Namaku Reni,
usia 27 tahun, kulit kuning langsat dan rambut sebahu dengan tinggi 165
cm berat 51 kg, dan telah menikah setahun lebih. Aku berasal dari
keluarga Minang yang terpandang. Aku bekerja pada sebuah Bank Pemerintah
yang cukup terkenal. Sedang suamiku Ikhsan adalah seorang staf pengajar
pada sebuah perguruan tinggi swasta di kota Padang ia memiliki beberapa
usaha perbengkelan. Kami pun menikah setelah sempat berpacaran kurang
lebih 3 tahun. Perjuangan kami cukup berat dalam mempertahankan cinta
dan kasih sayang. Diantaranya ketidak setujuan orangtuaku dan orangtua
suamiku, juga sebelumnya aku telah di jodohkan oleh orangtuaku dengan
seorang pengusaha, namun kami dapat melaluinya dengan keyakinan hingga
kami bersatu. Lalu kami memutuskan menikah dan kamipun sepakat untuk
menunda dulu punya anak karena aku dan Bang Ikhsan cukup sibuk takut
nanti tak dapat mengurus anak.
Kehidupan kami sehari-hari cukup
mapan dengan keberhasilan kami memiliki sebuah rumah yang asri di sebuah
lingkungan yang elite dan juga memiliki 2 unit mobil sedan keluaran
terbaru hasil usaha kami berdua. Begitu juga dalam kehidupan sex tiada
masalah diantara kami. Ranjang kamipun cukup hangat dengan 4-5 kali
seminggu kami berhubungan suami istri. Aku memutuskan untuk memakai
program KB dulu agar kehamilanku dapat aku atur. Akupun rajin merawat
kecantikan dan kebugaran tubuhku agar suamiku tidak berpaling dan
kehidupan sex kami lancar.
Atas loyalitas dan prestasi kerjaku
yang dinilai bagus maka pimpinan menunjukku untuk menempati kantor baru
di sebuah kabupaten baru yang merupakan sebuah ke pulauan. Aku tidak
berani memutuskannya sendiri. Aku harus merundingkannya dulu dengan
suamiku, sebab bagiku naik atau tidak statusku sama saja, yang penting
bagiku adalah keluarga dan perkawinanku.
Suamikupun tanpa aku
duga sangat mendorongku agar tidak melepaskan kesempatan ini, sebab
inilah saatnya bagiku untuk meningkatkan kinerjaku yang biasa biasa saja
selama ini. Aku bahagia sekali rupanya suamiku orangnya amat bijaksana
dan pengertian. Namun orang tuaku kurang suka begitu juga mertuaku,
namun mereka akhirnya dapat diatasi oleh suamiku dengan baik dan mereka
mendorongku agar maju dan tegar. Suamikupun minta agar aku setiap minggu
pulang ke Padang, agar dapat berkumpul, akupun setuju dan berterima
kasih padanya.
Kemudian aku mulai pindah ke pulau yang dari
Padang ditempuh dengan naik kapal motor selama 5 jam itupun jika cuaca
bagus. Suamiku turut serta mengantar aku dan ia sediakan waktu untuk
bersamaku di pulau selama seminggu. Di pulau itu aku disediakan sebuah
rumah dinas lengkap dengan prasarananya terkecuali kendaraan. Jarak
antara kantor dan rumahku hanya dapat ditempuh dengan naik ojek karena
belum adanya angkutan di sana. Hari pertama kerja aku diantar oleh
suamiku dan sorenya dijemput. Di pulau ini suamiku ingin agar aku betah
dan dapat secepatnya menyesuaikan diri karena memang belum lengkap
prasarananya dan rumah dinas yang lain masih banyak yang kosong. Selama
di pulau itupun suamiku tidak lupa memberiku nafkah bathin karena
nantinya kami akan bertemu seminggu sekali. Akupun menyadarinya dan
kamipun mereguk kenikmatan badaniah selama suamiku di pulau ini.
Suamikupun
dalam tempo yang singkat telah dapat berkenalan dengan beberapa
tetangga yang jaraknya lumayan jauh. Ia juga mengenal beberapa tukang
ojek, hingga tanpa kusadari suatu hari ia menjemputku pakai sepeda
motor, rupanya ia dapat meminjamnya dari tukang ojek itu. Salah satu
tukang ojek yang di kenal suamiku adalah Pak Sitorus. Pak Sitorus ini
adalah laki-laki berusia 65 tahun dan ia tinggal sendirian di pulau itu
sejak istrinya meninggal dan kedua anaknya pergi mencari kerja ke
Jakarta. Maka laki-laki asal tanah Batak itu harus memenuhi sendiri
hidupnya di pulau itu dengan kerja sebagai tukang ojek.
Pak
Sitorus biasa dipanggil Pak Sitor, orangnya sekilas terlihat kasar dan
keras namun jika telah kenal ia cukup baik. Menurut suamiku yang sempat
bicara panjang lebar dengan Pak Sitor dulunya ia pernah tinggal di
Padang yaitu di Muara Padang sebagai buruh pelabuhan namun karena suatu
sebab ia ingin merubah nasibnya dengan berdagang namun bangkrut.
Untunglah ia masih punya sepeda motor hingga menjadi tukang ojek.
Hampir
tiap akhir minggu aku pulang ke Padang untuk berkumpul dengan suamiku.
Yang namanya pasangan muda tentu saja kami tidak melewatkan saat
kebersamaan di ranjang. Rumah dinaskupun aku titipkan pada Pak Sitor
karena suamiku bilang ia dapat di percaya. Akupun mengikuti kata kata
suamiku. Kadang kadang aku diberi kabar oleh suamiku bahwa aku tidak
usah pulang karena ia yang akan ke pulau. Sering kali suamiku bolak
balik ke pulau hanya karena kangen padaku. Dan sering kali iapun memakai
sepeda motor Pak Sitor dan memberinya uang lebih.
Suamiku telah
menganggap Pak Sitor adalah bagian dari sahabatnya karena sesekali
setiap ia ke pulau Pak Sitor diajak makan ke rumah dan Pak Sitorpun
sering mengajak suamiku jalan-jalan di pantai yang cukup indah itu.
Suamikupun sering memberinya uang lebih karena Pak Sitor akan menjaga ku
dan rumahku jika aku tinggal. Mulai sejak saat itu akupun rutin di
antar jemput Pak Sitor jika kekantor, tidak jarang ia membawakanku
penganan asli pulau itu. Akupun menerimanya dengan senang hati dan
berterima kasih, kadang akupun sering membawakannya oleh-oleh jika aku
pulang ke Padang.
Setelah beberapa bulan aku tugas di pulau itu
dan melalui rutinitas seperti biasanya, suamiku datang dan memberiku
kabar bahwa ia akan di sekolahkan ke Australia selama 1,5 tahun. Ini
merupakan beasiswa untuk menambah pengetahuannya. Aku tahu bea siswa ini
merupakan obsesinya sejak lama. Aku menerimanya, aku pikir demi masa
depan kami juga dan kebahagian kami nanti tidak masalah bagiku. Suamiku
sebelum berangkat sempat berpesan agar aku jangan segan minta tolong
kepada Pak Sitor sebab suamiku telah meninggalkan pesan pada Pak Sitor
untuk menjagaku. Suamikupun titip uang yang harus aku serahkan pada Pak
Sitor.
Sejak suamiku di luar negeri, kami sering telpon-telponan
dan kadang aku bermasturbasi bersama suamiku lewat telpon, itu sering
kami lakukan maklum untuk memenuhi libido kami berdua, hingga tagihan
telpon meningkat. Aku tidak memperdulikannya selagi dengan suamiku
sendiri dan aku menghayalkan suamiku ada dekatku tidak masalah dan kami
berjauhan. Akupun mulai jarang pulang ke Padang karena suamiku tidak ada
dan paling aku pulang sekali sebulan itupun aku kerumah orang tuaku.
Rumahkupun aku titip dengan saudaraku.
Akupun melewatkan
hari-hariku dengan kesibukan seperti biasanya. Begitu juga Pak Sitor
rutin mengantar jemputku. Sesekali saat aku pulang Pak Sitor mengajakku
jalan-jalan keliling pantai. Aku tolak dengan halus sebab aku merasa
tidak enak apa nanti kata teman kantorku jika melihatnya dan saat itupun
aku sedang tidak mood dan aku lebih tenang dirumah saja.
Dirumah
aku beres-beres dan berbenah pekerjaan kantor. Aku merasakan juga bahwa
Pak Sitor akhir-akhir ini amat memperhatikanku, tidak jarang ia sore
datang sekedar memastikan aku tidak apa-apa sebab di pulau itu ia amat
di segani dan berpengaruh. Aku sadari juga kadang dalam berboncengan
tanpa sengaja dadaku terdorong ke punggung Pak Sitor saat ia menghindari
lubang dan saat ia mengerem. Bagiku itu biasa saja maklum dan resiko
aku berboncengan dengan sepeda motor dan itu sering terjadi, sesekali
aku juga merangkul pinggangnya karena aku duduknya belum pas di atas jok
motornya. Aku rasa Pak Sitorpun sempat merasakan kelembutan payudaraku
yang bernomer 34b ini. Bagiku ini biasa saja sebab di pulau ini mana ada
angkuta dan kalau di Padang aku kekantor terbiasa menyetir sendiri,
jadi aku harus bisa menganggapnya biasa dan harus aku jalani.
Pada
suatu senja saat hari kerja habis yaitu Jumat sore Pak Sitor datang
kerumahku, seperti biasanya ia dengan ramah menyapaku dan menanyakan
keadaanku. Lalu ia aku silahkan masuk dan duduk di ruang tamu. Sore itu
aku telah selesai mandi dan sedang menonton televisi. Pak Sitor
mengajakku jalan kepantai. Aku keberatan sebab aku masih agak capai dan
kesal dengan kesibukan suamiku saat ku telpon tadi, ia tidak bisa
terlalu lama di telpon. Lalu Pak Sitor mengajakku untuk main catur,
kebetulan selama ini ia sering main catur dengan suamiku. Akupun setuju
karena aku lagi suntuk dan untuk menghilangkan kekecewaanku saat ini.
Aku
main catur dengan laki-laki itu beberapa kali ia kalah dan aku yang
menang, taruhannya adalah sebuah botol yang di ikat tali lalu
dikalungkan ke leher. Seumur hidupku baru kali ini aku yang mau bicara
bebas dengan laki-laki selain suamiku dan atasanku. Tidak semua orang
dapat bebas berbicara denganku, dan akupun termasuk type orang yang
memilih dalam mencari lawan bicara, maka tidak heran jika aku di cap
sombong oleh sebagian orang yang kurang aku kenal. Namun dengan Pak
Sitor aku bicara apa adanya. Dan ceplas ceplos, mungkin kami telah
saling mengenal dan juga aku merasa membutuhkan tenaganya di pulau ini.
Tanpa
terasa kami main catur telah lama hingga jam menunjukan pukul 10 malam.
Diluaran tanpa aku sadari telah hujan deras diiringi petir yang
bersahut2an. Setelah itu kami mengakhiri main catur, aku lalu
membersihkan mukaku kebelakang, Pak Sitor juga. Lalu aku tawari Pak
Sitor untuk ngopi biar nggak bosan kataku. Di pulau saat itu penduduknya
telah pada tidur dan yang terdengar hanya suara hujan dan petir. Pak
Sitor minta izin pulang karena hari telah larut setelah menghabiskan
kopinya. Aku tidak sampai hati sebab cuaca tidak memungkinkan ia pulang
karena rumahnya cukup jauh dan lagi pula aku kuatir jika nanti sempat
terkena petir. Lalu aku tawarkan agar ia tidur di ruang tamuku saja dan
tampaknya ia bisa menerimanya. Dan akupun memberinya sebuah bantal dan
selimut maklum cuaca dingin saat itu.
Secara tiba-tiba lampu
mati, aku sempat kaget, untunglah ia punya korek api dan membantuku
mencari lampu minyak di ruang tengah. Lampu kami hidupkan dan satu untuk
kamarku dan yang satu untuk ruang tamu tempat Pak Sitor tidur. Aku lalu
minta diri untuk lebih dulu tidur sebab aku merasa capai. Aku lalu
tidur dikamar sementara diluaran hujan turun dengan derasnya seolah
pulau ini akan tenggelam. Aku berusaha untuk tidur namun tidak bisa, ada
rasa kekuatiran yang tidak aku ketahui sebab petir berbunyi begitu
kerasnya. Hingga akhirnya aku putuskan ke ruang tamu saja hitung-hitung
memancing kantuk dengan bincang-bincang dengan Pak Sitor. Malam itu aku
tidak terlalu khawatir sebab aku merasa ada yang melindungi.
Sampai
aku di ruang tamu aku lihat Pak Sitor masih berbaring namun matanya
belum tidur, ia kaget dan disangka aku telah tidur. Aku lalu duduk di
depannya dan bilang mataku nggak mau tidur, ia cuman senyum dan bilang
mungkin aku ingat suamiku. Padahal saat itu aku masih sebal dengan
kelakuan suamiku dan aku tanpa sengaja bilang kekesalanku saat itu,
mestinya aku tidak boleh bilang pada siapapun suasana hatiku saat itu,
namun meluncur begitu saja. Dengan cara bijaksana dan kebapakan ia
nasehati aku yang belum merasakan asam garam perkawinan.
Dalam
suasana temaram cahaya lampu saat itu aku tidak menyadari kapan Pak
Sitor pindah duduk kesampingku. Aku kurang tahu kenapa aku membiarkannya
meraih jemariku yang masih melingkar cincin berlian perkawinanku dan
merebahkan kepalaku didadanya. Aku merasa terlindung dan merasa ada yang
menampung beban pikiranku selama ini. Dalam pada itu Pak Sitorpun
membelai rambutku seolah aku adalah istrinya, lalu terus kebalik
telingaku dan menghembuskan nafasnya yang hangat. Aku terlena dan
membiarkannya terus berbuat itu, lalu ia cium telingaku dan terus
bergeser ke bibirku. Aku tak menyadari bahwa itu orang lain. Aku salah
langkah, dan menilai orang. Pak Sitorpun mengulum bibirku beberapa saat
dan tangannya juga tidak tinggal diam dengan terus merabai buah dadaku
yang terbungkus BH dan kaos tidur itu.
Padahal yang pantas berbuat itu adalah suamiku tercinta namun aku telah
tertutup mata hatiku oleh nafsu dan gairah yang menuntut pelampiasan.
Aku lalu dibimbingnya kekamar dan merebahkanku di ranjang yang biasa aku
gunakan untuk bercinta dengan suamiku, namun kini yang berada di sini,
disampingku bukanlah suamiku tapi serang laki-laki tukang ojek yang
notabene tidak pantas untukku yang sepantaran ayahku. Aku terlarut dalam
gairah yang menghentak. Pak Sitor menutup pintu kamar dan menguncinya
dari dalam. Sedang lampu di luar tadi telah ia matikan. Aku diam menanti
apa yang akan di perbuatnya padaku.
Padahal selama ini aku tidak
sekalipun memberi hati jika ada laki-laki lain yang iseng merabaku dan
mencolekku. Aku termasuk wanita yang menjunjung tinggi kesucian dan
kehormatan sesuai yang selalu diajarkan orangtua dan agamaku. Tapi semua
musnah oleh keangkuhanku sendiri. Aku terbaring tak berdaya dan Pak
Sitorpun berusaha melepaskan pakaianku satu persatu, mulai dari kaosku
lalu celana panjang dan akhirnya bra dan celana dalam kremku terlempar
kebawah lantai. Aku hanya memejamkan mataku, akupun semakin buta oleh
nafsuku yang mulai naik. Selesai menelanjangi aku, lalu iapun melepaskan
pakaiannya hingga lapis terakhir. Aku memperhatikan tubuhnya yang hitam
meskipun sudah tua namun ototnya masih ada dan ada gambar tatto
tengkorak di lengannya. Aku tau dia adalah laki-laki yang biasa keras
dan jarang ada kelembutan. Itu aku ketahui saat ia mulai merabaiku dan
menelanjangiku.
Iapun mulai memelukku dan menciumiku dari leher
hingga belahan dadaku dengan kasar. Rabaan tangannya yang kasar
membuatku kesakitan, suamiku dalam merabanya cukup hati-hati, namun Pak
Sitor watak kasarnya terlihat. Tampaknya ia sudah lama tidak berhubungan
badan dengan wanita maka akulah yang menjadi sarana pelampiasan
nafsunya. Aku tak kuasa atas tindakannya. Air mataku menetes karena ada
penyesalan dan aku telah menodai perkawinanku, namun percuma Pak Sitor
asyik dengan tindakannya. Tiap jengkal tubuhku di jamahnya tanpa
terlewatkan seincipun. Tubuhkupun berkeringat tidak tahan dan geli
bercampur gairah.
Lalu mulutnya turun ke selangkanganku dan ia
sibakkan kedua kakiku yang putih bersih itu. Di situ lidahnya bermain
menjilat klitorisku. Kepalaku miring kekiri kanan menahan gejolak yang
melandaku. Pegangannku hanya kain sprei yang aku tarik karena desakan
itu. Kedua kakikupun menerjang dan menghentak tidak tahan atas gairah
yang melandaku. Beberapa menit kemudian aku orgasme dan mulutnya menelan
air orgasmeku itu. Badanku lemas tak bertenaga. Matakupun terpejam,
lalu aku kembali di bangkitkan lagi Pak Sitor dengan meciumi balik
telingaku hingga liang kehormatanku. Di sana jarinya ia masukan dan
mulai mengacak acak liang kewanitaanku lalu mempermainkan celahnya,
tampaknya Pak Sitor telah lama merencanakan ini dan juga mungkin telah
lama ia berobsesi untuk meniduriku. Berarti ia telah melanggar amanat
suamiku.
Akupun akhirnya orgasme untuk yang kedua kalinya oleh
tangan Pak Sitor, Badanku telah basah oleh keringat kami berdua. Aku
lemas dan Pak Sitor minta izin padaku untuk memasukan penisnya ke lubang
kehormatanku. Aku menggeleng tidak setuju sebab aku tahu
konsekwensinya, liang kehormatanku akan cemar oleh cairan laki-laki lain
dan aku merasa terlalu jauh berkhianat pada suamiku. Bagiku cukuplah
tindakannya tadi dan tidak usah diteruskan lagi hingga penetrasi. Iapun
mau menerima pendapatku dan aku lihat ada rasa kecewa dimatanya yang
telah terobsesi menyenggamaiku. Aku liat penisnya telah siap memasuki
diriku jika aku izinkan. Panjangnya melebihi milik suamiku dan agak
bengkok dengan diameter yang melebar. Pak Sitor minta aku untuk
membantunya klimaks dengan mengulum penisnya.
Aku kembali
menggeleng karena aku dan suamiku selama ini tidak pernah melakukan oral
sex baik suami kepadaku juga sebaliknya, meskipun aku slalu menjaga
kebersihan wilayah sensitif kami. Pak Sitor mohon sebab ia merasa
tersiksa sebab ia belum klimaks. Aku kasihan juga tidak adil rasanya aku
yang telah dibantunya sampai 2 kali orgasme membiarkannya seperti itu.
Akhirnya aku beranikan diri mengulumnya. Dengan sedikit jijik aku buka
mulutku, namun tidak muat seluruhnya dan hanya sampai batangnya saja.
Mulutku serasa mau robek karena besarnya penis Pak Sitor. Baru beberapa
kali kulum aku serasa mual dan mau muntah oleh aroma kelamin Pak Sitor
itu. Aku maklum saja karena ia kurang bersih dan seperti kebiasaan
laki-laki batak ini penisnya tidak ia sunat hingga membuatnya agak kotor
serta makanan yang tidak beraturan barangkali. Aku lalu menyerah dan
melepaskan penis Pak Sitor dari mulutku. Aku heran Pak Sitor ini sampai
sekian lama koq tidak juga klimaks, aku salut akan staminanya dan
sikapnya yang menghargai wanita dengan tidak memaksakan kehendak,
padahal aku saat ini bisa saja ia paksa namun tidak ia lakukan.
Aku
merasa bersalah pada diriku dan ingin membantunya saat itu, dalam
pikiranku berperang antara birahi dan moral. Namun karena terlanjur
basah dan tidak ingin menambah masalah antara aku dan Pak Sitor. Jika
aku larang terus nantinya Pak Sitor bisa saja memperkosaku sebab seorang
laki-laki yang telah berbirahi di ubun ubun sering bertindak nekad dan
lagi pula aku sendirian di pulau ini. Akhirnya dengan pertimbangan demi
kebaikan kami berdua maka aku izinkan dia melakukan penetrasi di dalam
rahimku. Pak Sitorpun tampaknya merasa gembira sebab tadi sempat kulihat
wajahnya tegang sekali. Aku lalu berbaring dan membuka kedua pahaku
memberinya jalan memasuki rahimku. Tubuh kami berdua saat itu telah sama
sama berkeringat dan rambutku telah kusut.
Dari temaran lampu
dinding aku lihat Pak Sitor bersiap siap mengarahkan penisnya. Posisinya
pas di atas tubuhku. Tubuhnya telah basah oleh keringat hingga membuat
badannya hitam berkilat mungkin karena ia masih menahan untuk ejakulasi.
Diluaran saat ini hujanpun seakan tidak mau kalah oleh gelombang nafsu
kami berdua. Pak Sitor dengan hati-hati menempelkan kepala penisnya, ia
tau jika tergesa gesa akan membuatku kesakitan sebab punyaku masih kecil
dan belum pernah melahirkan. Akupun berusaha memperlebar kedua pahaku
hingga mudah dimasuki kejantanan Pak Sitor, sebab aku melihat
kejantanannya panjang dan agak bengkok jadi aku bersiap siap agar aku
jangan kesakitan.
Akupun sempat bilang kepadanya untuk jangan
cepat-cepat. Dengan bertahap ia mulai memasukan penisnya, aku memejamkan
mata dan merasakan sentuhan pertemuan kemaluan kami. Untuk melancarkan
jalannya, kakiku ia angkat hingga bahunya, lalu langsung penisnya masuk
kerahimku dengan lambat. Aku terkejut dan merasakan nyilu di bibir
rahimku, aku meracau kesakitan lalu Pak Sitor membungkam mulutku dengan
mulutnya. Tidak lama kemudian seluruh penisnya masuk kerahimku dan ia
mulai melakukan gerak maju mundur. Aku merasakan tulangku bagai lolos,
sama seperti saat aku dan suamiku melakukan hubungan intim saat
kegadisanku aku serahkan pada malam penganten dulu. Dan tidak lama
kemudian aku merasakan kenikmatan. Mulut Pak Sitorpun lepas dari mulutku
karena aku tidak kesakitan lagi. Kekuatan laki-laki ini amat membuatku
salut, sampai membuat ranjangku dan badanku bergetar semua seperti kapal
yang terserang badai.
Kurang lebih 15 menit kemudian Pak Sitor
gerakannya bertambah cepat dan tubuhnya menegang hebat, aku merasakan di
dalam rahimku basah oleh cairan hangat. Tubuhnya lalu rebah di atas
tubuhku tanpa melepaskan penisnya dari dalam rahimku. Akupun dari tadi
pun telah sempat kembali orgasme, kamipun tertidur sementara di luar
hujan masih saja turun. Butiran keringat kami membuat basah sprei yang
kusut di sana sini. Saat itu tidak ada lagi batas diantara kami, namun
aku merasa telah berdosa kepada suamiku.
Hingga tengah malam Pak
Sitorpun kembali menggauliku sepuasnya dan akupun tidak merasa segan
lagi karena kami tidak lagi merasa asing satu sama lain. Akupun tidak
merasa jijik jika melakukan oral sex dengan Pak Sitor. Bagi wanita
sangat sulit untuk melepaskan diri dari kejadian ini. Penyesalanpun
tiada gunanya. Bagiku yang tampak diluarnya keras dan berwibawa juga
penuh kesombongan, namun semuanya tiada arti lagi jika laki-laki telah
berhasil menggaulinya. Kehormatan dan perkawinan yang aku junjungpun
luntur sudah, namun aku bisa bilang pada siapa dan Pak Sitorpun kini
telah merasa jadi pemenang dengan kemampuannya menaklukanku hingga aku
tidak berdaya. Dan aku semakin tidak berdaya jika ia telah berada di
dalam kamarku, untuk bersebadan dengannya.
Dari awal kesalahan
yang kubuat ini aku merasakan telah terperdaya oleh gelombang gairah
yang di pancarkan oleh Pak Sitor. Sangat aneh bagiku jika Pak Sitor yang
seusia dengan ayahku ini masih mampu mengalahkanku dan membuatku
orgasme berkali kali tidak seperti suamiku yang hanya bisa membuatku
orgasme sekali saja begitu juga aku. Aku akui aku mendapatkan pengalaman
baru dan mengaburkan pendapatku selama ini bahwa laki-laki paro baya
akan hilang keperkasaannya. Selama kami berhubungan badan aku sempat
bertanya padanya bagaimana ia bisa sekuat itu, dan Pak Sitorpun
bercerita bahwa ia sering mengosumsi makanan khas Batak yang menurutnya
dapat menjaga dan menambah vitalitas pria. Aku bergidik jijik dan mau
muntah mendengarnya, aku jadi ingat pantas saja saat bersebadan
dengannya bau keringatnya lain juga saat aku mengulum kemaluannya terasa
panas dan amis.
Selama aku bertugas di pulau itu hampir 1 tahun
kami telah sering melakukan hubungan sex dengan sangat rapi. Tidak ada
seorangpun yang mengetahuinya, dan untunglah perbuatan kami ini aku
tidak hamil sebab sebelumnya aku telah ber KB dan Pak Sitor pun bebas
menumpahkan spermanya di rahimku. Kapanpun, kamipun sering melakukannya
di rumahku kadang di rumah Pak Sitor yang kalau aku pikir alangkah
bodohnya aku mau digauli di atas dipan kayu yang cuma beralaskan tikar
usang. Namun bagiku hasrat terpenuhi dan Pak Sitorpun bisa memberinya.
Pernah suatu hari setelah kami bersebadan di rumahnya, Pak Sitor minta
kepadaku untuk mau hidup dengannya di pulau itu.
Permintaan Pak
Sitor ini tentu mengejutkanku, rasanya tidak mungkin sebab aku terikat
perkawinan dengan suamiku dan akupun tidak ingin menghancurkannya, lagi
pula Pak Sitor seusia dengan ayahku apa jadinya jika ayahku tahu, dan
keyakinan kamipun berbeda karena Pak Sitor seorang protestan meskipun ia
mau pindah ke agamaku asal aku mau kawin dengannya.
Bagiku ini
masalah baru, rupanya Pak Sitor mulai mencintaiku sejak ia dengan bebas
dapat menggauliku. Pak Sitorpun pernah menanyakan padaku kenapa aku
tidak hamil padahal setiap ia menyebadani aku spermanya slalu ia
tumpahkan di dalam. Aku tidak memberitahu dia jika aku berKB. Dan diapun
sebenarnya mengiinginkan agar aku hamil agar memuluskan langkahnya
memilikiku. Akupun menyiasatinya agar ia tidak lagi bermimpi untuk
mengawiniku. Namun bagiku hubungan ini hanyalah sebagai pelarianku dari
kesepian selama jauh dari suamiku. Akupun menjelaskannya kepada Pak
Sitor dengan baik-baik saat kami usai berhubungan badan. Ia akhirnya
mengerti dan mau menerima alasanku dan akupun bilang jika kelak aku
pindah hubungan ini harus putus dan selama aku dinas di pulau ini ia aku
beri kebebasan untuk memilikiku saat suamiku tidak ada dan jangan
berbuat macam macam didepan teman kantorku yang kebetulan semuanya
penduduk asli pulau itu.
Akhirnya ia mau mengerti dan berjanji
akan menutup rapat rahasia kami jika aku pindah dan iapun menerima
persyaratanku selama aku ditugaskan di pulau ini. Selama aku tugas di
pulau itu, Pak Sitorpun terus memberiku kenikmatan ragawi tanpa kenal
batas antara kami. Bagiku cinta hanya untuk suamiku, Pak Sitor adalah
terminal persinggahan yang harus aku singgahi. Dan dalam hatiku aku
berjanji untuk menutup rapat rahasia ini. Ada penyesalan dalam diriku
karena aku mengganggap diriku kotor dan merusak keutuhan perkawinan
kami.