Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya, kenapa ketika aku sedang ML, selalu ada Fanny (anakku-pen)? Pertanyaan itu akan aku jawab dengan sebuah cerita pendek, semasa aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Dan aku akan bercerita sepolos mungkin (seperti anak kecil), supaya anda-anda yang membacanya, mengerti suasana dan cara berfikirku pada saat itu.
Walaupun masih kelas 2 SMP, bentuk tubuhku sudah seperti postur tubuh gadis umur 17/18 tahun. Walaupun belum besar dan kencang seperti sekarang, tapi payudaraku sudah tumbuh melebihi anak perempuan seusiaku. Bahkan tak jarang, teman-teman lelakiku berusaha untuk meremas atau paling tidak berusaha untuk memegang payudaraku ini. Ini tak lepas dari partisipasi ibuku dalam membentuk aku. Ibu selalu mengajarkan aku untuk menjaga badan. Ibuku saja, pada saat itu, badannya masih kayak orang belum kawin. Buah dadanya besar dan kencang, pantatnya bulat dan montok, tapi pinggangnya langsing. Dan ibu selalu mengajakku ketika ia sedang dandan, dan akupun mulai belajar berdandan dan merapihkan diri. Ibu juga mengajari aku cara merapihkan bulu-bulu yang ada di sekitar kemaluanku. Ibu tidak malu untuk memperlihatkan memeknya sendiri yang masih terlihat rapat, dalam rangka memberikan pelajaran untukku.
Terkadang, ketika sedang jalan atau belanja ke pasar, ibu sering di godain oleh laki-laki. Tapi ibu selalu senyum dan bilang begini; “Lihat Mi,… semua laki-laki pada ngeliatin pantat sama tetek ibu. Mereka cuma bisa lihat, tapi gak bisa nyentuh, boro-boro ngeremes-remes… kasihan ya…?! Dan ibu yakin, mereka pasti pada ngebayangin buat nyobain memek ibu… ” Tapi memang, ibuku yang cantik dan sexy ini selalu menjadi pusat perhatian. Dan ibu pun seolah selalu ingin memamerkan keindahan tubuhnya. Ibu nggak pernah malu untuk berpakaian, mulai dari celana jeans ketat, rok mini (yang pendek banget), sampai baju-baju yang agak terbuka. Kalau di rumah,… jangan ditanya…. Dia selalu memakai celana pendeknya yang super pendek dan ketat dan gak pernah pakai celana dalam dan bh. Bahkan katanya, kalau di rumah nggak ada orang, dia pasti telanjang bulat (hihihi… nggak ibu, nggak anak…. Sama aja!).
Pernah ada satu kejadian. Waktu itu, aku dan ibu sedang jalan-jalan ke Aldiron di Blok M. Saat itu, kami sedang makan di sebuah rumah makan. Aku sedang duduk-duduk sambil menunggu pesanan, dan ibu sedang ke kamar kecil. Tiba-tiba, ada seorang laki-laki yang mendatangi aku dan bertanya; “Nak, perempuan seksi tadi itu ibu kamu ya?” tanya laki-laki itu. “Iya!” jawabku. Lalu ia bertanya lagi, “Bilang sama ibunya ya… tanyain, Om boleh kenalan nggak?”, lalu dia balik ke kursinya sendiri. Ketika ibu balik dari kamar kecil, aku menyampaikan pesan orang tadi. Lalu ibu melihat ke arahnya dan tersenyum, lalu menghampirinya.
Singkat cerita, 1 jam kemudian kami sudah belanja-belanja bertiga; aku, ibu dan laki-laki tadi (namanya Om Rahmat). Sepulangnya dari Blok M, kami diajak mampir kerumahnya Om Rahmat. Kami disana dari jam 1 siang, sampai jam ½ 1 pagi. Aku disuguhin apa aja yang aku mau. Di situ cuma ada Om Rahmat saja, nggak ada siapa-siapa lagi. Aku cuma nonton video atau main nintendo (katanya punya anaknya Om Rahmat). Ibu dan Om Rahmat ngobrol-ngobrol di kamarnya Om Rahmat di atas, sementara aku di bawah, dan mereka nggak pernah keluar kamar.
Aku cuma ngeliat ibu turun 3 kali, katanya mau ke kamar mandi. Waktu turun yang pertama, dia pake handuk… yang kedua, cuma pakai celana dalam doang… terus yang ketiga (aku sempat ketawa sih melihat ibu dan Om Rahmat… mereka telanjang bulat!), ibu digendong depan sama Om Rahmat. Mereka seolah-olah gak merhatiin aku yang ketawa cekikikan. Sementara ibu, sambil di gendong ke kamar mandi, menggoyangkan pinggulnya naik-turun kadang-kadang maju mundur.
Aku sempet tanya, tapi kata ibu, dia dan Om Rahmat sedang senam dan main dokter-dokteran. Pas pulang, kami dianterin sampai depan gang dekat rumah. Sebelum turun mobil, ibu sempat dicium sama Om Rahmat di bibirnya, laaammmaaa banget…! Terus, tangannya Om Rahmat ngeremes-remes dadanya ibu, dan ibu merogohkan tangannya ke dalam celana pendeknya Om Rahmat, seperti sedang menggenggam sesuatu. Setelah selesai, kamipun turun mobil dan pulang.
Pas lagi jalan mau kerumah, ibu ngomong begini; “Mia, nanti nggak usah bilang ke ayah, kita darimana. Nanti ayahmu jantungan… bilang aja kita kemaleman di jalan, soalnya kena macet!” Aku hanya menganggukkan kepala, mengiyakan perintah ibu. Dan kejadian itu nggak cuma sekali-dua kali… tapi sering sekali, dan nggak cuma sama Om Rahmat, tapi juga sama beberapa pria yang aku lupa namanya.Tapi yang jelas, pada saat itu aku merasa bangga sekali punya ibu yang cantik, sexy, selalu jadi pusat perhatian dan baik sama orang (soalnya waktu itu, ibu bilang kalo’ ibu ngasih les senam ke semua pria yang aku lihat). O iya… nama ibuku Mirna.
Suatu hari, ayah sedang tugas luar kota selama 2 minggu. Ketika berangkat ke bandara, ibu ikut mengantarkan ayah. Sepulangnya dari bandara, ibu diantarkan pulang oleh (katanya) salah seorang teman kantor ayah (belakangan hari aku baru tau kalau ibu dan orang ini baru kenalan di bandara). Namanya Om Doni. Dia sempat ngobrol sebentar sama ibu, terus dia langsung pulang. Setelah ganti baju, ibu bilang kalo’ Om Doni mengajak ibu nonton bioskop dan makan malam. Aku disuruh jaga rumah sendiri… karena memang, aku ini adalah anak tunggal. Ketika aku dan ibu baru selesai shalat magrib, Om Doni datang menjemput ibu. Setelah ganti baju dan sedikit berdandan, mereka pun berangkat. Mereka pulang sekitar jam 12 malam. Ibu bilang, Om Doni mau nginep dirumah, soalnya ibu takut tidur sendiri. Jadinya, nanti Om doni tidur dikamar Ibu. Karena besok harus masuk pagi, aku pamit tidur sama ibu (yang sedang melepas bra di kamarnya) dan Om Doni (yang lagi duduk dipinggiran tempat tidur, dan sedang melepas celana dalamnya).
Aku terbangun. Aku lihat jam… jam 2 pagi. Aku mendengar ada suara orang ngobrol dan tertawa dari arah kamar mandi. Suaranya sih suara ibu dan Om Doni. Untuk memastikan, aku bangun dan berjalan pelan-pelan ke kamarnya ibu. Kamarnya ibu berantakan banget! Di lantai, ada baju dan celana dalam ibu, juga baju dan celana dalam laki-laki (mungkin punya Om Doni). Tempat tidur berantakan, dan di seprei ada cairan putih yang banyak sekali. Setelah kusentuh, cairan itu ternyata lengket banget. Pada saat itu, aku penasaran… ini apa ya? Lalu aku balik ke kamarku dan pura-pura tidur. Di luar, aku mendengar ibu dan Om Doni balik ke kamar sambil tertawa tertahan. Setelah aku pastikan mereka sudah ada di dalam kamar, aku bangun lagi dan berjalan pelan-pelan ke kamarnya ibu. Rupanya, pintunya nggak dikunci. Aku buka pelan-pelan dan aku mengintip ke dalam.
Didalam kamar, aku melihat seprei yang tadi sudah berada di lantai. Aku mendengarkan pembicaraan mereka;
“Makanya… kalo’ aku bilang keluarin di dalem… keluarin aja!” kata ibu.
“Aku nggak enak sama kamu…” sahut Om Doni, “ kalo’ jadi,… gimana?”
“Kan aku sudah bilang… aku selalu minum pil! Kamunya aja…. Dan kalaupun toh jadi, berarti Mia punya adik dan kita punya anak… iya kan? Pusing-pusing amat.
Pokoknya, manfaatin memekku sebaik-baiknya… mumpung masih punya kamu. Nanti kalau suatu saat di pake orang, kamu nyesel lho! Mau coli lagi?”
“Ya sudah… nanti babak ke 2, aku buangnya di dalem! Setuju?”
“OK! Gitu dong..” kata ibu.
Mereka ngobrol dengan suasana dan kondisi yang aneh sekali. Mereka berdua telanjang bulat, terus ibu duduk mengangkang diatas Om Doni yang tidur terlentang. Setelah itu, aku melihat ibu berputar dan membungkuk di bawah Om Doni sambil mengemut sesuatu yang panjang dan besar. Yang kalau di buku biologi, namanya pen|s. Ibu ngapain ya?
Karena pintu kamar ibu langsung menghadap tempat tidur dari samping, maka akupun dapat dengan jelas melihat semua kegiatan mereka. Setelah ibu selesai mengemut, sekarang posisinya gantian, Om Doni menjilati selangkangannya ibu sambil meremas-remas dadanya. Posisinya ibu, dia terlentang, dan pahanya dibuka lebar-lebar. Terkadang, Om Doni menyelipkan jarinya ke arah selangkangan ibu. Tapi kalo’ aku lihat, ibu sepertinya keenakkan, walaupun terkadang ia menjerit kecil. Tapi desahannya membuat jantungku deg-degan. Setelah mendengar ibu teriak tertahan, aku melihat Om Doni memasukkan penisnya ke dalam vaginanya ibu.
Sambil berlutut, Om Doni bergerak maju mundur. Ibu dan Om Doni sama-sama mendesah keenakkan. Om Doni bergerak makin cepat, sementara tangannya memegangi lutut ibu… lalu Om Doni berhenti. Pelan-pelan, ia mengeluarkan penisnya lalu mengocoknya dengan tangan. Aku melihat ibu bergerak perlahan. Sambil mengelus vaginanya, ia bangun dan membuat gerakan menungging, membelakangi Om Doni. Setelah itu, Om Doni memasukkan lagi penisnya ke dalan vaginanya ibu. Pinggangnya ibu di pegang oleh Om Doni, lalu ia kembali membuat gerakan maju mundur, kadang cepat, kadang pelan. Aku juga melihat dadanya ibu bergoyang kencang sekali.
Sekitar 10 menit kemudian, Om Doni berhenti, lalu tiduran terlentang. Penisnya yang besar dan panjang itu, di pegang sama ibu… terus ia memasukkannya sendiri kedalam vaginanya. Ibu sekarang duduk berlutut diatas Om Doni. Sementara penisnya, menancap di vaginanya ibu. Aku melihat tangannya ibu diatas dada ‘teman ayah’ itu. Aku berfikir, mungkin untuk menyangga badannya yang agak condong ke depan supaya tidak jatuh, karena pada saat yang bersamaan, ibu menggoyangkan pinggulnya maju-mundur, turun naik, dan kadang di putar-putar. Nggak lama setelah itu, ibu menjatuhkan dirinya di di dada Om Doni, lalu diam tak bergerak. Desahan dan erangan ibu semakin keras, ketika Om Doni meremas kedua belahan pantat ibu sambil menusuk-nusukkan penisnya terus menerus ke dalam vag|na ibu. pen|s Om Doni yang besar itu terlihat basah sekali, ketika ia bergerak makin cepat dan ibu berteriak tertahan. Di tengah desahan, erangan dan teriakan tertahannya, tiba-tiba aku mendengar ibu ngomong; “Aku dapet… aku dapet!!! Kamu hebat..!!” Pada saat itu, aku bingung mendengarnya, dapet? Dapet apaan? Gak lama kemudian, aku juga mendengar Om Doni ngomong; “Mir… aku mau keluar! Memekmu siap nerima ya…..”
Setelah itu, sambil masih berpelukan, ibu dan Om Doni berputar. Sekarang ibu dibawah. Aku melihat kedua kakinya dilingkarkan di pantat Om Doni, seakan-akan sedang menekan dan menariknya, sementara tangannya dilingkarkan di leher Om Doni. Tak lama, aku mendengar Om Doni dan ibu berteriak pelan “Aacchhhh….!!!” Dengan nada puas. Setelah menekan-nekankan pantatnya 3 kali, Om Doni bangun dan mencabut penisnya. Lalu ia menggenggam dan mengocokkannya di depan mulut ibu yang membuka. Ada cairan putih yang keluar dari pen|s Om Doni. Ibu menelan cairan itu, lalu kembali menghisap-hisap pen|s Om Doni yang berlutut sambil mengangkang diatas mulutnya. Om Doni tersenyum puas, sambil melihat ibu yang bernafsu sekali menjilati penisnya, aku mendengarnya berkata; “Dasar kamu, udah nerima di dalem… masih aja pingin dapetin peju sisa…” Lalu mereka berdua tertawa.
Mereka sepertinya mau bangun. Aku langsung buru-buru ke kamar. Aku mendengar mereka berjalan ke kamar mandi. 5 menit kemudian, mereka balik ke kamar dan mengobrol. Karena kamar ibu bersebelahan dengan kamarku, otomatis aku mendengar obrolan mereka.
“Sumpah!!” kata ibu, “yang kedua tadi enak banget!”
“Iya… kayaknya, pejuku keluar banyak banget deh!” timpal Om Doni, “soalnya, yang kamu telen aja udah sisa!”
“Emang… banyak banget! Sampe netes dari memekku!”
“Iyalah…!!! Pejuku banyak… memekmu sempit… mana muat nampung?!”
“Itulah gunanya jaga badan…” kata ibu, “biar anak sudah SMP, badan harus tetap sexy, dada harus tetap kencang. Dan yang penting,… memek harus tetep sempit, supaya yang nyobain, nggak kecewa. Kayak perawan kan?”
“Itu yang aku suka… padahal sempit ya… kok kontolku bisa masuk semua?”
“Mirnaaa…..!” sahut ibu bangga, “padahal…. dari beberapa peler yang pernah masuk ke memekku, punyamu yang paling besar dan panjang lho! Punya suamiku aja kalah!! Ditambah,… pejumu gurih banget! Sampe ketagihan, aku!”
Sebenarnya, aku bingung mendengar pembicaraan mereka. Peju, Kontol, peler, memek… itu apaan sih? Dan aku bertekad untuk menyakan itu semua ke ibu besok pagi! Tapi dibalik itu, aku senang punya ibu seperti itu. Tubuh dan semua anggotanya selalu digunakan untuk menyenangkan hati banyak orang. Akhirnya… akupun mengantuk. Tapi sebelum benar-benar tertidur, aku mendengar ibu berkata; “Babak ketiga mulai… teng!” Lalu Om Doni, “Kontolnya Doni melawan memeknya Mirna!!”
Dan mereka berdua tertawa tertahan.
Esok paginya, ketika aku mau berangkat sekolah, aku melihat ibu dan Om Doni masih tidur di kamarnya ibu. Mereka masih telanjang. Tapi aku nekat pamit juga.
“Bu… Om Doni… Mia berangkat sekolah dulu ya…”
Tapi yang bangun malah Om Doni, sementara ibu masih tidur. Setelah ngucek-ngucek matanya, Om Doni berdiri dan menghampiriku.
“Mia mau berangkat ya?” katanya sambil menggosok-gosok penisnya.
“Iya Om…” jawabku.
“Sudah punya ongkos belum?” tanyanya.
“Belum Om…!”
“Mau Om kasih gak?”
“Mmm… mau!” jawabku polos.
“Tapi temenin Om dulu ke kamar mandi ya?” ajaknya lagi sambil tersenyum. Lalu aku digandeng Om Doni ke kamar mandi.
Setelah sampai kamar mandi, Om Doni memintaku untuk melepas baju seragamku. Aku yang gak ngerti apa maksudnya, segera melepas satu per satu seragamku dan dalemanku, sampai aku telanjang bulat.
“Wah… Mia teteknya gede juga ya?” kata Om Doni sambil meremas kedua buah dadaku.
“Iya Om…!” jawabku malu-malu.
“Mia kelas berapa sih?”
“Kelas 2 SMP, Om…”
“Mia mau bantu Om gak? Nanti Om kasih duit… Mau?”
“Bantu apa Om?”
“Mmmhh… di sininya Om ada yang mau keluar. Tapi gak bisa sendiri, harus dibantuin. Tadi malam aja ibumu bantuin ngeluarin… Mia mau ya?” pinta Om Doni sambil mengocok-ngocok penisnya yang kian membesar dan memanjang itu.
“Caranya gimana Om??” tanyaku.
“Kayak ibu aja…!”
“Gimana?”
“Tapi kalau sama ibumu, kontolnya Om harus dimasukin kesininya ibu!” katanya sambil mengelus memekku yang belum berbulu lebat itu. “Tapi kalo kamu,… mmhh… dihisap aja ya…”
“Caranya gimana Om?”
Lalu Om Doni mengajarkan aku cara menghisap penisnya. Setelah merasa bisa sendiri, aku lalu berlutut sambil mengemut dan menghisap pen|s Om Doni. Lama sekali… sementara Om Doni mengelus-elus rambutku. Setelah itu, dia duduk di toilet, dan aku kembali menghisap penisnya.
Ketika aku mulai menikmati enaknya ngisepin Kontol, tiba-tiba ibu masuk ke kamar mandi.
“Heh… pada ngapain ini? Mia… kamu gak sekolah?” tanya ibu.
Aku segera melepas Kontol Om Doni dari mulutku, setengah bingung…. Setengah panik… “Eee… mmmhh…!!??”
Tapi Om Doni, dengan tenangnya, menjelaskan keadaan ini pada ibu. Ternyata ibu nggak marah, malah dia mengajarkanku cara menghisap yang baik dan benar. Rupanya, ibu merasa aku sudah besar, dan boleh melakukan hal ini. Akhirnya, aku dan ibu bergantian menghisap Kontol Om Doni… sampai akhirnya Om Doni bilang, kalau dia mau ‘keluar’. “Apa yang mau keluar Om?” tanyaku.
Tapi Om Doni tidak menjawab, dia malah merem melek sambil menyuruh ibu mendudukinya. Lalu ibu segera memasukkan Kontol Om Doni kedalam memeknya, dengan posisi membelakangi Om Doni. Lalu ibu mulai bergerak naik turun. Gak lama kemudian, Om Doni bilang kalo ‘peju’nya dah sampai di ujung. “Peju apaan sih?” pikirku.
Lalu ibu melepas Kontol Om Doni, dan mengocoknya dengan tangan. Tak lama kemudian, diiringi dengan desahan dari Om Doni, ada cairan putih yang banyak banget dan kelihatannya kental banget, keluar dari ujung pen|s Om Doni. Setelah keluar semua, ibu menjilati tangannya yang berlumuran cairan itu. Nikmat sekali kelihatannya. Rupanya ibu memperhatikan sikapku.
“Mia mau coba?” tanyanya.
Aku yang penasaran, segera mengiyakan saja pertanyaan ibu. Pertama kali lidahku menyentuh cairan itu, ada rasa asin, tapi gurih sekali. “Ini namanya apaan sih Om?” tanyaku pada Om Doni. Tapi yang menjawab malah ibu, “Itu namanya peju, Mi… enak gak?”
“Enak!” jawabku. Akhirnya, aku dan ibu bergantian menjilati peju Om Doni…. Sampai bersih! Dan hari itu aku nggak masuk sekolah. Seharian itu, aku, Ibu dan Om Doni telanjang bulat dan saling bersetubuh. Aku (dengan izin ibu), merelakan keperawananku diambil Om Doni. Tapi aku nggak nyesel. Soalnya, biarpun awalnya agak perih, tapi kesana-sananya, aku merasa keenakkan sendiri, sampai nambah 2 kali. Ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Sementara Om Doni memuji betapa sempitnya memekku. Aku bangga sekali bisa membantu mengeluarkan peju Om Doni. Ketika Om Doni mau pulang sore itu, ibu berkata pada Om Doni… “Enak banget kamu Don… udah nggasak memek ibunya, eh… keperawanan anaknya diambil juga…!!”
“Mumpung ada momen!” kata Om Doni. Setelah itu Om Doni pulang.
Itulah sekelumit kisah masa kecilku.
Bersambung...