Sulitnya menjadi istri seorang bisnisman ya gini nih.
Menghadiri undangan pernikahan kolega saja terpaksa harus sendirian
gara-gara ditinggal suami ke luar negri. Untunglah aku sudah terbiasa
mengemudikan kendaraan sendiri. Sialnya kali ini aku benar-benar lupa
kalau mobilku ini sudah lama tidak diservis. Suamiku tidak mau punya
supir, tukang kebun bahkan pembantu. Hanya ada bik ‘Ndun yang datang
tiap pagi untuk bantu beres-beres rumah dan siangnya ia kembali pulang
ke rumahnya. Oh iya, namaku Nita, kini usia pernikahanku dengan mas Andi
sudah jalan 3 tahun, kami belum dikaruniai anak. Bagaimana mau punya
anak kalau kami jarang bertemu, akibatnya kamipun jarang berhubungan
seks. Aku sendiri mulai khawatir dan bosan jika bertemu saudara selalu
ditanya mana momongan kami mengingat usiaku kini sudah menginjak 24
tahun. Kedua orangtuaku sudah meninggal sejak dua tahun lalu, begitupula
dengan kedua mertuaku.. parahnya aku dan mas Andi adalah anak tunggal,
jadilah kini kami berdua benar-benar hidup berdua jarang sekali bertemu
saudara kecuali ada acara pesta keluarga seperti yang baru aku hadiri
malam ini, Mas Andi masih berada di Australia untuk kepentingan
bisnisnya membuka peluang baru disana. Kini mobilku mogok dan aku
terjebak dalam kegelapan malam di tengah jalan tol dalam kota, untunglah
aku sempat menepi sebelum mobilku benar-benar mogok. Hampir setengah
jam aku mengutuk diri di dalam mobil hingga aku akhirnya keluar. Mencoba
membuka kap mesin mobil yang berasap dan berdiri kebingungan di pinggir
jalan, awalnya aku ragu karena aku hanya mengenakan gaun malam satu
tali dengan belahan cukup rendah sehingga tidak memungkinkan buatku
mengenakan bra biasa kecuali model cup saja. Payudaraku tidak besar,
biasa saja, sehari-hari bra yang kupakai ukuran 34c, normal untuk ukuran
160 dan berat 52 layaknya wanita Indonesia umumnya. Yang membuatku
sedikit ragu untuk turun adalah gaunku yang hanya setinggi lutut padahal
angin sangat kencang, gawat juga kalau ditiup angin sementara aku hanya
memakai celana dalam mini thong yang hanya menutup bagian kewanitaanku
saja, selebihnya hanya minim sekali meski tidak seminim G string.
Aku melirik jam tangan, ya ampun sudah nyaris jam dua belas malam.
Kacaunya batere hpku habis. Di tengah kebingungan, tiba-tiba aku
dikagetkan suara klakson mobil. Ada sebuah mobil bak terbuka parkir
dibelakang mobilku. Aku sempat kaget ternyata mereka adalah petugas
dinas kebersihan jalan tol yang baru selesai menjemput tukang sapu jalan
tol. Dari perkenalan singkat aku ingat nama mereka Roy, Boy dan Joy,
sepintas ketiganya setype, berkulit hitam, dekil, Roy tinggi besar, Boy
gendut dan Joy kurus, rambut ketiganya masih berantakan dan dari jauh
bau keringat menyengat sudah tercium bahkan semenjak mereka turun dari
mobil. Tampaknya mereka baru mau pulang setelah bekerja menyapu jalan
tol ini.
“Malam tante, apakah tante baik-baik saja?”, tanya salah satu dari mereka.
“Oh, aku tidak apa-apa, hanya mobilku yang mogok”, sahutku.
“Asapnya tebal sekali tante, boleh saya coba bantu lihat?” kata temannya.
“Oh silahkan..”, sahutku.
“Kenalkan tante, saya Roy”, sahut pria terakhir yang turun dari mobil,
matanya tampak belanja ke arah belahan dadaku yg rendah dan ya ampun…
wajahnya seram sekali, seperti ada bekas luka memanjang di pipinya..
ngeri sekali.
Roy yang sepintas mirip Budi Anduk itu lalu memperkenalkan dua temannya,
“Itu yang gendut Boy tante, dan yang gondrong lagi lihat mesin mobil
tante namanya Joy” lanjutnya sambil menunjuk dua temannya.
Si Boy lebih mendingan sedikit, meski kulitnya tampak paling hitam
dibanding lainnya namun wajahnya mengingatkanku pada sosok Benoe Boeloe
yang sering muncul di transtv. Sementara Joy, sepertinya lebih mirip
Sule, agak gondrong gitu.
Sambil tertawa geli aku memperkenalkan diri, “panggil saja aku Nita”, sahutku.
“Tante, ini radiatornya ga ada airnya, kering, karena panas mulai
merusak komponen lain, tante ga mau kontak orang rumah saja?” teriak Joy
dari balik mesin mobilku.
“Ya ampun.. aku lupa periksa tadi yah.. aduh hpku mati lagi.. gimana yah?” balasku agak panik.
Waduh, mobil yang kubawa ini tidak mungkin bisa jalan lagi malam ini..
Berarti aku harus panggil taxi dan telpon asuransi mobilku, pikirku
dalam hati.
“Silahkan tante, pakai hp saya..” kata Boy menyerahkan hpnya padaku.
Aku sibuk kembali ke dalam mobil mencari nomor telepon taxi dan
asuransiku. Setelah beres, aku kembali menemui mereka. Kap mobilku sudah
ditutup, asap sudah tidak terlalu ngebul.
“Wah, tante mobil ini mahal sekali kalau di servis yah” sahut Roy
“Iya tante, kok bisa mercy S600 seperti ini radiatornya sampai kosong
tante? Sayang banget nih rusak.. eh, asuransi sudah ditelpon tante?
Sudah telpon taxi juga? Kalau mau, kami biar temani tante dulu disini
sampai semua beres” sahut Boy beruntun membuatku bingung.
“Oohh iya iya kalau kalian ga keberatan, dengan senang hati tante mau ditemani” singkatnya
Setelah hampir setengah jam menungu, Derek dari asuransiku datang.
Setelah urusan administrasi selesai dan mobilku diderek kini aku yang
bingung. Karena taxi yang kupesan tak kunjung tiba.
“Tante, kalau mau biar kami yang antar tante pulang, sepertinya malam minggu begini akan sulit mendapat taxi kosong”, kata Joy.
Aku masih berkeras menunggu dan akhirnya aku ditemani pria itu menunggu
taxi di pinggir jalan tol, karena iseng Boy mulai memainkan fasilitas
video dari hpnya,
“Emang ga gelap Boy?” kata Joy.
“Nggak kok malah bagus kena lampu jalan”, balas Boy sambil menshoot kami
Aku sempat risih saat Boy mengambil gambarkuku close up dari wajah
sampai kaki, tapi berhenti lama di saat menshoot bagian dada dan paha,
tapi aku akhirnya geli sendiri, mereka ini pasti mulai tertarik dengan
bajuku yang cukup sexy malam ini. Tak hentinya Boy menshoot diriku dan
memintaku tersenyum ke arah kamera hpnya. Tak diduga, tiba-tiba hujan
turun langsung deras, Boy yang pegang kunci mobil langsung mengajak kami
masuk mobil. Karena itu mobil bak terbuka akhirnya aku terpaksa
berhimpitan di dalam mobil, bau aroma panas matahari dan keringat belum
lagi campuran debu sempat membuatku mengernyit menahan bau menyengat
dari tubuh mereka, tapi mau bagaimana lagi, Joy kembali menawarkan untuk
mengantarku pulang. Akhirnya aku setuju, namun mereka terkejut saat aku
beritahu rumahku di Cinere. Tampaknya jelas mereka tidak mengenal
lokasi alamat rumahku, namun mereka tetap setuju hanya saja meminta
persetujuanku untuk keluar tol dulu membeli bensin karena bahan bakar
yang ada sudah tiris. Aku tadinya menawarkan untuk membayari dengan
kartu kreditku namun baru teringat aku sama sekali tidak bawa dompet
selain tas kecil berisi uang receh untuk parkir, ktp, kunci mobil dan
hp. Melihat aku yg kebingungan karena lupa bawa uang dan kartu kredit,
Roy mengusulkan untuk mampir ke pos mereka saja sebentar untuk pinjam
uang kas kantor, sebab merekapun tidak bawa uang. Kami semua setuju,
jadilah aku duduk ditengah terhimpit Joy sementara Boy nyetir dan Roy
disisi pintu. Dalam perjalanan menuju pos mereka, baik Joy dan Boy tak
hentin-hentinya bersandiwara seakan tak sengaja menyentuh paha atau
dadaku, akupun berulangkali berusaha menyingkirkan tangan jahil mereka
sambil mengomel kecil.
Singkatnya tiba di pos mereka Roy, situasi tambah memusingkan, brankas
berisi uang dikunci dan kuncinya dibawa oleh rekan mereka yang bertugas
shift siang.
“Duh maaf tante aku sungguh ga tau kalau akan seperti ini.” kata Roy.
“Ya sudah tidak apa-apa, toh bukan salahmu kalian dan aku malah aman bersama kalian” kataku.
Akhirnya, aku memilih untuk beristirahat di rumah pos itu bersama
mereka. Di ruang kecil yang hanya berupa peti kemas di sulap menjadi pos
itu, kami berbincang dan bercanda sambil ngemil dan minum bir. Setelah
sekian lama dan beberapa botol bir mulai habis, obrolan mulai mengarah
ke hal-hal yang menjurus seks dan tidak kuduga, tiba-tiba Joy bertanya
soal suamiku. Setelah tahu kondisiku yang kesepian, Boy yang duduk di
sebelahku mencoba merangkulku dan bertanya,
“Tante.. boleh nggak aku onani di depan tante? Habis tante seksi sekali
dari tadi Boy sudah ga tahan tante…” aku sangat terkejut dan tak menduga
kalau Roy ikut duduk di sebelahku dan mulai mencoba menciumi leher dan
tengkukku.
Aku sangat kaget dan takut, “eh jjj jangan dong.. aku nggak mau.. nggak berani..” sahutku.
“Nggak apa tante, lagipula tante juga sudah lama nggak terpuaskan sama
suami tante kan? Lagipula telingamu indah sekali, kamu wangi sekali
tante aku ingin menjilatinya” kata Roy berusaha mengintimidasi,
tangannya kirinya mulai mengelus pahaku dan tangan kanannya merangkulku
dari belakang.
Joy yang awalnya hanya duduk berdiri mendekatiku dan membuka resleting
celana kumalnya, penisnya yang masih layu di pamerkan tepat di depan
wajahku. Aku panik dan berusaha meronta,
”Ehh jangan.. kalian mau apa sih.. tadi kan kalian nggak seperti ini, lepasin aku.. aku keluar saja” ucapku panik.
“Tante mau kemana? Di luar hujan deras dan ini di tengah jalan tol, jauh
dari mana-mana, lebih aman bersama kami dan kami akan bantu tante malam
ini dengan memuaskan tante, hehehe” kata Boy sambil tertawa di sebelah
kananku..
Roy yang merangkulku erat tetap duduk, Boy berdiri dan pergi ke belakang
sementara Joy yang sudah melepas celananya mulai mengocok penisnya di
depan wajahku.
“Tante Nita, jangan merem aja dong ga usah takut, kalau tante nurut sama
kita dan nggak nakal, besok Tante akan kita anter pulang tapi malam ini
kasih kita kesempatan untuk bikin tante puas.. hahahaha”
Tak lama kemudian, Boy datang dengan membawa dua buah borgol. “lihat
borgol punya satpol PP ini akhirnya ada gunanya hehehe,” tawa Boy senang
melihatku mulai ketakutan..
“Tante, baju tante bagus sekali dan sayang kalau kotor.. sebaiknya tante
lepas saja daripada rusak nanti..” usulnya. Usul itu langsung disambut
oleh Roy.
“Betul itu Nit, mending kamu lepas saja dari pada rusak dan besok kamu
toh nggak mau pulang telanjang kan?” ucap Roy lalu melepas rangkulannya
dan memaksaku berdiri.
Mereka yang awalnya sopan entah karena pengaruh alkohol mulai memanggil
dengan menyebut namaku saja. Aku mulai gemetaran dan memohon-mohon pada
mereka,
“Ampun jangan, aku sudah bersuami, jangan apa-apakan aku, jangan sakiti aku, lepaskan aku..” aku mulai menangis ketakutan.
Tiba-tiba Roy membentak sambil menampar pahaku ppllaakk, “siapa suruh
kamu nangis sih?! Ayo lepas bajumu!! Atau kamu mau kami yang lepas itu
baju kamu? Mau kami robek-robek bajumu?!”
“Aaa Ammpunn iya.. iya aku lepas tapi jja jangan sakiti aku..”ujarku sambil membuka rusliting gaunku dari belakang.
Pelan tapi pasti aku akhirnya nyaris bugil di depan tiga pria tak
dikenal ini. Aku sadar penuh tak lama lagi aku akan mengalami perkosaan
bahkan mungkin saja aku akan disakiti, disiksa bahkan dibunuh..
Pilihanku untuk bertahan hidup hanya satu, ikuti kemauan mereka.
Akhirnya sambil gemetaran aku lepaskan gaunku yang semula aku gunakan
untuk mentutupi payudaraku dan bagian bawah tubuhku. Srrreettt gaunku di
renggut paksa oleh Roy dan tanpa banyak bicara dilepasnya pula celana
dalamku sambil menghinaku,
”Dasar tante girang, malam-malam keluyuran pakai baju kayak gini,
mending ga usah pakai celana dalam sekalian daripada kayak gini..”
ujarnya sambil melolosi celana dalamku.
“Wuah, teteknya besar juga yah.. masih kenceng banget lho Nit, nggak
kayak pecun-pecun di plumpang hahaha”, ujar Joy tangannya mulai menjamah
dan mengelus kedua payudaraku.
“Wah memeknya gundul, memang tau banget nih tante girang selera gue..” kata Boy yang melihatku dari kejauhan.
Boy langsung menghampiriku dan memintaku berlutut di tengah mereka. Aku menurut dan mulai pasrah,
”Iii iiya aku nurut tapi tolong jangan sakiti aku..” pintaku sungguh-sungguh.
“Bagus itu, nurut aja, nanti kamu pasti akan kami bikin keenakan..” kata Boy sambil memborgolku.
Pergelangan kiriku diborgol menyatu dengan pergelangan
kaki kanan dan sebaliknya pergelangan tangan kananku diborgol menyatu
dengan dengan pergelangan kaki kiri. Posisiku sangat tidak enak dan
sangat terintimidasi. Joy yang kini sudah telanjang hanya memakai celana
dalam saja mengambil tali rami dan menyatukan paha kiri dengan betis
kiriku dan betis kanan dengan paha kananku lalu diikat erat dengan tali
rami. Kini posisiku benar-benar tidak nyaman, berlutut dengan kedua
tungkai dipaksa mengangkang dan tangan terborgol menyatu dengan kaki
membuat aku seakan membusungkan dadaku kedepan dan langsung menjadi
bulan-bulanan mereka yang berebutan meremas dan memainkan putingku
dengan kasar bahkan sangat kasar hingga Roy dengan kejam memelintir
putingku masing-masing kearah berlawanan hingga aku menjerit-jerit
kesakitan.
“Ahhh ammpun jangan sakittt sekali ammpunn..”pintaku menghiba.
Roy yang kini tampaknya menjadi pimpinan membentakku,”eh tante girang,
mulai sekarang lo mesti panggil kita ‘TUAN’!! karena lo mulai sekarang
udah jadi budak kita-kita.. lo mesti nurut apapun perintah kita kalau lo
masih mau hidup!! Ngerti?!!”
Aku hanya menggigit bibir menahan sakit dan perih di putingku. Karena
aku tidak menjawab, pelintiran semakin keras dan brutal hingga aku
menjerit-jerit minta ampun,
”Aaaaaaaahhhhhhhh iiyyaaaa Tttuannn aku nurut.. ammppuunn sakkitt Ttuann.”
Boy yang sempat menghilang datang lagi, kali ini membawa botol bekas bir
dan menaruhnya tepat di bawah vaginaku. Tangannya kini mengelus dan
berusaha memasukkan jarinya ke dalam liangku. Aku menggeliat menahan
ngilu karena ulah jemari Boy yang nakal mulai bergerak-gerak di dalam
liang vaginaku. Hal itu membuatku limbung hingga akhirnya jatuh
terlentang dengan posisi kaki langsung mengangkang lebar karena ikatan
dan borgol yang menyatukan kakiku dengan lenganku.
“Hahahahah liat tuh belum apa-apa langsung terlentang ngangkang.. udah
ga tahan pingin ngentot ya? Dasar tante gatelan!!!”, hina Boy yang
membuatku mulai terisak menangis lagi.
Boy yang wajahnya mirip Benoe Boeloe itu mencoba membuka bibir vaginaku,
mencari kelentitku dan mencubitnya dengan keras hingga aku
menjerit-jerit antara sakit dan nikmat, sampai tak terduga tanpa bisa
aku tahan, cairan nikmatku muncrat keluar, aku yakin itu bukan cairan
orgasme, namun aku tak bisa menahan hingga membuat mereka tertawa-tawa.
“Hahahahaha tadi minta ampun sekarang minta tambah hahaha enak kan Nit?
Mau lagi? Hahahahaha” hina Boy sambil terus mengobok-obok vaginaku.
Joy yang dari tadi hanya mengenakan celana dalam mulai melepas dan
bersimpuh di sebelahku, “Ayo nit, di cicipi kontolku ini, hehehe kamu
pasti suka..” ujarnya kurang ajar sambil menempelkan kepala penisnya ke
bibirku. Rasa mual langsung menjalar, bau khas kemaluan pria ditambah
bau keringat yang aromanya sangat tidak enak langsung tercium hidungku.
Rasa jijik melihat rimbunan bulu jembut Joy semakin memualkanku namun
itu tidak ada artinya, Joy tetap saja mengoleskan kepala penisnya ke
bibirku seperti mengoleskan ujung lipsick, rasa asin dan pahit langsung
terasa di ujung bibir. Seumur hidupku aku belum pernah mencium penis
lelaki apalagi mengulumnya. Jijik rasanya mengingat itu adalah alat
untuk membuang urine. Dengan pacar atau suamiku saja aku belum pernah
dan kini aku dipaksa untuk melakukannya dengan pria yang sama sekali
belum kukenal. Astaga rupanya Joy ini tidak disunat, begitu penisnya
mengacung, tampak di kepala penisnya kerak-kerak putih yang sepertinya
adalah sisa-sisa air kencing yang telah mengering, bau pesing dan aroma
menjijikkan benar-benar membuatku mual. Tapi entah bagaimana akhirnya
aku menjulurkan lidahku. Mungkin akibat dari kenikmatan yang muncul dari
bawah vaginaku yang masih tak henti-hentinya di obok-obok oleh Boy,
membuat rangsangan nikmat juga menjalari tubuhku. Rasa hangat dan nafsu
menagih ingin dipuaskan menggelegak. Aku mulai menuruti perintah Joy
untuk mencicipi penis baunya itu. Pelan-pelan aku jilati kepala
penisnya, mulai dari lubang kencingnya yang mulai berair atau masih
berair sisa kencing aku sudah tidak peduli, rasa asin dan jijik serta
bau aroma yang memualkan seperti hilang. Kerak-kerak di kepala penis Joy
yang semula membuatku mau muntah kini malah aku jilati dengan pasrah
dan penuh nikmat, rasanya yang asin dan getir malah membuatku
mencucup-cucup ujung kepala penisnya. Hingga penis itu bangun dan
menegang keras. Setelah tegang penis hitam itu, sepertinya semakin
menambah nafsuku saja. Tak kurang dari panjang sebuah mentimun kurasa
aku pasrah saja saat Joy mulai memaksaku untuk mengulum dan menggelomoh
penisnya hingga keujung pangkal penisnya. Wajahku dan hidungku
benar-benar mentok sampai ke jembutnya yang rimbun dan bau, Joy mulai
memperkosa mulutku hingga kedua biji penisnya menggantung beradu dengan
daguku.
Tiba-tiba rasanya vaginaku terbelah dan aku berusaha
menjerit namun terhalang oleh penis besar yang ada di kerongkonganku,
rupanya Boy memaksa masuk mulut botol bekas bir tadi, dan
mengocok-ngocoknya dengan ganas. Sakit awalnya namun lama-lama nikmat
mulai menggantinya rasa sakit hingga aku mulai mendesah-desah. Roy yang
masih tergila-gila dengan payudaraku juga tak henti-henti meremas,
memerahnya seperti ambing susu sapi. Menyentil, memelintir dan
menarik-narik putting susuku tanpa belas kasihan hingga iya sepertinya
menemukan ide baru. Tali rami sisa untuk mengikat kakiku dililitkan
mengelilingi bongkahan payudaraku kiri dan kanan lalu di putarkan
mengelilingi punggung di atas dan bawah payudaraku hingga kini
payudaraku semakin melembung besar. Sakit dan ngilu sekali rasanya
karena peredaran darah menjadi tidak lancer, dalam waktu singkat warna
buntalan payudaraku langsung berubah jadi ungu kebiruan aku tak bisa
protes karena masih harus mengulum penis Joy sementara Boy tetap
konsisten memainkan mulut botol bekas bir ke dalam vaginaku dan terus
mengocok-ngocoknya. Sampai aku merasa melayang dan lemas, orgasmeku
sudah dekat bahkan sangat dekat hingga menbuat mataku berkunang-kunang,
aku sudah tidak mempedulikan Joy yang makin brutal memperkosa mulutku
aku sangat ingin mendapat orgasme yang sudah lama sekali kunanti-nanti.
Saat orgasme sudah mencapai puncaknya aku sudah menjerit tertahan
tiba-tiba kocokan botol di dalam vaginaku terhenti dan Joypun
menghentikan aksi brutalnya. Roy yang tengah menyiksa payudaraku juga
tiba-tiba menjauh dariku. Aku histeris dan kelojotan sendiri seperti tak
tertahankan pinggulku bergerak tak tentu arah semua tungkai dan ototku
mengejan keras namun karena rangsangan terhenti sangat menyiksa sekali
rasanya hingga aku menangis dalam kesal. Orgasme yang sudah didepan mata
tiba-tiba sirna. Adapun Roy yang langsung mengambil posisi berlutut di
depan vaginaku mengambil posisi untuk memasukkan penisnya.
“Kalau mau, kamu mesti mohon ke kita doongg bilang kamu minta dibuat
orgasme..” tambahnya makin kurang ajar.. aku yang sudah hilang akal
sehat tanpa piker panjang menghiba mereka, “iiyyaaa tuan tolong bikin
aku orgasme, aku sudah ga tahan lagi.. tolong tuan..”
“Wah udah sange berat nih tante girang hahaha “, kata Roy yang langsung
menghunjamkan penis hitam dan kekarnya langsung sekali tusuk ke dalam
relung vaginaku.
Aku menjerit sejadi-jadinya karena meski sudah tidak perawan bahkan
sudah mendapat pemanasan dari botol bekas bir tadi, tapi karena
orgasmeku tertahan vaginaku pasti langsung mengering dan tanpa cairan
pelumas alami, sama saja dengan vaginaku seakan menjadi perawan lagi
yang ditembus penis waktu malam pertama dulu. Apalagi penis Roy
sepertinya benar-benar besar dan panjang hingga aku merasa di bawah
perutku tepat di peranakanku kepala penisnya langsung mengaduk-aduk
tanpa ampun. Aku masih menjerit-jerit kesakitan dalam isak tangis saat
Joy tanpa peduli kembali memperkosa mulutku. Kerongkonganku sampai lecet
rasanya di sodok-sodok dengan penis panjangnya. Boy yang belum kebagian
entah kemana menghilang lagi. Sodokan demi sodokan di kemaluanku dan di
kerongkonganku terus berlangsung. Jeritanku perlahan berganti dengan
desahan antara sakit dan nikmat.
“Aaoocchhhkkk ooohhkk aaahhkk ttuuaanngghh ppeellaanngghh peeellaannghhh
aakkhh aaoohhkk” terus begitu hingga tiba-tiba rasa panas menyengat
perut dan dadaku.
Aku tak bisa melihat apa yang terjadi karena Joy kini berada di atas dadaku dan memperkosa keroongkonganku dengan bengis.
Sepertinya Joy yang tadi menghilang telah kembali dengan ide barunya
untuk menyiksaku, rupanya ia meneteskan lilin yang tengah menyala ke
sekujur tubuhku, mulai paha, perut, dada bahkan payudaraku jadi tempat
favoritnya untuk ditetesi lilin. Rasa sakit kini menjadi-jadi hingga aku
tak mampu menahannya lagi jeritan dan desahanku menjadi tak terkendali
anehnya rasa panas yang membakar kulitku rasanya malah menambah dan
mamacu nafsuku untuk mencapai orgasme.
Putingku yang kini terasa kebas karena panasnya lelehan lilin terasa
semakin munjung mengeras, sementara kerongkonganku mulai terasa mengatup
dan liang vaginaku mencengkram keras hingga aku serasa tak sadar dan
melayang, jeritanku semakin menjadi dan orgasme yang kutunggu sudah
semakin dekat aku sudah tak mampu memberontak bahkan menjerit saat
cairan nikmatku meluncur dan muncrat tak tertahan lagi seperti melepas
kencing yang tertahan berjam-jam rasanya. Lama sekali orgasme puncakku
saat itu hingga aku hampir pingsan rasanya dan tersadar lagi saat
dimulutku terasa cairan kental dan sangat pahit memualkan menggumpal di
dalam kerongkongan dan aku sadar bahwa itulah sperma Joy yang sudah
orgasme dan langsung disusul Roy yang dengan brutal menggenjot tubuhku
yang sudah lemah tak berdaya hingga spermanya langsung menembak ke dalam
liang kesuburanku. Aku yang mengingat bahwa ini adalah masa suburku
langsung menangis tersedu-sedu membayangkan aku akan hamil akibat
perkosaan memalukan ini. Joy akhirnya mengeluarkan penis panjangnya dari
keronkonganku dan Roypun perlahan menyingkir dari atas tubuhku. Belum
sempat aku beristirahat, Joy dengan kasar membalikkan tubuhku hingga
posisiku kini benar-benar memalukan, menungging dengan kaki terkangkang
hingga lubang kemaluanku bakan lubang analku terekspose dengan jelas.
Posisi tanganku yang terborgol menyatu dengan kakiku membuat tumpuan
tubuh atasku hanya pada bahuku saja sakit sekali dan pegal rasanya
kepalaku terpaksa miring ke kiri atau ke kanan menahan pegal belum lagi
sisa gumpalan lilin yang telah berkerak mengering di kedua bongkahan
payudaraku membuatku semakin tersiksa.
“Aaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh sakiiiiiiiiiiittt aammppuunn tuaaannn”,
jeritku begitu menyadari Boy rupanya ingin memperkosa lubang analku.
Botol sisa bir tadi di jejel-jejelkan ke lubang analku hingga masuk dan
diputar-putarnya didalam sana membuatku semakin lemas dan mengiba-iba
minta ampun agar tidak diperkosa di lubang itu.
“Jangan di situ tttuuaaann ssaakiit sekali aku bisa mati tuaaann”, pintaku memohon belas kasihan dari Boy.
“Nggaklah, tante girang secantik kamu ga akan kubiarkan mati, paling
tidak sebelum kuperawani dulu boolnya hahahahahahahaha” balasnya dan
langsung tanpa peringatan mencobloskan kepala penisnya yang bentuknya
mirip dengan postur tubuhnya yang gendut.
Penis gemuk namun panjang itu perlahan masuk dan terus semakin dalam di
lubang analku. Jemari kakiku bahkan sampai mengkerut menahan sakit. Mau
pingsan rasanya namun rasa sakit tak tertahankan rupanya malah membuatku
tetap tersadar. Hingga mentok ke ujung pangkal penisnya Boy mendiamkan
posisinya. Aku yang menangis-nangis pilu seperti diberi kesempatan untuk
bernafas setelah menahan ngilu dan perih. Cccttaaaarrr ccttaaaaaaaarrr
ccttttttttaaaaarrr ,
”Aarrrrgghhhhh ssssaakiittt saaakiitttt aaaaaahhhhhhaahmmmppuunn jangan
tuann” reflek aku mengiba, saat tiba-tiba rasa perih menyengat
punggungku. Joy dan Roy rupanya memecutku dengan ikat pinggang kulit
mereka.
“Ayoo goyang jangan diem aja!! , perintah Roy “kalau lagi di entot lo
mesti goyang dong jangan mau enaknya sendiri aja emang dikira ga cape
aja ngentotin bikin elo puas? Jangan egois gitu dooonggg!!!” kata Joe
seenaknya sambil terus memecutku.
Aku berusaha menggoyangkan pantatku namun posisiku yang tidak
menguntungkan dan rasa sakit di lubang analku membutku terhalang dan
meski sudah berusaha dengan tenaga yang sangat lemah sepertinya itu
sia-sia. Aku sama sekali terlihat tidak gyang dan dianggap membangkang
perintah mereka. Cccctttaarrr ccttaaarrr cctaaarr ccctaaaarrr lecutan
dan pecutan semakin menjadi aku hanya berteria-teriak pasrah dalam
keadaan lemas dan diantara isak tangis,
“Dasar tante girang egois, sudah dibikin enak masih sembarangan aja
bohong ayoh goyang bikin temen gw juga enak!!!!!” perintah Roy kejam
sambil semakin keras melecut-lecut punggungku.
Rasa sakit di lubang anal dan punggungku benar-benar menyatu menjadi
rasa sakit yang belum pernah seumur hidup kurasakan, ingin pingsan
rasanya agar aku tak harus merasakan siksa seperti ini namun setiap kali
mulai tak sadar pecutan dan tamparan serta jambakan di rambutku
membuatku kembali tersadar. Akupun dengan segenap tenaga yang tersisa
berusaha untuk menggerakkan pinggulku disertai lecutan yang semakin
keras. Jeritan demi teriakan semakin lemah yang muncul justru nafsu
untuk kembali orgasme. Aneh rasanya rasa sakit yang menderaku maah
meningkatkan gairahku untuk menuju puncak. Tanpa kusadari bahkan aku
bisa memaksa pinggul dan dan pantatku untuk bergoyang. Jeritan kini
berubah menjadi desahan, bahkan saat dilecut bukan lagi jeritan namun
erangan yang terdengar semakin menggairahkan nafsu para pria jelek itu.
Jepitan analku di penis Boypun semakin menjadi saat lecutan ikat
pinggang kulit mendera kulit punggungku akibatnya Boypun seperti
kesetanan memperkosa pantatku. Tangannya menampar-nampar buah pantatku,
desahan nikmat diantara sakit yang menderakupun semakin jadi.
“Aaakkhhh tuann akkuuu hammpirrr sammppaaaiii aakkhhhh eeerrgghhhh
eennngghhhh ooohhhh aaarrgghhhh” jerit dan desahku semakin menjadi
mengiringi deraan lecutan dan sodokan pria-pria bengis itu hingga
akhirnya Boy dan aku mencapai orgasme nyaris bersamaan.
Sperma Boy muncrat duluan tak terhalang langsung menuju lambung dan
maagku. Berjuta benih kejantanan bercampur dengan dengan sari makanan
sisa pesta semalam. Aku tak peduli lagi lemas dan tak berdaya langsung
membuatku ambruk ke samping begitu Boy menarik lepas penisnya. Roy dan
Joy melepas ikatan dan tali di tubuhku sementara Boy membuka borgol yang
memasungku namun kini tanganku kembali diikat kedua sikut lenganku
disatukan hingga tannganku menyatu di belakang punggungku membuat dadaku
tetap membusung. Borgol di tanganku tetap dipasang dan aku kini diminta
berlutut. Sulit sekali rasanya setelah orgasme dua kali dengan
gemetaran aku menuruti perintah mereka untuk mengulum ketiga penis
mereka bergantian. Rupanya itu adalah menu terakhir malam itu, mereka
semua mengakhiri perkosaan dengan memuncratkan sperma kental mereka ke
wajahku. Aneh rasanya mendapati sperma di wajah mengalir pelan ke dagu
bibir dan tanpa sadar lidahku mengecap-ngecap berusaha menjilati sperma
yang menetes padahal rasanya sangat anyir dan getir pahit. “Hahahaha
lihat nih sitante, cantik-cantik ternyata doyan banget sama peju.. sini
aku bantuin hahahaha”, kata Joy sambil mengoleskan spema mereka dengan
batang spidol bekas untuk dimasukkan ke mulutku. Aku yang awalnya tak
sadar mengecap sperma malah seperti ketagihan dan menghabiskan bahkan
menjilati sisa sperma mereka hingga bersih. Wajah dan tubuh telanjangku
terasa lengket sekali dan sepertinya mereka mengetahui hal itu. Tanpa
kasihan Roy menyeretku keluar dan mengikatku di bemper mobil. Aku
berteriak-teriak menolak malu karena dipaksa keluar pos dalam keadaan
telanjang bulat dan terikat tak berdaya. Akhirnya aku dipaksa berdiri di
tengah hujan deras diluar pos mereka, aku mengenali daerah itu,
ternyata pos mereka berada di sekitar daerah cawing tepat dibawah tol
namun sepi sekali hanya sesekali kendaraan melintas entah jam berapa
namun aku yakin itu sudah hampir pagi, aku yang menggigil kedinginan
akhirnya diseret masuk kembali di handuki sampai kering dan dibiarkan
tertidur di atas tikar lusuh sampai pagi. Entah bagaimana nanti, aku
yang benar-benar kelelahan akhirnya tertidur.