“PLUK…PLUK…PLUK” suara lembut tetesan air yang jatuh dari ujung mulut keran ke dalam bak mandi.
“TENG…TENG…TENG” dentang jam terdengar nyaring sebanyak sepuluh kali.
Hari ini, langit terlihat jauh lebih bening daripada biasanya, membuat
matahari bersinar dengan teriknya. Beberapa awan kecil dengan malu-malu
melayang lucu, ditemani layang-layang yang berjoget riang.
“Benar-benar pagi yang sempurna” kulihat bayangan senyum bibirku terpantul dari peralatan masak yang tergantung rapi di dinding.
Pandanganku menebus beningnya kaca nako jendela dapur. Kutatap bak cuci
pecah yang bertengger manis di sudut dinding belakang rumahku,
bersebelahan dengan 2 buah bak cuci baru berwarna merah tua. Senyumku
semakin mengembang lebar jika mengingat kejadian konyol beberapa waktu
lalu. Kejadian dimana awal perkenalan, pertemanan, dan perselingkuhan
dengan tetanggaku dimulai. Semua gara-gara bak cuci yang pecah. Entah
kenapa akhir-akhir ini, hari terasa begitu cepat berlalu. Siang datang
dengan tiba-tiba, dan tak lama kemudian, malam pun menampakkan
keanggunannya. Semua hari seolah berlomba-lomba untuk mengabsenkan
dirinya. Kulihat kembali bayangan seksi diriku terpantul dari peralatan
masak yang tergantung rapi di dinding. Kuputar-putar pinggangku, mencoba
melihat kemolekan lekuk tubuhku sendiri.
“Ternyata badanku masih tampak sangat seksi” Batinku. “Nggak kalah lah dengan badan muda anak-anak SMA” kembali aku tersenyum.
Dengan proporsi 165cm/50 kg, tubuhku terlihat begitu semok. Ditunjang
kulit putih tak berbulu, kaki jenjang panjang, pantat bulat, dan
payudara 36C yang besar membusung, aku yakin mampu membuat mata para
pemuda serasa mau loncat dari kelopaknya jika melihatku dalam kondisi
bugil seperti ini. Kuraih celemek kecil yang tergantung di sisi pintu
dapur, dan langsung kukenakan guna menutupi tubuh polosku. Kupecahkan
sebuah cangkang telor ayam dengan sudip. Cairan bening lengket beserta
gumpalan bulat bewarna kuning meluncur turun dengan manjanya. Mendarat
di atas besi licin, dan langsung mendidih kepanasan.
“SREEEENNGG”. Dua kali kulakukan hal yang serupa. Jemariku bergerak
lincah, mengambil sejumput garam, dan menaburkannya diatas genangan
telor yang bergejolak. Tak lama, aroma wangi makanan memenuhi dapur
kecil ini, membuat perut yang lapar semakin meraung-raung.
Kubiarkan beberapa saat, sampai tiba waktunya 2 telor itu pindah dari
panasnya besi penggorengan ke atas nasi merah yang masih mengepulkan
asap. Telor itu tersenyum manis kearahku dan kemudian terlentang dengan
genitnya. Tak lama, kubawa sajian pagiku ke kamar tidur. Kondisi kamar
tidur terlihat begitu berantakan. Sebagian bantal dan guling beserta
selimut telah jatuh ke lantai. Kain sprei tertarik kesana kemari, tak
mampu lagi membungkus kasur dengan sempurna. Gumpalan kertas tissue yang
basah tercampur sperma berserakan dimana-mana. Kaos, rok, kolor,
sarung, celana dalam dan bra, teronggok di hampir setiap sudut ruangan.
Benar-benar berantakan. Kusapu seluruh sudut kamar tidur mas Manto
dengan mataku. Aku baru sadar, jika sebenarnya udara dalam kamar ini
benar-benar pengap. Gelap, panas, dan berbau amis. Walau kipas angin
yang berada di sudut ruangan telah disetel semaksimal mungkin, namun,
angin yang dihembuskannya masih terasa panas dan lengket. Kubuka tirai
dan jendela kamar tidur mas Manto membiarkan udara pengap dalam kamar
ini tergantikan oleh udara baru yang segar. Kilau sinar matahari
langsung membutakan mataku, terang sekali. Karena terbiasa dengan
kondisi temaram kamar mas Manto beberapa saat tadi, perlu sedikit waktu
bagi mataku untuk dapat beradaptasi dengan terangnya pagi itu. Hembusan
segarnya udara pagi langsung menyapa wajahku. Kuhirup dalam-dalam dan
kubiarkan jendela kamar tidur itu terbuka lebar-lebar.
“Ini sarapan paginya mas”
Kuletakkan nampan berisikan nasi goreng telor setengah matang, air putih
dan kopi pahit kegemaran suamiku di meja rias yang ada di sudut kamar
tidur. Aku duduk ditepi tempat tidur, di samping kanan tubuhnya yang
masih polos tanpa mengenakan sehelai pakaian pun. Ia menatapku
dalam-dalam sambil tersenyum. Tangan kirinya diletakkan dibelakang
kepala tuk dijadikan bantal. Dan tangan kanannya selalu dalam kondisi
siaga, mengurut penisnya yang mulai kembali tegang secara perlahan.
Kukecup pelan pipinya dan kupeluk perlahan tubuh kekarnya. Dadanya yang
bidang terlihat sudah bergerak normal, naik dan turun dengan teratur.
Begitu pula dengan hembusan nafasnya yang sekarang terlihat begitu
tenang. Dengan sigap, ia segera bangkit dari posisi tidurnya dan
bergeser ke kiri, mempersilakan aku untuk semakin mendekat ke arahnya.
Punggung lebarnya disandarkan ke kepala ranjang.
“Makasih dek” suamiku tersenyum dan mengecup keningku ”Kamu baik
banget...setiap pagi selalu menyediakan ‘sarapan’ paling enak
sedunia...bahkan mungkin sarapan yang paling enak se-jagat raya”
“Aaaah mas bisa aja...khan memang ini tugas seorang istri mas” kukecup
dada bidang suamiku dan kukenyot puting yang berwarna hitam itu “Untuk
selalu bisa memuaskan lelaki pilihannya...lahir dan batin”
“Kamu memang bidadari dek” ditariknya kedua pundakku maju kearahnya dan
dipeluknya erat-erat. Sangat erat sampai aku merasakan sedikit kesakitan
pada kedua payudaraku yang tertekan ke dada bidang suamiku. Dielusnya
belakang kepalaku sambil mengusap-usap punggung putihku dengan tangannya
yang kasar. “Aku sayang kamu dek”
“Hmmm...udah udah...nih dimakan makanannya…ntar keburu dingin” aku
berusaha melapaskan diri dari pelukan suamiku. Sekuat tenaga kudorong
tubuhnya, tapi sia-sia, ia begitu kuat. “Udah ah mas…nie adek mo ngambil
makanannya dulu”
Sambil tersenyum, ia akhirnya mengendurkan pelukannya.
Namun ketika aku membalikkan badan dan beranjak mengambil makanan di
meja di sudut kamar, kembali suamiku menarik pinggangku yang kecil dan
memelukku dari belakang. Tak lama kedua tangannya mulai jahil, menelusup
dari sisi-sisi celemek dan meremas payudaraku yang bergelantungan bebas
“Bentaran ah dek...mas masih kangen kamu”
“Shhh...Aduuuuhhhh...udahan donk mas…sarapan dulu”
“Tapi mas nggak kepingin makan sarapannya dek” diremasnya kedua
payudaraku lagi dan mulai mempermainkan putingku yang mulai tinggi
mencuat “Mas kepingin makan kamu”
“Aduh...khan baru 20 menit tadi mas makan adek…masa mau nambah lagi?”
“Hahahaha” tawanya lantang “Kalo makan kamu mah mas nggak bakalan kenyang dek”
“Ssssshhh” Erangku mulai terhanyut arus birahi ”Iya deh iya...ntar adek kasih lagi...tapi shhhh…sekarang mas makan dulu yak”
Seperti keasyikan bermain balon berisi air, diguncang-guncangkannya
payudaraku sembari mengecup tengkukku. Membuatku semakin merinding
mendapat perlakuan seperti itu.
“Makasie ya dek Lianiku sayang” masing-masing payudaraku ditarik
jauh-jauh kearah samping dan diplintirnya puting payudaraku keras-keras .
“Mas sayang banget ma kamu”
“Aawwwhhh...aduh...mas Manto tega deh” kutampikkan kedua tangan nakalnya
keras-keras, mengusirnya supaya tak menggoda putting dan payudaraku
lagi. “Khan sakit” kataku sambil mengernyitkan hidungku kearahnya, lalu
beranjak bangun.
Kuambil nasi goreng yang ada di atas meja rias mbak Narti dan kuserahkan
kepada mas Mantoku. Diambilnya piring nasi goreng itu dengan satu
tangannya, lalu ia kembali duduk sambil menyandarkan punggungnya di
kepala tempat tidur. Ia hanya tersenyum lalu tertawa lantang. Dan sekali
lagi, aku terbuai oleh senyum yang menawan. Tak terasa,
perselingkuhanku dengan mas Manto telah memasuki bulan kedua. Dan selama
itu pula aku merasakan bagaimana indahnya hidup. Bukannya aku tak
mensyukuri akan apa yang telah diberikan oleh mas Andri, suamiku asliku,
namun jika bersama mas Manto, aku merasakan bagaimana rasanya menjadi
wanita yang sebenarnya. Karena dari mas Manto, aku bisa mendapatkan
kepuasan yang tak pernah aku dapatkan dari mas Andri. Kepuasan lahiriah
sebagai seorang wanita. “Kenikmatan ketika mendapatkan ORGASME,
benar-benar tak terkatakan” Semenjak tragedi pecahnya bak cuciku
beberapa waktu lalu, aku menjadi seolah terhipnotis untuk menjadi istri
kedua mas Manto. Menjadi budak pelampiasan nafsu binatang suami mbak
Narti, tetangga sebelah rumah kontrakanku.
Peranku sebagai istri mas Manto berlaku semenjak mas Andri berangkat
kerja di pagi hari sampai ia pulang di sore harinya. Semenjak saat itu
pula, aku jadi sering menginap dirumah mas Manto ketika siang. Setelah
istri mas Manto berangkat kerja juga tentunya. Mungkin karena jadwal mas
Andri dan mbak Narti yang terlalu mudah diprediksi, kami menjadi
benar-benar merasa tenang dengan perselingkuhan yang terjadi selama ini.
Pagi hari sekitar pukul 8, suamiku berangkat ke kantor. Tak lama,
sekitar 30 menit kemudian, mbak Narti juga kepasar untuk bekerja di
toko. Sore harinya, mbak narti pulang lebih dahulu, sekitar pukul 6
sore. Dan suamiku, juga baru sampai rumah sekitar pukul 8 malam.
Otomatis dari pukul 9 pagi sampai 5 sore, tak ada lagi pasangan
masing-masing yang bakal memergoki kami berdua untuk berbuat mesum.
Sehingga ada sekitar 8 jam waktu untuk kami berdua guna menikmati
perzinahan ini.
“Enak bener dek masakanmu...sempurna” katanya memuji masakanku sambil tersenyum lebar.
“Siapa dulu donk istrinya…??” kataku sambil berkacak pinggang dan
menepuk-nepukkan tanganku di payudaraku. “Liani...sang istri super”
“Haahahahaha...mas bangga dek bisa mendapatkan kesempatan untuk menjadi suamimu”
“Bangga sih boleh bangga...tapi mbok ya kontolnya diajarin supaya
sedikit hormat“ kataku sambil menunjukkan daguku kearah kemaluan mas
Manto yang telah berdiri tegang dengan sempurna ”Kok kayaknya nantangin
gitu”
Liani yang kalem, sopan dan berperilaku terpelajar berubah menjadi Liani
yang liar, binal dan berlaku bak pelacur murahan. Kugeleng-gelengkan
kepalaku, takjub akan stamina penis mas Manto. Tak peduli sebanyak,
sebrutal dan secapek apapun persetubuhan yang telah kami lakukan, penis
itu dapat dengan mudah bangkit dari tidurnya. Tanpa banyak basa-basi,
segera saja aku loncat ke tengah-tengah kasur lalu kuraih batang berurat
yang tumbuh di selangkangan suami baruku itu. Kubuka paha dalam mas
Manto lebar-lebar dan mulai kukocok penis beruratnya perlahan.
“Bentar dek...bentar” mas Manto berusaha meletakkan piringnya dan
menjauhkan tanganku dari selangkangannya. Namun buru-buru aku cegah.
“MAKAN...!!!” Kubelalakkan kelopak mataku, dan kutatap mata mas Mantonya dalam-dalam.
“Ampuuunnnnn...iya deh...iya”
Denyutan batang penis mas Manto begitu hebat. Sampai aku bisa merasakan
kedutan aliran darahnya ketika melewati rongga urat-urat yang berwarna
hijau kehitaman. Ukuran penis mas Manto mirip tongkat kasti, begitu
besar dan panjang.
Sekilas jika aku bandingkan antara penis mas Manto dengan penis milik
suamiku, terlihat sungguh jauh berbeda. Panjang penis mas Andri hanya
sekitar 16 cm. Digenggam dengan dua kepalan tanganku pun, batang dan
kepala penis mas Andri sudah habis. Berbeda dengan penis mas Manto,
walau sudah dibungkus dengan dua kepalan tanganku, masih ada lebih dari
sepertiga bagian penisnya yang tersisa. Jengkalan tangankupun tak mampu
untuk menyamai panjang batang penisnya. Belum lagi dengan diameternya.
Jika diameter batang penis mas Andri mampu aku genggam penuh dengan
mudah, tak begitu dengan batang penis mas Manto. Batang penis mas Manto
terlihat jauh lebih besar, bahkan saking besarnya, ketika kucengkeram,
hanya ujung ibu jariku yang mampu menyentuh ujung jari tengahku, tak
peduli sekeras apapun aku mencengkeram batang itu.
“Ampuuunnn deeekk”
Semakin cepat aku naik turunkan tanganku pada penis mas Manto, dan
semakin merah pula batang penis itu menderita. Sesekali, kepala penis
mas Manto aku cekik, sampai bagian kepala penisnya menggelembung besar,
penuh dengan darah berwarna merah kehitaman. Sesekali pula aku gigit
keras-keras batang penisnya, sampai membekas cetakan gigiku. Berderet
merah bak jahitan kemeja kerjanya.
“HAP…sluuurrrrpp” kumasukkan batang penisnya kemulutku.
Sesaat, tercium aroma pesing selangkangan yang langsung menusuk
hidungku. Tak mau ketinggalan, aroma anyir sisa-sisa sperma juga kembali
aku rasakan menjalar keseluruh bagian lidahku. Kujilati semua permukaan
kulit penis yang bertonjolan urat-urat itu. Kukecup kepala penis mas
Manto yang semakin memerah dan kukelitik lubang kencingnya yang mulai
mengeluarkan air mani. Aku urut batang berurat itu dengan kencang dan
keras, berharap dari lubang kencingnya segera muncrat benih-benih
kejantanannya. Benih kehidupan yang tersimpan di kantung zakar hitamnya.
“Uuuuhhhhhh…Shhh” mas Manto memejamkan mata dan mendesah lirih, berusaha
menikmati jilatan brutal lidahku diantara sakitnya cengkeraman jemari
tanganku. “Ammpuun dek…ampuuunnn” katanya sambil berusaha meletakkan
piring makannya.
“Hiiiieeeemmmm hhaaajjaaa hhiiissiiihhuuu...(diem saja disitu)” perintahku tegas.
“Dek...bentar dek...mas naruh piring makan dulu ya” katanya sambil
memegang kepalaku, berusaha menjauhkan dari penisnya yang telah memerah
tegang.
“Mmmmhh bodo” jawabku enteng. Kulepaskan batang mas Manto dari kuluman
mulutku. “Slllrruup...syapa suruh tadi mas melintir-melintirin puting
adek...khan adek jadi pengen ngewe lagi…Mmmmnnhh ” kataku sambil
menegakkan penisnya, berusaha menjilat dan memakan biji zakarnya.
Biji zakar sebesar buah duku itu juga tak kalah sangarnya. Terlihat
begitu bulat, hitam dan terbungkus kulit tipis yang ditumbuhi ratusan
helai rambut. Menggelambir turun dan ikut terombang-ambing kesana kemari
seiring kocokan jemari lentikku.
“Rambut jembut yang lebat sekali” batinku, sembari terus mengurut batang
besar itu dengan mulutku. Sesekali, aku kunyah rambut rambut kemaluan
mas Manto sambil menggigit buah zakarnya...
“Ammppuuunnnn deeekk...Mas ga kuat lagi...ampunn” rintih mas Manto
keenakan. Diletakkannya piring nasi goreng itu disamping tempatnya
duduk, dan sambil mengejan keenakan, mas Manto memegang kepalaku.
Melihat ketidak berdayaan suami baruku, aku menjadi semakin gemas dan
brutal. Dengan dua tangan, kupercepat kocokan penisnya, sambil terkadang
kupelintir batang penis itu, bak memeras cucian basah.
“Dek Liani…bentar dek sssshhh…aduuhh deekk...kalo kontol mas kamu
plintir-plintir gitu...mas bisa cepet keluar lagi...ssshhh” desisnya.
“Ya udah...sok…Mnnmmhhh” Tantangku sambil kembali memasukkan kepala
penisnya lebih dalam ke mulutku. Kuhisap kepala penis mas Manto sekuat
tenagaku, sampai kurasakan pipi putihku kempot. Aku ingin kembali
merasakan benih kejantanannya.
“Deekk...Dekk”
“Uhhaaahhh...huurruuaann hiihheelluuaahhiinnn…(Udah buruan dikeluarin)”
“Ammppuunnn deeekkk...ampun” digerakkannya kepalaku naik turun.
Mas Manto sepertinya berusaha menjadikan bibir, mulut dan lubang
tenggorokanku sebagai sarana pengocok penisnya. Walau mas Manto tahu,
hanya setengah dari total panjang penisnya yang mampu aku telan, namun
hal itu tak juga mengurungkan niatnya untuk memperkosa mulutku. Dengan
posisi tubuhku yang menungging, terkadang tangan mas Manto
menggapai-gapai vagina dan payudara 36Cku yang bebas bergelantungan.
Terkadang pula ia menusuk vaginaku dengan jari-jemarinya atau memuntir
dan menarik-narik putingku. Aku hanya bisa memejamkan mata, mencoba
menikmati permainan kasar suami baruku. 3 kali sodokan pendek, 2 kali
sodokan dalam. Tempo yang dilakukan mas Manto ketika menaik turunkan
kepalaku. Mas Manto memang selalu bermain dengan tempo. Aku dapat
merasakan kepala penisnya menyundul-nyundul didalam tenggorokanku. Maju
mundur dengan tempo yang sangat cepat. Tak jarang tenggorokanku merasa
sampai tersekat dan tak bisa bernafas. Namun, entah mengapa, dari
kebrutalan gaya bermain mas Manto, aku semakin terlena dibuatnya.
“Tiduran terlentang dek...mas juga pengen ngobel memek kamu” Perintahnya singkat.
Karena aku juga sudah terbawa nafsu jasmani, segera saja aku ambil
posisi terlentang. Mas Manto segera merangkak ke atas kepalaku, dan
mengatur posisi penisnya supaya tepat di mulutku.
Kami memposisikan tubuh seperti angka 69, saling mengoral satu dengan
yang lain. Jika aku menyedot sambil memintir batang penis mas Manto yang
berukuran ekstra ini, mas Manto pun memperlakukan vaginaku dengan hal
yang serupa. Ia menyibakkan bibir vaginaku lebar-lebar, menusuk dengan
jemarinya dan menjilat setiap mili bagian vaginaku.
“Ohhh...Mas...Sshh...enak banget mas” desahku ketika mas Manto
mempermainkan clitorisku. Geli, nikmat dan sedikit ngilu. Sampai-sampai,
terkadang aku merasa vaginaku seperti tersengat arus listrik dan
tubuhku menggelijang tak menentu arah.
Sebenarnya aku tak perlu bertingkah macam-macam ketika dalam posisi 69
ini, karena posisiku berada di bawah. Berbeda dengan mas Manto yang
berada diatas, harus lebih aktif lagi.
“Enak bangets dek...mas mo keluar nih” Katanya sambil mempercepat
goyangan pinggulnya dan menyodok-nyodokkan penisnya di mulutku. Tak
lupa, ia pun menjilat dan menusuk-nusukkan dua jari tangannya
dalam-dalam ke vaginaku.
Selagi merasakan kenikmatan pendakian ke puncak birahi, tiba-tiba kami dikejutkan oleh suara dari balik jendela.
“Tumben mas To… olahraganya agak siangan? hakhakhak” teriak suara itu lantang sambil terkekeh “Gorong-gorongnya mampet lagi ya?”
“Pak Tarjo…” bisik mas Manto kepadaku sambil mendekap mulutku “Habis
turun mesin pak…lagi ngetes” teriak mas Manto, menjawab pertanyaan pak
Tarjo dari dalam kamar. Seketika kami menghentikan aktifitas birahi ini
dan berusaha memperhatikan kondisi sekitar.
Pak Tarjo adalah tetangga yang tinggal di komplek perumahan kami juga.
Rumahnya bersebelahan dengan rumah mas Manto. Pak Tarjo, seorang pegawai
negeri sipil yang sedang menanti masa pensiunnya. Berusia sekitar 60
tahun dan memiliki seorang istri dan dua orang anak yang masih sekolah.
Memang sudah seperti hal yang biasa saja, mas Manto dan pak Tarjo saling
bercanda seperti ini. Bercanda mengenai sex yang kurang lazim jika
dilakukan oleh tetangga normal. Namun semenjak aku menjadi budak nafsu
mas Manto, akupun mulai terbiasa mendengar mereka saling canda dan ejek.
Ya, hanya sebatas saling ejek.
“JGREEEK…JGREEK…JGREK” Distaternya Honda WIN bututnya “BRUUMMM….”
“Oowwh…jadi sekarang baru dapat kendaraan baru nieh...hakhakhakhak” timpalnya lagi sambil memutar gas motornya berulang-ulang.
“Tau aja nie pak’e…hahahaha” jawab mas Manto sekenanya, sambil tersenyum kearahku.
Pak Tarjo selalu saja muncul di saat yang benar-benar tak bisa
diprediksi. Tubuh polos kami dan pak Tarjo, hanya dipisahkan oleh
dinding dan jendela kaca bertirai tipis yang sesekali terbuka ketika
tertiup angin. Di antara rumah mas Manto dan rumah pak Tarjo terdapat
teras dan jalan kecil selebar 3 meter yang mengarah ke halaman belakang.
Teras tersebut ada di setiap sisi rumah, dan biasanya digunakan sebagai
tempat menaruh barang atau motor. Seandainya pak Tarjo iseng mengintip
ke dalam kamar tidur mas Manto, ia pun dapat langsung melihat kami yang
sedang bertumpuk-tumpukan ini, karena posisi ranjang mas Manto sejajar
dengan letak jendela kamarnya. Namun, menurut pengalaman kami berdua
selama ini, pak Tarjo tak akan melakukan hal seperti yang aku
khawatirkan.
“Pak Tarjo hanya manasin motor dek…tunggu ya...bentar lagi dia juga jalan”
Dan benar, tak lama kemudian, “Mas To…saya berangkat dulu ya” ucap suara
dari ballik jendela. “Udah buruan dikelarin…kasihan mbak Narti ntar klo
telat…bisa dimarahin bosnya…”
“Mbak Narti?” kami berdua berpandangan heran.
“HAHAHAHAHA…” spontan kami berdua tertawa terbahak-bahak.
Ternyata pak Tarjo masih mengira, saat itu mas Manto sedang menyetubuhi
mbak Narti. Seandainya ia tahu siapa gerangan musuh birahi mas Manto
saat itu, tentunya akan menjadi berita yang menghebohkan komplek
perumahan kami. Seandainya Pak Tarjo tahu apa yang hampir setiap pagi
mas Manto perbuat kepada istri tetangganya, mungkin ia tak jadi
berangkat ke kantor, bahkan mungkin, bisa saja ia ikut nimbrung dan
bergabung dengan kami berdua. Seandainya saja……..Perasaan aneh itu
muncul lagi. Tiba-tiba, perasaanku menginginkan supaya pak Tarjo dapat
mengetahui keberadaanku disini. Aku ingin pak Tarjo sadar jika saat itu
wanita yang sedang dizinahi mas Manto adalah bukan istri syahnya. Aku
ingin pak Tarjo menyaksikan persetubuhan kami berdua.
“Mas…ayo terusin kocokannya…adek udah gak tahan” pintaku sambil mulai menggerak-gerakkan pinggulku.
“Bentar dek…masih ada pak Tarjo…ntar dia bisa tau kamu ada disini” bisiknya.
“BODO AHHkk…AYO MASSSsshh…cepetaann” sedikit kunaikkan volume suaraku supaya pak Tarjo sadar akan keberadaanku di sini.
Tepat seperti perkiraanku, sekilas, pak Tarjo menatap tajam ke jendela
kamar mas Manto. Namun karena ada tirai putih tipis yang menghalangi
pandangannya, ia tak begitu mengetahui kondisi di dalam kamar saat itu.
Karena merasa asing akan suara barusan, pak Tarjo celingukan, mencoba
mengenali siapa pemilik tersebut.
“Tuh dek…Pak Tarjo bisa tahu loh” bisiknya sambil sesekali melihat ke arah pak Tarjo yang masih menatap tajam kearah kami.
“BODO” tambahku “Makanya BURUAN KOCOK…adek udah bener-bener nggak tahan” ujarku semakin sewot “BURUANnn…”
“Iye..iyeee…” jawab sambil mulai menjilat dan mengocok jemari gemuknya di vaginaku.
“Ouuggghhh…gitu mas…enak bener… terusin mas…” desahku lantang.
Kembali kulihat pak Tarjo dari dalam kamar gelap ini. Ia berdiri menatap
tajam kearah jendela kamar mas Manto dengan raut muka penasaran.
Kepalanya miring dan alisnya saling bertautan. Beruntung aku akan
teriknya sinar matahari diluar sana, sehingga membuat pandangan dari
luar sedikit terhalang. Sebaliknya, aku yang ada di dalam kamar, mampu
dengan leluasa mengawasi keadaan diluar kamar.
“Sepertinya enak banget nih…weleh-weleh…yang lagi nyobain mesin baru…” kata pak Tarjo lagi “Tumben dek Narti diem saja…hahahaha”
“Ssshhh…Abis keenakan sih pak” teriakku lantang menirukan suara mbak Narti.
Dengan sigap, mas Manto langsung membekap mulutku.
“Gila kamu dek…suara kamu khan beda dengan suara Narti”
“Biarin ahhhhjaahhh…” jawabku genit “Biar kamu nurut semua kata-kataku” tambahku lagi sambil mengernyitkan hidungku.
Entah dari mana kenekatanku, menjawab pertanyaan pak Tarjo. Aku tahu,
memang type suaraku berbeda dengan suara mbak Narti. Tapi toh pak Tarjo
mungkin tak menyadarinya.
“Mas To… aku berangkat dulu ya… “ ujar pak Tarjo sambil menengok terus kearah jendela kamar mas Manto.
“Iya pak…hati-hati ya” teriakku lagi menjawab salam pak Tarjo.”Kapan-kapan kalo ada waktu …gabung ke sini aja pak”
Kaget, pak Tarjo kembali menatap tajam kearah kamar.
“Dasar tetangga edan…hakhakhakhak…” Ia menggeleng-gelengkan kepala
sambil tertawa “Yowes…aku berangkat dulu...ati-ati To…nyodoknya
pelan-pelan…kasihan mbak Narti…khawatir lecet-lecet” akhirnya tak lama
kemudian, iapun berangkat.
Mungkin karena jengkel, mas Manto langsung mengobok-obok vaginaku dengan
buas. Dengan cepat dan memburu mas Manto menusuk dan mencabut jemari
gemuknya ke dalam vaginaku.
“Mulai nakal kamu ya…nie…rasain hukumanku…”
“Oouuggghhh… enak banget mas…terusin…aku suka banget mas…mas…terus”
Menerima tusukan tajam dan cepat jemari mas Manto, aku merasa gelombang
orgasmeku akan datang lagi. Detak jantungku semakin cepat, dan sembusan
nafasku memberat. Cairan cintakupun membanjir dan tak terkontrol lagi.
Mengalir turun melewati sela-sela bongkahan pantatku. Saking banyaknya,
aku tak dapat membedakan, apakah yang keluar dari vaginaku ini murni
cairan cintaku, atau sudah tercampur dengan air liur dari mulut mas
Manto. Karena yang pasti, aku sudah tak sanggup menahan rasa panas dari
gelombang nafsu yang akan datang ini.
“Ooohhh... massshh...adek juga mo keluar...ssshhhh” Kataku “Kita keluar bareng-bareng ya mas”
“Ogah…keluar aja sendiri” ujar mas MantoI sengit sambil terus mengobok
liang vaginaku cepat-cepat. Rupanya ia masih jengkel dengan tingkahku
terhadap pak Tarjo barusan.
“Hmmm mas Manto mo main-main ya? Boleh…belum tau dia…gimana kalo Liani
beraksi” Batinku sambil membalas kocokannya dengan kenyotan mulutku ke
batang penisnya.
“Uuuuhhh…uuhhh…dek…dek... pelan-pelan dek” ujarnya sambil mulai mempercepat sodokan penisnya naik turun ke mulut kecilku.
“Mampus” jawabku singkat” semakin kukencangkan katupan bibirku.
“Yah…yah…yah dek ...mas juga sudah nggak tahan lagi dek”
Tiba-tiba, ditekannya dalam-dalam pinggul mas Manto kebawah. Tak sadar
akan sakit yang aku rasakan, mas Manto dengan keras mendorong penisnya
untuk dapat masuk dan tertelan semua oleh tenggorokanku..
“Gila…Batang penis sepanjang 24 cm ini ia paksa untuk bisa masuk semua
ke dalam mulutku” pasrahku dalam hati, sambil berusaha menikmati
sakitnya gaya seks brutal mas Manto.
Aku mencoba untuk teriak, namun “Uuuummmgggghhh” hanya itu suara yang
keluar dari mulutku. Kurasakan sakit yang luar biasa ketika penis mas
Manto berusaha untuk terus masuk lebih jauh lagi, begitu perih sampai
seolah-olah batang penis itu merobek tenggorokanku. Seperti tenggelam,
aku tak dapat bernafas. Leherku tersekat dan air mataku pun mulai
menetes dari sudut mataku. Saking besarnya penis mas Manto memaksa
mulutku tuk terbuka, aku merasakan rahangku sampai mati rasa. Pegal
sekali, bahkan aku merasa, rahang mulutku seperti hendak lepas dari
engselnya. Aku hanya bisa mendongakkan kepalaku semaksimal mungkin,
berusaha membuat tenggorokan dan leher ini meregang selebar-lebarnya.
Tujuanku hanya satu, aku juga ingin merasakan kenikmatan denyut orgasme
pada vaginaku seiring sakitnya sodokan batang penis mas Manto pada
tenggorokanku.
“AAAAAAAARRRRRGGGGGGHHHHHHH” Hampir bersamaan kami teriak, melepas semua
beban birahi yang ada di otak dan alat kelamin kami masing-masing.
“CRET...CREET…CREEETT”
Lima denyutan hebat, aku kurasakan di dinding kerongkonganku, seiring
dengan muncratnya ribuan benih sperma mas Manto. Tak sebanyak, dan
sekental spermanya beberapa saat lalu, namun masih kurasa kenikmatan
benih-benih pria selingkuhanku langsung masuk menyembur dengan kuatnya.
Walau tak terasa oleh lidah, namun tekstur lembut sperma itu masih bisa
rasakan ketika mengalir turun dari kerongkongan menuju lambungku.
Mas Manto menjatuhkan badannya kebawah, menimpa tubuh rampingku berusaha
menikmati ejakulasi yang ia dapatkan dari mulutku sambil sesekali masih
mengaduk-aduk mulut dan tenggorokanku naik turun dengan perlahan. Mas
Manto tak memperdulikan tubuh dan tanganku yang menggelepar-gelepar
hebat karena orgasme yang juga kurasakan. Karena tak mampu berbuat
apa-apa, akhirnya aku hanya bisa pasrah. Membiarkan suami baruku berbuat
sesukanya terhadap tubuhku. Toh tubuh ini juga sudah menjadi miliknya.
Entah berapa lama lagi aku harus dalam kondisi seperti ini. Nafasku
tersekat dan mataku mulai berkunang-kunang. Tanda kesadaranku mulai
menurun. Tanpa mengenal kasihan, mas Manto masih saja membenamkan batang
penisnya dengan brutal kearah mulutku. Mungkin dengan disodokkannya
batang penisnya dalam-dalam, mas Manto bisa merasakan denyut gerakan
peristaltic tenggorokanku lebih lama lagi. Merasakan tenggorokanku
memanjakan penisnya dengan gerakan mengurut yang tiada henti. Melihat
aku yang sudah lemas dan tak meronta lagi, rupanya mas Manto sadar jika
aku mulai kehilangan kesadaran. Dengan segera, dicabutnya batang penis
raksasanya dari mulutku dan langsung membiarkanku megap-megap mencari
oksigen...
“Huuuuaaaaaahhhh” Kubuka mulutku lebar-lebar dan kuhirup oksigen
sebanyak-banyaknya. Kembali tubuhku menggelepar-gelepar, merasakan
kembali orgasmeku yang sempat terputus akibat sodokan kasar penis mas
Manto di mulutku tadi. Lebih dari 30 detik, dinding vaginaku berkedut
dengan hebat. Tak lama, gelinjang tubuhku mulai sedikit mereda, dan
detak jantungku mulai pelan. Terlentang menghadap langit-langit sambil
mengatur nafasku yang putus-putus.
“Hhhh…gihhla kahhmu mashhh...hhh hhh” kataku dengan nafas yang berat
“Tehhga banget...Kalo adek mati gihhhmana?” kataku sambil menatap mas
Manto yang sudah kembali bersandar di kepala tempat tidurnya dengan
pandangan marah.
Mas Manto hanya tersenyum lebar. Menampakkan deretan gigi-giginya yang kuning sambil mengurut penisnya yang berkilat air liurku.
“Maaf dek...abis sepongan kamu benar-benar enak...mas jadi khilaf”
Mas Manto beranjak dari posisi duduknya dan merangkak kearahku. Gengan
posisi kaki yang dilebarkan sejauh mungkin, ia dudukkan pantat hitamnya
tepat di atas kepalaku.
“Kamu makin cantik sayang kalo marah gitu” katanya sambil tersenyum dan
menepuk-nepukkan penisnya yang setengah ereksi ke rambutku.
“Halah gombal” ujarku sambil melirik ke atas, memasang muka sejutek mungkin.
Diraihnya tanganku, dan kembali diletakkannya pada batangnya yang setengah ereksi.
“Bersihin kontolku dong dek”
Dengan posisi yang masih telentang, akan sulit tentunya membersihkan
penis yang ada tepat di atas kepalaku. Kubalikkan badanku dan langsung
kucaplok keras-keras penis mas Manto sambil sesekali mengunyah daging
kenyal itu dengan gigiku.
Mas Manto mulai meracau tidak jelas “Shhh...Dek...Enak banget”
Mulutku kembali basah oleh zir liur yang bercampur sperma segar mas Manto.
“Lianiku, sang bidadari pecinta peju” julukan sayang yang diberikan kepadaku oleh mas Manto, suami baruku.
Kujilat seluruh permukaan kulit penis mas Manto sambil kuhisap-hisap batang penis yang mulai mengecil itu.
“Seponganmu memang yahud dek...belum pernah aku temui wanita lain dengan sedotan mulut yang maut sepertimu sayang”
“Wanita lain…??”
“Iya...si Narti atau mantan-mantan pacarku dulu...selain kamu...tak satu
pun dari mereka yang bisa membuatku moncrot seperti ini…sssshhh”
Walau sedikit jengkel karena dibanding-bandingkan dengan wanita lain,
namun sekilas, ada juga perasaan bangga ketika mendengar suami baruku
berkata seperti itu.
“Tak ada yang mampu menyamai seponganku” lagi-lagi senyumku mengambang lebar.
Kukecup kepala penis mas Manto
“Kontol berurat...Aku sayaaaang banget ama kamu” ujarku kepada kepala penis mas Manto.
Kugoyang-goyangkan batang itu ke kanan kekiri, sambil sesekali
menepuk-nepukkan batang itu ke mulut dan pipiku, seolah sedang berbicara
dengan manusia.
“Dasar dek Lianiku” kata mas Manto sambil mengacak-acak rambutku.
Melihat penisnya yang sudah benar-benar bersih dari sperma, ia segera
turun dari tempat tidur, mengambil piring dan nampan berisi sarapan
paginya lalu melangkah ke luar kamar. Kurebahkan tubuhku, kembali tidur
terlentang dan menatap tajam langit-langit kamar mas Manto sambil
tersenyum. “Hhhh...perzinahan yang benar-benar nikmat”
Masih dalam posisi terlentang, samar-samar aku mendengar mas Manto
bersiul. Dari nadanya sepertinya ia dalam kondisi hati yang riang.
Terdengar pula bunyi keresek plastik, dentingan gelas dan botol, serta
kucuran air.
“Deekk...Kesini donk” panggil mas Manto dari arah dapur.
“Iya bentar mas”
Kulangkahkan kakiku menuju dapur. Sesampainya di dapur kulihat mas Manto
sedang asyik menyantap sisa makanan yang belum sempat ia habiskan tadi.
Ditangannya, terlihat sendok dan garpu yang sedang beradu dengan piring
dan nasi. Menyendok nasi goreng, dan memasukkan makanan itu dengan
lahap. Sesekali ia berdiri dari kursi makan dan melangkah ke arah kulkas
untuk sekedar mengambil air minum. Aku hanya bisa tersenyum, ketika
melihat pasangan zinahku beraktifitas. Sungguh lucu melihat mas Manto
mondar mandir tanpa mengenakan pakaian selembarpun. Penis yang berukuran
sebesar lengan bayi itu bergoyang-goyang dan memukul paha dalamnya tiap
kali ia melangkahkan kaki.
“Dek duduk sini donk” pintanya sambil menggeserkan kursi makan di sampingnya mempersilakanku untuk duduk.
Sambil terus menatap aktifitas makannya sambil sesekali melirik batang
penisnya yang tidur dengan damai, aku letakkan pantat bulatku di kursi
yang ada di samping kanannya.
“Dek...habis mas makan... temenin mas mandi yuk” ujarnya santai sambil terus melahap nasi goreng di depannya.
Aku mengangguk pelan.
“Lucu sekali batang penis mas Manto...sekarang batang penis itu tak
segahar beberapa waktu lalu. Pendek, hitam dan gemuk. Mirip terong…besar
dikepala tapi kecil di pangkal batangnya” batinku sambil tersenyum.
“Kok senyum-senyum sendiri dek” Tanya mas Manto heran.
Aku tak menjawab, hanya tersenyum.
Dengan cuek, mas Manto kembali menyantap sarapan paginya. Kujulurkan
lengan kiriku. Dan kuraih batang gemuk yang tergeletak diantara paha
kekar mas Manto itu. Kutimang-timang batang hitam itu, layaknya seorang
pembeli sedang melakukan transaksi di pasar buah.
“Uhuk…uhuukk” mas Manto tiba-tiba tersedak. Beberapa butir nasi muncrat dari mulutnya.
Rupanya ia terkejut ketika merasakan penisnya tiba-tiba aku sentuh.
“Kaget aku dek…kirain kontol mas mau kamu betot…emang kenapa dek…?”
“Nggak kenapa-kenapa mas...adek cuman pengen mengamati kontol mas aja” ucapku sambil terus tersenyum “Mas terusin aja makannya”
Walau penis itu masih dalam kondisi tidur, tetap saja aku dibuat takjub.
Ukurannya hampir sebesar penis mas Andri suamiku ketika telah ereksi
dengan sempurna.
“Tak sepanjang penis mas Andri ketika ereksi sih…namun yang jelas, jauh lebih gemuk” batinku.
Kepala penis mas Manto hampir tertutup seluruhnya oleh kulit tipis,
sehingga hanya mulut penisnya saja yang menampakkan senyumnya. Urat-urat
batang penis mas Manto juga masih tetap terlihat, walau hanya sebagian
saja. Namun kali ini aku bisa dengan mudah melingkarkan jemariku. Batang
penis mas Manto yang super keras ketika ereksi, sekarang terasa begitu
lembut, ketika kuremas perlahan, aku seperti meremas balon balon berisi
air. Kenyal namun hangat. Diseruputnya kopi pahit sampai tak tersisa
“Slurpp aaahhhh”. Dan, selesai sudah acara sarapan pagi mas Manto.
Sambil bersandar malas di kursi makan, ia mengusap-usap perutnya yang
menggelembung. Mas Manto menatap ke arahku, kepalanya dimiringkan dan
kembali, ia tersenyum kepadaku.
“Suamimu beruntung banget dek bisa dapat istri seperti kamu”
“Kok…? Mas Andri…?”
“Iya…dia bisa dapat kenikmatan darimu seutuhnya...tanpa harus melakukan
hubungan yang sembunyi-sembunyi dan selalu takut ketahuan seperti ini”
ada rasa pesimis dalam nada kalimatnya. “Andai kita bertemu 4 atow 5
tahun kemaren dek”
“Mas Manto...justru adek yang merasa beruntung mas”
“Loh…?”
“Iyalah…aku jadi merasa memiliki belahan jiwa yang selalu mengerti
segala kebutuhanku” kataku mencoba menaikkan semangat mas Manto
Memang benar, jika dilihat dari segi fisik dan ekonomi, mas Andri
beberapa langkah lebih unggul daripada mas Manto. Wajah mas Andri
terlihat tampan, berkulit putih dan selalu berpenampilan rapi terawat.
Bekerja di perusahaan minyak asing sebagai pengawas lapangan, yang aku
yakin penghasilannya beberapa kali lipat diatas gaji mas Manto. Intinya,
semua kebutuhan rohani dan jasmaniku, dapat dipenuhi oleh mas Andri.
Sedangkan mas Manto. ia hanyalah seorang satpam perumahan biasa,
berkulit hitam kelam, dan sama sekali tidak menampakkan ketampanan
apapun. Penghasilannya juga pas-pasan, sampai mengijinkan mbak Narti
bekerja. Sama sekali bukan lelaki pilihanku jika aku diminta memilih
antara mas Manto dan mas Andri. Namun, jika dibandingkan dengan
kebutuhan birahi yang aku terima dari suamiku. Jelas, mas Andri tak ada
apa-apanya.
“Jasmani, rohani dan birahi” batinku. Kembali aku tersenyum-seyum sendiri
“Ah kamu bisa aja dek”
”Yeee dibilangin kok...selain itu...dengan adanya mas Manto seperti
sekarang ini, adek khan jadi bisa mendapatkan 2 kontol yang selalu siap
mengaduk-aduk memek adek SETIAP SAAT” ujarku sambil tersenyum lebar
“Udah ah...yang jelas...kontol mas jauh lebih hebat dari milik mas
Andri, suami adek”
Kembali mas Manto tersenyum lebar, dan mendekatkan bibirnya yang hitam
tebal itu ke keningku. Dikecupnya perlahan lalu merangkul tubuh
semampaiku. Tangannya yang kekar melibat tubuhku. Dan dengan satu
gerakan mudah, ia membopongku dan membawaku masuk ke kamar mandi. Begitu
sampai di dalam kamar mandi, mas Manto segera menurunkan tubuhku.
Kututup pintu kamar mandi, dan kugantungkan celemek masak yang aku
kenakan di balik pintu. Tak lama, setelah satu-satunya pakaian yang
menutupi tubuh putihku lepas, terpampanglah tubuh polosku. Kugelung
rambut panjangku dan kupamerkan ketiak putih mulus tak berambutku ke
arah mas Manto sambil berputar-putar berjoget bak penari erotis.
Kumenari seerotis mungkin. Melihat lekuk tubuhku polosku ketika
menggelung rambut, mungkin membuat mas Manto kembali bernafsu, karena
tiba-tiba kembali aku ditubruk dan dipeluknya kencang.
“Aku sayang kamu dek...benar-benar sayang kamu” ucapnya sambil mengecup tengkukku dalam-dalam.
Berusaha mempertahankan kestabilan posisi berdiriku ketika dipeluk mas
Manto dari belakang, langsung kusandarkan kedua tanganku ke bibir bak
mandi. “Aku juga mas…”
Perlahan, dari bawah belahan pantatku, aku merasakan sesuatu mulai
menekan ke atas. Ada benda tumpul dan hangat mulai membesar di sela-sela
belahan pantatku.
“Gila...ini penis ga pernah ada matinya” Batinku.
Digesek-gesekkannya kepala dan batang penisnya yang mulai ereksi itu ke
belahan pantatku. Otak jorokku segera merespon gerakan mas Manto. Tanpa
menunggu perintah apapun, segera kubungkukkan punggungku lebih rendah
lagi, berharap mas Manto akan segera menusuk vaginaku dengan penis
besarnya dari belakang. Namun aku ternyata salah...
“SSEEEEEERRRRRRRRRRRR” aku merasakan cairan panas menyembur belahan
pantat, dan paha dalamku. Mengalir turun dan membasahi kaki jenjangku.
Segera kutundukkan kepalaku, berusaha melihat apa yang sedang terjadi
melalui sela kedua kakiku. Ternyata cairan hangat itu adalah air seni
mas Manto. Ia kencing. Eh, bukan. Lebih tepatnya ia mengencingi
pantatku. Spontan, aku balikkan badanku dan langsung bergerak kesudut
kamar mandi, menjauh dari semburan air seni yang memancar kencang dari
mulut penis mas Manto.
“Iiiiihhhh...jorok bangets sih kamu mas” ujarku sambil membilas pantat dan pahaku berulang kali “Masa adek dikencingin”
Mas Manto menghentikan semprotan air seninya. “Hehehehe…kamu khan udah
sering mas kasih kencing enak dek...sekali-kali lah kamu mas kasih
kencing beneran...hehehehe” jawabnya polos “Lagian mas suka deh ngliat
kamu ngambek gitu”
Dari mulut penisnya, kembali mas Manto menyembur cairan bening
kekuningan yang memancar kuat mulai dari ujung pintu tempat ia berdiri
sampai sudut kamar mandir, tepat di antara kedua telapak kakiku. Bahkan,
saking kuatnya semburan air kencing mas Manto, tak jarang semburan itu
ia tembakkan keras-keras sampai membasahi paha dan lututku lagi.
Seharusnya aku marah mendapat perlakuan tak senonoh seperti ini.
Dikencingi oleh orang dewasa secara terang-terangan. Harga diriku serasa
benar-benar dijatuhkan. Mirip seperti sampah yang tak berharga sama
sekali. Namun, ketika melihat mas Manto asyik bermain-main dengan air
seninya, timbul suatu perasaan aneh dari dalam diriku.
“Gimana ya rasa air kencing mas Manto…?”
Segera saja kuraba area pahaku yang terkena semburan kencing mas Manto
tadi, kuusap dengan tanganku dan kuangkat mendekat ke hidungku.
“Iiiiiihhhhh... Pesing banget mas” jawabku sambil mengerutkan hidungku begitu mengetahui bagaimana aroma air seni seorang pria.
“Hehehehe…ya iyalah dek…khan namanya juga air kencing” Mas Manto hanya
tertawa melihatku yang seperti merasa jijik karena terkena air seninya
”Sini deh sayang” tambahnya.
Sambil masih menghirup dalam-dalam aroma air seni mas Manto, aku
mendekat ke arahnya. Mas Manto dengan sopan memegang pundakku, dan
memintaku berjongkok tepat di depan penisnya yang masih mengucurkan air
kencing.
“Bersihin kontolku dong sayang” pintanya enteng
“Hah?” Tanyaku sambil mendongak heran kearahnya.
“Iya...jilatin kontolku sampai bersih” Katanya lagi sambil mulai mengarahkan kepala penisnya yang masih meneteskan air seni.
“Tapi khan...EMMmmhhhh”
Aku tak dapat menyelesaikan kalimatku, karena dengan sedikit memaksa,
mas Manto menjejalkan batang penisnya masuk kedalam mulutku. Dan dengan
tangan kiri, mas Manto juga menarik kepalaku mendekat ke
selangkangannya. Walau sedikit menolak, namun pada akhirnya, kutelan
saja batang penis itu bulat-bulat.
“Emmmmhhhmmmm”
Masam, getir dan agak sedikit kecut. Itu kesan pertamaku ketika
merasakan bagaimana rasa air seni mas Manto sebenarnya. Seumur hidupku,
aku belum pernah merasa dipermalukan seperti ini. Mas Andri, suamiku
yang sebenarnya pun sampai saat ini belum pernah memintaku untuk
memperlakuan penisnya seperti yang mas Manto perbuat terhadapku
sekarang. Jika ia baru saja buang air kecil dan memintaku untuk mengoral
penisnya, aku selalu menolaknya tegas-tegas, bahkan aku bisa emosi
dibuatnya. Namun hal berbeda aku rasakan ketika bersama mas Manto, walau
penisnya baru saja menyemburkan cairan seni, aku sendiri yang dengan
suka rela mengoralnya.
“Menjilat kelamin orang lain yang baru saja mengeluarkan air seni…?” Tanya suara dalam hatiku.
“Enak kali ya…?” tanya suara dalam hatiku yang lain
“Hmm...Walaupun air seni itu hanya sedikit yang masih menetes keluar,
tapi itu khan sama saja dengan menyuruhku untuk meminum air seninya”
“Tapi bagaimana dengan halnya dengan sperma…?”
”Iya... itu khan hampir sama dengan meminum sperma…cuman sedikit beda aja”
“Tapi khan kalo meminum sperma tuh sudah biasa…orang-orang juga banyak
yang melakukan hal itu...sedangkan meminum air kecing.????”
“Emang apa bedanya? Toh sama-sama dikeluarin oleh penis orang yang kita sayangi”
“Toh sama saja”
“Benar juga...toh sama saja...sama-sama berbentuk cair...sama-sama dikeluarin dari lubang penis...sama-sama dioral juga”
Ketika sedang asyik-asyiknya mengoral penis mas Manto yang masih
belepotan air kencingnya. Kusadari, cairan cinta vaginaku mulai
membanjir dan merayap turun. Aku horny. Tanpa basa-basi lagi, aku
langsung mengoral penis mas Manto sekuat mungkin, berusaha membuatnya
ereksi dan keras lagi. Penis mas Manto merespon sedotan mulutku. Penis
itu mulai menegang. Lalu dengan sigap, aku berdiri, kubalikkan badanku,
kupegang bibir bak mandi dan kutunggingkan pantat semokku kearahnya.
“Ayo mas...tusuk memek adek sekarang”
“Hah?...Kamu mo nambah lagi dek…??” tanya mas Manto kebingungan...
“Buruan mas...adek udah nggak tahan”
Mas Manto segera berjalan mendekat ke arahku. Dengan tangannya yang
kasar, direntangkannya pahaku lebar-lebar. Diurutnya batang penisnya
perlahan. Dan Ajaib, batang itu langsung mengeras, benar-benar keras.
Terlihat dari urat-urat yang mulai bertonjolan di sekujur batang
penisnya. Entah mas Manto memiliki ilmu sakti dalam bercinta atau memang
telah terbiasa mempermainkan stamina batang penisnya, yang pasti,
kembali aku dibuat terpana melihat keajaiban batang hitam yang tumbuh
diantara selangkangannya. Dengan tangan kanan yang menggenggam pangkal
batang penis hitamnya bak memegang pentungan hansip mas Manto
memukul-mukulkan kepala penisnya ke pantat semokku “PLAK…PLAK…PLAK”
sambil sesekali ia goser-goserkan ujung penis itu di antara sela
pantatku. Sepertinya ia berusaha melumuri sekujur batang penisnya dengan
lendir cintaku. Diletakkannya batang penis itu diantara pangkal pahaku,
dan didorongnya perlahan.
“Uuuhhh…ia mas, sodok memek adek mas…terus” ujarku dengan nada panuh nafsu.
Namun ternyata mas Manto tak melakukan hal yang seperti aku inginkan. Ia
terus mendorong penis itu maju, namun tak ia masukkan ke lubang
vaginaku. Maju dan terus maju. Sampai jika aku lihat dari posisiku
berdiri, aku dapat merasakan batang penisnya yang panjang itu tumbuh
melalui bawah celah vaginaku. Seperti seorang pria, sekarang aku merasa
memiliki penis yang tumbuh dari dalam vaginaku sendiri. Mas Manto terus
saja mendorong batang penisnya maju kedepan sampai pangkal penisnya
menyentuh pantatku. Kulihat cermin kamar mandi yang tergantung di
disamping kiriku.
“Aku seperti waria” karena jika dilihat dari samping, aku seolah
benar-benar memiliki batang penis. Penis itu menonjol sekitar 8 cm,
keluar dari pangkal pahaku.
Tak lama, mas Manto mulai menggerakkan pinggulnya maju, mundur, maju,
mundur. Ia lakukan gerakan tersebut berulangkali, tepat dibawah bibir
kewanitaanku. Sampai batang penisnya terasa cukup licin guna penetrasi
ke dalam liang vaginaku. Walaupun penis itu sama sekali tidak ia
masukkan ke liang vaginaku, tapi sentuhan urat-urat yang tumbuh di
sekujur batangnya mampu menyentuh klitorisku berulang kali. Membuatku
semakin melayang.
“Ayo dong mas...Buruan masukin” kataku sambil menengok ke belakang, ke arah mas Manto yang hanya tersenyum lebar.
Tangan kirinya yang kasar kembali maju, dan meremas salah satu payudara
yang menggelantung bebas. Sedangkan tangan kanannya, melingkar ke
samping melewati pinggangku dan mulai menstimulus celah vaginaku dari
depan. Diusapnya perlahan. Jari telunjuk dan jari tengahnya mulai
ngait-ngait clitorisku, sambil sesekali jemari itu menjepitnya pelan.
“Uhhhhhggg...” kigigit bibir bawahku, seperti menahan gatal vaginaku
namun tak juga kunjung digaruk. Vaginaku bener-benar terasa gatal.
Cairan cintaku mengalir dengan derasnya “Vaginaku semakin membanjir”
batinku.
Wajahku semakin panas dan nafasku semakin memburu. Detak jantungku
semakin keras memompa darah nafsu kesekujur tubuhku. Mas Manto mulai
menyusupkan telunjuk dan jari tengahnya yang gemuk kedalam vaginaku.
Dengan mudah kedua jari gemuk ia dorong celupkan masuk ke celah
vaginaku. Dan ketika ditariknya keluar, jemari gemuk mas Manto sudah
benar-benar basah, berkilau cairan vaginaku. Merasa dipermainkan, aku
julurkan kedua tanganku kebelakang “Mas…buruan masukin kontolmu mas”
berupaya menggapai batang penis mas Manto. Namun begitu aku dapat
menggenggam erat batang itu dan berupaya memasukkan ke lubang vaginaku,
mas Manto selalu saja menampiknya.
“Bentar ya sayang…bentar lagi” kata mas Manto sambil berulang kali mengecup punggungku.
Tiba-tiba tangan kanan mas Manto melingkari pinggangku dari samping.
Lalu tak lama kemudian, jemari gemuk mas Manto kembali dimasukkan
perlahan kedalam vaginaku dan dimainkannya maju mundur.
“Pemanasan dulu ya dek” Ujarnya enteng sambil menggapai payudara kiriku yang menggelatung bebas.
Aku hanya bisa melenguh keenakan, merasa “Uhhh...uuuuuhhhh”
Walau hanya ditusuk-tusuk oleh dua jari gemuknya saja, aku merasa
orgasmeku mulai Namun seolah sadar aku akan orgasme, mas Manto tiba-tiba
menghentikan gerakan kocokannya dan berjongkok di belakang belahan
pantatku. Dua jari gemuk itu sekarang tak lagi tercelup ke dalam
vaginaku.
“Ughhhh…mas…” desahku, kembali aku dipermainkan.
Dibukanya daging bulat yang menutup lubang anusku lebar-lebar. Tak lama
kurasakan hembusan nafas hangat mas Manto menerpa kulit pantatku, lalu
kurasakan sesuatu yang lebar, tipis, basah, hangat dan sedikit berambut.
“Ini pasti mulut mas Manto” batinku.
Lahap, seperti orang yang tak makan 2 hari, mas Manto langsung menyantap hidangan vaginaku
“Hmmm…wangi banget memek kamu dek” gumamnya asyik sambil menghirup
dalam-dalam aroma kewanitaanku “Mana bersih banget…putih…tak
berjembut…dan keset…ga kayak memek Narti” candanya.
Sedikit rasa bangga kembali aku rasakan “Ouugggghh…mas…ayo mas buruan
sodok memek adek mas…”pintaku berulang-ulang. Namun tetap saja tak ia
gubris.
Lidah mas Manto bergerak kesana-kemari, menyapu setiap mili kulit liang
vaginaku yang telah mengkilat basah akibat lendir cintaku. Aku baru
sadar, ternyata, tak hanya penis mas Manto yang memiliki ukuran yang
panjang, namun lidahnya, juga jauh lebih panjang daripada orang-orang
kebanyakan. Kasar tekstur lidah mas Manto seolah amplas yang
menghaluskan dinding vaginaku, benar-benar geli aku dibuatnya. Terlebih
tusukan lidah tajamnya. Semakin membuat cairan vaginaku merayap turun ke
pahaku.
“Uuuuggghh...mas...udah donk...ayo”
Kembali, seolah tak memperdulikan gumamanku, mas Manto terus saja
menjilat liang vaginaku. Saking buasnya, ia juga menjilat lubang anusku.
Sesekali, mas Manto mengkorek-korek jemari tebalnya ke dalam liang
vaginaku. seolah sedang mencungkil-cungkil barang dari dalam vaginaku.
“Sempit sekali dek memek kamu” kata mas Manto sambil sesekali menjilat dan menusuk vaginaku.
Merasa nafsuku selalu dipermainkan aku berdiri dan segera berbalik kearahnya.
“Mas…udah ah…kalo maen-maen begini…adek pulang aja kerumah…” kudorong kepalanya yang masih mencoba mengulik vaginaku “NYEBELIN…”
“Hehehehehe…ya udah…yuk”
Mas Manto segera berdiri dan memposisikuan ujung kepala penisnya supaya
sejajar dengan liang vaginaku lalu ia meremas kedua sisi pinggangku.
“Siap dek?” tanyanya singkat.
Aku hanya mengangguk pasrah.
“Mas mau masukin kontol mas ke memek…..”Tanpa menunggu kalimatnya
selesai, dengan sekali hentakan keras, mas Manto menghujamkannya pantat
hitamnya ke depan. Mendorong batang penisnya jauh-jauh, dan membenturkan
paha depannya keras-keras dengan pantat semokku. “…..mu” sambungnya.
“Arrrgggghhhh…sakit mas…” teriakku
Mendengar jeritanku, sepertinya semakin membangkitkan gairah bercinta
mas Manto. perlahan, batang penis yang sudah terbenam cukup dalam di
vaginaku itu ditariknya sampai ujung kepala penisnya. Kemudian, kembali,
mas Manto menghentakkan pinggulnya maju. Menghujamkan batang penis
raksasanya dalam-dalam keliang vaginaku.
“Ooouuuuugggghhh...sakit mas…pelan-pelan” Kembali, aku merasakan dinding
vaginaku begitu penuh sesak menyambut penghuni barunya. Rasanya menohok
sampai ke ulu hati.
“Gimana?” Tanya mas Manto dengan nada sombong. Dicabutnya penisnya
perlahan dan kembali didorongnya masuk. Maju, mundur, maju, mundur,
maju, mundur. Berulang kali mas manto melakukan gerakan yang sama.
Mencabut dan menusuk celah vaginaku dengan tajam. Semakin lama semakin
cepat, semakin cepat dan semakin cepat.
“Shhhh....enak bangets mas” Ujarku sambil berusaha menjaga payudaraku
agar tidak terlalu banyak ikut bergoyang seiring kencangnya sodokan
batang penis mas Manto dari belakang “Ssshhh...sodok memek adek
mas...sodok yang kencang...terus mas”
Dengan kedua tangan besarnya yang masih memegang erat pinggulku, mas
Manto perlahan memasukkan batang penisnya lebih dalam lagi “Hhmmm...mau
mas tusuk lebih dalam lagi rupanya”
Kuanggukkan kepalaku dengan yakin “Oooowwwhhh...ya mas...begitu...sodok
lebih dalam lagi mas” kusunggingkan senyumku sambil menengok ke
belakang, kulihat suami baruku memejamkan mata, seperti sedang
menghayati setiap tusukan yang ia lakukan. Dengan satu hentakan tajam
“mampus kamu dek” didorongnyaseluruh batang raksasanya untuk dapat masuk
ke dalam vaginaku.
“OOOWWwwwhhh... massshh” erangku lirih “Besar sekali kontolmu mas…sampai mentok banget”
“PLEK” suara tumbukan paha mas Manto dengan pantat semokku.
Suara itu terdengar begitu keras dan nyaring. Dapat kurasakan penis itu
menyodok keras dinding terdalam mulut vaginaku, bahkan aku rasakan penis
itu mampu menyentuh ujung rahimku. Ditambah dengan rasa geli akibat
rambut jembut yang tumbuh super lebat di pangkal batangnya, mas Manto
selalu mampu menggelitik vagina dan anusku. Selama hampir 5 detik, mas
Manto membenamkan seluruh batang penisnya berada di dalam liang
kenikmatanku. Dan selama itupun, dinding vaginaku yang terasa penuh itu
dapat merasakan kedutan lembut batang penisnya. Dengan super pelan,
ditariknya batang penis itu keluar dari vaginaku.
“Ohhh...Masss” Ketika mas Manto menarik perlahan batang penisnya, aku
dapat merasakan, seolah-olah seluruh dinding vaginaku dibajak oleh
kepala penisnya. Dan begitupun dengan bibir vaginaku, yang karena saking
eratnya mengempot, ikut tertarik keluar seiring cabutan batang penis
mas Manto.
Vaginaku membanjir, dan saking banyaknya lendir cintaku, tiap kali mas
Manto menyodokkan batang penisnya ke vaginaku, ada busa putih yang
keluar dari vaginaku. Busa putih itu mengiringi gerakan nya maju mundur.
Semakin cepat ia menggerakkan batangannya, semakin banyak pula busa
putih itu dikeluarkan vaginaku. Walhasil, tak sedikit pula cairan dan
busa itu yang perlahan mengalir turun ke paha dalamku.
“PLEK” kembali dihentakkannya pinggulku kearah selangkangannya dengan
keras, menusuk tajam sampai kembali menyentuh mulut rahimku. Kembali,
didiamkannya beberapa saat, ditariknya dengan gerakan super pelan.
“PLEK” kembali kurasakan kenikmatan super sensitive dari dinding liang vaginaku.
”PLEK” Dihentakkan batang penisnya dalam-dalam, dibiarkan sejenak, lalu ditariknya perlahan.
“PLEK” sampai akhirnya
“Oowwhh...Aku keluar mas...Aku udah keluar”
Kelopak mataku melotot, bolamataku berputar keatas dan hanya menampakkan
warna putih. Mulutku menganga lebar sampai membentuk huruf “O”. Tubuhku
menggelijang dengan hebat dan ambruk ke bawah, menghempaskan payudaraku
dengan keras ke atas kasur.
“Aku udah keluar lagi mas” Tangan dan kepalaku bergidik, bergerak tak
terkontrol, mengikuti gelombang kenikmatan yang dipancarkan organ
kewanitaanku. Gelombang birahi yang terpuaskan.
“Sama-sama dek” jawab mas Manto seolah aku berkata terima kasih.
Mas Manto mendiamkan batang penisnya dalam-dalam di vaginaku, dan
menjatuhkan badan kekarnya kedepan. Meraih payudaraku yang terhimpit
tangan, dan bibir bak mandinya serta memelukku dari belakang. Dikecup
pundakku sambil sesekali mengusap dan meremas bongkahan empuk
payudaraku. Orgasme, orgasme, dan orgasme. Entah, sudah berapa kali
sensasi nikmatnya orgasme aku rasakan di pagi hari ini. Dan hanya dengan
batang penis hitam berurat milik mas Manto, aku bisa merasakan sensasi
seperti ini, menggelijang-gelijang keenakan.
“Empotan ayammu sungguh dahsyat dek” ujar mas Manto. memang, ketika
orgasme, vaginaku selalu berkedut hebat, seolah memiliki system
otomatis, mengempot dan mengurut batang penis mas Manto yang telah masih
keras terbenam di liang vaginaku. Seolah empotan dan urutan itu adalah
imbalan yang setimpal atas kenikmatan yang aku terima. “Kuat banget” Aku
hanya bisa tersenyum. Kadang aku merasakan ada keanehan pada diriku,
biarpun mas Manto hanya melakukan gerakan dengan cara
menghentak-hentakkan batang penisnya dengan rentang tempo yang pelan dan
sedikit, aku bisa mendapatkan orgasmeku kembali. Mas Manto memang
pejantan sejati. Hal yang tak pernah bisa dilakukan oleh suamiku yang
sebenarnya. Walau mas Andri bertindak sebrutal apapun ketika bercinta
denganku, sekeras dan sesakit apapun ketika menusuk vaginaku, orgasme
yang diberikannya sungguh sangat lain. Tak sehebat dan sedahsyat dengan
apa yang aku terima dari mas Manto. Sungguh, keperkasaan penis mas Manto
benar-benar membuat jarak dan perbedaan yang sangat jauh jika
dibandingkan dengan mas Andri, suamiku. Baik dalam kualitas atau pun
kuantitas. Tak terasa, sudah lebih dari dua menit, kami berdua terdiam
dalam posisi bertumpukan seperti ini. Nafasku sudah mereda, dan tubuhku
sudah mulai bisa aku kontrol.
“Kamu nggak mau keluar lagi mas?” tanyaku kepada mas Manto yang berlulang kali mengecup pundah dan tengkukku.
Tanpa ditanya dua kali, mas Manto langsung melepas remasan di payudaraku, menegakkan badannya dan mulai menarik batang penisnya.
“Uuuhh...uuhh...uhh” tangan kananku langsung mencengkeram pantat hitam mas Manto. “Pelan-pelan mas... masih sedikit ngilu”
Diremasnya bongkahan pantatku dan dibukanya lebar-lebar kearah samping “Lendir kamu banyak banget dek”
“Iya mas” sambil meringis ngilu, aku coba mengumpulkan kembali sensasi
kenikmatan birahku yang mulai meninggi ”Itu emang cirri khas memek aku
mas”
“Aneh” Kata mas Manto pelan.
“Kenapa…?”
“Kata banyak orang...kalo wanita punya memek becek kayak punya kamu ini, rasanya seperti diempot nenek-nekek”
“Aaahhh...jadi kamu bilang memek aku kayak memek nenek-nekek…?”
“Bukan gitu dek Lianiku sayaaaaannng” kembali bongkahan pantat putihku
dibuka lebar-lebar ke samping “Memek kamu tuh aneh...dia mampu menepis
semua anggapan itu”
“Aah…kamu tuh mas” nadaku mulai sewot.
“Bener…baru kali ini aku ngerasain, memek becek yang super legit”
“Uudah ah...kalo nggak mau ngewe ma adek lagi... adek pulang aja” jawabku dengan sengit.
“Sumprit dek...sumprit…aneh banget…walau lendirnya buanyak banget...tapi
rasa memek kamu tuh...super ketat...sempit banget dek... mirip memek
anak sekolahan”
Kuputar kepalaku dan kutatap wajah mas Manto “Emangnya mas pernah ngerasain memek anak sekolahan…?”
“Kata orang-orang sie” Jawabnya enteng sambil mengembangkan senyum kuda
andalannya. Tak lama, mas Manto pun mulai mempercepat sodokan penisnya.
Diusapnya cairan vaginaku yang meleleh turun di pahaku, dibersihkan
dengan kedua balah tangannya. “Sumpah...nie lendir kok nggak ada
habisnya yak…?” tanyanya heran.
Aku hanya diam, dan semakin menggoyangkan pantatku berlawan arah dengan
hentakan pinggul mas Manto. Tiba-tiba, mas Manto menyentuh area duburku.
“Ngapain mas…?” tanyaku kaget.
“Nggak kok...Nggak ngapa-ngapain” jawabnya. “Pantat kamu bagus banget ya
dek...mas baru sadar…putih dan semok ” tambahnya. Ia berusaha
mengalihkan pembicaraan sembari kembali menyodok-nyodok vaginaku dari
belakang.
“Oowwhh...terusin mas…sodok memek adek lebih kencang lagi”
Mas Manto kembali mempercepat sodokan tajamnya kevaginaku. Namun, tak
lama berselang, kembali kurasakan jemari tangan mas Manto menyentuh area
duburku.
“Hmmm...Sepertinya ada yang mau mencoba main kasar nih” batinku ingin tahu.
Kubiarkan saja ibu jari mas Manto memutar-mutari mulut duburku, aku
ingin tahu sampai sejauh mana permainan ini akan berjalan. Perlahan,
jemari mas Manto yang pada awalnya malu-malu menyentuh lubang duburku,
sekarang mulai sedikit memberanikan diri. Dengan ibu jari tangan
kanannya, ia mulai melakukan gerakan melingkar-lingkar. Aku pura-pura
tak menyadari hal itu, dan untuk sesaat membiarkan ibu jari tangannya
bermain-main di lubang duburku. Begitu mengetahui aku tak bereaksi
sedikitpun ketika jempol mas Manto bermain di lubang duburku, ia
bertindak semakin jauh. Tanpa sepengetahuanku, diambilnya busa vaginaku
yang terus menerus keluar dari kocokan kelamin kami, lalu diusapkannya
ke lubang duburku. Sepertinya mas Manto berusaha membasahi lubang itu
supaya licin.
“CLEP” Satu ruas ibu jari mas Manto menusuk masuk ke liang duburku.
“Owwwhhh…” erangku “…Mas”
“Ya dek?”
“Ssshhhh….”
“Kenapa dek?”
“Terusin mas…enak banget” ucapku lirih.
”HAH…TERUSIN…?” kataku dalam hati “Liani...kamu gila...mas Manto tuh
ingin melakukan seks anal keliang duburmu...itu adalah suatu tindakan
yang bodoh…memangnya kamu nggak sadar…sebesar apa kelamin yang dimiliki
suami barumu itu…?”
Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. aku hanya menggigit bibir bawahku,
mencoba untuk menterjemahkan kenikmatan baru yang kurasakan dari lubang
tubuhku yang lain. Kenikmatan asing dari liang duburku. Merinding, geli,
dan sakit. Kurasakan sensasi yang benar-benar berbeda ketika mas Manto
mulai menggerakkan ibu jarinya keluar masuk di liang anusku. Terlebih
ketika mas Manto juga mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur seiring
dengan tusukan ibu jarinya. Kupejamkan mataku, mencoba tuk merasakan
kenikmatan ganda yang kuterima di liang vaginakaku dan lubang duburku.
Dua lubang tubuh bawahku disodok oleh dua organ dalam waktu yang
bersamaan. Sungguh sensasi yang tak dapat terukirkan dengan kata-kata.
Sensasi jorok yang nikmat.
“Dek”
“Hhmmmhh...yah mas?”
“Boleh nggak…?”
“Ouughhh…ssssshhh...apa?”
“Tapi adek jangan marah dulu”
“Iya iya...adek nggak marah”
“Janji?”
“Apaan sie?”
“Janji dulu”
“Iya adek janji ga bakalan marah mas Mantoku sayang… buruan mas Mau apa?”
“Mas pengen …” dihentikannya semua aktifitas yang mas Manto lakukan.
Baik sodokan penis besarnya di vaginaku, maupun kelitikan ibujarinya di
lubang duburku.
Mas Manto mengecup punggungku dan menarik nafas panjang. Dengan suara lantang dan tegas, ia berujar penuh harap kepadaku.
“Mas pengen masukin kontol mas di lubang pantatmu dek”
Bersambung...