baik hati, itulah yang sering dia
dengar tentang bossnya Joss ini. Sering dia sumbangkan uangnya untuk
amal dan bahkan memiliki tempat penampungan untuk para tunawisma yang
tersebar di banyak tempat. Seorang pria yang dihormati dan disukai
banyak orang. Dia bukanlah seorang kaya yang berjalan dengan hidung
diangkat dan hanya bergauldengan sesama orang kaya saja. Charles bergaul
dengan semua kalangan, kaya maupun miskin. Semua orang menyukainya,
kecuali Sophie.
Saat acara pesta kantor hampir satu tahun yang lalu, Charles telah
mencubit pantatnya dan berusaha berdansa dengannya dan melakukan
tindakan yang sedikit lebih ‘tidak formal’. Bukannya Sophie keberatan
untuk sedikit beramah tamah maupun bersikap genit pada orang, tapi tuan
Charles bukanlah pria impiannya. Charles telah berusia 56 tahun, rambut
beruban pada kepala botaknya, hidung besar, pendek dan kelebihan berat
badan. Pakaian yang dia kenakan selalu terlihat hampir meledak robek.
Dan saat ini, dia berdiri di hadapan Sophie dengan menyeringai, dengan
terang-terangan memandangi tubuh Sophie.
"Pak Charles! Apa yang bisa saya bantu?" tanya Sophie menyembunyikan rasa terkejut dalam suaranya.
"Sophie. Terlihat cantik seperti biasanya." Jawab Charles dengan seringai konyol di wajahnya.
Sophie sedikit mundur ke belakang pintu. "Josh menelponku sehabis
meeting siang tadi dan dia bilang kalau dia berhasil mendapatkan
kontraknya. Tentulah aku merasa senang untuknya dan kusuruh dia mampir
ke tempatku untuk minum, tapi dia memaksaku yang datang kemari saja. Apa
dia ada?"
"Tidak, dia belum datang. Seharusnya dia sudah pulang satu jam yang lalu
tapi sampai sekarang belum juga datang dan dia belum telpon juga."
Jawab Sophie.
"Ahh, dia bilang kalau dia belum pulang, ada masalah penerbangan
katanya. Dia menyuruhku untuk menunggunya dan kamu yang akan
menemaniku." Senyumnya semakin lebar dalam kata terakhirnya.
"Dia tak bilang padaku." Jawab Sophie, "Kurasa sebaiknya anda masuk saja."
Sophie mundur ke belakang pintu dan membiarkan sang pria tua ini masuk.
Tak akan mau dia berjalan di hadapan pria ini dan memberinya alasan agar
dapat memandangi pantatnya.
Setelah Charles masuk, Sophie menutup pintu dan mengikutinya menuju ke
ruang tengah. Charles duduk di sofa di seberang kursi. Sebuah meja
ditengahnya, tv di sebelah kiri dan sofa yang lainnya di depannya.
Sophie memegangi roknya saat duduk di kursi.
"Dasar pria tua cabul!" batinnya, "Aku seumuran anaknya."
Mereka duduk dalam diam untuk beberapa lama. Sophie memandang ke arah lain setiap kali Charles menatapnya.
"Mau minum?" tawar Sophie, mencoba cari alas an untuk pergi.
"Yeah, boleh." Jawab Charles.
Sophie berdiri dan merutuk dirinya sendiri karena sudah membungkuk terlalu dalam, lalu dengan cepat dia melangkah ke dapur.
Dibukanya kulkas dan mengeluarkan sebotol bir, setelah membuka tutupnya,
dia kembali ke ruang tengah, disodorkannya pada boss kekasihnya ini.
Charles menahan botol bir itu dalam genggaman tangan Sophie saat dia
menyodorkan padanya. Sophie tarik tangannya dan mundur. Charles
meneguknya sedikit lalu menaruhnya ke atas meja di depannya. Saat dia
berdiri, tingginya sedikit lebih pendek dari Sophie. Dia berjalan
mendekat, Sophie tak mau menjauh.
"Brengsek, ini rumahku. Tak akan kubiarkan dia mengalahkanku di rumahku sendiri." Pikir Sophie.
Charles berhenti dan mengulurkan tangannya pada Sophie.
"Boleh aku mengajakmu dansa sekali saja Sophie?" Tanya Charles dengan penuh sopan.
"D..d.. dansa?" Sophie tergagap tak percaya.
"Ya, sekali saja." Jawab Charles dengan tersenyum.
Sophie merasa bimbang, mungkin pria ini tak sepenuhnya kurang ajar.
"Sekali saja." Jawab Sophie ketus.
Charles menyambut uluran tangan Sophie, yang terlihat sangat sexy malam
ini. Tiap kali dia berjumpa dengannya, dia selalu terlihat menawan, tapi
dalam balutan gaun ini, keseksiannya memancar keras dan begitu
menggiurkan… untuk disantap. Dengan lembut ditariknya tubuh Sophie dalam
dekapannya. Rencananya mungkin saja berhasil, pikir Charles. Dia telah
merencanakan untuk mengajak Sophie berdansa, pura-pura jatuh ke sofa
dengan tak sengaja dan sedikit merabai tubuhnya saat itu terjadi. Itu
mungkin saja berhasil. Dengan satu tangan di pinggang Sophie,
dipegangnya tangan Sophie yang satunya dengan kencang dan memeluk
tubuhnya dengan erat. Buah dadanya yang besar sedikit bergesekan dengan
dadanya dan Charles ingin memeluknya erat, menidurkannya di lantai dan
menyetubuhinya dengan buas. Tapi Charles sadar kalau Sophie akan
melawannya, tidak, memegang buah dadanya, akan terlihat tanpa sengaja
saat jatuh. Mereka berdansa beberapa langkah, lalu tambah beberapa
langkah lagi, sedikit berputar dan beberapa putaran lagi. Dia pintar
dansa, dia pasti pintar semuanya, pikir Charles. Setelah beberapa saat,
dia putar tubuh Sophie hingga kini punggungnya menyandar pada tubuh
Charles, Sophie mulai menikmati ini. Kemudian Charles bisa merasakan
sofa tempat duduknya tadi menyentuh kakinya dan membuat kakinya
tertekuk. Dia jatuh ke belakang, ke atas sofa, membawa tubuh Sophie
dalam jatuhnya. Tapi sesungguhnya ini bukan cara jatuh yang dia
rencanakan.
Sophie jatuh bersama tubuh Charles, mendarat di pangkuan Charles yang
jadi terduduk sekarang. Dia jatuh terhempas tepat dalam pangkuan
Charles, mendudukinya. Bisa dia rasakan sesuatu yang keras menekan
selangkangannya. Rasa terkejut karena jatuh, membuatnya hanya diam saja,
otaknya sedang merespon apa yang telah terjadi. Setelah agak tenang,
dia sadari kalau Charles masih tetap memegangi pinggangnya, dia sedang
duduk dalam pangkuannya dan sesuatu yang keras sedang menekan tepat di
vaginanya.
"Penisnya!" batin Sophie, "Aku tepat menduduki batang penisnya!"
Tentu saja, mendapati wanita muda yang sensual sedang jatuh tepat di pangkuannya, mendudukinya, langsung membuat Charles ereksi.
"Aku harus berdiri!" Pikir Sophie.
Namun dia tak bergerak sedikitpun. Merasakan ada sebatang penis yang
keras menekan vaginanya terasa begitu nyaman, apalagi sudah seminggu dia
tak mendapat seks. Charles tak percaya kalau rencana jatuhnya bisa
berjalan begtu sempurna. Memang cara jatuhnya tadi salah, tapi ini jauh
lebih baik dari yang dia harapkan dan apa yang membuatnya jadi sempurna
adalah kenyataan bahwa Sophie tak juga beranjak dari pangkuannya. Dia
pasti bisa merasakan ereksiku, pikir Charles, dan dia tentulah
menyukainya. Hati Sophie menjerit untuk segera berdiri lagi. Dia tak
akan merasa keberatan menduduki batang penis pria lain, tapi ini milik
pria yang membuatnya muak, Charles! Tapi ini terlalu terasa enak untuk
ditinggalkan. Dia gerakkan sedikit pantatnya hingga dapat dia rasakan
obyek keras itu menggesek vaginanya. Sepertinya itu membuat pria tua ini
semakin birahi dan batang penisnya jadi bertambah keras saja.
"Oh" Sophie tak bisa mencegah lenguhan kecil lepas dari mulutnya saat
merasakn sebatang penis keras tengah merangsangnya. "Sudah lama." Batin
Sophie.
Tangan Charles semakin ketat memeluk pinggangnya dan menahan tubuh Sophie tepat di batang penisnya.
"Hmmm, sekarang duduknya jadi lebih nyaman, kamu setuju kan nona Sophie?" tanya Charles.
"Yeah" dia menjawab sebelum mampu berpikir.
Sepenuhnya berada dalam cengkeraman nafsu, Sophie jadi benar-benar lupa
kalau ini adalah pria yang dibencinya. Yang dia rasakan hanyalah, ini
sebatang penis yang keras dan menggesek vaginanya dengan enak.
Perlahan Charles memantulkan lututnya hingga Sophie terlonjak di
penisnya dengan lembut. Sodokan lembut tersebut membuat Sophie merintih
lirih dan birahinya semakin berkobar. Menyadari kalau batang penis di
bawahnya ini sedang berusaha melakukan penetrasi terhadapnya, membuat
Sophie lepas kendali.
"Kamu suka permainan kecilku?" Charles menanyainya.
"Uh-uh" Sophie mengangguk.
"Kamu suka merasakan penis kerasku?" Tangan Charles mencengkeram pinggangnya. Sekarang tubuh Sophie terlonjak sedikit cepat.
"Mmm, yeah" Kini erangannya tak lagi pelan.
Apa yang sedang dia lakukan, dia benci pria ini dan pria ini sama sekali
tak membuatnya terangsang. Tangan Charles melepaskan pinggangnya dan
perlahan merayap ke atas untuk menangkap buah dada Sophie dari belakang.
Dia memegangnya sejenak, membayangkan bagaimana bentuknya. Tubuh Sophie
masih melonjak saat Charles memegangi kedua buah dadanya dari belakang.
Membayangkannya semakin membuat Charles birahi dan dia memantulkan
tubuh Sophie di pankuannya dengan cepat. Buah dadanya memantul naik
turun di balik gaunnya, dalam genggaman tangan Charles. Sophie merintih
saat Charles meremasnya. Charles berhenti mengayunkan tubuh Sophie saat
terdengar bunyi telpon. Sekarang Sophie sudah teramat sangat horny.
Charles meremasi buah dadanya dari belakang dan batang penisnya yang
menyodok vagina Sophie terus membesar hingga menambah tekanannya semakin
keras saja. Kembali terdengar dering telpon dan Charles menghentikan
gerakannya. Di satu sisi Sophie merasa lega, namun di sisi lainyya dia
mengharapkan agar Charles meneruskan perbuatannya. Birahinya membumbung
tinggi. Sophie masih tetap duduk di pangkuan Charles saat dia berusaha
menggapai telpon yang terletak di samping sofa. Sebuah telpon cordless
dan meempunyai layar LCD kecil, yang menunjukkan nama sang penelpon. Di
layar kecil itu tertera, JOSH, yang berarti kekasihnya sedang menelpon
lewat hp-nya. Masih dengan tangan boss kekasihnya sedang memegang buah
dadanya dan penisnya yang keras menekan di bawah tubuhnya, Sophie
menjawab telpon.
"Hallo?"
"Hai honey, ini aku" jawab Josh.
"Hai baby" jawab Sophie dan Charles mulai meremas buah dadanya lagi,
Sophie berusaha keras menahan suara lenguhan yang sedikit keluar dari
bibirnya.
"Honey, pesawatnya sudah mendarat, tapi aku masih menunggu taksi. Mereka
bilang ada kecelakaan di jalan dan membuat macet yang parah. Aku belum
tahu kapan sampai di rumah, mungkin satu jam lagi atau bisa jadi
beberapa jam." Josh menjelaskan.
"Oh baby, I miss you. Aku sudah tak sabar menunggumu." Jawab Sophie saat
dengan menggunakan buah dadanya, Charles menarik tubuhnya ke belakang.
Sekarang dia bersandar pada tubuh Charles. Kembali dia raba dan remas
buah dada Sophie sembari kepalanya bergerak ke depan untuk mencium leher
Sophie lembut. "Oh" Sophie mendesah pelan.
"Kamu baik-baik saja honey?" tanya Josh cemas.
"Ya, aku baik-baik saja baby. Aku cuma lagi duduk di suatu yang keras, itu saja."
Mata Sophie sekarang terpejam. Kepalanya menoleh ke arah boss kekasihnya
dan bibir mereka saling mengunci satu sama lain. Charles melanjutkan
serangannya terhadap Sophie yang memegangi telpon di telinganya.
"Honey, aku lupa bilang padamu kalau bossku akan mampir untuk
minum-minum, harusnya dia sudah datang. Bisakah kamu menemaninya dulu
sampai aku pulang?" Josh bertanya dengan cemas. Dia tahu kalau Sophie
tak suka pada bossnya.
Sophie menghentikan ciumannya, "Ya, baiklah baby." Jawabnya.
Charles terus meremas buah dadanya. Sophie manatap tangan gemuk yang terus meremasi buah dadanya dari luar gaunnya.
"Bossmu sudah datang kok dan sekarang aku sedang menjamunya. Kelihatannya sih dia suka kutemani." Jawab Sophie.
"Baguslah, aku lega semuanya baik-baik saja. Kuusahakan pulang secepatnya honey." Jawab Josh.
"Aku sudah tak sabar menantimu baby." Sophie merajuk.
Semua kenyamanan yang tengah dia rasa telah merasukinya. Dia membutuhkan
sebatang penis dan dia menginginkannya sekarang juga. Dan ada sebatang
tepat di bawahnya sekarang ini. Lalu sebuah ide nakal hinggap di otaknya
dan hanya memikirkan itu saja hampir membuatnya mendapat orgasme.
"Baby, Aku sangat kangen padamu, sudah seminggu. Jangan tutup dulu
telponnya, kita ngobrol sebentar, kamu mau kan?" tanya Sophie dengan
nada merajuk terbaiknya.
"Tentu sayang, aku juga kangen kamu, sudah tak sabar ingin keluar nih" jawab Josh disusul dengan tawa kecilnya.
"Iih…" jawab Sophie manja. "Kuberikan telponnya pada bossmu sebentar. Aku mau buat camilan dulu, nanti kita sambung lagi."
"Baiklah baby" jawab Josh.
Sophie berputar di pangkuan Charles, memaksanya untuk melepaskan
genggamannya pada buah dada Sophie. Dengan tersenyum dia berikan telpon
pada Charles, tapi saat medekatkan telpon tersebut ke telinganya, Sophie
berbisik di telinga sang pria tua yang satunya lagi.
"Akan kuhisap penismu saat menelpon kekasihku!"
Dan dengan senyum menggoda, dia berikan telpon tersebut pada Charles.
Meluncur turun dari pangkuannya, ada sedikit kekecewaan di hati Sophie
saat meninggalkan batang keras di bawah tubuhnya tersebut. Tapi sebentar
lagi akan kudapatkan dalam mulut, batin Sophie. Kini Sophie berlutut di
hadapan Charles dan mulai membuka sabuk serta kancing celananya, dia
dengar Charles bicara dengan kekasihnya di telpon tentang ‘bagaimana
kekasihnya menemaninya’ dan ‘ betapa menyenangkannya dia’ serta ‘dia
benar-benar menyambutnya dengan baik.’ Sophie menurunkan celana beserta
boxer Charles dan jadi terkejut dengan yang dia lihat. Batang penis
berukuran besar ini tak mungkin milik pria pendek dan gemuk ini. Bahkan
ukurannya lebih besar dari milik Ben. Sophie mengangkat kepalanya dan
memandang Charles yang balas tersenyum padanya, lalu kembali ditatapnya
sang monster dihadapannya tersebut. Dia coba genggamkan satu tangannya,
dia jadi terperanjat saat jemari kecilnya tak sanggup menggenggamnya.
Penis pria tua ini benar-benar monster. Dengan pelan Sophie mulai
mengocok naik turun, dia menatap ke atas,
"Suka?"
"Sangat bagus" jawab Charles dengan, "Oh, Sophie baru saja memperlihatkan gambarnya." Charles menjawab Josh.
Sophie tersenyum, pada dirinya sendiri dan pada Charles. Ini begitu nakal.
Tiba-tiba saja Charles berkata, "Yeah, akan kuberikan padanya dulu." Dan dengan tersenyum disodorkannya telpon itu pada Sophie.
Sophie menerima dengan sebelah tangannya sedangkan tangan yang satunya lagi masih terus mengocok penis Charles dengan cepat.
"Hai baby, ada apa" tanyanya pada kekasihnya selama 3 tahun.
"Gambar mana yang dia maksud? Kamu kan sudah tidak melukis." tanya Josh .
Sophie menjulurkan kepalanya ke depan seusai bicara dan dia jilat kepala penis Charles.
"Kamu ingat gambar perahu yang kubuat sudah lama dulu." Dia jawab
pertanyaan Josh. Dan begitu Josh mulai bicara, kembali dia jilat kepala
penis Charles. Lalu lidahnya menjalar turun di sepanjang batangnya dan
kembali naik untuk melingkari kepalanya lagi.
Saat Sophie melakukannya, sang kekasih berkata, "Oh ya, aku ingat
sekarang, kukira sudah kamu buang. Sudah kubilang kan kalau seharusnya
kamu jangan berhenti melukis."
"Aku tahu, mungkin aku memang harus melukis lagi." Jawab Sophie, masih
dengan rasa penis Charles di lidahnya. "Honey, akan kuberikan telponnya
pada bossmu lagi. Kurasa camilanku sudah hampir siap."
Dia terus mengocok dengan cepat dan ekspresi wajah
Charles menandakan kalau dia sudah begitu dekat. Matanya terpejam dan
telapak tangannya mencengkeram sandaran sofa dengan begitu kencang.
Sophie berikan telpon itu pada Charles, yang dengan cepat berkata pada
Josh,
"Tangan kekasihmu memang pintar, memainkan kuas."
Sophie tersenyum pada Charles dan dengan tak lepas menatap mata Charles,
dia turunkan mulutnya untuk mulai mengulum kepala penisnya. Menghisap
ke dalam mulutnya dengan gerakan lambat. Menurunkan kepalanya dengan
teramat pelan, sedangkan matanya tak pernah lepas dari mata boss
kekasihnya. Charles harus pejamkan matanya sekarang dan mulutnya
mengeluarkan kata ’Gila!’ tanpa suara. Dia berusaha untuk tak mengerang
di telpon. Sophie merasa semakin birahi sekarang. Dia tengah menghisap
penis milik boss kekasihnya yang sedang menelponnya. Vaginanya berdenyut
nikmat. Terus dia gerakkan kepalanya pelan, rahangnya meregang selebar
yang dia mampu, tapi dia yakin kalau dia mampu menelan seluruh batang
penis Charles ke dalam mulutnya dalam satu gerakan saja. Dia sudah
mendapat pengalaman dengan penis Ben, bagaimana cara menghisap batang
penis berukuran besar. Dengan mata masih menatap boss kekasihnya,
sekarang Sophie merasa penis Charles mulai memasuki tenggorokannya.
Mulutnya sudah mentok ke pangkal penis Charles dan kini seluruh batang
penis tersebut telah berhasil dia telan. Sophie mengamati ekspresi
terkejut yang terpancar dari mata Charles, dia yakin kalau belum ada
seorangpun yang pernah berhasil menelan seluruh batang penisnya, seperti
yang dia lakukan ini. Sophie bermaksud membuat pria ini keluar
secepatnya. Dipegangnya pinggang Charles yang lebar, dia mulai menaikkan
kepalanya diikuti dengan hisapan kuat. Begitu mencapai kepala penisnya,
dia turunkan lagi dengan pelan, masih dengan tatapan mata yang tak
pernah lepas dari mata Charles. Turun dan naik dengan pelan di sepanjang
batang tersebut, tak luput lidahnya turut menggelitik batangnya juga.
Merasakan panjang dan besarnya batang penis Charles di dalam mulutnya
membuat Sophie tak mampu mencegah mulutnya untuk mengeluarkan suara
erangan penuh kenikmatan. Dia pejamkan mata, seluruh indera perasaannya
tercurah pada perbuatan mesumnya tersebut. Cepat dan bertambah cepat dia
gerakkan kepalanya naik turun, menghisap dengan semakin kuat.
"Oh, kekasih… mu… menjamuku… dengan… sangat baik, Josh." Sang boss bertubuh gemuk berusaha menjawab tanpa mengerang.
Kepala Sophie terus naik turun, semangatnya semakin terpacu saat
telinganya mendengar Charles menyebutkan nama Josh. Ini membuatnya
semakin kesetanan.
Dia terus mengerang di batang penis Charles. Menghisap dan mengecap
rasanya. Merasakan batang besar Charles keluar dari mulutnya dengan
begitu basah lalu meluncur masuk kembali dengan mudah ke dalam mulutnya
dan terus meluncur menusuk tenggorokannya. Sophie mempercepat
gerakannya, menghisap penis Charles dengan segenap kemampuan yang dia
miliki. Dia sangat menikmati ini. Tak pernah dia kira kalau Charles
memiliki penis fantastis seperti ini. Jika dia tahu dari dulu, pasti
akan dia biarkan Charles berdansa dengan cara bagaimanapun dia mau dan
menyetubuhinya juga malam itu. Memang dia tua dan gemuk, tapi batang
penisnya begitu muda dan jantan dan dia juga mempunyai stamina layaknya
seekor kerbau hingga dia masih saja sekeras ini dan terus bertahan
biarpun sudah dia mainkan batang itu sejak tadi. Sophie terus bergerak
cepat, dengan berpegangan pada pinggang Charles sebagai tumpuan. Ingin
rasanya dia memekikkan kenikmatan yang menyesakkan dadanya, namun batang
penis yang menyumpal penuh mulutnya membuat itu jadi tak mungkin. Yang
keluar dari mulutnya hanyalah erangan yang teredam. Sophie sudah tak
sabar untuk membuat Charles selekasnya menyemburkan air maninya ke dalam
tenggorokannya. Saat Sophie terus menggerakkan kepalanya dengan cepat,
Charles lalu memegangi kepalanya, tanpa menekan, belum. Sophie
tersenyum, Charles sudah hampir keluar. Bagaimana tidak. Sudah dia incar
kekasih Josh ini semenjak pesta kantor lalu dan sekarang dia
mendapatkan yang lebih dari impiannya, Sophie yang berlutut dan
menghisap penisnya dengan begitu lihai. Tangan Charles yang memegangi
kepalanya, batang penis dalam mulutnya dan memikirkan apa yang tengah
dia perbuat membuatnya mengerang. Belum pernah Charle bermimpi kalau hal
ini akan terjadi. Dia hanya berharap untuk dapat sedikit menyentuh
tubuh Sophie, yang sudah berhasil diwujudkannya dengan sukses. Tapi
belum pernah dia memimpikan jika wanita muda rupawan yang telah lama
diincarnya ini, akan berlutut di hadapannya, menghisap penisnya dengan
mata tak pernah lepas menatapnya dan disaat dia tengah bicara di telpon
dengan kekasihnya. Cocktail dress pendek berwarna hitam yang
dikenakannya semakin membuat pemandangan ini semakin erotis. Charles
bisa melihat melalui bagian atas, buah dadanya yang sedikit terguncang
saat dia menaik turunkan kepalanya untuk menghisap penisnya dengan cepat
dan penuh perasaan. Dan Charles terus bicara dengan Josh,
"Ya, kelihatannya dia begitu menikmati camilannya. Dia pasti pintar
memasak" Dia berusaha mengatur agar suaranya terdengar sestabil mugkin.
Hisapan mulut Sohie sungguh lihai. Mulutnya begiitu lembut dan jepitan
tenggorokannya selalu hampir membuatnya keluar setiap kali dia
menembusnya. Belum pernah dia temui wanita yang bisa menghisap penis
selihai Sophie.
"Ya memang. Apa yang dia masak?" Tanya sang kekasih yang tak tahu.
"Sesuatu yang dilumuri saus, hangat dan basah. Pasti rasanya nikmat,
karena bukan hanya dia kelihatan sangat menikmati tapi juga caranya
menyantap tedengar begitu nikmat." Jawab sang boss.
Sophie mengerang saat Charles menjelaskan hisapannya pada sang kekasih.
Charles tersenyum, jadi inilah yang membuat Sophie terbakar birahinya
dengan cepat, resiko dipergoki kekasihnya dan erotisme situasi seperti
sekarang ini. Sekarang Charles punya sebuah rencana untuk membuat Sophie
jadi miliknya.
"Ya, kelihatannya dia memang suka sama sosis." Josh tertawa, "Belakangan
ini dia selalu menginginkannya. Mungkin sudah jadi kebiasaan."
"Yeah, dia terlihat begitu menikmatinya. Pasti ini terenak yang pernah
dia makan." Ucap Charles, "coba saja dengarkan suara makannya."
Sophie hampir keluar saat Charles mendekatkan telpon itu di samping
telinganya. Sudah pasti sekarang Josh bisa mendengarkan suara hisapan
mulut dan erangannya.
Segera dia lepaskan mulutnya dari penis Charles dan dengan cepat bicara
pada Josh, "Oh baby, ini sangat enak! Aku jadi terkejut sendiri
sekarang." Lalu mulutnya kembali lagi pada batang penis gemuk itu saat
Josh mulai bicara padanya.
Dia tetap mengerang dan tak berusaha mencegah suara hisapan basah
mulutnya saat Josh bicara, kepalanya terus bergerak naik turun. Semua
ini begitu nikmat! Kepalanya bergerak semakin cepat dan matanya menatap
mata Charles. Josh mendengar suara mulut basah kekasihnya yang terdengar
begitu menikmati yang tengah disantapnya. Josh memuji keahlian memasak
kekasihnya, tanpa dia sadari kalau saat ini kekasihnya itu tengah
berlutut di ruang tengah rumahnya, sedang menghisap penis bossnya dengan
cepat, dengan telpon berada didekatnya hingga dapat dia dengar dengan
jelas suara hisapan mesum tersebut. Charles mengambil telponnya kembali,
dia lihat kedua mata Sophie begitu penuh dengan binar nafsu. Charles
tak sanggup menahannya lebih lama lagi, semuanya ini akan segera
membuatnya keluar setiap saat.
"Josh… ceritakan bagaimana… meetingnya… berjalan." Dengan terbata Charles bisa berkata.
Pipi Sophie terlihat bergerak keluar masuk oleh sodokan ujung penisnya.
Charles tahu inilah waktunya, saat dia bicara dengan sang kekasih sambil
memandangi wajah cantik Sophie dengan mata penuh birahi yang terus
menatapnya dan mulutnya yang penuh tersumpal batang penisnya. Dia pencet
tombol mute pada telpon tersebut.
"Aku akan keluar dalam mulutmu Sophie" Charles peringatkan kekasih Josh tersebut dengan tangan tetap memegangi kepalanya
Sophie menghisap semakin keras dan menggerakkan kepalanya naik turun semakin cepat.
"Lalu akan kusetubuhi kamu saat bicara dengan kekasihmu di telpon" geram Charles.
Sophie mengerang, bola matanya berputar. Charles menarik kepala Sophie
hingga seluruh batang penisnya terbenam dalam mulut Sophie dan di saat
yang bersama dia dorong pinggulnya ke atas, membuat Sophie tersedak oleh
batang penis yang merangsak masuk dalam tenggorokannya. Dengan mata
terus melekat pada mata Charles dan kekasihnya sedang menerangkan
jalannya meeting di telpon, penis Charlespun menyembur. Charles
muntahkan semburan demi semburan maninya langsung ke dalam tenggorokan
kekasih Josh. Batang penis yang menusuk tenggorokannya, membuat Sophie
hanya mampu menelan semua mani yang disemburkan Charles sebisanya.
Charles menggeram saat kantung zakarnya mengosongkan isinya ke
tenggorokan Sophie.
"Gila, kamu penghisap penis paling hebat yang pernah kutemui." Puji Charles saat dia lepaskan kepala Sophie.
Perlahan, mulut Sophie meluncur lepaskan batang penis Charles, yang
masih memegangi telpon di samping telinganya. Josh masih terus
menjelaskan pada sang boss tanpa mengetahui kalau sang boss baru saja
memuntahkan air maninya dalam tenggorokan Sophie. Dia sama sekali tak
tahu kalau kekasihnya yang berusia 22 tahun baru saja memberi bossnya
sebuah hisapan penis terhebat yang pernah didapatkan oleh sang boss,
menelan semua air maninya tanpa meninggalkan sisa dan berikutnya akan
menyetubuhinya saat dia masih bicara di telpon. Sophie merasa terkejut
dengan stamina pria tua ini, batang penisnya masih saja keras!
"Terus, apa kamu akan duduk di situ saja atau kamu jadi menyetubuhiku?" tahya Sophie dengan nada tak sabar.
"Yeah, berbaringlah." Jawab Charles dengan mata melotot tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Sophie.
"Tidak. Aku sudah berubah pikiran." Jawab Sophie dan kemudian berdiri.
Melihat kekecewaan di wajah Charles membuatnya tersenyum, dia memang
seorang penggoda.
Tangannya menyusup ke balik gaunnya, dia turunkan celana dalam warna
hitam berenda yang dia pakai dan menendangnya lepas dari kakinya. Celana
dalam itu mendarat di sofa yang satunya.
"Aku tak mau kamu setubuhi, belum." Ucapnya. Tatapan Charles tak pernah lepas dari wajah Sophie. "Aku yang akan menyetubuhimu."
Dia membungkuk dan berlutut dengan kedua lutut berada di samping paha
Charles, menunggangi kalau tak bisa disebut berlutut di atasnya. Buah
dadanya tepat di depan wajah Charles. Sophie menatap Charles di
bawahnya, tersenyum menggoda.
"Aku akan setubuhi kami saat aku telpon kekasihku," ucapnya dengan kobaran birahi di matanya.
Diambilnya telpon itu dari tangan Charles, dia tekan tombol mute dan didengarnya Josh berkata "Itulah meetingnya kemarin boss."
Masih tetap menatap mata Charles, vagina tepat di atas ujung kepala
penis besarnya. Tangannya yang sebelah menggapai ke bawah untuk memegang
batang penis Charles, menuntunnya menuju gerbangnya nan lembut dan dia
mulai bicara pada kekasihnya di telpon.
"Hai baby, sekarang camilanku sudah habis. Aku mau duduk sekarang dan
kita bisa lanjutkan ngobrolnya." Dan bersama itu dia hempaskan tubuhnya
turun pada batang penis Charles yang keras.
Dia jatuhkan tlponnya dan menjerit keras. Kedua matanya terpejam rapat
kala rasa sakit berbalur nikmat yang diberikan oleh batang besar milik
Charles memasuki tubuhnya dengan paksa. Ekspresi wajah Charles
menyiratkan seakan dia tengah sekarat dan melayang ke atas surga. Sophie
tak bisa mempercayai rasa yang diberikan batang penis Charles dalam
tubuhnya. Dia merasa begitu terisi penuh sekan ujung kepala penis
tersebut menembus masuk hingga ke dalam mulutnya. Dia benar benar dipaku
oleh batang penis sang boss yang berusia renta. Kembali mulutnya
mengeluarkan erangan. Lalu Sophie menyadari kalau dia tadi sudah
menjatuhkan pesawat telponnya. Diraihnya kembali telpon tersebut dan
mendekatkannya di telinganya.
"SOPHIE? SOPHIE KAMU TIDAK APA-APA?" terdengar suara Josh di seberang.
"YA! Ya… aku… baik-baik saja" jawab Sophie pada kekasihnya, dia resapi
kenikmatan rasa dari batang penis keras yang terbenam begitu jauh dalam
tubuhnyar.
"Apa yang terjadi? Kurasa aku tadi dengar kamu menjerit!" tanya Josh cemas.
"Aku tidak apa-apa baby. Aku sangat baik-baik saja! Aku cuma menduduki
sesuatu yang keras lagi. Tapi sekarang sudah tak apa-apa, sudah baikan.
Sudah tak terasa sakit sekarang." Ucapnya dengan tersenyum. Mata Charles
masih terpejam, menikmati sempitnya vagina Sophie dan mimpinya yang
sekarang jadi kenyataan.
"Mestinya kamu lebih berhati-hati lagi honey " pesan Josh, rasa cemasnya berangsunr hilang setelah dengar penjelasan kekasihnya.
"Tentu baby, terima kasih sudah mengingatkan. Awwww, sangat manis, I love you baby" ucapa Sophie. "Tahan sebentar ya."
Dipandangnya Charles, yang sekarang matanya terbuka dan kedua tangannya
berlabuh pada paha Sophie di balik gaun. Sophie taruh telpon itu di
bahunya dan berkata, "Aku akan menggoyangmu sangat keras Pak Charles.
Mungkin bisa kamu promosikan Josh sekarang." Ucapnya dengan senyuman
manis. Selalu dia rasa cerita tersebut begitu erotis, tentang wanita
yang bersetubuh dengan boss pasangannya demi kenaikan pangkat ataupun
menyelamatkan pekerjaannya. "Akan kubuat kamu keluar di dalam, semuanya
dalam vaginaku saat aku bicara dengan kekasihku di telpon."
Kembali dia tersenyum pada sang pria tua yang hanya diam terpukau oleh
semua tingkah lakunya. Sophie tertawa genit saat dia mulai menggerakkan
pinggulnya maju mundur. Penis panjang dalam tubuhnya mulai tercabut
keluar dan Sophie menggerakkan pinggulnya ke arah berlawanan dan
merasakannya kembali meluncur masuk dalam sambutan lubang vaginanya.
Perlahan dia gerakkan pingulnya, sangat pelan, meskipun ingin dia
hentakkan secepat mungkin. Terus ditatatpnya Charles, dia dengar suara
erangan dan geramannya di sela nafasnya yang berat. Sophie dekatkan
telpon itu ke telinganya lagi, tapi harus dia taruh di bahunya kembali
saat dia mengerang begitu keras. Tak sanggup dia redam erangan mulutnya
sat gelombang kenikmatan yang didorong oleh batang penis Charles
menghantam tubuhnya. Dia berusaha untuk menggerakkan pinggangnya
perlahan, menjaga iramanya dan dia dekatkan telpon itu ke telinganya
kembali.
"Hey baby" sapa Sophie. Mata kedua pasangan mesum tersebut saling kunci.
"Hey honey, kenapa?" Tanya Josh.
"Oh, aku cuma… ada yang harus kukerjakan, cuma itu saja kok " jawabnya.
Sofa kulit sofa tersebut mulai berdecit seiring goyangan yang diberikan Sophie. Tangan Charles mulai mengelus pahanya.
"Sedang apa kamu sekarang?" tanya Sophie.
"Aku masih di bandara." Jawab Josh.
"Oh!" dia mendesah pelan saat Charles memberikan sedikit hentakan pada sodokannya. "Benarkah?" Tanya Sophie.
"Yeah. menjengkelkan." Jawab Josh.
Tangan Sophie merambat dari mulut turun ke buah dada, memegang salah
satunya dan kemudia dia remas. Kemudian tangannya terus merambat turun
hingga perut dan berakhir di pahanya.
"Kukira kamu akan menggoyangku keras?" bisik Charles pelan.
"Mmmm" Sophie melenguh lirih, "Apa kamu horny untukku?" tanyanya pelan.
Lalu mulai dia percepat, menggerakkan pinggulnya semakin cepat, keras
saat Charles menghentak ke atas dengan cepat dan keras pula, mengimbangi
irama Sophie. "Mmmmmm, yeah" dia mendesah agak keras.
"Kamu bilang apa honey?" Tanya Josh.
"Aku bilang, Mmmmmmm yeah! Itu memang menyebalkan." Jawab Sophie sembari dia hempaskan tubuhnya ke batang keras di bawahnya.
"Memang tak……." Sophie tak bisa dengar sisa perkataan Josh di telpon karena kembali dia letakkan telpon itu di bahunya.
Dia mendesah dengan nyaring.
"Oh, Sophie, kamu sangat sexy" Charles mengerang.
Hanya erangan sebagai jawaban Sophie.
"Terus goyang penisku saat kamu bicara dengan kekasihmu" Charles menggeram padanya.
Sophie mendesis panjang dan kemudian dia dekatkan telpon itu ke
telinganya lagi. "Babyyy, bisaakahh kamuu pulllang cepppaattt?" Dia
usahakan suaranya terdengar stabil kala penis Charles melesak ke dalam
vaginanya lagi.
"Kuusahakan secepatnya honey " jawab Josh, "Suara apa itu?"
"Oooo, Suara yang mana?" Tanya Sophie, berharap Josh menganggap suara erangannya tadi sebagai nada bingung.
"Suara berdecit?" Tanya Josh.
Dia tersenyum, menyadari apa yang bisa didengar Josh. Saat ini
goyangannya begitu keras dan cepat, naik turun di batang penis Charles
yang menyodok vaginanya, mengakibatkan sofa yang mereka duduki berdecit.
Sebuah ide nakal hinggap lagi di benak Sophie dan itu membuatnya
semakin keras menghempaskan dirinya ke tubuh Charles.
“aku di dallamm kamar baby. Harus ddi kaammarr sekarraaang " jawab Sophie.
"Kamu main dengan jari di kamar dan bossku kamu tinggal di ruang
tengah?" tanya Josh dengan tertawa kecil,dia tahu kalau Sophie suka
resiko.
"Dia…. sedang… siibuk sekkarang. Di masih duduuk di soffaaa saat aku tinggal." Jawab Sophie.
"Dan kamu ingin bicara mesum denganku?" tanya Josh dengan semyum lebar.
"Yeeaahh" erang Sophie.
"Tapi jangan lama-lama, kamu tak boleh terlalu lama meninggalkan bossku sendirian. Kesannya tidak baik buatku." Jawab Josh.
"Yaa." Janji Sophie, "Ummmmmmm! Aku bisa rasakan penis itu sedang
menembus tubuhku sekarang." Sophie mengerang, menghentakkan vaginanya ke
penis Charles dengan keras.
Sekarang Charles balas menyodok dengan galak dan sofa itupun berdecit
semakin keras, semakin cepat seiring persetubuhan mereka. Charles tak
percaya bagaimana perubahan yang terjadi malam ini. Dia hanya bermaksud
untuk dapat sedikit menyentuh tubuh molek kekasih pegawainya ini dan
sekarang wanita molek ini menggoyangnya keras saat sedang mengatakan
betapa nikmatnya pada kekasihnya di telpon. Dia merasa hampir meledak,
namun dia masih ingin menikmati semuanya ini selama mungkin. Sekarang
Sophie mengerang dengan terbuka di telpon, sang kekasih hanya akan
mengiranya sedang ber- phone sex dengannya. Batang penisnya yang keras
menyodok tubuh Sophie yang bergoyang keras di atasnya, suara racauan dan
erangannya bertambah keras saja. Buah dadanya yang besar terpantul liar
dalam himpitan gaun hitamnya, seakan hampir tumpah dari dalamnya. Dan
semakin terlihat hendak melompat keluar saat punggung Sophie meregang ke
belakang, untuk membuat hentakannya semakin keras.
"Oh yeah Sophie" Charles mengerang pelan.
Dia tak mau merusak ide bahwa dia tidak berada di sana. Begitu erotis
menyaksikan tubuh Sophie bergoyang liar di atasnya, merintih keras dan
mengerang saat dia menelpon kekasihnya. Sofa di bawah mereka tak mau
ketinggalan mengeluarkan decitan berisik. Suara yang keluar dari mulut
Sophie yang sekarang matanya terpejam rapat, erang tertahan dari Charles
serta decitan sofa begitu riuh rendah saling bersautan. Mulut Sophie
terus mengeluarkan racau kenikmatan.
"Aku harus pergi sekarang baby atttauu kamuu akan memmbuatkuu
kelluuaaarrr. Akann kubberikan telpoonnya paddaa Ppaaak Chaarrrlesss
laagggiii." Ucap Sophie.
Mendengar bibir Sophie memanggilnya Pak Charles membuat batang penisnya
semakin mengeras. Sophie sudah hampir keluar. Dengan menahan telpon itu
di bahunya, Sophie menggoyang Charles dengan bertambah cepat dank eras.
Dia sudah begitu dekat sekarang. Meracau dengan terbuka pada kekasihnya
di telpon hampir saja membuatnya meledak dan sekarang dia tak sanggup
memegang telpon itu lebih lama lagi. Sophie melenguh keras, menjeritkan
kenikmatan yang dia rasakan.
"Kamu sangat rapat " erang Charles.
"Akan kubuat kamu kelluuaaarrr jugggaaa" Sophie balas mengerang.
Kemudian dia serahkan telpon tersebut pada Charles. Charles langsung
menerimanya dan segera mengatakan kalau semuanya baik-baik saja serta
betapa dia senang ditemani Sophie.
"Tak usah khawatir Josh, segeralah pulang begitu bisa." Sang boss berkepala botak menyarankan.
Menggoyang sang boss bertubuh gendut, kenikmatan besar memeluk sekujur
tubuhnya. Dia membungkuk ke depan dan tangannya berpegangan pada
sandaran sofa untuk menahan tubuhnya. Kedua pahanya mencengkeram erat di
kedua sisi Charles, goyangannya semakin bertambah liar. Buah dadanya
terayun, hampir menghantam wajah Charles. Tangan Charles yang bebas
menahan pantat Sophie agar dia bisa menusukkan penisnya sekeras mungkin.
Terus dia sodok vagina Sophie dengan keras, membawa ledakan orgasme
Sophie semakin dekat. Nafas Sophie semakin terasa berat, tersengal.
Sudah dekat. Begitu dekat. Tiba-tiba, Charles mencengkeram pantat Sophie
dan berdiri, membawa serta Sophie. Dan yang lebih mengejutkan lagi, dia
cabut penisnya. Sophie sungguh tak pecaya! Dia sudah begitu dekat. Dia
turunkan Sophie, Charles tersenyum oleh campuran raut terkejut dan
frustasi di wajah Sophie. Dia tahu apa yang sedang dirasakan Sophie, dia
juga merasa tak ada yang diinginkan selain memasukkan penisnya kembali
ke dalam tubuh Sophie dan menyetubuhinya hingga dia tak bisa bergerak
lagi.
"Apa yang kamu lakukan!?!" tuntut Sophie penuh gusar.
Charles tekan tombol mute.
"Ke mari" perintahnya, saat Josh bicara tentang pendaratan pesawatnya. Anak itu akan terus bicara tentang apa saja.
Sophie berjalan mendekatinya, amarah dan frustasi di wajahnya, kedua
lengannya terlipat di bawah buah dada. Charles menendang lepas celananya
dan melucuti kemejanya, melemparnya ke sofa di belakangnya.
"Berlutut" perintahnya.
Sophie terlihat seakan ingin menolak, tapi Charles tahu betul kalau dia
terlalu horny untuk menolaknya. Sophie berlutut di hadapannya dan
langsung menangkap batang penis Charles dengan sebelah tangannya.
"Aku tak ingin kamu hisap, berputar" perintah Charles.
Sophie berbalik, menghadap tv dan dengan meja kopi di hadapannya.
Charles jongkok di belakangnya dan sambil dia dengarkan Josh terus
bicara, dia dorong kekasihnya hingga tangannya bertumpu pada meja. Dia
suka doggie style. Dia merapatkan diri pada kekasih Josh yang menawan,
berlutut dengan tangan bertumpu pada meja kopi, gaun hitam seksi dan
high heels masih terpakai. Wanita ini sungguh gambaran dari birahi yang
menggelora. Rambutnya sedikit berantakan, tapi semakin menambah kesan
liarnya. Kepala Sophie menoleh ke belakang pada Charles, kegusarannya
sirna kini. Dapat Charles lihat bayangan mereka pada layar tv dan bisa
dia lihat dari balik gaunnya, buah dada besar yang menggantung indah.
Charles tekan kembali tombol mute saat Sophie bicara.
"Apa kamu hanya akan berlutut di situ saja atau kamu masukkan penismu ke
vaginaku lagi?" tanyanya, menggoda tapi masih terdengar nada frustasi.
Josh masih terus bicara, suara berisik di belakangnya semakin meningkat,
dia pasti sedang berada di luar menunggu taksi, hingga tak mungkin
dapat dia dengar apa yang dikatakan kekasihnya baru saja. Charles
tersenyum pada kekasih Josh dan dia dorong pinggulnya, menusuknya dengan
satu hentakan saja. Sophie mengerang keras. Terasa nikmat berada
kembali dalam tubuh Sophie. Tapi Charles belum bergerak sedikitpun, dia
masih punya satu ide yang ingin dicobanya. Saat Sophie kembali menoleh
ke belakang, Charles mengambil telpon dari telinganya dan menekan tombol
bertuliskan ‘loud speaker’ lalu dia letakkan telpon tersebut di atas
kursi di sebelah kanannya. Suara bising di seberang terdengar berisk
oleh kepadatan lalu lintas, dia masih bisa dengar suara Josh, tapi dia
ragu jika Josh bisa mendengar jelas suara pertarungan birahi mereka.
Sophie melenguh saat mengamati apa yang sedang dilakukan Charles,
"Kinky" Dan setelah itu Charles menarik penisnya keluar dan menyentakkan
masuk kembali dalam vagina Sophie.
Sophie menggeram keras, "FUCK ME!"
Charlespun mengabulkannya. Dengan berpegangan pada pinggul ndah itu, dia
mulai serangan terakhirnya pada jalangnya vagina Sophie. Dia
membutuhkan persetubuhan yang layak dan Charles akan memberikannya yang
sepadan. Tangan Charles bergerak ke pinggang ramping milik Sophie, yang
telah lama ingin dia sentuh semenjak pertama kali dia berjumpa
dengannya. Hentakannya begitu keras hingga meja kopi tempat Sophie
bertumpu mulai ikut sedikit tergeser oleh setiap hentakannya. Sophie
berusaha mengimbangi setiap kerasnya hentakan yang diberikan Charles,
dia dorongkan pantatnya ke belakang, menjadikan tubuhnya tertusuk begitu
dalam dengan keras. Besar kemungkinan jika Charles tak memegangi
pinggangnya dengan erat, tubuh Sophie akan tersungkur ke atas meja kopi
di hadapannya. Nafas Sophie tersengal keras. Saat Josh terus bicara di
telpon, mengira bossnya mendengarkan dengan penuh minat, tentang sebuah
promosi yang mungkin menantinya, yang sudah disebutkannya tadi saat
telpon tersebut diberikan Sophie padanya. Pasti kekasihnya sudah begitu
mengesankan sang boss hingga dia menawarkan kenaikan gaji hingga 200%!
Tanpa dia ketahui sama sekali bagaimana cara kekasihnya memberikan kesan
pada bossnya, ataupun cara dia menaikkan promosi untuk Josh. Saat dia
terus bicara di telpon saat ini, Sophie tengah menyentakkan pantatnya
yang kencang ke belakang, menusukkan vaginanya pada batang penis
berukuran besar milik pria tua yang kelebihan berat badan ini.
Memaksanya masuk semakin jauh ke dalam tubuhnya. Josh tak bisa mendengar
jelas segala suara jeritan mesum keduanya, dia hanya mengira kalau
suara-suara tersebut berasal dari tv atau yang lain. Josh hanya terus
bicara saat Charles menusukkan batang panjangnya ke dalam tubuh
kekasihnya, saat Sophie tiada henti mengerang, mendesah, melenguh
memohon lagi dan lagi pada Charles. Penis Charles meluncur masuk hingga
pangkalnya, membuat bibir Sophie mengeluarkan geraman birahi. Kini dia
hanya mampu menggeram setiap kali Charles menusuknya dengan sangat
keras. Mungkin Sophie sudah kelelahan, pikir Charles, telah dia setubuhi
wanita ini selama lebih dari 45 menit. Josh masih membicarakan promosi
yang dia tawarkan.
"Anak tolol," batin Charles, "Kalau saja dia dengar lebih seksama dan
berhenti memikirkan tentang pekerjaan sejenak, mungkin dia bisa
dengarkan kekasihnya menjerit, terus memohon padaku.."
Pikiran itu membuat birahinya semakin membumbung tinggi dan kini dia
tusuk vagina Sophie semakin keras dan cepat. Bayangan buah dada Sophie
yang terayun liar di balik gaunnya terpantul di layar tv, itu membuat
Charles hampir meledak. Maka dengan cepat tangannya meraih ke depan
untuk menangkap buah dada tersebut. Mata Sophie terpejam rapat, raut
wajahnya penuh dengan aura birahi dan kenikmatan. Bibirnya merekah
terbuka dan bahkan kini suara geramannya terhenti, tapi dia terus
menyentakkan pantatnya ke belakang dengan keras.
Masih terus meremasi kedua buah dada besar tersebut, Charles berkatat, "Saatnya bicara dengan kekasihmu Soph"
Sophie mengerang sangat keras dan Charles menekan buah dadanya menyatu,
meremasnya dengan kasar sambil terus menyodok vagina Sophie.
"Oh Josh, Oh baby, I loove you! Oh yeah! Aku disetubuhi sangat keras
baby! Ummmmmmmm! Oh yeah! Bossmu mengerjaiku di meja kopi kita! Oh,
ummmmmmmm! Yeah! Rassanyaa saaangaattt nikmaaattt! Diia jaauuuuhhh lebih
hebbbattt darrriiiii kammmuuu!" Sophie meracau hebat, pantatnya terus
menyodok mengimbangi setiap tusukan Charles, kedua matanya terus
terpejam rapat.
Charles tersenyum puas, dia remas buah dada Sophie lebih kasar dan terus menusuknya tanpa mpun.
dan mungkin aku akan……" Josh terus bicara saat persetubuhan terlarang
itu terus berlangsung. Kekasihya tiada henti melenguh dan mengerang.
Charles merasa orgasmenya mulai bangkit, sudah tak jauh lagi sekarang.
Telah dia setubuhi wanita cantik ini dengan semua kemampuannya dan
segera dia muntahkan air maninya di dalam tubuh Sophie, jauh lebih dalam
dari yang pernah diberikan kekasihnya. Charles berikan remasan terakhir
pada buah dada Sophie dan beralih menjambak rambut Sophie, menyentaknya
ke belakang saat dia tusuk vaginanya dengan keras. Sophie menjerit,
mulutnya meracau tentang semua kenikmatan besar yang diberikan Charles
padanya.
Dia jambak rambut Sophie dan bertanya, "Apa kamu akan keluar sebentar lagi Sophie?"
"YAAA!!!" dia mengerang keras.
"Mau aku keluar di dalam?" tanya Charles.
"YAAAAAA!!!" jawab si cantik, sekarang bertumpu dengan kedua sikunya, tangannya mencengkeram tepian meja dengan erat.
"Katakan!" geram Charles, dia terus menusuknya, batasnya sudah di ambang mata.
"KELLUARKANNN DIII DALLLAMMM!!!! OHHHHH! PLEEAASSSEE!!!" Sophie meneriaki boss kekasihnya.
Mendengarkan kalimat tersebut keluar dari bibir wanita nan seksi dan
betapa dinding vagina Sophie yang mencengkeram rapat batang penisnya,
membuat buah zakar Charles mulai mengencang. Akhirnya akan dia semburkan
air maninya di dalam vagina kekasih Joss yang begitu menggoda, yang
telah begitu lama dia incar ini.
"Aku tak bisa mendengarmu dengan jelas honey, apa semua baik-baik saja?" tanya sang kekasih yang tak mengerti apapun.
"YA BABY! OH YA! SEMUANYA BAIK BAAIKK SAAJJJAAA!" Sophie berusaha
menjaga suaranya tedengar normal di bawah serangan Charles yang begitu
brutal.
"Sekarang Soph! Sekarang saatnya merasakan semburan maniku dalam vaginamu tanpa pelindung!" Charles menyeringai.
Dia terus dengarkan Josh bicara di telpon, dia jambak rambut Sophie
dengan keras, dia sentakkan kepalanya ke belakang sejauh mungkin, dia
tusukkan batang penisnya sedalam-dalamnya untuk yang terakhir kalinya ke
dalam vagina Sophie.
"Oh Soph! Yeah! Uh! Terima ini! Terima maniku! Yeah! Akan ku keluarkan
di dalam vaginamu Sophie! Aarrgghhh!" Charles menggeram keras.
Sophie hanya membalas dengan merintih penuh nikmat.
"Dengarkan aku Josh, saat aku keluar dalam vagina kekasihmu " Charles berucap pada pesawat telpon.
Sophie merintih bertambah keras dan mulai menggelinjang dan menyentak ke belakang dengan teramat keras.
"Oh yeah!!" Charles menggeram keras dan bersamaan dengan itu, dia tarik
Sophie ke arahnya dengan menggunakan jambakan pada rambutnya dan dia
berikan tusukan penghabisan dalam vagina Sophie.
Suara jeritan Sophie keluar langsung dari dalam paru-parunya saat
hantaman kenikmatan orgasme menghajar sekujur tubuhnya, bertepatan
waktunya saat sebuah pesawat terbang melintas di atas Josh,
menenggelamkan jeritan orgasme terkeras penuh kenikmatan dari seberang
telpon. Penis Charles terus menyemburkan air maninya di dalam vagina
Sophie, dia tahan tubuh Sophie agar batang penisnya terus tertancap
sedalam-dalamnya. Sekujur tubuh Sophie terus bergetar hebat di bawah
tubuh Charles, tangannya tetap mencengkeram tepian meja dengan erat.
Wajahnya berselimutkan kenikmatan sepenuhnya, mulutnya terbuka tanpa
suara, matanya terpejam rapat dan punggungnya meregang ke belakang,
tertahan oleh jambakan Charles pada rambutnya. Kedua buah dadanya dengan
puting keras mencuat berdiri dengan gagah di dadanya, terguncang hebat
oleh getaran tubuhnya yang dilanda orgasme. Sophie melenguh lirih,
panjang kala getaran tersebut berangsur mereda. Charles merasakan betapa
hebat persetubuhan yang baru saja dia alami. Baru saja dia mendapat
kenikmatan dari tubuh wanita paling menggiurkan yang pernah dia temui,
tepat di dalam ruang tengah rumahnya sendiri, saat sang kekasih sedang
menelponnya! Semua itu membuat batang penisnya terus mengeras dalam
cengkeraman vagina Sophie. Akhirnya orgasme Sophiepun berakhir dan dia
tersungkur di atas meja kopi. Tingginya orgasme yang diraih Charles juga
usai dan akhirnya dia merasakan kelelahan oleh semua ini. Dia jatuh
menindih tubuh Sophie, batang penisnya masih tetap terkubur dalam
vaginanya. Dia lepaskan jambakan pada rambutnya dan tertelungkup diam
saja, mendengarkan suara tarikan nafas Sophie, yang terdengar tertidur.
Josh berdiri menunggu taksi di luar bandara. Dia berharap semua pesawat
itu berhenti melintas di atasnya, karena dia kesulitan mendengar apa
yang diucapkan Sophie padanya. Dia tak begitu mengerti, yang dia dengar
hanya begitu ramai di seberang telpon. Bisa dia dengar namanya disebut
berulang kali. Sudah ak sabar dia ingin segera pulang, begitu rindu dia
pada kekasihnya. Yang tak dia ketahui saat dia memikirkan kaan dia bisa
sampai di rumah, Sophie tertelungkup kelelahan di atas meja kopi di
dalam ruang tengah mereka, di tindih oleh tubuh tua dan gemuk milik
bossnya, dengan batang penisnya masih menancap dalam vagina kekasinya.
Saat dia masih menunggu datangnya sebuah taksi, Josh sama sekali tak
mengetahui bagaimana kerasnya persetubuhan yang baru saja diterima
kekasihnya dan betapa itu membuatnya mabuk kenikmatan. Betapa horny dan
penuh birahi kala bicara dengannya di telpon saat sedang disetubuhi oleh
bossnya sendiri. Betapa besar orgasme yang dia dapatkan, lebih keras
dari semua yang pernah dia raih selama ini. Josh tak tahu air mani
bossnya yang gemuk tumpah seluruhnya dalam rahim kekasihnya tercinta.
Kurang lebih 10 menit kemudian, Sophie mulai bergerak dan Charles
mencabut batang penisnya dari cengkeraman vaginanya yang baru saja
disetubuhi dengan layak, sangat layak. Sophie benci merasakan penis itu
tercabut dari dalam tubuhnya, meninggalaknnya, dia ingin batang itu
kembali menusuk dalam tubuhnya saat itu juga. Charles jatuhkan tubuhnya
ke atas sofa dan perlahan mulai memakai celananya. Sophie berusaha
memaksa tubuhnya untuk berlutut dengan pelan dan merapikan rambut serta
gaun hitamnya. Dia merasa sangat penuh air mani dan tuntutan birahinya
teramat terpuaskan, hanya saja, dia masih ingin batang penis milik
Charles lagi. Dia melirik ke arah sang pria tua bertubuh gendut dan
meringis di dalam hati.
"Aku sudah biarkan dia menyetubuhiku! Dan yang lebih buruknya lagi, aku sangat menikmatinya!" batinnya.
Separuh hatinya membenci dirinya sendiri dengan apa yang sudah dia
perbuat tapi separuh lainnya menyukai apa yang sudah terjadi karena dia
jadi merasakan kenikmatan yang tiada terperi dan tadi memang terasa
sangat nikmat.
"Well nona Sophie, aku pikir kamu sudah menghiburku dengan begitu baik." Ucap Charles dengan seringai bodoh di wajah lebarnya.
"Senang bisa menghibur anda." Jawab Sophie kecut.
"Honey, aku tak bisa mendengarmu dengan jelas?" suara Josh terdengar dari pesawat telpon di atas meja.
Tangan Sophie terjulur untuk meraihnya.
"Hey baby. Semuanya baik-baik saja, aku cuma sedang berusaha menghibur bossmu saja." Sophie menerangkan pada kekasihnya.
"Dia sungguh pandai menghibur Josh. Aku mungkin akan sering datang
kemari kalau dia begini menyenangkan." Sahut Charles pada Josh dengan
suara keras.
"Aku senang kamu bisa menyenangkannya honey, macet ini benar-benar
neraka. Aku masih menunggu taksi di bandara. Sudah lebih satu jam
sekarang!!!" keluh Josh pada kekasihnya.
Tatapan Sophie beralih dari wajah boss kekasihnya, turun ke
selangkangannya dan dengan menilai masih adanya tonjolan yang
menggembung di sana, semuanya tadi tentu membuatnya tetap keras. Sophie
merasa perutnya bergolak dan merasa vaginanya menjerit memanggil batang
penis itu sekali lagi. Dia tak bisa kendalikan dirinya. Dia tatap
selangkangan yang menggembung besar itu, lalu berusaha untuk
mengabaikannya, tapi dia gagal. Dia berdiri dengan bersusah payah agar
tak terjatuh karena kedua kakinya yang masih terasa lemas, tangannya
terjulur pada boss kekasihnya. Charles memandangnya dengan kebingungan,
tapi dia sambut uluran tangan Sophie. Dengan masih menatap mata Charles,
Sophie mulai melangkah mundur, meninggalkan ruang tengah tersebut dan
melangkah ke lantai atas menuju ke arah kamar miliknya dan Josh, sembari
berkata pada kekasihnya di telpon.
"Tenang saja baby, aku yakin bisa menemani dan menghibur bossmu sampai kamu pulang." Ucap Sophie dengan tersenyum pada Charles.
Wajah Charles masih nampak bingung tapi segera berubah jadi gembira saat
mereka memasuki kamar tersebut. Sophie membimbing Charles ke ujung
ranjang dan dia berbalik untuk mendorong Charles hingga rebah ke atas
ranjang. Charles menatapnya dan kembali sebuah senyuman bodoh
tersungging di bibirnya, seakan seorang remaja yang akan menyerahkan
perjakanya pada seorang gadis yang sangat seksi. Charles beringsut naik
hingga kepalanya beralaskan bantal dan dengan cepat dia telanjangi
dirinya saat Sophie bicara dengan kekasihnya di telpon. Ranjang tersebut
berukuran besar dan terbuat dari bahan besi tempa dengan berhiaskan
jeruji berulir pada headboardnya. Kadang Sophie dan Josh saling
memborgol tangan pada headboard tersebut dalam permainan cinta keduanya.
Sekarang headboard tersebut akan dipakai Sophie untuk menyetubuhi pria
lain. Sekarang Charles sudah telanjang bulat, penisnya yang masih
setengah ereksi berdiri menantang. Meskipun masih belum ereksi sempuran,
tetap saja uukurannya begitu besar dan panjang.
"Ya, aku paham maksudmu. Tak usah khawatir baby, aku tahu dia orangnya
keras, sulit dipuaskan, tapi aku tetap yakin bisa menyenangkannya." Ucap
Sophie pada Josh.
Saat Josh menjawabnya, Sophie menurunkan kedua tali penahan gaunnya dari
bahunya dan membiarkannya jatuh ke lantai, menunjukkan pada Charles
kemolekan tubuhnya yang hanya terbungkus pakaian dalam berenda warna
hitam. Buah dadanya terlihat besar dan berat serta terlihat hampir
melompat keluar dari himpitan bra yang dia pakai saat dengan pelan
tangannya meraih ke belakang tubuhnya untuk melepaskan pengait bra
tersebut.
"….. harusnya tak lama……." Ucap Josh saat Sophie menurunkan tali penahan
bra dari bahunya dan dengan gerakan menggoda melemparkannya ke lantai.
"…… akan pulang sebentar….." dia senang Josh suka mengobrol lama. Dia
turunkan celana dalam berenda itu, kakinya melangkah keluar satu
persatu. Berlutut di ranjang, dia merangkak mendekati Charles dan
berhenti di atas penisnya yang mendongak angkuh.
Charles membungkuk ke depan untuk mendengarkan apa yang sedang
diobrolkan Josh pada kekasihnya di telpon. Sophie menekan bibirnya ke
bibir boss kekasihnya dan lidahnya meluncur memasuki mulutnya. Lidah
mereka saling lilit untuk beberapa lama dan kemudian Sophie hentikan
ciuman mereka dan berdiri dengan kedua lututnya.
"Akhirnya, ada taksi!" jerit Josh, "Aku akan sampai tak lama lagi honey " ucap Josh sambil masuk ke dalam taksi.
"Telpon aku kalau hampir sampai baby, biar aku tahu saat kamu pulang."
pesan Sophie saat dia genggam penis gemuk di bawahnya dengan satu
tangannya yang bebas dan memposisikan tubuhnya di atas penis Charles.
Dia sangat membutuhkannya di dalam tubuhnya lagi.
"Baiklah honey. Jaga dirimu, bersenang-senanglah dan sampai jumpa
nanti." Jawab Josh dan memberikan ciuamn jauh lewat telpon untuk Sophie,
"I love you."
"Umm, I love you too baby! Sampai ketemu nanti." Jawab Sophie saat
Charles memandangi buah dadanya dan kemudian Sophie pejamkan mata.
"Bye." Kata Josh.
"Bye babe." Jawab Sophie dan begitu Josh menutup telponnya, Sophie
langsung lemparkan pesawat telpon tersebut ke atas ranjang dan
menurunkan tubuhnya pada batang keras milik kekasih bossnya yang
menunggu.
Sophie merintih saat dia rasakan batang gemuk itu kembali memasuki
tubuhnya. Charles mengerang kala tubuh Sophie membuka untuk dia masuki.
Sophie meresapi rasa batang besar terebut dalam dirinya lagi lalu
perlaha dia buka matanya dan menatap langsung mata Charles dan
memberinya sebuah senyuman menggoda.
"Akan aku goyang kamu sampai lemas orang tua. Tepat di atas ranjang
milikku dan kekasihku. Akan kusetubuhi kamu dengan sangat keras. Aku mau
kamu keluar di dalam vaginaku lagi." Geram Sophie dengan begitu
menggiurkan dan setelah kata terakhirnya, dia mulai menggoyang maju
mundur.
Kali ini bukan seks yang romantis, bukan seks yang lembut, kali ini akan
jadi seks yang keras dan kasar. Ketika Josh dalam perjalanan pulang
dengan taksi, berhenti saat ada kemacetan dan berharap secepatnya sampai
di rumah untuk bertemu dengan kekasihnya tercinta, Sophie sedang
menggoyang bossnya, Charles, yang berbaring di atas ranjang yang hanya
dia bagi dengan kekasihnya seorang. Sophie berusaha menghibur bossnya
dengan segenap kemampuan yang dia miliki. Menggoyang pinggulnya maju
mundur dengan cepat hingga membuat ranjang besi itu mulai mengeluarkan
suara berderik. Sophie terus menusukkan dirinya pada batang penis milik
pria tua bertubuh gendut di bawahnya, menguburkannya sejauh mungkin
dalam vaginanya. Menikmati rasa yang dia dapatkan. Mendesah, melenguh,
mengerang dan menjerit dengan segenap hasratnya, menyuarakan betapa jauh
lebih hebat Charles dibandingkan kekasihnya, betapa lebih besar
kenikmatan yang diberikan oleh batang besar dan panjangnya, betapa itu
membuatnya terisi begitu penuh dan betapa dia menginginkan Charles
menumpahkan seluruh sisa air maninya jauh di dalam vaginanya.
Charles sedang berbaring menyaksikan erotisme tubuh Sophie meliuk,
memantul, menggoyang liar di atasnya. Josh sedang dalam perjalanan
pulang dan Sophie sedang dalam perjalanan menuju orgasme besar
berikutnya. Charles masih merasa tak percaya ternyata begitu liarnya
wanita ini. Dia tak pernah terlihat puas, mungkin dia seorang
nymphomania, pikir Charles. Bukannya dia mengeluhkan hal itu. Dia suka
memandangi buah dada Sophie yang memantul naik turun seirama ayunan
tubuhnya, dia suka mendengarnya mendesah dan mengerang, dia suka saat
dia menjeritkan bahwa dia adalah yang terhebat. Batang penisnya menjadi
begitu keras saat dia rasakan dinding vagina Sophie yang sempit terus
menggesek naik turun pada batangnya. Sophie masih begitu rapat dan
begitu mahir berolah seksual. Mungkin dia harus mengundang Sophie ke
kantornya suatu waktu nanti dan menyetubuhinya di meja kerjanya, atau
bahkan mungkin di mejanya Josh sendiri. Semua angan tersebut dan
mendapatkan wanita cantik ini di ranjangnya sendiri membuat birahinya
melejit dengan cepat. Dia sadar kalau tak mungkin bertahan lama setelah
dua kali keluar, tapi dia berusaha untuk bertahan selama mungkin, untuk
dapat terus menyaksikan Sophie menggoyang liar di atasnya. Sophie terus
meracau tak karuan.
"Kamu suka penisku Soph!" Itu bukanlah sebuah pertanyaan dari Charles,
tapi tetap saja Sophie menjawabnya dengan erangan. Nafasnya mulai
tersengal hebat kala dia terus menggoyang tubuhnya dengan segenap
kemampuan yang dia punya.
Ranjang besi tersebut mulai menggeram di bawah goyangan liar Sophie.
Lalu Sophie melakukan sesuatu yang hampir bisa membuat Charles keluar,
punggung Sophie meregang ke belakang, membuat buah dadanya mencuat ke
depan. Kedua tangannya berada pada sisi paha Charles, untuk menopang
berat tubuhnya dan kepalanya terlempar ke belakang. Goyangannya semakin
bertambah cepat. Namun sesungguhnya yang memicu birahi Charles melejit
sedemikian tingginya adalah pemandangan dari buah dada Sophie yang
begitu angkuh menggoodanya. Pemandangan itu begitu sensual. Sophie
terlihat jauh tersesat dalam rimba birahinya sendiri dan tubuhnya meliuk
liar untuk menyetubuhi Charles sesuai janjinya, untuk dapat merasakan
seluruh panjang batang penis Charles. Tubuh Sophie yang telanjang bulat
dengan buah dada berdiri angkuh dengan berhiaskan dua puting yang
mencuat keras, seakan menolak grafitasi yang dituntut oleh sang bumi,
memantul liar seirama liukan tubuhnya. Charles sadar kalau dia tak
mungkin bertahan lebih lama lagi dan dia tahu kalau Sophie juga sudah
berada di batas pertahanannya. Tangan Charles meraih buah dada Sophie,
dia remas dengan kasar hingga membuat Sophie semakin merintih, menggeram
hebat, meracaukan orgasmenya yang hampir meledak dengan keras. Sophie
dorong tubuhnya ke depan dan menggencet buah dadanya dalam cengkeraman
tangan Charles dan menatap tepat pada mata Charles, menggoyang semakin
cepat, keras, liar dan kasar. Sophie menggeram pada Charles.
Masih terus meremasi buah dada Sophie, Charles mendengarkan Sophie
menggeram dan meracau padanya tentang seluruh kenikmatan yang tengah dia
rasakan dan keinginannya untuk mendapat seks dari Charles.
"AKAN KUSETUBUHI KAMU DI KANTORMU SAAT JOSH MENUNGGU DI LUAR!" Sophie
menggeram, "APA AKU CUKUP NIKMAT UNTUK MENDAPATKAN PROMOSI UNTUKNYA
PAK?" tanya Sophie dengan senyuman penuh nafsu di bibirnya, terus
menggoyang tubuhnya, semakin dekat pada orgasmenya. Sudah tak ada lagi
godaan sekarang, yang ada hanyalah nafsu murni dari persetubuhan mesum.
"Sangat…. nikmat!" erang Charles diantara nafasnya, "Tapi….. mungkin…. aku… butuh… tambahan…. lebih."
"OHHHH YEAH! AKAN KUBERIKAN SEBANYAK YANG KAMU MAU, DASAR PRIA TUA
CABUL, SETUBUHI KEKASIH KARYAWANMU SENDIRI DI RANJANGNYA DAN SAAT AKU
MENELPONNYA. KELUAR DI DALAM VAGINAKU, MEMBUATKU MENGHISAP PENISMU SAAT
DIA MENELPONMU DAN KELUARKAN MANIMU DALAM TENGGOROKANKU!" Sophie
pastilah sudah sangat birahi sekarang, dia semakin menggoyang liar,
membuat ranjang besi itu semakin berderit tanpa henti.
Memberi remasan terakhir pada buah dada Sophie, Charles menarik tubuh
Sophie ambruk menindihnya. Dia rasakan buah dada besar Sophie tergencet
ke dadanya dan putingnya yang keras menekan kulitnya. Dia lumat bibir
Sophie, mendorong lidahnya memasuki mulut Spohie. Lalu dia kalungkan
lengannya melingkari tubuh Sophie dan menggulingkannya hingga sekarang
tubuh Sophie rebah ditindihnya. Charles melepaskan lumatan bibirnya, dia
tatap mata Sophie di bawah tindihannya dan sekarang dia berikan tusukan
penisnya dengan teramat keras dalam vagina Sophie. Kepala Sophie
menghantam headboard dalam tusukan pertama Charles dan tangan Sophie
segera meraih ke atas untuk berpegangan pada jeruji besi headboard di
atasnya. Berpegangan seerat mungkin untuk mendorongkan selangkangannya
pada tusukan penis Charles agar dapat terbenam semakin dalam dan kedua
kakinyapun melingkari pinggang Charles untuk menguncinya. Erang dan
geraman keduanya kini terdengar bersahutan, beriringan dengan derit
ranjang besi di bawah tubuh mereka.
"FUCK ME!" Sophie tersengal, "FUCK ME!"
Buah dadanya melayang tak beraturan di dadanya dan wajahnya merona
sangat merah. Sekujur tubuh keduanyapun semakin basah oleh keringat tabu
mereka. Mereka tenggelam semakin jauh dalam amukan birahi hingga
seandainya saja saat ini Josh memasuki kamar itu, tak akan diacuhkan
oleh keduanya dan terus saling menggenjot untuk dapat meraih pelepasan
yang sudah di depan mata.
Jerit rintihan penuh kenikmatan bergema hingga langit-langit kamar,
seakan jadi simponi pemicu birahi mereka. Sudah semakin dekat, dapat
Charles rasakan buah zakarnya mengencang hebat, dinding vagina Sophie
terus meremas kencang, menghisap air maninya agar segera menyembur
keluar.
"FUCK ME, FUCK ME, FUCK ME, FUCK ME, FUCK ME, FUCK ME." Sophie terus
meracau tiada henti dan segera berubah jadi sebuah jeritan panjang dan
keras saat orgasme mengambil alih kesadarannya.
Tubuhnya mengejat keras tak terkendali, dia lepaskan cengkeraman
tangannya dari besi headboard dan beralih merengkuh Charles, menancapkan
kuku-kuku jemarinya di punggung Charles. Sophie menjerit sangat keras,
panjang!!! Dan bersamaan dengan itu Charles juga menyemburkan air mani
ketiganya di malam ini dan itu menjadi pemicu bagi orgasme Sophie untuk
meledak semakin hebat dan berturutan.
"Ahhhhhhhh, terima maniku lagi Soph" Charles menggeram.
"OH! UH! YEAH! KELUARKANN DDDI DDALLAMMM!" jawab Sophie dengan erangan keras.
Tubuh Charles ambruk menimpa tubuh Sophie saat penisnya terus
menyemburkan air mani dalam vagina Sophie yang tubuhnya terus mengejat
untuk beberapa lama sebelum akhirnya terbujur lemas dengan kuku yang
masih menancap di punggung Charles, nafasnya yang tadi memburu berubah
berat dan tersengal- sengal. Tubuh mereka saling tindih di atas ranjang
itu, kelelahan, berusaha untuk menarik nafas dengan sisa tenaga yang
masih mereka punyai. Hanya berbaring kelelahan untuk beberapa lama
hingga terdengar suara telpon dari nakas di samping ranjang. Dengan
malas Charles menggapai dan mengangkatnya.
"Halo?" ucapnya.
"Hai boss" jawab Josh.
"Hai Josh, kamu sudah hampir sampai sekarang?" tanya sang pria tua saat
batang penisnya mulai melemah, tapi masih tetap terbenam dalam vagian
Josh.
"Ya, kira-kira 5 menitan lagi" jawab Josh.
"Ok, kita ketemu sebentar lagi." Jawab sang boss.
"Ok bye." Jawab Josh dan Charles menutup telponnya.
Dia pandangi Sophie yang terbaring di bawah tubuhnya, Charles menyesal
karena tak bisa lagi menikmati tubuh menggiurkan tersebut malam ini,
tapi masih banyak kesempatan lagi lain kali. Dia tersenyum
membayangkannya. Sekarang dia sudah tahu kalau Sophie seorang nympho dan
Charles yakin kalau kapan dan di manapun dia mau, dia akan bisa
menikmati tubuh kekasih karyawannya ini.
Sophie sedang merapikan gaunnya sambil berjalan, tapi tak dia kenakan
bra dan celana dalamnya kembali. Dia baru saja menuruni tangga bersama
Charles saat Josh muncul dari pintu depan. Langsung dia berlari
menghambur ke pelukan kekasihnya dan memberi kecupan kecil padanya.
"Hai baby" sambutnya dengan senyuman manis di bibir.
Josh balas memeluknya dan tersenyum, lalu berbalik untuk menjabat tangan
bossnya. Mereka bertiga duduk, Josh dan Charles mulai bicara tentang
bagaimana jalannya meeting Josh, kesuksesannya mendapatkan kontrak dan
betapa menyenangkannya Sophie menemaninya malam itu serta tentu saja
kemungkinan kenaikan gaji dan kedudukan Josh karena keberhasilannya
mendapatkan kontrak tersebut. Sophie duduk di samping Josh, menggelayut
manja di lengannya dengan kedua kaki terlipat di bawah tubuhnya. Dia
terus tersenyum manis pada kekasihnya, tapi saat matanya melirik ke arah
Charles, dia berikan senyuman menggoda serta pandangan mesum. Dia buat
isyarat gerakan menghisap saat Josh tak memperhatikan, bahkan tangannya
bergerak menyentuh dadanya, meremasnya, menekannya hingga membuat buah
dada itu hampir tumpah keluar dari balik gaunnya. Hingga akhirnya saat
Charles berpamitan pulang, Sophie memberinya sebuah pelukan dan
mendaratkan ciuman di pipinya.
"Aku dapatkan malam yang indah Pak Charles, kita harus melakukannya lain kali, secepatnya." Ucapnya dengan senyuman menggoda.
"Aku juga Sophie, dan tolong panggil Charles saja. Setelah malam ini
kurasa kita jadi bertambah akrab, jadi lebih baik kamu panggil namaku
saja." Jawabnya dengan senyuman licik.
"Ok, Charles." Jawab Sophie.
"Dan kenapa kamu tidak datang saja ke kantor kapan-kapan. Kamu bisa
lihat kantor baru Josh sebelum kuberikan padanya. Tapi harus kupastikan
kalau kamu tak akan mengganggu kerjanya." Ucapnya diiringi dengan tawa
kecil.
"Oh tentu aku tak akan mengganggunya." Jawab Sophie dengan senyum kecil.
Dan setelah itu, sang boss berusia tua itupun pamit. Josh dan Sophie
naik ke lantai atas dan langsung menuju kamar mereka, tapi bagaimanapun
juga malam itu Josh terlalu lelah untuk berhubungan seks dengan
kekasihnya. Sophie merasa jauh lebih lega, telah dia dapatkan
persetubuhan yang begitu panjang, hebat dan sangat memuaskan dan dia
juga sudah terisi penuh oleh air mani dua kali, baiklah, sebenarnya tiga
kali. Jadi dengan segera dia jatuh terlelap dan memimpikan kesenangan
yang akan menunggunya nanti. Kini dia jadi terbiasa dengan persetubuhan
terlarang yang dia dapat. Tapi lain kali nanti, dia butuh sesuatu yang
lebih menantang, bahkan yang lebih tabu. Dan akan dia dapatkan itu, tak
lama lagi.