Sudah lewat tengah malam. Aroma rusa guling bakar menyeruak hidungku.
Air liurku menetes, demi menyaksikan Kibo yang ligat membolak balik
hasil buruan kami di atas api unggun. Kami sama-sama lapar berat, karena
sudah hampir setengah harian berburu rusa di rimba Papua. Untung saja,
Kibo berhasil membidik seekor rusa malang yang sedang lengah.
Mata rusa itu mengerlip seperti lampu. Kibo mengarahkan dengan hati-hati
senapan laras panjang jenis Mauser ke arah buruan. Ia tak ingin
menimbulkan gaduh. Ah. Seekor rusa dewasa.
Aku menunggu di belakang dengan senter di tangan. Sebagai seorang
perempuan, aku kurang mahir berburu. Tapi kalau temanku yang berkulit
hitam dan bertubuh tegap ini, jangan ditanya. Berburu rusa adalah sumber
hidupnya, sebagai orang asli Papua. Selain babi, tentunya.
Kibo memberiku aba-aba untuk mengarahkan senter tepat ke arah rusa itu.
Mendadak rusa itu diam mematung, terpaku melihat sinar. Dalam hitungan
detik, suara senapan meletus, memekakkan telinga.
Bidikan Kibo yang jitu, berhasil melumpuhkan buruan kami seketika.
Dengan cekatan Kibo menyembelih dan membuang isi perutnya. Aku
terkekeh-kekeh senang melihatnya. Akhirnya kami bisa makan malam.
Aku dan Kibo pernah menjelajahi pegunungan Tamrau dan Arfak untuk
berburu rusa. Namun, lokasi favorit kami masih di sepanjang pantai
Kepala Burung. Sayang, kini semakin susah saja untuk menemukan rusa
dewasa. Hewan itu kian langka. Banyak tangan yang tidak bertanggungjawab
melakukan pembantaian besar-besaran di rimba Papua.
Kibo menyobek rusa bakar dengan gigi geliginya yang putih. Demikian
juga aku, yang sedari tadi melahap hasil buruan kami dengan rakusnya.
Kujejali mulutku penuh-penuh. Walau tanpa bumbu, santapan ini terasa
lezat sekali. Sampai-sampai, kujilat jari jemariku yang menyisakan aroma
daging.
Daging rusa guling bakar yang tersisa disayat tipis dan dimasukkan ke
dalam wadah kedap udara. Kibo hendak memberikan buah tangan ini kepada
dua saudaranya, Silvana, sang kakak ipar, dan Edo, adik lelakinya.
Mereka berdiam di teluk Bintuni yang memerlukan waktu tempuh sekitar 6
jam lagi dari tengah rimba ini.
Kupacu jeep Wilisku dengan kecepatan sedang. Rasa kantuk kadang
menyergap, sehingga aku dan Kibo harus bergantian mengemudi. Melihat
fisikku yang sedemikian lelah, dia memaksaku untuk tidur saja. Tapi aku
tak sampai hati. Untuk menepis kantuk, kuajak ia ngobrol sekenanya.
”Sudah berapa lama kau tidak menjenguk mereka?”
”Hampir setahun, mungkin.” jawabnya tak bisa memastikan.
”Aku belum pernah bertemu mereka. Bagaimana kehidupan mereka di sana?” tanyaku lagi.
”Ya... seperti pada umumnya penduduk Bintuni, adikku Edo, bekerja
sebagai penjual kepiting. Kalau kakak iparku, Silvana, dia sama seperti
kamu, sama-sama orang luar Papua.” tukasnya. ”Suaminya sudah meninggal,
ditembak aparat.” tambahnya kemudian.
”Oh, aku turut berduka.”
”Sekarang dia buka warung ikan bakar untuk menghidupi diri dan 2 anaknya.”
”Hebat! Aku suka perempuan mandiri.” pujiku terus terang.
”Ya, aku juga bangga akan Silvana. Dia perempuan tangguh. Meski, hanya
sebatas kedai kecil-kecilan saja. Sedangkan adikku, Edo, ah. Dia juga
lelaki kecil yang kuat.” seraut kebanggaan terpancar dari raut wajah
Kibo. Kentara sekali kalau ia sangat merindukan kedua saudaranya itu.
”Mengapa kau baru sekarang memutuskan untuk pulang? Menurutku kau terlalu sibuk dengan masalah OPM itu.” ujarku.
Kibo terdiam. Ia paling tak senang kalau perjuangannya diusik orang. Apalagi olehku, sebagai warga luar Papua.
”Kami ingin merdeka. Merdeka dari kebodohan dan kemiskinan. Bukan
semata-mata untuk berpisah dengan Negara. Andaikan pertambangan itu tak
mengisap daya hidup kami...” Sorot matanya selalu nyalang saat
membicarakan tentang perjuangan. ”Apalagi aparat pemerintah yang
bertugas di daerah kami bersikap sewenang-wenang.” tukasnya,
menambahkan.
”Oknum.” ujarku, menyanggah. Tak semua aparat pemerintah berlaku demikian.
Perjalanan yang awalnya lancar-lancar saja mendadak berhenti. Terjadi
kemacetan panjang di depan. Sepertinya ada pohon tumbang atau tanah
longsor, hal yang biasa terjadi di jalanan hutan Papua.
”Wah, sepertinya malam ini kita harus tidur di hutan,” kata Kibo.
Aku mengangguk mengiyakan. Segera kuatur tempat dudukku agar dapat tidur
dengan nyenyak di kursi Jeep yang keras ini. Begitu juga dengan Kibo.
Kecapekan, ditambah suasana hutan yang hening dan dingin membuatku pulas
dengan cepat. Tapi rasanya baru terlelap beberapa menit saat kurasakan
ada tangan yang meraba-raba paha mulusku. Membuatku geli hingga akhirnya
aku terbangun.
”Kibo, apa yang kau lakukan?” kutepis tangan laki-laki itu.
”Tidak tahu, Mon. Tiba-tiba saja aku pengen.” tangannya melayang, mencoba memegang payudaraku.
Aku kembali menepisnya. Kusilangkan kedua tanganku untuk melindungi
kedua buah dadaku yang montok ini. ”Waktunya tidak tepat, Kibo. Banyak
orang disini.” aku menunjuk deretan mobil yang berhenti di depan dan
belakang kami. ”Kenapa tidak pas di hutan tadi saja!” aku menambahkan.
Memang, sudah biasa kami bercinta di sela-sela perburuan. Itu adalah
salah satu wujud rasa terima kasihku karena Kibo sudah mau menjadi
pemanduku selama menjelajahi ganasnya hutan Papua. Dia tidak mau dibayar
dengan uang.
”Pengennya sekarang.” laki-laki itu terus memaksa. Bahkan kini dia sudah
mengeluarkan penisnya yang besar dan hitam, yang selalu bisa membuatku
orgasme berkali-kali. Memandangnya membuatku tergoda juga.
Aku celingak-celinguk melihat situasi. ”Iya, tapi jangan disini.” sangat
tidak aman melakukannya di mobil. Karena Jeepku berbentuk terbuka,
semua orang bisa melihat perbuatan kami dengan jelas.
"Dimana?” Kibo menuntut.
Aku segera memutar otak. ”Carilah tempat yang bagus di hutan. Kalau sudah ketemu, panggil aku dengan siulan.” cetusku.
Kibo segera melakukannya. Pura-pura ingin kencing, dia turun dari mobil
dan pergi ke semak-semak di tepi jalan. Tidak melangkah terlalu jauh,
dia sudah menemukan tempat yang cocok. Di bawah sebuah pohon Gaharu
besar, tampak hamparan rumput halus yang empuk dan rata. Semak perdu
rapat tumbuh di sekelilingnya, melindunginya dari pandangan orang di
jalanan. Benar-benar tempat yang sangat sempurna.
”Suiittt..” tak sabar, Kibo segera bersiul pendek memanggilku.
Setelah memastikan kedaan aman, tidak ada orang yang memperhatikanku,
aku pun pergi menyusulnya. Aku kaget saat melihat Kibo sudah
menanggalkan celana panjangnya, hanya mengenakan celana dalam dan kaos
t-shirt. Rupanya dia memang sudah benar-benar tak tahan.
Kibo segera merangkulku, ”Kamu selalu bisa membuatku bergairah, Mon.”
bisiknya sambil mengecup belakang telingaku. Daerah itu memang salah
satu area sensitif di tubuhku, dan Kibo mengetahuinya. Dengan cepat,
akupun menggelinjang dan balas mendekap tubuh kekarnya.
Tangan Kibo bergerak ke bawah, mengelus-elus paha mulusku sambil mencoba
menanggalkan celana pendek yang aku pakai. Saat celana itu sudah jatuh
ke tanah, dan aku berdiri cuma dengan bercelana dalam, Kibo langsung
membelai-belai kaki jenjangku. Dimulai dari lutut, lalu bergerak naik
perlahan ke atas menyentuh pahaku, dan terus naik hingga sampai ke
selangkanganku. Tangannya berputar-putar disana, meraba benda mungil
yang ada diantara kedua belahan pahaku. Dia seperti ingin merasakan
kehangatan gundukan bukit kecil milikku yang masih terhalang secarik
kain merah berenda.
”Ahhhh,” mendesah, aku merenggangkan kedua pahaku, memudahkan tangan Kibo untuk melaksanakan tugasnya.
Perlahan, gairahku mulai meletik. Kutarik wajah Kibo, dan segera kelumat
bibirnya yang tebal dengan rakus. Lidahku menusuk, membelai dan
menari-nari di dalam mulutnya, menjelajah disana dengan mesra.
”Hemph..” merasakan responku yang sangat baik, Kibo makin bersemangat.
Dia kini tidak cuma meraba, sesekali tangannya juga memijit dan
mencubit-cubit pangkal pahaku. Jarinya juga sering menyelip, masuk ke
belahan kemaluanku yang masih terhalang lipatan celana dalam.
Telunjuknya menggosok perlahan-lahan bulu-bulu milikku yang terasa
mencuat kasar.
”Aughhhh,” perbuatannya itu membuatku mulai mengerang perlahan. Aku pun
membalasnya dengan memasukkan tanganku ke balik celana dalamnya yang
longgar. Dengan penuh nafsu kuraba dan kugenggam penisnya yang sudah
menegang dahsyat. Aku juga meraba dan mengusap-usap biji pelirnya yang
mungil kembar. Kibo paling suka kalau aku melakukan ini, belaian pada
buah
pelirnya. Dia langsung mengerang.
Merasakan seranganku, Kibo membalasnya dengan melancarkan serangan lain
yang tak kalah nikmatnya. Kali ini jari tengahnya menelusup masuk ke
dalam lipatan kemaluanku dan bergerilya disana. Celana dalamku yang
menghalangi, dia geser sedikit ke samping, sekedar memberi jalan bagi
jarinya untuk lewat. Tonjolan klitorisku yang sudah sangat dia kenali,
digesek-geseknya dengan mesra. Sambil menggesek, dia juga terus
menekan-nekan
gundukan kemaluanku hingga aku makin mendesah keenakan. Sementara di
atas, lidahnya terus bergerak mengulum bibirku. Kibo melumat dan mencium
bibir tipisku habis-habisan.
”Hemphh…!” aku terjingkat saat jemari Kibo menyentil klitorisku. Dan dia
terus melakukannya. Semakin aku terjingkat, semakin dia menyentil lebih
keras. Aku yang tidak tahan, membalasnya dengan melakukan serangan
brutal pada penisnya yang berada di dalam genggamanku. Kupencet benda
itu keras-keras hingga Kibo mengaduh kesakitan.
”Aduduh, Mon. Sakit!” rintihnya, tapi tetap tersenyum.
Kurasakan batang itu semakin mengeras dan membengkak dalam genggamanku.
Saat aku menggosok dan menarik-nariknya, benda itu juga terasa
berdenyut-denyut ringan, membuatku jadi makin suka. Aku terus
membetot-betotnya selama Kibo terus menyentil-nyentil klitorisku. Dia
menyentil keras, aku juga menarik keras. Dia menyentil ringan, aku tetap
menarik keras, hehehe... pokoknya dia terus kuserang sampai menyerah.
Tak lama, konsentrasi Kibo mulai lepas. Serangannya pada klitorisku
terasa semakin melemah dan akhirnya berhenti sama sekali. Bahkan
ciumannya juga ikut berhenti. Dia sekarang cuma berdiri lemas dengan
mata merem melek keenakan menikmati pijitan jari-jari lembutku pada
penisnya yang tegak mengacung. Celana kolornya yang longgar sudah
melorot sejak tadi.
Tersenyum penuh kemenangan karena sudah berhasil memojokkannya, aku
terus melancarkan serangan. Kugenggam penis Kibo semakin erat sambil
terus kukocok cepat. Sesekali aku juga memijitnya keras-keras saat
kurasakan tangan nakal Kibo kembali menusuk ke sela selangkanganku. Biji
pelirnya yang menggantung bergoyang-goyang tak lupa juga kusambangi.
Kuremas benda mungil itu sambil sesekali kucakar dan kucubit pelan,
membuat Kibo langsung terjengkit setengah kesakitan setengah keenakan
”Mon, lepas…” terengah-engah, laki-laki itu berbisik, memintaku untuk melepas celana dalam.
Aku pun melakukannya. Bahkan tidak cuma celana dalam, semua bajuku
kulepas hingga aku telanjang bulat di depannya. Kibo tak berkedip
menatap tubuh sintalku. Terutama payudaraku yang bulat dan besar. Sambil
memegang dan meremas-remasnya, Kibo juga mencopoti bajunya hingga kini
kami sudah sama-sama telanjang.
Menumpuk baju kami sebagai alas, Kibo segera membaringkan tubuhku dan
menindihnya. Dengan tak sabar, dia mencoba memasukkan penisnya yang
besar ke dalam kemaluanku. Agak sulit pada awalnya, tapi tetap bisa
masuk. Begitu seringnya kami melakukannya hingga aku sudah tidak
merintih sakit sama sekali. Yang ada aku malah mendesah karena rasa
nikmat yang amat sangat saat penis besar Kibo menggesek pelan dinding
vaginaku.
”Eggh… Kibo!” bisikku mesra dengan kedua belah tangan membelit lehernya,
memantapkan posisi. Setengah mendekap setengah menggantung.
Di bawah, Kibo sudah langsung menggoyang tubuhnya, padahal penisnya
masih belum masuk seluruhnya. Rupanya dia sudah benar-benar tak tahan
setelah tadi kuserang habis-habisan. Kibo menggenjot tubuh montokku
dengan cepat. Dorongan dan tarikannya terasa begitu dalam dan liar. Aku
hanya bisa menahan setiap desakannya dengan rintihan dan desisan yang
makin membangkitkan gairah. Aku tidak kuasa untuk mengimbangi karena
Kibo bergerak dengan sangat cepat,
”Mon, aku tidak tahan lagi.” tapi rupanya itu malah membuat Kibo jadi
tidak bisa bertahan lama. ”Aku mau keluar!” bisiknya sambil
meremas-remas kedua payudaraku yang bergoyang-goyang indah saling
berbenturan di depannya.
Aku mengangguk. ”Pelankan goyanganmu.” aku menyarankan. Aku ingin
menikmati persetubuhan itu sedikit lebih lama lagi. Aku masih belum
merasakan akan orgasme dalam waktu dekat.
Tapi Kibo sepertinya memang sudah tidak kuat lagi. Biar pun sudah
memelankan goyangan, dia tetap tidak tahan. Diiringi dengan hujaman kuat
yang dalam dan keras, Laki-laki itu pun memuntahankan laharnya.
”Mon, Oughh.. aku keluar.” Kibo mencium bibirku, sementara di bawah,
penisnya masih berkedut-kedut kencang menyemburkan spermanya yang hangat
dan kental. ”Maafkan aku,” sesalnya karena tidak bisa mengantarku
sampai ke klimaks.
Aku tersenyum dan membalas ciumannya, ”Tidak apa-apa. Masih ada kesempatan lain.”
Kurasakan tubuh kekarnya melemas, dan batangnya yang masih menancap di
kemaluanku, perlahan-lahan terasa mengkerut dan mengecil hingga akhirnya
lepas dengan sendirinya.
Kibo bangkit dan segera memakai bajunya kembali. ”Tunggu disini lima
menit, baru keluar. Aku pergi duluan.” ujarnya sembari memungut BH dan
celana dalamku dan membantuku untuk mengenakannya.
”Iya, malah mungkin agak lebih lama. Aku harus mencuci dulu vaginaku,” kutunjuk sungai kecil yang mengalir tak jauh dari situ.
Kibo mengangguk dan melangkah pergi, kembali ke mobil. Saat melewati
semak berdaun kecil yang rimbun, dia tidak menyadari ada sepasang mata
yang mengawasinya.
##########################
Aku sudah akan beranjak menuju sungai ketika tiba-tiba saja ada seorang lelaki tua muncul dan mengagetkanku.
”Hei, siapa kau!” aku membentaknya sambil berusaha menutupi tubuhku yang masih telanjang.
”Justru saya yang harusnya bertanya, apa yang mbak lakukan dengan laki-laki tadi?” tanyanya dengan sopan tapi tegas.
”Ehm, i-itu suami saya. T-tadi kami... ” jawabku gugup terbata-bata. Aku terpaksa mengakui Kibo sebagai suamiku.
”Apakah mbak baru berhubungan badan dengannya?” dia bertanya lagi.
”Ah, tidak... iya.. tapi..” aku makin bingung. Apakah tadi orang ini mengintip?
”Ngaku saja, mbak. Ini demi kebaikan kita semua.” dia tampak menjilat ludahnya, seperti tergiur melihat kemontokan tubuhku.
”Eh, maksudnya?” aku pun berusaha menutupinya makin erat.
”Tahukah mbak kalau ini adalah pohon keramat?” dia menunjuk pohon besar
yang ada di belakangku, tapi matanya tetap mengarah ke tubuhku.
Kutatap pohon itu dan menggeleng. ”T-tidak, pak. Memang kenapa?”
”Mbak telah melakukan sesuatu yang sangat fatal.” Laki-laki itu
menggeleng. ”Barang siapa yang melakukan hubungan badan di bawah pohon
ini saat bulan purnama, dia akan dilaknat mandul. Tidak punya anak.
Tidak punya keturunan!” terangnya. ”Dan sekarang adalah bulan Purnama.”
tambahnya kemudian.
Aku mendongak. Kulihat bulatan kuning terang yang bersinar penuh di
langit. Aku langsung menggigil. ”Ah, jangan, pak. Aku tidak ingin madul.
Aku masih ingin punya anak.” isakku.
”Bukan saya yang menentukan, Mbak. Ini sudah menjadi tradisi turun
temurun di desa ini. Salah mbak sendiri, main seks kok sembarangan.
Seperti tidak ada tempat lain saja.” dia malah memarahiku.
Aku masih ingin menikah dan membina keluarga bersama suami saat kembali
ke Jawa nanti. Tapi siapa yang akan mau kalau aku mandul? Bayangan itu
membuatku menangis sesenggukan.
”Apa tidak ada cara untuk membatalkannya, pak?” aku bertanya dengan suara bergetar. Takut dengan jawaban yang akan kudengar.
”Ada sih, tapi...” laki-laki itu menggantung jawabannya.
”Apa, pak?” aku bertanya tak sabar.
”Mbak yakin ingin melakukannya?” dia balik bertanya.
”Apapun akan saya lakukan agar tidak mandul, pak.” aku meyakinkan.
Laki-laki itu mengangguk. ”Ada dua cara...” dia berhenti, seperti ingin menambah tegang suasana.
Aku menunggu. Bahkan caranya tidak cuma satu, tapi dua. Aku kini bisa tersenyum gembira.
”Yang pertama,” laki-laki itu kembali berbicara. ”Mbak bersetubuh lagi
dengan suami mbak, disini, dibawah pohon ini, dengan ditonton oleh
seluruh warga desa. Kalau sudah selesai, mbak tidur telentang, siap
menerima guyuran sperma dari semua laki-laki yang menonton. Silakan mbak
gunakan sperma itu untuk mandi agar kutukan di tubuh mbak bisa hilang.”
Mendengarnya, senyum girangku langsung surut. Berubah menjadi umpatan
kecil dalam hati. Berat sekali syaratnya. Aku tidak akan sanggup
melakukannya. ”Y-yang kedua apa, pak?” aku bertanya, berharap yang ini
akan lebih ringan.
”Yang kedua...” laki-laki itu menyeringai. ”Mbak bersetubuh lagi disini,
sekarang, tapi dengan laki-laki lain. Tidak perlu ditonton dan mandi
sperma. Mbak cukup menelan spermanya saja untuk melunturkan tulah itu.”
Aku menghela nafas. ”Apa tidak ada cara lain, pak? Saya tidak bisa
melakukan dua-duanya.” Berat sekali syarat itu. Bayangkan, aku harus
bersetubuh dengan laki-laki lain!
”Terserah mbak. Saya cuma memberi tahu saja.” balas lelaki tua itu, tenang.
”Apa tidak ada cara ketiga, pak, yang tidak pakai hubungan badan?” aku mencoba bertanya, mencari alternatif.
Lelaki itu menggeleng. ”Cuma itu caranya, mbak. Silahkan pilih.”
Aku terdiam. Ini seperti memilih buah simalakama. Dimakan, ibu yang mati. Tidak dimakan, ayah yang mati. Bingung.
”Karena mbak mencemarinya dengan bersetubuh disini, jadi menebusnya
harus dengan bersetubuh juga.” jelas pria itu. ”Tidak ada cara lain.”
tambahnya.
Aku makin terdiam.
”Silahkan dipilih, mbak. Saya tidak memaksa. Cara pertama atau kedua? Atau malah pilih mandul?” gertaknya.
Aku menggeleng dan menelan ludah dengan berat. Meski tidak mau
mengakuinya, aku sadar, aku telah kalah. Kata-kata MANDUL cukup untuk
membuatku menganggukkan kepala. ”S-saya pilih yang kedua, pak.” lirihku.
Laki-laki itu menyeringai. ”Ya, aku yakin mbak bisa bersikap bijaksana.”
”A-apakah itu artinya... s-saya harus... bersetubuh dengan... b-bapak?” tanyaku tergagap.
”Tidak harus dengan saya.” sahutnya. ”Yang penting laki-laki lain,
selain suami mbak yang tadi. Saya punya banyak teman di mobil, mbak bisa
pilih satu.” dia menawarkan.
Aku segera menggeleng, menolak tawarannya. ”Jangan, pak. Bisa-bisa
mereka kesini semua.” siapa sih yang akan menolak ditawari tubuh sintal
menggoda di tengah hutan seperti ini, setelah berpisah lama dari istri
atau pacar. Itu seperti menawarkan ikan asin pada kucing. Bisa-bisa aku
diperkosa rame-rame nantinya.
”Pastinya begitu,” laki-laki itu tertawa, memperlihatkan giginya yang sudah mulai ompong.
Aku memandanginya. Kutaksir umur pria itu sudah lebih dari 50 tahun,
terlihat dari rambutnya yang sudah mulai beruban dan memutih, bahkan
sudah sedikit botak. Tubuhnya kurus agak kerempeng. Kulitnya hitam legam
khas orang Papua. Secara keseluruhan, dia cukup menarik juga.
”B-bagaimana kalau bapak saja yang... m-membantuku?” aku berkata
memutuskan. Pertimbangannya, dengan umur setua itu, dan kondisi fisik
yang sudah tidak prima lagi, dia pasti tidak akan kuat bertahan lama
menghadapiku. Aku bisa cepat dapat sperma yang bisa kugunakan untuk
membatalkan kutukanku.
Tapi pria tua itu menggeleng. ”Saya sih mau-mau saja bantu mbak. Tapi masalahnya, saya sudah tidak bisa ngaceng lagi.” jelasnya.
Aku terhenyak, tapi cuma sesaat. ”Tapi bapak masih punya sperma kan?” tanyaku.
”Kalo itu ya masih ada, mbak.” jawabnya.
“Berarti tidak ada masalah, pak.” cetusku. “Nanti bapak saya rangsang agar bisa mengeluarkan sperma itu.”
”Ehm, gimana ya. Apa masih bisa?” laki-laki itu tampak ragu.
”Apa bapak tidak tergoda melihat tubuhku?” Sambil berkata begitu,
kuturunkan tanganku yang dari tadi menutupi dada dan selangkangan.
Kubiarkan dia melotot memandangi tubuh sintalku.
”Tergoda sih, mbak. Tapi tetap tidak bisa ngaceng.” dia membuka
celananya dan menunjukkan penis hitamnya yang tetap menggantung
mengkerut menyedihkan.
”Kita coba aja dulu, pak.” aku berjalan mendekatinya. Laki-laki itu
terdiam saat aku mulai memegang dan mengelus-elus penisnya. Benda itu
terasa sangat mungil dan dingin. ”Siapa nama bapak?” tanyaku untuk
mencairkan suasana.
”Yesua.” sahutnya singkat. Matanya tak berkedip memandangi tubuh
sintalku yang putih dan montok, yang kini menempel erat di depannya.
”Nama saya Mona.” aku memperkenalkan diri. Kuraih tangannya dan
kudekapkan ke dadaku, kusuruh Yesua untuk meremas-remasnya pelan.
”Eh, i-iya… iya, mbak.” dia melakukannya dengan tangan gemetar hebat.
Mungkin baru kali ini dia memegang payudara perempuan yang empuk dan
mulus. Kibo dulu juga begitu waktu pertama kali melakukannya.
”Sudah berapa lama bapak tidak main seks?” aku bertanya lagi. Tanganku
terus meremas-remas penisnya. Benda itu masih tetap tertidur.
”Sudah hampir 5 tahun, mbak.” Yesua menekan jemarinya di bukit kenyalku,
seperti ingin merasakan teksturnya yang empuk dan kenyal. Selanjutnya,
dia melenguh. ”Ughhhh,”
”Kenapa, pak?” tanyaku heran.
”Susu mbak... padat banget!” bisiknya, terlihat sedikit malu.
”Bapak suka?” godaku.
Pria itu mengangguk cepat. ”Suka, mbak. Suka sekali.” sahutnya.
”Kalau suka, tekan yang keras dong, pak. Begini!” kutekan tangannya,
kusuruh untuk meremas lebih kuat lagi. ”Putingnya juga, pak. Dipijit
atau dipilin-pilin gitu.” pintaku dengan muka memerah. Entah kenapa,
merasakan tangannya mengusap-usap payudaraku, membuat hasratku yang tadi
sempat terputus, mendadak kembali.
”Bantu saya ya, pak, untuk membatalkan kutukan itu.” kudekap tubuh kurusnya, kubiarkan dia memelukku.
“Uh, i-iya, mbak.” Yesua mengangguk. Tangannya mulai menjalar, mengusap-usap bahu dan punggungku yang halus dan mulus.
”Enghh,” aku sedikit melenguh saat jemarinya bergerak ke bawah, menjarah
dan memijit-mijit bokongku yang bulat dan padat. ”Remas ini lagi, pak.”
kutarik lagi tangannya, kubawa ke arah payudaraku. Aku masih ingin dia
mengerjaiku disana. Aku memang paling suka kalau payudaraku
diremas-remas. Rasanya geli-geli nikmat, bikin aku cepat terangkat.
Yesua melakukan seperti yang kuinginkan. Dia meremas dengan keras dan
cepat. Pijitannya terasa begitu liar dan penuh nafsu. Daging kenyalku
yang memenuhi seluruh telapak tangannya jadi tidak berbentuk lagi.
Kadang mencong ke kanan, kadang ke kiri. Beberapa kali juga tergencet ke
bawah, atau terlontar ke atas. Bahkan tak jarang, saling bertabrakan
bertemu di tengah dengan puting mungil yang sudah tegang mencuat, saling
menempel dan menyapa akrab. Sungguh sangat nikmat sekali rasanya.
”Ahhh... pak, ya… ya... begitu!” Birahiku makin menyala merasakan
sentuhan nya. “Ughh... tekan lebih keras, pak. Ughhhh... lebih keras
lagi. Ahhhhh...” aku mendesah tak karuan. Mataku terpejam, sementara
tanganku masih terus meremas dan mengusap-usap penis Yesua yang kini
terasa mulai sedikit padat, meski masih jauh dari kata bangun.
”Sini juga, pak.” kuraih tangannya, kubimbing menuju pangkal pahaku.
Kugosok-gosokkan tangan itu disana. Aku tersentak sendiri saat kakasaran
telapak tangan Yesua menjamah bulu-bulu halus di sekitar vaginaku.
Apalagi saat jemarinya mulai mengusap dan menyodok-nyodok kasar, aku
makin melenting. Rupanya, dia pintar juga merangsang wanita meski
penisnya impoten.
Impoten?
Kurasa tidak. Benda itu kini sudah menegang dan mengeras sedikit, sudah
lumayan kelihatan bentuknya meski masih terasa layu. Aku jadi makin
bersemangat. Kuremas dan kuusap-usap makin cepat. Sepertinya penis itu
bisa dibangunkan. Agak sulit memang, tapi tetap bisa. Hanya perlu usaha
sedikit lebih keras daripada biasanya.
Di sisi lain, aku juga harus membagi konsentrasi dengan kocokan Yesua di
pangkal pahaku. Tangan laki-laki itu kini menusuk dan mengorek-ngorek
disana. Bergerak liar bagaikan mencari sesuatu. Saat sudah menemukan
klitorisku, dia berhenti. Aku langsung merintih dan mengejang-ngejang
saat Yesua tiba-tiba memijit dan memencet-mencetnya.
”Oughhh,” mataku terpejam.
”Tidak sakit kan?” tanyanya sambil terus memijit.
Aku menggeleng. ”E-enak... banget, pak! Terus, oughhhh... terus!
Begitu... ya, aduduh!” rintihku sambil menggigit bibir. Tubuhku terasa
lemas karena saking nikmatnya. Kurangkul tubuh Yesua agar aku tidak
sampai jatuh. Pinggulku bergerak mengejar arah gosokannya.
Sementara Yesua, sambil terus mengocok, juga memelintir dan
memilin-milin putingku, membuatku makin bergetar dan mengerang
keenakan. ”Uhh.. uhh..” aku mendekapnya semakin erat. Pinggulku berputar
ingin menghindar, tapi tidak bisa. Kocokan Yesua mustahil untuk
dihindarkan, rasanya begitu nikmat.
Melihatku yang mendesah-desah dan menggelinjang tak karuan hanya dengan
gosokan tangan, membuat Yesua bertanya. ”Tadi belum tuntas ya, mbak,
sama suami?”
Aku mengangguk mengiyakannya. Kuharap dengan begitu dia akan membantu
memuaskan hasratku yang sekarang sudah meledak-ledak tak terkendali.
Dan Yesua rupanya mengerti. Dia mempercepat pijatan jari telunjuk dan
ibu jarinya pada klitorisku, membuat pinggulku makin bergetar dan
melonjak-lonjak liar. Di atas, dia juga meremas payudaraku semakin
keras, sambil terus mengelitik dan mengusap-usap putingnya yang kini
sudah semakin tegak mengacung. Aku jadi makin tak tahan. Kudekap tubuh
laki-laki itu semakin erat sambil kusandarkan kepalaku ke bahunya.
”Auw!” Yesua menjerit saat tanpa sengaja kugigit bahunya. Salah sendiri,
kenapa dia mencobloskan jari tengahnya ke liang vaginaku dengan
tiba-tiba.
Aku membalasnya dengan menarik penis laki-laki itu kuat-kuat. ”Auw!” Yesua kembali menjerit.
Batangnya kini sudah semakin keras dan tegak. Ukurannya juga sudah
membengkak tiga kali lipat. Belum ngaceng sepenuhnya tapi tanganku sudah
kesulitan menggenggamnya. Terbukti, Yesua memang tidak impoten. Dia
cuma sulit ngaceng saja. Dengan rangsangan yang tepat, penis laki-laki
itu masih bisa berdiri normal.
Setengah membungkuk, kuperhatikan penis hitam yang pendek namun gemuk
itu. Ujungnya tampak menggelambir, tidak disunat. Aku jadi penasaran,
bagaimanakah rasanya? Dengan gemas, aku terus mengocok dan
meremas-remasnya hingga benda itu jadi semakin kaku dan menegang.
”Ughh,” rintih Yesua, tampak sangat menikmati. Sebelah tangannya kini
meraba-raba bokong bulatku, menggosok dan mengusap-usap belahan pantatku
yang halus dan mulus.
Di sisi lain, aku makin terpesona oleh kejantanan Yesua. Benda itu terus
membesar dan makin membesar, sampai aku sudah tidak sanggup lagi
menggenggamnya. Rasanya juga semakin kaku dan keras, seperti memegang
tonggak batu. Terpesona, aku menghentikan kocokanku dan memandanginya.
Sekarang tanganku cuma memijit dan mengusap-usapnya pelan.
”Ada apa, mbak?” tanya Yesua. Dia masih terus meremas bokong dan payudaraku.
“Yang begini ini bapak sebut impoten?” aku kembali mengocok penis itu.
“Dulu bisa lebih besar dan panjang,” sahut Yesua.
“Ah, benarkah?” entah kenapa, ada sedikit rasa menyesal di hatiku,
kenapa baru berjumpa penis super ini sekarang, setelah masa kejayaannya
lewat? Tapi tak apalah, itu juga masih lumayan, daripada tidak sama
sekali.
”Tidak menyesal aku pilih bapak.” bisikku dengan birahi semakin
menggelegak. Kugenggam kantung kemih Yesua dan kugosok dengan binal. Tak
sabar rasanya aku menunggu penis besar itu merobek dan menusuk-nusuk
selangkanganku. Pasti akan sangat nikmat sekali rasanya.
“Pak!” aku sedikit terjengit saat jari telunjuk Yesua menyelip di belahan pantatku dan menyentuh pelan bibir kemaluanku.
Tak ingin dikerjai lagi, aku segera merebahkan tubuhku dan membuka
pahaku lebar-lebar. Yesua tampak terkesima memandangi tubuh mulusku,
terutama memekku yang sempit kemerahan. Bulu-bulu halus yang tumbuh di
sekitarnya, tampak sudah basah, seperti pepohonan tersiram hujan.
”Ayo, pak. Cepat lakukan, aku sudah tak tahan.” pintaku sambil menggerakkan pinggul berputar-putar.
Mengangguk, Yesua menjilati kemaluanku sebentar sebelum akhirnya
memegang penisnya dan mengarahkannya tepat ke bibir vaginaku. Dia
mendorongnya pelan. Terasa kekerasan ujung batangnya saat menyentuh
gerbang kewanitaanku, membuatku bagai tersengat listrik.
”Aduh,” aku mendesis. Benda itu terasa begitu besar bagi memekku yang sempit. Penis itu jadi macet, tersangkut.
”Tahan ya, mbak.” kata Yesua sambil terus mendorong.
Aku memejamkan mata. Aku ingin merasakan penis itu menari-nari di dalam
liang vaginaku, tak peduli bagaimana pun rasanya. ”Tekan terus, Pak.”
sahutku sambil mendesah, benda itu masih nyangkut. ”Ayo. Tekan lagi,
Pak” aku memberikan semangat sembari tangan kananku merangkul leher
orang tua itu. Birahiku sudah tak tahan menuntut pelampiasan.
”Mbak nggak sakit?” tanya Yesua merasakan kemaluanku yang sempit sekali.
”Tidak apa-apa, ayo tekan lagi!” aku meminta.
”Baik, mbak.” dia kembali menekan dengan lebih keras. Terasa topi bajanya
sudah berhasil menelusup benteng pertahananku.
”Agghh...” aku agak menggelinjang merasakan ganjalan di mulut rahimku.
”Te-terus, Pakk! Oohh...” menarik nafas panjang, kucoba bertahan menahan
ganjalan tongkat yang kekerasan dan ukurannya lebih dari yang biasa
kurasakan.
Blesss! Dua pertiga lebih batang kemaluan Yesua sekarang masuk.
”Aduduh,” aku sedikit memekik sambil menahan perutnya, mencegah
hujaman lebih lanjut. Aku khawatir kebesaran penis itu tidak mampu kulayani.
”Bagaimana, mbak?” Yesua membiarkan sejenak kejantanannya di dalam,
menikmati kehangatan vaginaku yang terasa berkedut-kedut ringan.
”Hhhhh... sebentar, Pak. Sebentar...” aku menarik nafas dalam-dalam
menahan ganjalan besar di rahimku yang seolah-olah menyumbat jalan
pernafasan. Aku berjuang keras agar bisa menikmati permainan itu.
Yesua mengangguk mengerti.
”Ahhh...” aku menggelinjang saat merasakan batang kejantanan laki-laki itu
tiba-tiba bergerak seolah menyentak-nyentak liang vaginaku. ”A-apa yang bapak... lakukan?” tanyaku sambil merem melek keenakan.
Ternyata Yesua mulai mempraktekkan teknik kegelnya, yaitu
mendenyut-denyutkan batang kemaluannya tanpa menggerakkan badan, seperti
orang menahan kencing. Penis laki-laki itu menyentak-nyentak di lubang
kewanitaanku. Aku jadi makin tersengat lemah tak berdaya. Kuresapi
kenikmatan denyutan tongkat itu sambil kudekap tubuh kurus Yesua
sebagai pegangan.
”Bagaimana, mbak?” kembali dia bertanya.
”Ehm, iya... tekan lagi, Pak. Sudah lumayan enak sekarang.” sahutku pelan.
Yesua mematuhinya dengan kembali menekan penisnya pelan tapi kuat.
”Ugh. Iya gitu...” nafasku kembali tersedak. ”Terus, pak! Oohhh...” aku
mendesah. Tubuhku mulai mampu menerima tusukannya. Perlahan tapi pasti
birahiku yang sangat menuntut pelampiasan menjadikan kemaluanku mampu
meredam geliatan tongkat Yesua yang keras dan tajam itu.
Kini, penis itu sudah masuk seluruhnya. Aku menghela nafas lega,
sementara laki-laki tua itu tersenyum keenakan. Dia pun mulai mengayuh
perlahan-lahan. Tusukannya pelan tapi kuat. Tiap tiga genjotan, Yesua
seperti sengaja menekan agak kuat. Aku jadi tak tahan.
“Ohhh... sayang, tusuk lebih keras!” bibirku mulai ngaco menyuarakan
ledakan birahi. ”Hhhh.. ya begitu! Aduh! Aduduh!” rintihku saat Yesua
memenuhi permintaanku dengan mendorong batangnya keras-keras, membeset
dinding dan pangkal kemaluanku.
“Mbak tidak apa-apa?” tanyanya ketika aku agak terlonjak saat menerima
hujamannya yang kesekian kalinya. Seluruh tubuhku semakin bergelinjang
keras. Pinggulku mulai berusaha mengejar dengan liar kemana larinya
tongkat laki-laki itu.
”Sshhhhh... Sshhh...” aku mendesah keras, rasa ingin orgasme mulai
menjalari seluruh tubuh mulusku. Kepalaku terdongak, mataku terpejam,
sementara wajahku memerah semakin sayu. Nafasku yang berat sudah
terengah-engah. Mulutku terbuka lebar mencoba menggapai oksigen
sebanyak-banyaknya akibat jalan nafasku yang terasa tersumbat. Kedua
tanganku mencoba bertahan menggayut di leher laki-laki itu.
Yesua tersenyum. Tanpa perlu bekerja terlalu keras, dia sudah bisa
mengantarku mencapai titik akhir pendakian. Mendengar desahanku yang
semakin tak terkendali, tangan kanannya segera meraih bokongku dan membekapnya kuat-kuat.
”Mbak, oughhhh...” dia menghujamkan penisnya dalam-dalam.
”P-pak... aduh! Hhhhhh...!” aku cuma bisa melenguh menerimanya karena
pinggulku tak berdaya untuk melarikan diri. ”Pelan-pelan saja, Pak!
Oughhhhh...” Yesua kembali menusuk, kali ini lebih kerasl. Tangan
kanannya juga semakin erat mencengkeram bokong telanjangku.
”Agkhhhh...!” kepalaku sampai tersentak ke belakang, hampir saja
membentur batang pohon. Terasa bagian bawah tubuhku mengejang dan
menggelinjang. Cairan lendir menyemprot dari dalam liang senggamaku. Aku
melenguh, tapi Yesua tidak mempedulikannya. Dia terus menggenjot
tubuhku, bahkan semakin cepat. Juga dalam. Sampai rasanya mentok ke
dinding kemaluanku.
Aku menggelantung lunglai mendekap leher laki-laki tua yang tadi mengaku
impoten itu. Orgasmeku sudah berhenti mengalir, tapi Yesua terus
menghujam lorong kemaluanku. Dia terus mendorong dan menusuk sambil
berpegangan pada bongkahan payudaraku yang bulat dan sekal. Aku jadi
merasa lemas. Tubuhku seperti tidak bertenaga lagi, sementara
pikiranku terbang ke awang-awang menjemput kepuasan birahi. Aku lupa
diri!
Yesua tersenyum puas memandangi wajahku yang kuyu memelas. Aku
mengernyitkan mata dan mendesah keras setiap kali hujaman penisnya
menusuk keras. Laki-laki itu terus mengayuh perlahan namun penuh tenaga.
“Ohhh.. Pak! Oohhh... sudah, Pak! Oghhhhhh...!” aku menceracau lepas
kendali, tersiksa oleh deraan kenikmatan yang kembali dan kembali
menghempas tubuhku. Lenganku sebisa mungkin bergelayut di leher Yesua
agar tidak jatuh. Dia berhasil memaksaku kembali merasakan gairah.
Yesua membantu dengan memeluk tubuh sintalku. Tangan kirinya membelit
dari pundak menyilang ke ketiakku, sementara tangan kanannya kembali
mencengkeram pantat telanjangku, menahannya agar tidak merosot jatuh.
Kuku jarinya setengah dicakarkan ke belahan pantatku yang sudah sedemian
panas membara. Beruntung tongkatnya yang sedemikian keras mengganjal
kuat, membantu tubuh mungilku agar tidak merosot.
Yesua menunduk dan menggigit lembut bibir tipisku. ”Pak, oghhhh...
mmphhhh!!” aku spontan bereaksi membalas ganas sentuhan bibir pria itu
dengan mengulum dan menghisapnya kuat, mengemot mulut yang bau tembakau
itu dengan penuh semangat. Lidahku menjelajah kemana- mana hingga
sejenak aku lupa kalau di kemaluanku masih ada tongkat kerasnya yang
mengganjal.
”Mbak, mmpmhhh...” Yesua membalas kulumanku yang penuh gairah dengan menjulurkan lidahnya dan mengemot mulutku semesra mungkin.
”Oh, orang tua ini... nikmat juga ciumannya,” benakku menerawang meresapi kemesraan yang kuperoleh.
Yesua kembali menunjukkan nafsunya dengan mengulum lebih keras,
seraya mendekap tubuh dan bokongku yang bulat. Aku jadi makin terlena
oleh kemesraannya. Panasnya birahi membara yang tadi sempat terputus
dengan Kibo seolah-olah mendapatkan pelampiasan. Hasratku bagai disirami
air sejuk kemesraan oleh dekapan dan ciuman panas Yesua, orang tua
kurus yang seumuran dengan ayahku.
Aku jadi lupa segalanya hingga tak sadar kalau laki-laki itu ternyata
sudah orgasme di dalam kemaluanku. Air maninya yang kental moncrot
memenuhi liang rahimku.
”Ahhh...” aku shok merasakan lubang vaginaku yang jadi basah membanjir.
Dengan wajah sayu aku membuka mata dan memandang wajah Yesua
yang tengah memancarkan paras penuh penyesalan.
”Maafkan saya, mbak. Saya sudah nggak kuat menahan.” ucap laki-laki itu.
Seharusnya dia menumpahkan spermanya di mulutku untuk menghilangkan
teluh, bukan malah di dalam vagina seperti sekarang ini.
”Terus bagaimana sekarang, Pak?” aku jadi bingung.
”Emmm... ya mbak harus bersetubuh lagi dengan laki-laki lain. Kita
barusan sama saja dengan mencemari pohon ini. Mbak sekarang dilaknat
dobel.” terangnya.
”Ahh, aku tidak mau!” gila apa? Masa harus main seks lagi? Aku sudah
capek. Vaginaku sudah panas. ”Ini kan karena kesalahan bapak!” kutatap
tajam matanya.
”Iya, mbak. Bapak minta maaf. Tapi mau bagaimana lagi, kita sudah telanjur melakukannya.”
Perasaanku campur aduk, antara bingung dan marah. “Tidak! Pokoknya bapak yang harus bertanggung jawab!” aku berteriak frustasi.
Yesua mengambil celana dan mengenakannya. “Saya pasti bertanggung jawab,
mbak. Tunggu disini, saya panggilkan teman-teman saya untuk membantu
mbak meluruhkan kutukan itu.”
“Eh, pak, tunggu..” dan sebelum aku sempat mencegah, laki-laki itu sudah
bergegas pergi. Meninggalkanku sendirian meratapi nasib. Haruskah aku
melayani 2 orang lagi untuk menghilangkan kutukan itu? Apakah itu
sepadan?